Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Kehancuran yang Dibawa Oleh Pengkhianatan
Suara pintu kamar utama yang terbuka dengan tiba-tiba membuat Rania terkejut dari fokusnya pada dokumen perusahaan yang sedang ia teliti di meja kerja ruang tamu rumah mereka. Ia melihat Arga memasuki kamar bersama seorang wanita yang wajahnya sangat akrab baginya—Maya, sahabatnya yang telah dianggapnya seperti saudara perempuan sendiri selama bertahun-tahun. Kedua orang itu berpegangan tangan erat, wajah mereka masih merah karena emosi dan napas mereka terengah-engah seolah baru saja menjalani sesuatu yang membuat mereka tergesa-gesa.
Dalam sekejap, semua yang tidak pernah Rania duga atau curigai tiba-tiba menjadi jelas. Semua jam kerja lembur yang dikatakan Arga, semua alasan Maya yang mengatakan harus pergi ke luar kota untuk urusan keluarga, semua tanda-tanda kecil yang pernah ia abaikan karena terlalu mempercayai kedua orang terdekatnya ini—semuanya kini menyusun sebuah gambar yang menyakitkan hati.
“Rania, saya bisa menjelaskan—” ucap Arga dengan suara yang terengah-engah, mencoba melepaskan tangan Maya untuk mendekati Rania.
Tetapi Rania mengangkat tangannya dengan cepat, menghalangi langkahnya. Matanya yang biasanya lembut dan penuh kasih kini terbakar dengan kemarahan dan rasa sakit yang luar biasa. “Jangan mendekatiku,” ucapnya dengan suara yang tenang tapi penuh dengan kekuatan yang membuat kedua orang itu berhenti di tempat. “Jangan sekali-kali kamu berani mendekatiku lagi setelah apa yang telah kamu lakukan.”
Maya mengambil langkah ke depan, wajahnya yang dulu selalu penuh senyum kini menunjukkan ekspresi yang tidak pernah Rania lihat sebelumnya—campuran antara keberanian yang salah dan rasa bangga yang tidak pantas. “Rania, sebenarnya kita sudah bersama cukup lama,” ucapnya dengan nada yang seolah-olah sedang membicarakan sesuatu yang biasa saja. “Arga dan aku benar-benar mencintai satu sama lain. Kita berpikir bahwa kamu seharusnya tahu tentang hubungan kita agar kamu bisa memahami kenapa kita harus bersama.”
Rania hanya bisa menatap Maya dengan mata yang penuh dengan tidak percaya. “Saudara?!” teriaknya dengan suara yang tiba-tiba naik tinggi. “Aku selalu memperlakukannya seperti saudara perempuan sendiri! Aku yang membantu kamu ketika kamu tidak punya uang untuk membayar kuliahmu! Aku yang memberikan kamu pekerjaan di perusahaanku ketika kamu tidak punya tempat untuk bekerja! Aku yang membantumu ketika kamu sakit dan tidak punya orang untuk merawatmu! Dan begitulah kamu membalas semua kebaikan itu? Dengan menghianati aku bersama suamiku sendiri?!”
Maya mengerutkan kening seolah-olah Rania adalah orang yang salah dalam situasi ini. "Rania, kamu sendiri yang tahu kan kalau kamu tidak bisa melayani Arga dengan baik sebagai istri,” ucapnya dengan nada yang menyakitkan hati. “Kamu selalu sibuk dengan perusahaanmu, selalu lebih memilih bekerja daripada menghabiskan waktu bersama dia. Kamu tidak pernah punya waktu untuk dia, tidak pernah memperhatikan kebutuhannya sebagai seorang pria. Aku hanya yang bisa memberikan apa yang dia butuhkan—perhatian, kasih sayang, dan waktu yang selalu dia idam-idamkan.”
