NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Tamu Tak Diundang

Kebahagiaan itu seperti taman yang indah. Perlu dirawat setiap hari, disiram, dipupuk, dilindungi dari hama. Dan Aira tahu, tamannya sedang tumbuh subur.

Tiga bulan sudah ia menikah dengan Raka. Tiga bulan ia menjadi ibu bagi Arka. Tiga bulan ia membagi waktu antara butik, keluarga, dan dirinya sendiri. Tidak mudah. Tapi ia bahagia.

Pagi itu, Aira sedang di butik. Maya sibuk di belakang dengan mesin jahit. Beberapa karyawan baru datang, butik mulai berkembang. Orderan datang dari berbagai kota. Namanya mulai dikenal sebagai desainer kain perca dengan sentuhan modern.

"Mba, orderan dari Bali masuk lagi. Tiga puluh piece batik perca," lapor Maya.

Aira tersenyum. "Bagus. Kita kerjakan tim. Jangan lupa kualitas tetap utama."

"Iya, Mba. Eh, Mba, Pak Raka udah ngirim bunga belum hari ini?"

Aira tertawa. "Maya, itu udah tiga bulan lalu. Sekarang udah enggak kirim bunga tiap hari."

"Yah, romantisnya hilang ya?"

"Bukan hilang, tapi berubah bentuk. Sekarang lebih nyata. Misalnya, dia masakin sarapan. Atau temenin Arka belajar biar aku bisa istirahat."

Maya menghela nafas dramatis. "Idaman banget. Mba Aira beruntung."

Aira tersenyum. Ia tahu ia beruntung. Tapi ia juga tahu, keberuntungan perlu dirawat.

Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Raka.

"Halo, Sayang?"

"Aira, ada yang ingin aku bicarakan. Bisa pulang cepat?"

Suara Raka terdengar aneh. Tegang.

"Ada apa? Kenapa?"

"Nanti di rumah. Aku tunggu."

Telepon ditutup. Aira menatap layar ponsel dengan perasaan tak enak.

"Mba, ada apa?" tanya Maya.

"Enggak tahu. Raka minta aku pulang. Kayaknya ada masalah."

"Buruan, Mba. Aku jagain butik."

Aira mengangguk. Cepat-cepat membereskan meja. Naik taksi menuju apartemen.

---

Di apartemen, suasana berbeda. Raka duduk di ruang tamu dengan wajah tegang. Di hadapannya, dua orang wanita paruh baya. Satu gemuk, satu kurus. Mereka berpakaian sederhana, tapi rapi. Dari logatnya, orang kampung.

Aira tertegun. Ia mengenali salah satu dari mereka.

"Ibu?"

Wanita gemuk itu menoleh. Matanya berkaca-kaca.

"Neng Aira... akhirnya Ibu ketemu Neng."

Itu ibunya. Ibu kandung Aira, yang tinggal di kampung. Yang jarang ia temui karena sibuk kerja dan kirim uang tiap bulan.

Aira menghambur. Memeluk ibunya erat.

"Ibu, kok bisa ke sini? Nggak bilang-bilang dulu?"

Ibu Aira menangis. "Ibu kangen, Neng. Udah tiga tahun nggak ketemu."

Mereka berpelukan lama. Raka tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih tegang.

Setelah puas menangis, Aira baru sadar ada wanita lain.

"Ibu, ini siapa?"

Ibu Aira menghela nafas. "Ini... ini Ibu Tini. Ibu kandung... Lita."

Udara di ruangan itu berubah. Aira terpaku. Lita? Ibu kandung Lita?

Wanita kurus itu menunduk. Tangannya gemetar di pangkuan.

Aira menatap Raka. Raka mengangguk pelan, memberi kode bahwa ini benar.

"Bu Tini... ada perlu apa?" tanya Aira hati-hati.

Ibu Tini mengangkat kepala. Matanya merah, sembab.

"Nona Aira, saya... saya minta maaf. Datang ke sini tanpa permisi. Tapi saya... saya butuh bantuan."

Aira duduk di sofa. Masih bingung.

"Bantuan apa, Bu?"

Ibu Tini menangis. Pelan, tapi pilu.

"Saya... saya ibu Lita. Saya tahu anak saya jahat. Saya tahu dia sudah buat masalah besar sama keluarga Nona. Tapi... tapi dia masih anak saya. Saya nggak tega lihat dia di penjara."

