Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Api di Dalam Cangkang Kecil
Matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga yang tampak seperti luka di cakrawala. Lu Chen berjalan gontai menuju pinggiran Sekte Langit Biru, tempat di mana gubuk-gubuk kayu reyot berdiri berhimpitan. Itu adalah area bagi para pelayan dan murid buangan—tempat yang jauh dari kemegahan menara-menara kultivasi yang menjulang tinggi.
Di telapak tangannya, semut hitam itu tetap diam. Meskipun ukurannya tak lebih besar dari sebutir beras, Lu Chen bisa merasakan bobot yang aneh. Bukan bobot fisik, melainkan bobot keberadaan yang sangat masif, seolah-olah dia sedang menggenggam sebuah gunung berapi yang siap meledak kapan saja.
"Jadi, Ignis... itu namamu?" bisik Lu Chen saat dia memasuki gubuknya yang pengap.
"Jangan lancang menyebut namaku dengan mulut fana itu, Manusia!" Suara itu kembali menggelegar di dalam kesadaran Lu Chen. "Jika bukan karena kontrak sialan ini yang mengikat sisa-sisa jiwaku, aku sudah membakarmu menjadi abu sejak detik pertama kau menyentuhku!"
Lu Chen meletakkan Ignis di atas meja kayu yang permukaannya sudah kasar dan lapuk. Dia menyalakan sebuah lilin kecil, cahayanya bergoyang tertiup angin yang masuk dari celah dinding. "Kau terus bicara soal membakar, tapi lihat dirimu. Kau bahkan tidak bisa mematikan lilin ini sekarang."
Semut itu tampak gemetar, antenanya bergerak liar. Lu Chen bisa merasakan gelombang kemarahan yang luar biasa terpancar dari makhluk kecil itu. Tiba-tiba, Ignis merayap menuju nyala api lilin. Alih-alih terbakar, semut itu justru berdiri di tengah kobaran api. Dia membuka mulut kecilnya dan mulai menghisap api itu seolah-olah itu adalah madu yang manis.
Dalam hitungan detik, api lilin itu padam, meninggalkan ruangan dalam kegelapan.
"Hmph, api berkualitas rendah ini hampir tidak cukup untuk membasahi tenggorokanku," ejek Ignis, meskipun Lu Chen bisa merasakan bahwa energi sang naga sedikit lebih stabil setelah "sarapan" singkat itu.
[Ding! Hewan Kontrak Anda telah mengonsumsi Energi Api Tingkat Rendah.]
[Proses Sinkronisasi Dimulai: 0.1%]
[Anda menerima umpan balik energi: Penguatan Tulang Tahap 1.]
Tiba-tiba, rasa sakit yang menusuk menjalar ke seluruh tubuh Lu Chen. Dia jatuh tersungkur ke lantai tanah, mencengkeram dadanya. Rasanya seperti ada besi panas yang mengalir di dalam sumsum tulangnya. Suara derak tulang terdengar jelas di keheningan malam.
Inilah efek dari sistem SSS+ Omnipotence Mask. Karena dia terhubung dengan Raja Naga Merah, setiap peningkatan yang dialami si semut akan berlipat ganda dan mengalir ke tubuh Lu Chen. Namun, karena tubuh Lu Chen saat ini masih "fana", proses adaptasi ini terasa seperti siksaan.
"Sial... ini... menyakitkan!" geram Lu Chen, keringat dingin membanjiri pelipisnya.
"Tahan, bocah lemah!" Ignis berseru, kali ini tanpa nada mengejek. Ada sedikit rasa penasaran dalam suaranya. "Tubuhmu sedang dipaksa untuk menanggung sedikit dari Fondasi Naga. Jika kau pingsan sekarang, pembuluh darahmu akan hancur."
Lu Chen menggertakkan gigi. Dia mengingat wajah sombong Han Wei dan tatapan jijik Penatua Feng. Dia mengingat bagaimana dia diusir seperti sampah hanya karena sebuah angka di batu penguji. Dia tidak akan menyerah di sini. Dia memaksakan dirinya untuk duduk bersila, mengatur napas sesuai dengan instruksi yang tiba-tiba muncul di layar sistemnya.