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk langsung ke jantung Rania. Ia melihat ke arah Arga, berharap bahwa suaminya yang selama ini dianggapnya baik dan setia akan membantahnya, akan mengatakan bahwa Maya salah dan bahwa yang dicintainya adalah dirinya. Tetapi Arga hanya berdiri diam, wajahnya penuh dengan rasa bersalah tapi juga menunjukkan bahwa ia tidak bisa menyangkal apa yang telah dikatakan Maya.
“Apakah benar apa yang dia katakan?” tanya Rania dengan suara yang mulai bergetar. “Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa aku tidak mencintaimu? Apakah semua waktu yang aku habiskan bekerja keras untuk membangun perusahaan agar kita bisa hidup nyaman, agar keluarga kita bisa mendapatkan yang terbaik—apakah semua itu tidak berarti apa-apa bagimu?”
Arga mengangkat kepalanya, matanya penuh dengan perjuangan batin. “Aku mencintaimu, Rania,” ucapnya dengan suara yang lemah. “Tapi aku juga mencintai Maya. Kamu benar-benar sangat sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku merasa sendiri di rumah ini. Maya selalu ada untukku ketika aku merasa kesepian, dia selalu mau mendengarkan keluh kesahku tentang bagaimana aku merasa tidak pernah cukup bagimu karena kamu selalu lebih sukses dariku.”
Rania tertawa pelan, tapi suaranya penuh dengan rasa sakit dan keputusasaan. “Jadi semuanya salahku ya? Kamu dan sahabatku yang telah aku percayai sepenuh hati saling berselingkuh, dan kemudian menyalahkanku karena aku bekerja keras untuk masa depan kita berdua? Kamu tidak pernah berusaha untuk berkomunikasi denganku tentang perasaanmu itu! Kamu tidak pernah mengatakan bahwa kamu merasa tidak cukup atau bahwa kamu merasa sendiri! Kamu hanya memilih untuk pergi ke pelukan orang lain dan menyalahkanku atas semua itu!”
Maya kembali berbicara, kali ini wajahnya menunjukkan senyum licik yang membuat Rania merasakan rasa jijik yang luar biasa. "Rania, mungkin ini adalah hal terbaik bagi kita semua,” ucapnya dengan nada yang seolah-olah sedang menawarkan sesuatu yang baik. “Kamu bisa fokus penuh pada perusahaanmu tanpa harus khawatir tentang urusan rumah tangga atau kebutuhan seorang suami. Sementara itu, aku dan Arga bisa hidup bersama dengan damai dan bahagia. Kita bahkan sudah merencanakan bagaimana akan membangun kehidupan bersama setelah kamu dan Arga bercerai.”
“Bercerai?” tanya Rania dengan nada yang semakin dingin. “Kamu berpikir bahwa aku akan dengan mudah memberikan suamiku padamu setelah kamu menghianati aku dengan cara yang paling keji ini? Kamu berpikir bahwa semua yang telah aku bangun bersama Arga selama lima tahun menikah bisa dengan mudah kamu bawa pergi begitu saja?”
Ia berjalan ke arah lemari kayu besar di sudut kamar, mengambil tas kerja nya dan mulai memasukkan beberapa barang penting ke dalamnya. Tangan nya bergetar karena emosi tapi gerakannya tetap terkontrol dan jelas. “Aku tidak akan bercerai denganmu, Arga,” ucapnya sambil tetap fokus pada apa yang ia lakukan. “Tapi aku akan mengusirmu dari rumah ini. Rumah ini dibeli dengan uang hasil kerja keras ku sendiri, seperti juga sebagian besar aset yang kita miliki. Kamu bisa mengambil barang-barang pribadimu dan pergi sekarang juga.”
Arga akhirnya tampak terkejut dan mulai panik. “Rania, kamu tidak bisa begitu saja mengusirku dari rumah sendiri! Ini juga rumahku!”
