NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Dari kejauhan, Ki Baraya sudah melihat dua sosok berjalan tertatih menuju rumah. Pakaian mereka basah kuyup, kusut, penuh lumpur. Rambut Laras menempel di pipinya, sementara Jatisangkar tampak seperti habis digilas nasib.

“Kenapa lagi bocah-bocah ini…” gumam Ki Baraya dalam hati, alisnya langsung bertaut.

Begitu mereka mendekat, tatapan sang ayah makin tajam.

“Heh, belegug! Ke mana kudamu?” tanyanya curiga.

Jatisangkar menelan ludah. “Dimakan buaya, Yah.”

Ki Baraya terdiam sesaat. Lalu keningnya makin berkerut.

“Dimakan buaya? Yang benar saja. Baru tadi pagi Ayah kasih makan. Masa sekarang malah jadi makanan? Kuda itu, bukan singkong rebus!”

“Beneran, Yah. Tanya saja Laras kalau tidak percaya. Nih lihat badan kami, basah dan lecet gara-gara jatuh dari kuda,” jawab Jatisangkar sambil menunjuk lututnya yang memerah.

Ki Baraya memperhatikan mereka berdua. Memang ada lecet dan lumpur di mana-mana.

“Hm…” dengusnya.

Lalu dengan wajah datar ia berkata, “Kenapa kamu tidak sekalian makan balik buayanya?”

Jatisangkar melongo. Laras langsung menyahut, “Ah, Ayah ini! Masih nggak percaya? Kalau Ayah ragu, ayo ke sungai. Bangkainya masih mengambang!”

Ki Baraya menoleh ke Laras. “Benar, Laras?”

“Benar, Yah.”

Ki Baraya menghela napas panjang. “Oh, nasib… Dasar sompret kamu, Jati. Ayah suruh jemput adikmu, malah ngempanin buaya. Mana itu kuda satu-satunya pula. Besok kamu saja gantinya, ya? Ayah masukkan ke kandang, Ayah kasih rumput. Mau?”

Jatisangkar mengerutkan wajah. “Ayah kok marahnya ke aku terus? Ini juga gara-gara Laras bandel main dekat hutan larangan. Kalau bukan karena jemput dia, kuda itu pasti masih ada!”

“Wohh… kamu mau cari alasan, hah?” Ki Baraya langsung mendekat, pura-pura mengangkat tangan. “Mau Ayah cabok sia, hah? Malah nyalahin adikmu!”

Laras melipat tangan di dada. “Siapa suruh Kakang jatuhnya kayak nangka busuk…”

“Heh! Itu buayanya yang narik, bukan aku yang salto!” bela Jatisangkar kesal.

Ki Baraya memijat pelipisnya. “Ya ampun… kuda hilang, anak hampir jadi santapan, masih sempat ribut. Kalian ini kalau tidak bikin Ayah cepat tua, rasanya kurang sah.”

Namun meski wajahnya masih galak, sorot matanya menyiratkan lega.

Setidaknya… kedua bocah itu pulang dalam keadaan utuh.

“Ada lagi, Yah. Laras temenan sama siluman,” celetuk Jatisangkar, seolah sedang melaporkan perkara besar.

Ki Baraya mengangkat sebelah alisnya. “Oh ya? Yang Ayah lihat sekarang, kamu yang mirip siluman. Rambut kayak sarang burung, muka belepotan lumpur.”

Jatisangkar mendengus kesal. Dalam hatinya sudah mendidih. Setiap kali ada masalah, entah bagaimana, ujung-ujungnya dia yang kena semprot. Laras yang jelas-jelas bandel malah sering lolos. Tapi ya begitulah. Ia tahu betul ayahnya terlalu lembek kalau urusannya sudah menyangkut si bungsu.

Tiba-tiba Laras menyela dengan wajah serius.

“Bukan siluman, Yah.”

Ki Baraya menoleh. “Lalu?”

Dan mulailah Laras bercerita. Dari pertemuan mereka di pinggir Hutan Jagabodas, perjalanan menyusuri tepian, sampai kejadian di sungai. Ia bercerita panjang lebar, lengkap, tanpa ada satu bagian pun yang ia sembunyikan. Tangannya ikut bergerak ke sana kemari, seolah buaya itu masih berenang di depan mereka.

Jatisangkar sesekali mengangguk membenarkan, meski dalam hati ia masih dongkol.

Ki Baraya terdiam cukup lama setelah cerita itu selesai.

