Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Hari berganti dengan cepat sekali. Padahal semalam Dira bahkan sampai susah tidur karena memikirkan keputusan yang akan dia buat sudah benar atau tidak. Ini adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Menikahi dengan laki-laki yang belum bisa melupakan kejadian di masa lalu.
Kau sudah memutuskan Dira. Menikah saja. Dia akan bersikap dingin padamu atau tidak, jangan peduli. Bersikaplah biasa saja, jangan tunjukkan kalau memang masih mencintainya. Arel pantas mendapatkan yang terbaik.
Ia terus bergumam dalam hati. Pandangannya lurus ke depan, menatap wajahnya di kaca lalu mencoba tersenyum. Hidupnya sudah sulit beberapa tahun terakhir ini, kalau menikah dengan Ethan, apa pun yang Arel mau bisa terpenuhi. Anak itu bisa membeli apa saja karena ayah kandungnya kaya. Arel juga tidak akan di pandang sebelah mata di sekolahnya. Harus Dira akui kalau sekarang biaya hidup tinggi sekali. Bukannya matre, tapi dia bisa memanfaatkan harta dari ayah kandung putranya sendiri bukan?
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Panggilan dari Ethan. Dira menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, mencoba tenang sebelum mengangkat panggilan itu.
"Halo,"
"Kau di mana?"
"Rumah."
"Tidak kerja?"
"Mm. Zora cuti, jadi aku tidak perlu masuk kerja hari ini."
Hening sebentar. Ethan mungkin sedang memikirkan sesuatu di seberang sana.
"Keputusanmu sudah ada?" pria itu langsung ke pertanyaan inti.
Giliran Dira yang diam, entah berapa detik atau bahkan sampai menit. Percayalah, jantungnya sedang berdetak hebat sekarang.
"Aku memilih menikah." katanya sambil menggigit bibir ragu. Padahal menikah itu terjadi karena alasan anak mereka, tapi Dira se gugup itu.
"Bersiaplah, aku akan menjemputmu sekarang." balas Ethan di seberang.
Mata Dira melebar.
"Ke-kemana?"
"Menikah harus ada cincin kan? Kau temani aku memilih cincin." suara pria itu masih datar. Dira baru saja hendak membalas, eh Ethan sudah langsung mengakhiri sambungan.
"Beli cincin?" ucap Dira sambil terus menatap wajahnya di cermin. Lalu kembali menghembuskan nafas panjang.
"Beli cincin…" gumamnya lagi pelan.
Semua terasa begitu cepat. Tidak ada lamaran romantis. Tidak ada pertanyaan lembut dengan tatapan penuh cinta. Hanya keputusan. Tegas. Praktis. Tanpa emosi.
Hah, ia tersenyum getir. Untuk apa pakai emosi coba? Toh ini bukan pernikahan normal seperti biasa, seperti pasangan yang saling cinta. Mereka juga pasti cuma akan menikah di kantor catatan sipil. Si simple itu.
Dira memejamkan mata sejenak, lalu membuka lemari. Ia memilih pakaian casual. Jeans dan kaos, tidak mencolok. Ia tidak ingin terlihat seperti wanita yang terlalu bersemangat. Ini bukan pernikahan impian. Ini… kesepakatan. Nanti Ethan malah menertawakannya. Di anggap dia ingin sekali menikah dengan pria itu. Tapi tetap saja, tangannya gemetar saat merapikan rambut.
Bel pintu berbunyi tiga puluh menit kemudian.
Ethan memang selalu tepat waktu kalau bilang akan menjemputnya. Dari dulu. Tapi tunggu, dia belum bilang alamat tempat tinggalnya di mana kan? Bagaimana pria itu tahu? Dira membuyarkan lamunannya, tidak terlalu penting. Ia cepat-cepat menuju ruang depan untuk membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, pria itu sudah berdiri di sana. Tegap. Rapi. Tatapannya langsung jatuh pada Dira. Ada jeda sepersekian detik saat mata mereka bertemu, sesuatu yang tidak bisa Dira baca.
"Kita berangkat," ucapnya singkat.
Datar, dan ... Sesingkat itu. Dira hanya mengangguk dan mengunci pintu. Perjalanan di mobil dipenuhi keheningan. Hanya terdengar suara mesin mobil. Dira menggenggam tas selempangnya di pangkuan.
"Arel di mana?" tanya Ethan tiba-tiba.