“Ini bukan rumahmu, Arga,” jawab Rania dengan tegas tanpa melihatnya. “Setiap batu bata yang membangun rumah ini, setiap furnitur yang ada di dalamnya, setiap uang yang digunakan untuk membayar cicilan dan biaya hidup kita selama ini—semuanya berasal dari usaha dan kerja keras ku. Kamu hanya tinggal di sini sebagai suamiku, tapi kamu tidak pernah berkontribusi apa-apa selain menjadi beban yang selalu meminta dan mengambil tanpa pernah memberikan apa-apa kembali.”
Maya mengeluarkan suara tawa yang sinis. “Rania memang seperti itu saja kan? Selalu hanya berpikir tentang uang dan materi. Kamu tidak mengerti arti dari cinta yang tulus dan hubungan yang berdasarkan kasih sayang, bukan berdasarkan siapa yang lebih kaya atau lebih sukses.”
Rania akhirnya berhenti dari apa yang ia lakukan dan menatap Maya dengan pandangan yang penuh dengan kekerasan batin. “Kamu tidak punya hak untuk berbicara tentang cinta dan hubungan yang tulus, Maya,” ucapnya dengan suara yang rendah tapi menusuk. “Cinta yang tulus tidak pernah dibangun di atas khianatan dan kebohongan! Cinta yang tulus tidak pernah menyakiti orang lain yang telah memberikan segalanya untuk kamu! Kamu hanya berpikir tentang dirimu sendiri dan tentang apa yang kamu inginkan, tanpa peduli bagaimana perasaan orang lain atau bagaimana tindakanmu merusak kehidupan orang lain!”
Ia kemudian menghadapkan diri ke arah Arga, matanya yang penuh dengan kemarahan kini juga terbaca rasa kecewa yang mendalam. “Aku pernah mencintaimu dengan sepenuh hati, Arga,” ucapnya dengan suara yang mulai bergetar karena emosi yang tidak bisa lagi ia tahan. “Aku pernah berpikir bahwa kamu adalah orang yang akan selalu ada untukku, orang yang akan berdiri bersamaku melalui suka dan duka. Tapi kamu telah membuktikan bahwa aku salah besar dalam mempercayaimu. Kamu telah menghancurkan semua yang kita bangun bersama, kamu telah merusak kepercayaan yang aku berikan padamu dengan begitu mudahnya, dan kamu telah menyakiti aku dengan cara yang tidak bisa aku lupakan atau maafkan begitu saja.”
“Rania, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini,” ucap Arga dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Aku bersedia untuk berhenti dengan Maya, aku bersedia untuk pergi ke konseling perkawinan, aku bersedia untuk melakukan apa saja yang kamu mau agar kita bisa menyelamatkan pernikahan kita.”
Tetapi Rania hanya menggelengkan kepalanya dengan lembut. “Sudah terlambat untuk itu, Arga,” jawabnya dengan nada yang penuh dengan kesedihan tapi juga kepastian. “Aku tidak bisa hidup bersama seseorang yang telah menghianati aku dengan cara yang begitu keji. Aku tidak bisa tidur di kamar yang sama dengan seseorang yang telah berselingkuh dengan sahabatku di tempat tidur kita sendiri. Dan aku tidak bisa mempercayai seseorang yang telah membuktikan bahwa kata-katanya tidak berarti apa-apa dan bahwa janjinya bisa dengan mudah dilanggar.”
Ia mengambil tas kerja yang sudah terisi dan berjalan menuju pintu kamar. Sebelum keluar, ia berbalik sekali lagi untuk melihat kedua orang yang telah menghancurkan kehidupannya. “Kamu punya waktu sampai malam hari untuk mengambil semua barang pribadimu dan keluar dari rumah ini,” ucapnya dengan tegas. “Jika kamu tidak pergi pada waktu yang telah aku tentukan, aku akan memanggil satpam kompleks dan meminta mereka untuk mengeluarkanmu dengan paksa. Dan besok paginya, aku akan menghubungi pengacaraku untuk memulai proses perceraian. Aku tidak akan memberikanmu apa-apa selain hakmu yang paling dasar, karena kamu tidak pantas mendapatkan lebih dari itu setelah apa yang telah kamu lakukan.”