“Astaga…” gumamnya pelan. “Untunglah kalian masih selamat.”

Ia menghela napas panjang, kali ini benar-benar terdengar lega.

“Sudah. Kalian mandi dulu sana. Ibu kalian dari tadi mondar-mandir seperti ayam kehilangan anak.”

Jatisangkar makin manyun. Tidak ada dampratan untuk Laras. Tidak ada ceramah panjang. Kok bisa-bisanya?

Ia ingin protes. Ingin bilang bahwa semua ini bermula karena Laras main terlalu jauh. Tapi ia sudah hafal betul polanya. Kalau ia buka suara sekarang, kemungkinan besar justru ia yang kena ceramah bab dua.

Saat mereka hendak masuk, Ki Baraya memanggil lagi.

“Laras.”

“Iya, Yah?”

“Setelah mandi dan makan, kamu ke sini lagi. Ayah mau bicara.”

“Baik, Yah.”

Sekarang gantian Laras yang berdebar. Sementara itu, Jatisangkar malah menyeringai lebar.

Mereka pun berjalan masuk ke rumah. Di tengah langkahnya, Laras melirik kakaknya yang tampak puas.

“Kenapa kamu cengar-cengir begitu, Kang?”

“Hehe… giliran kamu nanti yang kena damprat.”

“Huh. Sok tahu,” balas Laras cepat, lalu mempercepat langkahnya, mendahului kakaknya masuk ke dalam rumah.

Jatisangkar menggeleng kecil. Dalam hati ia berharap… semoga saja kali ini benar-benar bukan dia yang kena omel lagi.

Rumah Ki Baraya itu tak terlalu besar, namun kokoh dan tertata rapi. Ia berdiri di atas umpak batu, tiang-tiang kayunya menyangga bangunan panggung yang tidak terlalu tinggi dari tanah. Dindingnya terbuat dari anyaman bilik bambu yang tersusun rapat, memantulkan warna cokelat keemasan ketika tersentuh cahaya matahari sore.

Atapnya berbentuk julang ngapak. Dengan ujung-ujung yang sedikit melebar seperti sayap burung yang hendak terbang. Penutup atapnya terbuat dari ijuk dan daun kirai yang ditata tebal, membuat rumah itu tetap sejuk meski matahari menyengat.

Di bagian depan terdapat golodog, tangga pendek dari kayu dengan tiga anak tangga, tempat biasa orang duduk sambil membersihkan kaki sebelum naik. Tepat setelahnya ada tepas, ruang depan yang sederhana, lantainya dari papan kayu halus yang sudah mengilap karena sering dipel. Di sanalah Ki Baraya biasa menerima tamu atau duduk menganyam tali kekang.

Di dalam rumah, ruangannya terbagi tanpa sekat berlebihan. Sebelah kanan terdapat pangkeng, ruang tidur yang dipisahkan tirai kain kasar. Di bagian tengah ada ruang keluarga yang hangat, dengan tikar pandan terhampar dan beberapa kendi air tersusun di sudut.

Dapur terletak di bagian belakang, sedikit lebih rendah dari lantai utama. Tungku tanah liatnya masih menghitam oleh jelaga, dan asap tipis kadang keluar dari celah atap, membawa aroma kayu bakar yang khas. Di samping rumah berdiri leuit kecil, lumbung padi keluarga mereka—tanda bahwa Ki Baraya bukan orang kaya, tetapi juga bukan orang yang kekurangan.

Di halaman rumah tumbuh pohon pisang, beberapa rumpun bambu, dan pagar hidup dari tanaman perdu. Tanahnya padat, sering disapu bersih setiap pagi.

Rumah itu sederhana.

Namun terasa hangat, kokoh, dan hidup—seperti keluarga yang bernaung di dalamnya.

Sama seperti Ki Baraya, di dapur Nyi Lestari pun duduk sambil memperhatikan anaknya makan, hatinya penuh rasa syukur karena mereka selamat. Laras sudah menceritakan seluruh kejadian hari itu, dari awal hingga akhir. Meski beberapa hal terdengar ganjil dan sulit dipercaya, Nyi Lestari yakin bahwa suaminya akan membahasnya dengan serius nanti bersama Laras. Bagaimanapun, Ki Baraya memang paham tentang hal-hal mistis; bahkan beberapa tetangga sering meminta bantuannya untuk mengusir hantu di rumah mereka.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!