Aira diam. Raka juga diam.

"Saya tahu dia salah. Tapi saya mohon, maafkan dia. Cabut laporannya. Biar dia bebas. Saya janji akan bawa dia ke kampung, jagain dia baik-baik. Dia nggak akan ganggu Nona lagi."

Aira menarik nafas panjang. Ini berat.

"Bu Tini, saya turut sedih. Tapi Lita sudah melakukan kejahatan. Bukan cuma ke saya, tapi ke perusahaan Raka. Dia curi data, dia hancurkan reputasi, dia—"

"Saya tahu," potong Ibu Tini cepat. "Saya tahu semua. Tapi dia anak saya satu-satunya. Suami saya sudah meninggal. Saya cuma punya dia. Kalau dia dipenjara lama, saya... saya nggak tahu harus bagaimana."

Ibu Aira yang sejak tadi diam, akhirnya bicara.

"Neng, Ibu tahu ini berat. Tapi Ibu Tini ini tetangga Ibu di kampung. Dia baik. Dia nggak tahu apa-apa soal ulah anaknya. Dia baru tahu setelah Lita ditangkap. Dia sedih banget. Makanya Ibu anter ke sini, meskipun Ibu malu sama Neng."

Aira menatap ibunya. "Ibu nggak perlu malu. Tapi ini keputusan berat. Bukan cuma urusan Aira, tapi juga urusan Raka dan perusahaannya."

Semua mata tertuju pada Raka.

Raka diam lama. Lalu berkata, "Bu Tini, saya mengerti perasaan Ibu. Tapi Lita sudah merencanakan ini dengan Andre. Mereka hampir menghancurkan perusahaan yang saya bangun bertahun-tahun. Ini bukan kesalahan kecil."

Ibu Tini menangis keras. "Saya tahu, Pak. Saya tahu. Tapi saya mohon... kasihani saya. Saya sudah tua. Saya nggak punya siapa-siapa lagi."

Raka menghela nafas. Ia menatap Aira. Aira mengerti tatapan itu.

"Raka, boleh aku bicara sebentar?" tanya Aira.

Mereka masuk ke kamar. Pintu ditutup.

"Raka, aku tahu ini berat. Tapi lihat ibunya. Dia hancur."

"Aira, Lita jahat. Dia hampir hancurkan kita."

"Aku tahu. Tapi hukumannya sudah berjalan. Mungkin kita bisa minta keringanan. Atau bicara dengan pengacara, minta masa percobaan asal dia keluar dari Jakarta."

Raka menggeleng. "Aira, kau terlalu baik. Lita bisa balik lagi."

"Kita bisa buat perjanjian. Jika dia mendekati kita lagi, dia langsung dipenjara. Dan dengan ibunya di kampung, dia akan terikat."

Raka diam. Memikirkan.

"Aku takut, Aira. Takut dia sakiti kau lagi."

Aira meraih tangannya. "Dengar, Raka. Aku tak akan biarkan dia sakiti kita. Tapi lihat ibunya. Dia tak bersalah. Dia hanya ibu yang tak tega lihat anaknya di penjara. Kita bisa bantu dia, asal Lita jera."

Raka menatap Aira lama. Lalu menghela nafas.

"Kau ini... terlalu baik. Tapi itulah kenapa aku cinta kamu."

Aira tersenyum. "Jadi setuju?"

"Aku akan bicara dengan pengacara. Lihat apa yang bisa dilakukan."

Mereka keluar. Raka menyampaikan keputusan pada Ibu Tini.

"Bu, saya akan bicara dengan pengacara. Mungkin Lita bisa dapat keringanan. Tapi dengan syarat: dia harus keluar dari Jakarta, tinggal di kampung, dan tidak boleh mendekati keluarga saya lagi. Jika dia langgar, dia akan dipenjara lebih lama."

Ibu Tini menangis haru. "Terima kasih, Pak. Terima kasih, Nona. Kalian baik sekali."

Ia berlutut, mau sujud. Raka dan Aira cepat-cepat menahan.

"Bu, jangan. Kami hanya melakukan yang benar."

Ibu Tini memeluk Aira. "Nona, Lita jahat. Tapi Nona baik. Semoga Tuhan membalas kebaikan Nona."

Aira memeluknya balik. Hatinya campur aduk.