Maya mencoba untuk berbicara lagi, tapi Rania tidak memberikan kesempatan padanya. Ia keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan lembut tapi pasti, meninggalkan Arga dan Maya sendirian di kamar yang kini terasa sangat sepi dan dingin. Di luar kamar, Rania bersandar pada tembok dan menangis dengan terisak-isak, merasakan seluruh berat kehancuran yang telah dibawa oleh khianatan dari dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya.
Bu Sarinah, pembantu mereka yang telah bekerja bersama mereka selama bertahun-tahun, datang berlari mendengar suara tangisan Rania. Ia melihat Rania yang sedang menangis terisak-isak dan segera memeluknya dengan lembut, memberikan dukungan yang dibutuhkan tanpa perlu bertanya apa yang terjadi. Bu Sarinah telah melihat dan mendengar banyak hal selama bekerja di rumah ini, dan ia bisa menebak apa yang telah membuat Rania sedih hingga seperti ini.
“Semua akan baik-baik saja, mbak,” ucap Bu Sarinah dengan suara yang lembut sambil membelai punggung Rania. “Kamu adalah orang yang kuat dan baik hati. Kamu pasti bisa melewati semua kesulitan ini dan bangkit menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya.”
Rania hanya bisa menangis lebih deras di pelukan Bu Sarinah, merasakan betapa sendirinya ia kini setelah kehilangan kedua orang terdekatnya sekaligus. Ia tidak tahu bagaimana ia akan bisa melanjutkan hidup tanpa orang yang dicintainya dan tanpa sahabat yang dipercayainya, tapi ia tahu bahwa ia harus kuat. Ia memiliki perusahaan yang harus dijalankan, ia memiliki tanggung jawab terhadap karyawannya, dan ia memiliki diri sendiri yang harus dilindungi dan dijaga dari orang-orang yang tidak pantas untuk berada dalam kehidupannya.
Sementara itu, di dalam kamar utama, Arga dan Maya berdiri diam seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Arga merasakan rasa sakit yang luar biasa di hatinya menyadari bahwa ia telah kehilangan wanita terbaik yang pernah ada dalam hidupnya hanya karena kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki lagi. Sedangkan Maya hanya berdiri dengan wajah yang penuh dengan keterkejutan dan sedikit kecewa—ia tidak menyangka bahwa Rania akan bereaksi dengan begitu tegas dan tidak mau memberikan kesempatan kepada mereka sama sekali.
“Kita tidak akan menyerah begitu saja, kan?” ucap Maya dengan suara yang lembut sambil meraih tangan Arga. “Kita bisa mencari cara untuk membuat Rania memahami bahwa cinta kita adalah nyata dan bahwa kita berhak untuk bersama.”
Tetapi Arga hanya menarik tangannya dari genggaman Maya dan menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan kemarahan dan rasa bersalah. “Apa yang kamu inginkan lagi, Maya?” tanyanya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Kita telah merusak kehidupan Rania, kita telah menghancurkan pernikahan saya, dan kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Apa lagi yang kamu inginkan dari semua ini?”
Maya melihat Arga dengan mata yang penuh dengan tidak percaya. Ia tidak menyangka bahwa Arga akan bereaksi seperti ini setelah mereka akhirnya terbuka dengan Rania. Ia selalu berpikir bahwa setelah Rania tahu tentang hubungan mereka, Arga akan langsung memilihnya dan mereka bisa hidup bahagia bersama. Tapi sekarang, ia melihat bahwa Arga sedang merasakan rasa menyesal yang dalam dan bahwa mungkin dia tidak sepenuhnya siap untuk meninggalkan Rania seperti yang telah mereka rencanakan.
