Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Gali atau Mati
Derasnya hujan seolah tak sanggup membasuh kengerian yang tertulis di layar ponsel Maya. Notifikasi misi itu berkedip-kedip dengan warna merah yang memuakkan, memberikan cahaya remang pada wajah Maya yang kini berlumuran lumpur. "BONGKAR PETI MATINYA." Kalimat itu bukan sekadar perintah, itu adalah vonis. Di kolom komentar, moralitas penonton telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh histeria massa yang haus akan tontonan yang belum pernah ada dalam sejarah siaran langsung.
"AYO GALI! GALI!"
"Kalau dia nggak gali, dia mati beneran itu, lihat mukanya udah biru!"
"Gila, ini konten paling berdarah tahun 2026!"
Maya menatap cangkul yang tergeletak hanya beberapa jengkal dari tangannya. Pegangan kayu cangkul itu tampak kasar dan dingin. Dadanya kembali berdenyut perih—tanda bahwa ritme jantungnya mulai dimanipulasi lagi oleh sistem PK. Setiap detik yang terbuang tanpa progres misi berarti nyawanya dikuras perlahan.
"Maya, jangan lakukan itu! Itu gila!" Rian berteriak dari kejauhan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin badai. Rian mencoba mendekat lagi, namun setiap kali ia melangkah masuk ke radius tiga meter dari Maya, udara di sekitarnya seolah memadat, menjadi dinding transparan yang memukulnya mundur.
"Aku... aku tidak punya pilihan, Rian!" suara Maya parau, bercampur dengan isak tangis yang tertahan.
Dengan tangan gemetar, Maya meraih cangkul itu. Beratnya terasa seperti memikul beban seluruh dosa di dunia. Ia mengayunkan mata cangkul itu ke gundukan tanah basah yang baru saja menimbun sahabatnya. Bugh! Bunyi mata besi yang menghantam tanah lembap itu terdengar begitu memekakkan di telinga Maya, lebih nyaring dari guntur yang bersahutan di langit.
[SYSTEM]: MISSION PROGRESS: 5%... 10%...
Setiap kali tanah terlempar, poin Maya merayap naik. Di sisi lain layar, arwah Vanya tampak bereaksi. Tubuh kaku di dalam peti itu yang tertangkap oleh kamera supernatural mulai menggeliat. Vanya tidak lagi diam; ia mencakar dinding peti dari dalam. Suara kuku yang menggaruk kayu jati terdengar melalui speaker ponsel Maya, menciptakan simfoni horor yang membuat bulu kuduk berdiri.
Maya terus mencangkul seperti orang kesetanan. Rambutnya yang basah menempel di wajah, menutupi pandangannya, namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin detak jantungnya kembali normal. Ia hanya ingin rasa sakit di dadanya hilang. Namun, semakin dalam ia menggali, aroma busuk yang tak masuk akal mulai merebak. Bukan aroma tanah basah, melainkan bau daging yang membusuk cepat, seolah-olah proses dekomposisi Vanya dipercepat oleh kekuatan gaib.
"Maafkan aku, Vanya... Maafkan aku..." rintih Maya di sela-sela napasnya yang memburu.
Tiba-tiba, mata cangkulnya menghantam sesuatu yang keras. TAK! Bunyi kayu bertemu besi.
Seluruh penonton di Live terdiam seketika. Jumlah penonton kini menyentuh angka setengah juta orang. Mereka semua menahan napas di depan layar masing-masing, menanti momen paling sakral sekaligus paling terkutuk dalam siaran itu.
[SYSTEM]: MISSION PROGRESS: 90%. OPEN THE LID TO CLAIM 1.000.000 POINTS.
Maya menjatuhkan cangkulnya. Ia kini berdiri di dalam lubang yang cukup dalam, setinggi pinggangnya. Di bawah kakinya, tutup peti mati Vanya yang berwarna cokelat gelap sudah terlihat. Ia harus membukanya. Dengan tangan kosong, Maya mulai menyingkirkan sisa-sisa tanah yang menutupi baut dan celah peti. Kuku-kukunya mulai patah, ujung jarinya berdarah karena bergesekan dengan kayu kasar, namun ia sudah tidak merasakan sakit fisik. Pikirannya sudah mati rasa.
Saat tangan Maya menyentuh pinggiran tutup peti, ponsel yang diletakkan di pinggir lubang itu tiba-tiba memutar suara tawa Vanya. Bukan tawa ceria yang biasa didengar di konten fashion haul-nya, melainkan tawa melengking yang penuh kebencian.
"Buka, Maya... aku ingin kamu lihat apa yang kamu lakukan padaku..."
Dengan satu sentakan kuat, Maya menarik tutup peti itu. Engselnya terlepas dengan bunyi derit yang memilukan.
Namun, di dalam peti itu, Maya tidak menemukan jenazah Vanya yang tenang. Di sana, tubuh Vanya tampak terdistorsi. Wajahnya telah berubah menjadi topeng daging yang mengerikan dengan filter digital yang terus berkedip (glitch) di atas kulit aslinya. Yang lebih mengerikan, Vanya memegang sebuah ponsel di tangannya—ponsel yang layarnya menyala dan menyorot balik ke arah Maya.
Maya melihat ke layar ponselnya sendiri, dan ia menyadari sesuatu yang akan menghancurkan kewarasannya: Di dalam siaran langsung itu, kamera tidak lagi hanya menyorot Maya dari luar, tapi juga menyorot Maya dari dalam peti mati, melalui sudut pandang Vanya.
[MISSION ACCOMPLISHED]
REWARD: 1.000.000 POINTS.
NEW RANK: @Maya_Pratama is now LEADING.
Seketika, rasa sakit di dada Maya hilang, namun digantikan oleh hawa dingin yang luar biasa. Di layar, akun @Anatomi_Maut memberikan komentar tunggal yang membuat seluruh bulu kuduk Maya meremang:
@Anatomi_Maut: "Kerja bagus, Maya. Sekarang, Vanya butuh teman di dalam sana. Masuklah, atau aku yang akan mendorongmu."
Maya menatap ke arah sosok berjubah hitam di atas sana. Sosok itu perlahan membuka penutup kepalanya di bawah kilatan petir. Maya terbelalak. Wajah di balik jubah itu bukan milik Hendra sang manajer. Wajah itu adalah wajah yang sangat ia kenal, seseorang yang seharusnya berada di sisinya untuk menyelamatkannya.
"Rian...?" bisik Maya dengan suara yang hilang tertiup angin.
Rian, yang tadinya tampak terlempar oleh dinding transparan, kini berdiri tegak di tepi lubang dengan tablet di tangannya, tersenyum dengan sorot mata yang kosong dan dingin. "Maaf, Maya. Algoritma butuh tumbal yang lebih segar agar kanal ini tetap hidup."
Rian melangkah maju, dan tepat sebelum bab berakhir, ia mengayunkan kakinya ke arah bahu Maya, mendorong gadis itu jatuh tepat ke atas jenazah Vanya yang sudah membuka lengannya lebar-lebar. Tutup peti itu terbanting menutup dengan sendirinya sebelum jeritan Maya sempat keluar.
ok next