[Teknik Kultivasi 'Napas Naga Tak Terlihat' diaktifkan secara otomatis.]
Perlahan, rasa panas itu mulai mereda, berubah menjadi aliran hangat yang menyejukkan. Lu Chen merasa panca inderanya menjadi jauh lebih tajam. Dia bisa mendengar suara jangkrik di luar gubuk dengan sangat jelas, bahkan dia bisa merasakan aliran energi spiritual yang tipis di udara—sesuatu yang sebelumnya mustahil bagi seseorang dengan "Afinitas Nol".
"Menarik..." Ignis merayap kembali ke bahu Lu Chen. "Kau memiliki teknik pernapasan yang unik. Aku tidak bisa merasakan level kultivasimu, padahal aku tahu kau baru saja menembus tahap awal. Kau... kau sengaja menyembunyikannya?"
"Bukan aku yang menyembunyikannya," jawab Lu Chen sambil mengusap keringat di wajahnya. "Sistem ini... ia melindungiku agar dunia tidak tahu siapa kita sebenarnya. Jika mereka tahu ada naga di dalam semut, atau bakat SSS+ di dalam tubuh pelayan, kita akan diburu oleh seluruh benua."
Ignis terdiam sejenak. Sang Raja Naga yang sombong itu mulai menyadari bahwa manusia di hadapannya ini bukan sekadar pemuda beruntung yang bodoh. "Jadi, kita berdua memakai topeng. Baiklah. Tapi jangan harap aku akan menundukkan kepalaku padamu selamanya."
"Aku tidak butuh kau menunduk, Ignis. Aku butuh kau tumbuh," Lu Chen berdiri, merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan kuat. "Mulai besok, aku adalah pelayan pembersih kandang. Itu artinya kita akan memiliki akses ke sisa-sisa material berharga dan energi dari hewan buas. Kita akan berpesta di sana."
Tiba-tiba, pintu gubuk didobrak dengan kasar hingga hampir terlepas dari engselnya.
"Lu Chen! Keluar kau, anjing rendah!"
Suara itu milik Han Wei. Di belakangnya, berdiri dua murid lainnya yang membawa obor. Han Wei masih memegangi tangannya yang tadi digigit Ignis di aula, wajahnya merah padam karena amarah dan malu.
"Kau berani mempermalukanku di depan banyak orang tadi pagi!" teriak Han Wei sambil melangkah masuk, tidak peduli dengan bau apek di dalam gubuk itu. "Aku tidak tahu trik kotor apa yang kau gunakan, tapi aku datang untuk mengambil kompensasi. Berikan semua batu roh yang kau punya, dan bunuh semut menjijikkan itu di depanku!"
Lu Chen menatap Han Wei dengan tatapan dingin. Di matanya, sebuah antarmuka biru berkedip:
[Analisis Target: Han Wei]
[Level: Tahap Pengumpulan Roh - Level 3]
[Ancaman: Rendah]
[Saran: Gunakan 5% Energi Naga untuk melumpuhkan tanpa membunuh (Mempertahankan Penyamaran).]
"Semut ini tidak bersalah, Kakak Han," kata Lu Chen dengan nada datar, yang justru membuat Han Wei semakin emosi. "Dan soal batu roh... bukankah itu milik murid resmi? Aku sudah bukan murid resmi lagi, bukan?"
"Jangan banyak bicara!" Han Wei mengangkat tangannya, energi spiritual berwarna biru pucat berkumpul di telapak tangannya. "Jika kau tidak mau memberikannya, aku akan mematahkan kedua kakimu agar kau harus merangkak ke kandang binatang besok!"
Ignis yang berada di bahu Lu Chen mulai mengeluarkan desisan kecil. "Bocah ini sungguh berisik. Biarkan aku membakar lidahnya agar dia belajar diam."
"Jangan," batin Lu Chen pada Ignis. "Terlalu mencolok. Biar aku yang mengurusnya."
Lu Chen melangkah maju, tangannya tetap berada di samping tubuhnya. Dia tampak sangat lemah dan tidak berdaya, namun di dalam pembuluh darahnya, energi naga mulai bergejolak, menunggu untuk dilepaskan dari balik topengnya yang sempurna.
...****************...
...RILIS SETIAP HARI...