---

Malam harinya, setelah Ibu Tini dan Ibu Aira diantar ke hotel, Raka dan Aira duduk di balkon.

"Kau yakin dengan keputusan ini?" tanya Raka.

Aira mengangguk. "Kita tak bisa hukum ibu karena kesalahan anak. Dan mungkin ini jadi pelajaran buat Lita. Harapan kita, dia berubah."

Raka menggenggam tangannya. "Kau hebat, Aira. Memaafkan orang yang pernah sakiti kau."

Aira tersenyum. "Aku tak melupakan. Taku hanya memilih untuk tidak terus hidup dalam dendam. Lagipula, lihat hidup kita sekarang. Bahagia. Kenapa harus rusak dengan dendam?"

Raka tersenyum. "Aku cinta kamu."

"Aku juga cinta kamu."

Mereka berpelukan. Di bawah langit Jakarta yang berkelap-kelip.

---

Satu minggu kemudian, kabar datang. Lita dibebaskan dengan masa percobaan. Ia harus tinggal di kampung, lapor diri tiap bulan, dan tidak boleh ke Jakarta tanpa izin.

Ibu Tini menangis bahagia. Ia menelepon Aira, berterima kasih berkali-kali.

Aira hanya bilang, "Bu, jaga Lita baik-baik. Beri dia kesempatan jadi orang baik."

Ibu Tini mengiyakan. Berjanji akan jaga anaknya.

Di kampung, Lita duduk di teras rumah ibunya. Rumah sederhana, jauh berbeda dari apartemen mewah Andre. Ia menatap sawah di depan rumah. Pikirannya kosong.

"Lit, makan dulu," panggil ibunya.

Lita bangkit. Masuk ke rumah. Makan dengan lahap. Setelah sekian lama, ia makan masakan ibu lagi.

"Bu, terima kasih."

Ibu Tini menatap anaknya. "Bukan Ibu yang patut kau ucapin terima kasih. Tapi Aira dan Raka. Mereka yang maafin kau."

Lita diam. Tangannya berhenti mengunyah.

"Ibu tahu kau benci mereka. Tapi mereka baik, Lit. Mereka bisa hancurin kau, tapi mereka pilih maafin. Itu luar biasa."

Lita menunduk. Air matanya jatuh.

"Bu, aku... aku malu."

"Gak usah malu. Tapi belajarlah dari ini. Jadi orang baik, Lit. Masih ada waktu."

Lita mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa menyesal. Bukan karena dipenjara, tapi karena telah menyakiti orang-orang baik.

Di Jakarta, Aira tak tahu itu. Ia sibuk dengan hidupnya. Butik, keluarga, Arka.

Suatu sore, Arka pulang sekolah dengan wajah ceria.

"Mama! Mama! Arka juara lomba menggambar!"

Aira memeluknya. "Wah, hebat! Gambar apa?"

"Gambar keluarga! Arka gambar Mama, Bapak, dan Arka. Sama adek juga!"

Aira tertawa. "Adek? Adek di mana?"

"Di sini!" Arka menunjuk perut Aira. "Biar Arka punya adek."

Aira tersipu. Raka yang baru pulang, ikut tertawa.

"Nak, itu urusan nanti. Sekarang fokus lomba dulu."

Arka cemberut. "Tapi Arka mau adek."

Aira dan Raka saling pandang. Tersenyum.

Malam itu, saat Arka tidur, Raka berbisik pada Aira.

"Aira, apa kita kasih Arka adek?"

Aira tersenyum. "Mungkin. Tapi nanti dulu. Kita nikmati dulu jadi pengantin baru."

Raka tertawa. "Oke. Tapi ingat, janji ya?"

"Janji apa?"

"Janji buatin aku anak."

Aira memukul lengan Raka pelan. "Dasar."

Mereka tertawa bersama. Di kamar yang hangat, di malam yang tenang.

Di kampung, Lita duduk di teras. Memandangi bulan. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor asing.

"Gimana kabarmu, Lita? Aku kangen."

Lita membaca. Dari Andre. Masih di penjara, tapi bisa kirim pesan lewat orang dalam.

Lita menghapus pesan itu tanpa membalas.

Ia sudah muak. Muak dengan semua itu.

Kini ia hanya ingin tenang. Jadi orang baik. Seperti kata ibunya.

Mungkin masih ada harapan.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!