Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA
Angin malam di pinggiran jalan raya Bandung terasa menusuk sampai ke tulang, seolah-olah ingin menguji seberapa kuat tekad yang tersisa di dalam dada Rangga. Gerobak angkringan cokelat tua yang ia perbaiki dengan cucuran keringat itu kini terparkir di depan sebuah ruko kosong yang gelap. Lampu petromaks kecil yang tergantung di sudut gerobak bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas deretan sate usus, tahu bacem, dan nasi kucing yang masih tertutup rapi.
Sudah tiga jam Rangga berdiri di sana, tapi belum ada satu pun pembeli yang mampir. Jalanan mulai sepi, cuma sesekali dilewati motor yang melaju kencang, meninggalkan cipratan air dari sisa hujan sore tadi. Rangga menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang kasar, mencoba mencari sedikit kehangatan. Di pojok bawah gerobak, beralaskan kardus tebal dan selimut kumal, Rinjani sudah terlelap. Wajah polos anaknya itu tampak sangat tenang, meski tidurnya diganggu suara bising kendaraan.
"Apa aku beneran bisa ya, Mak?" gumam Rangga lirih, menatap dagangannya yang masih utuh. Rasa putus asa mulai merayap masuk ke pikirannya. Dia teringat hinaan Laras di Jakarta dulu. Kamu itu cuma tukang ojek yang nggak punya masa depan! Suara itu terngiang-ngiang, bikin dadanya terasa sesak sekali. Rangga menunduk, menatap sandal jepitnya yang sudah tipis. Dia merasa gagal lagi. Kalau malam ini tidak laku, besok dia mau kasih makan apa untuk Rinjani dan Emak?
Seketika, hujan rintik-rintik mulai turun lagi dari langit yang hitam pekat. Rangga buru-buru menarik terpal plastik untuk menutupi bagian depan gerobaknya. Di tengah suara rintik hujan yang menghantam atap seng, ia menatap sesosok gadis yang berlari kecil menuju arah gerobaknya. Gadis itu memakai gamis berwarna abu-abu tua yang sangat sederhana tapi tampak rapi sekali. Kerudung lebarnya menutupi dada, dan wajahnya tampak teduh meski sedikit basah karena air hujan.
"Permisi, Mas... boleh numpang berteduh sebentar ya?" suara itu terdengar lembut dan sopan sekali di telinga Rangga.
Rangga sedikit terkejut, lalu buru-buru mengangguk. "Eh, iya, Mbak. Silakan, silakan duduk di situ saja yang kering," jawab Rangga sambil menunjuk bangku kayu panjang di depan gerobaknya.
Gadis itu, Syakira, duduk sambil merapikan pakaiannya. Dia menatap deretan menu di depannya, lalu menatap ke arah Rangga yang sedang sibuk merapikan arang di tungku. "Masih buka kan, Mas? Saya pesan teh jahe hangatnya satu ya. Dingin sekali soalnya di luar."
"Masih kok, Mbak. Sebentar ya," jawab Rangga. Dia mulai menggeprek jahe dengan cekatan. Aroma wangi jahe bakar seketika memenuhi area angkringan itu, memberikan sedikit rasa nyaman di tengah udara yang membeku.
Syakira menatap ke bawah gerobak, tempat Rinjani sedang tidur. Matanya membulat kecil, penuh rasa haru. "Aduh, itu anaknya ya, Mas? Kok diajak jualan malam-malam begini sih? Kasihan, dingin loh Mas," ucap Syakira pelan, suaranya penuh rasa empati, bukan nada menghakimi seperti yang biasa Rangga dengar dari Laras.
"Iya, Mbak. Cuma berdua soalnya di rumah sama Emak yang sudah sepuh. Jadi terpaksa dibawa, nggak ada yang jaga kalau malam," jelas Rangga sambil menyodorkan segelas teh jahe yang mengepulkan asap.
Seketika, Rinjani menggeliat karena mendengar suara orang asing. Bocah kecil itu duduk sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Begitu menatap Syakira, Rinjani sempat diam sebentar, lalu dengan sopan ia menganggukkan kepalanya. "Halo, Tante... selamat malam," bisik Rinjani lirih.
Syakira tersenyum sangat manis menatap kesantunan Rinjani. "Halo sayang. Namanya siapa? Cantik sekali sih kamu."
"Rinjani, Tante," jawabnya sambil mencoba merapikan rambutnya yang berantakan.
"Masya Allah, Rinjani anak pintar ya. Kok belum bobo di rumah?" Syakira mengajak bicara sambil mengusap kepala Rinjani.
"Rinjani mau temenin Ayah jualan. Kasihan Ayah sendirian kalau nggak ada Rinjani," jawab bocah itu polos. Kalimat sederhana itu membuat Syakira tertegun, sementara Rangga cuma bisa membuang muka, mencoba menahan air mata yang mendadak mau tumpah. Dia merasa sangat terharu sekaligus pedih menatap anaknya yang begitu pengertian di tengah kemelaratan ini.