"Sekolah."
"Biasanya dia pulang jam berapa?"
"Dua belas. Mbak Ella biasa jemput dia jam segitu."
Ethan mengangguk singkat lalu fokus menyetir lagi. Astaga, canggung sekali. Bahkan lebih canggung dari waktu pertama kali Dira naik mobil pria itu enam tahun lalu, awal mereka mulai dekat. Kali ini suasananya terasa lebih mencekam.
Mobil berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan mewah di pusat kota. Dira menatap bangunannya sekilas sebelum kembali menunduk. Ia tahu tempat seperti ini bukan levelnya. Tapi bagi Ethan, tempat seperti ini adalah tempat yang sangat biasa.
Tanpa banyak bicara, Ethan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuknya. Gerakan yang sama seperti dulu. Refleks, alami. Seolah tidak ada enam tahun yang memisahkan mereka.
Mereka masuk ke sebuah toko perhiasan eksklusif. Lampu-lampu putih hangat memantulkan kilau berlian di dalam etalase kaca. Seorang pekerja toko langsung menyambut dengan sopan.
"Selamat datang, tuan."
Dira menoleh sedikit.
"Kami ingin melihat cincin pernikahan," ucap Ethan singkat.
Jantung Dira kembali berdegup tidak teratur saat kata itu keluar begitu saja dari bibir pria tersebut. Pernikahan. Mereka duduk berdampingan di sofa beludru. Beberapa kotak cincin diletakkan di atas meja.
"Silakan dipilih, nona," kata pekerja toko itu ramah. Padahal Dira sudah bukan nona lagi. Mungkin karena dia keliatan awet muda, jadi di panggil begitu.
Dira menatap deretan cincin itu. Cantik, elegan, dan mahal sekali pastinya. Ia merasa seperti orang yang salah tempat.
"Pilih," ujar Ethan pelan tanpa menatapnya.
Dira ragu-ragu menyentuh satu kotak. Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil sederhana. Tidak terlalu besar, tidak mencolok.
"Ini saja," katanya akhirnya.
Ethan mengambil cincin itu. Tanpa meminta izin, ia menggenggam tangan kiri Dira.
Sentuhan itu membuat napas Dira tercekat. Hangat, kuat, familiar.
Ethan menyelipkan cincin itu perlahan ke jari manisnya. Pas. Seolah memang dibuat untuknya. Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, dunia di sekitar seperti menghilang.
"Tidak terlalu longgar?" tanya Ethan datar, tapi suaranya lebih rendah dari biasa.
Dira menggeleng pelan.
"Pas."
Pekerja toko kemudian bertanya ukuran cincin untuk Ethan. Dira menatap tangan pria itu saat ia mencoba beberapa model. Tangannya masih sama. Tegas dan berurat. Dulu tangan itu sering menggenggamnya dengan lembut.
"Aku tidak perlu yang rumit," ucap Ethan akhirnya memilih desain polos maskulin.
"Baik tuan,"
Cincin tersebut lalu di bungkus.
Proses pembayaran berlangsung cepat. Ethan bahkan tidak melihat nominalnya. Tapi Dira tahu harganya pasti mahal sekali. Dia tidak mungkin sanggup membelinya.
Saat mereka keluar, Dira masih tidak menyangka kalau ini benar-benar nyata. Tiba-tiba Ethan berhenti berjalan. Ia menolehkan wajahnya sedikit menatap Dira. Tubuh pria itu tinggi sekali jadi Dira harus mendongak ke atas kalau berdiri di sampingnya seperti sekarang.
"Kau mau pesta pernikahan seperti apa?"
Dira agak terkejut mendapatkan pertanyaan itu.
"Pe-pesta pernikahan? Kau mau buat pesta? Bukankah daftar nikah di catatan sipil saja biar tidak ribet?"
"Ini adalah pernikahan pertamaku. Kau pikir aku akan melakukannya setengah-setengah?" nada suaranya tetap tenang, tapi ada ketegasan yang tak bisa dibantah.
Dira terdiam. Dia salah. Dia pikir hanya akan nikah catatan sipil saja. Tanpa pesta, tanpa gaun pengantin, tanpa undangan. Oh, mungkin karena Ethan tidak mau malu pada semua kerabatnya.
"Ethan? Ya ampun, kebetulan sekali!" Tiba-tiba seorang wanita memanggil nama Ethan dengan wajah ceria.
terimakasih thor udah up