“Aku hanya mencintaimu, Arga,” ucapnya dengan suara yang lembut. “Aku hanya ingin kita bisa bersama tanpa harus bersembunyi atau merasa bersalah.”
Tetapi Arga hanya menghela napas dalam-dalam dan mulai mengumpulkan barang-barang pribadinya. “Aku juga mencintaimu, Maya,” ucapnya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Tapi aku juga mencintai Rania, dan aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar dengan menyakiti dia seperti ini.
Maya hanya bisa menatap Arga dengan mata yang penuh dengan kesedihan dan kemarahan. Ia merasa seperti telah digunakan dan kemudian dibuang begitu saja oleh pria yang telah ia cintai dengan sepenuh hati. Tapi pada saat yang sama, ia juga merasakan sedikit rasa bersalah menyadari bahwa apa yang telah mereka lakukan kepada Rania memang salah dan bahwa mereka telah menyakiti seseorang yang tidak pernah berbuat salah kepada mereka.
Ketika malam menjelang, Arga telah selesai mengumpulkan semua barang-barangnya. Ia keluar dari kamar utama dan melihat Rania yang sedang duduk di ruang tamu bersama Bu Sarinah, wajahnya sudah tidak lagi menangis tapi masih menunjukkan rasa sakit yang dalam. Ia ingin mendekatinya untuk mengatakan maaf yang sesungguhnya, tapi ia tahu bahwa Rania tidak akan mau melihatnya atau mendengar suaranya lagi.
Dengan hati yang berat, Arga mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu depan rumah. Sebelum keluar, ia berbalik sekali lagi untuk melihat Rania yang sedang menatap jauh ke luar jendela. “Aku benar-benar menyesal atas semua yang telah kulakukan, Rania,” ucapnya dengan suara yang lembut. “Aku berharap bahwa suatu hari nanti kamu bisa memberiku kesempatan untuk meminta maaf yang sebenarnya dan untuk menunjukkan bahwa aku bisa menjadi orang yang lebih baik dari yang kamu pikirkan.”
Tetapi Rania tidak berbalik atau memberikan tanggapan apapun. Ia hanya tetap duduk diam, menatap luar jendela sambil merasakan bahwa hidupnya telah berubah selamanya dan bahwa ia harus belajar untuk hidup tanpa orang yang pernah dianggapnya sebagai bagian penting dari dirinya.
Setelah Arga keluar dan menutup pintu rumah dengan lembut, Rania akhirnya berbalik dan melihat ke arah pintu yang baru saja ditutup. Ia merasakan bahwa sebagian besar dirinya telah pergi bersama Arga, tapi pada saat yang sama ia juga merasakan rasa lega bahwa akhirnya semua kebohongan dan khianatan telah terkuak dan bahwa ia bisa mulai membangun hidupnya kembali dari awal lagi.
“Bu Sarinah,” ucap Rania dengan suara yang sudah mulai pulih. “Besok paginya, tolong hubungi pengacaraku dan beri tahu dia bahwa aku ingin memulai proses perceraian segera. Dan juga hubungi bagian keuangan perusahaan untuk memastikan bahwa tidak ada aset atau uang perusahaan yang telah digunakan oleh Arga untuk kepentingan pribadinya atau untuk hal-hal yang tidak pantas.”
Bu Sarinah mengangguk perlahan dan membelai bahu Rania dengan lembut. “Tentu saja, mbak,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Semua akan diatur dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa lagi. Kita akan melalui semua ini bersama-sama.”
Rania mengangguk perlahan dan kembali menatap ke luar jendela, melihat langit malam yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Ia tahu bahwa jalan menuju pemulihan akan sangat panjang dan sulit, tapi ia juga tahu bahwa ia memiliki kekuatan dan keberanian untuk melewatinya. Ia tidak akan pernah mempercayai orang dengan mudah lagi