Syakira menyeruput teh jahenya perlahan. Sambil menikmati kehangatan minuman itu, matanya tidak sengaja menatap tangan Rangga yang sedang mencuci gelas. Tangan itu tampak sangat kasar, kulitnya pecah-pecah di beberapa bagian, dan ada bekas luka bakar serta noda oli yang sudah meresap ke dalam pori-pori kulit, tanda kalau pria di depannya ini adalah pekerja keras yang luar biasa.
Ada rasa hormat yang mendalam muncul di dalam hati Syakira. Dia sering melihat pria-pria kaya yang sombong di ruko ayahnya, tapi menatap Rangga, dia melihat sosok ayah yang sesungguhnya. Seorang pria yang mau membuang urat malunya, berdiri di tengah hujan dan kedinginan, cuma demi memastikan anaknya bisa makan besok pagi. Syakira tahu, pria ini sedang memikul beban hidup yang sangat berat di pundaknya.
"Mas... sudah lama jualan di sini?" tanya Syakira mencoba membuka percakapan lagi.
"Baru malam pertama ini, Mbak. Makanya agak sepi, mungkin orang belum tahu," jawab Rangga jujur. Dia mencoba tersenyum meski wajahnya tampak lelah sekali.
"Masakan Mas aromanya enak kok. Pasti nanti bakal ramai deh. Yang sabar ya, Mas. Gusti Allah nggak akan tutup mata sama orang yang berjuang buat anaknya seperti Mas ini," ucap Syakira tulus. Kata-kata itu terasa seperti air dingin yang menyiram hati Rangga yang gersang. Jarang sekali ada orang asing yang bicara selembut itu padanya, apalagi setelah dia terbiasa dengan caci maki Laras di Jakarta.
Lalu, hujan mulai mereda. Syakira menghabiskan teh jahenya dan bersiap untuk pergi. Dia membuka tas kecilnya, lalu mengambil selembar uang seratus ribu rupiah dan meletakkannya di atas meja gerobak.
"Ini Mas, buat teh jahenya," ujar Syakira.
Rangga terbelalak menatap uang itu. Harga teh jahenya cuma lima ribu rupiah. "Aduh, Mbak... maaf, uangnya besar sekali. Saya belum ada kembaliannya. Tadi belum ada yang laku soalnya," jawab Rangga panik sambil meraba-raba kantong celananya yang kosong.
Syakira menggeleng pelan sambil tersenyum. "Nggak usah dikembalian, Mas. Ambil saja ya. Itu buat beli vitamin atau buku gambar buat Rinjani. Saya ikhlas kok."
Seketika, wajah Rangga berubah kaku. Dia teringat saat Badru melempar uang seratus ribu ke arahnya di kantor dulu sebagai uang "ganti rugi". Meski niat Syakira baik, rasa trauma akan penghinaan itu masih membekas kuat di jiwa Rangga. Dia tidak ingin dianggap sebagai pengemis yang butuh dikasihani.
"Maaf sekali, Mbak... tapi saya jualan, bukan minta-minta," ucap Rangga dengan nada yang tegas tapi tetap sopan. Dia mengambil uang itu dan menyodorkannya kembali ke arah Syakira. "Saya hargai niat baik Mbak, tapi saya cuma mau ambil hak saya. Lima ribu saja cukup deh. Kalau Mbak nggak ada uang kecil, mending besok-besok saja bayarnya kalau mampir lagi. Saya nggak apa-apa kok."
Syakira terdiam, menatap mata Rangga yang memancarkan kejujuran dan harga diri yang sangat tinggi. Dia tidak menyangka pria yang sedang susah ini akan menolak uang tambahan yang nilainya cukup besar buat ukuran pedagang angkringan. Ada rasa haru yang makin kuat menjalar di hati Syakira.
"Maaf, Mas... saya nggak bermaksud merendahkan. Saya cuma kagum sama perjuangan Mas," bisik Syakira merasa bersalah. "Ya sudah, kalau begitu ini ada uang lima ribu di saku jaket saya. Saya bayar pas ya?"
Syakira memberikan uang lima ribu yang lusuh, lalu Rangga menerimanya dengan senyum tulus. "Terima kasih banyak ya, Mbak. Semoga selamat sampai tujuan."
Syakira melangkah pergi meninggalkan angkringan itu, tapi sesekali ia menoleh ke belakang, menatap sosok Rangga yang kembali sibuk merapikan dagangannya. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya merasa sangat tidak tenang. Ada keinginan kuat untuk membantu pria jujur itu. Syakira belum bilang pada Rangga, kalau ruko kosong tempat Rangga berjualan itu adalah milik ayahnya yang sebentar lagi akan disewakan.
Rangga kembali duduk di samping Rinjani, memegang uang lima ribu pertama hasil keringatnya di Bandung. Meski cuma sedikit, rasa bangganya jauh lebih besar daripada saat ia menerima uang dari Badru dulu. "Rinjani, lihat... pecah telur juga dagangan kita," bisik Rangga sambil mencium kening anaknya. Dia tidak tahu kalau pertemuan malam ini bakal menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,