Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Broto
Matahari baru saja mengintip dari balik celah pohon-pohon besar di belakang rumah ketika Mirasih terbangun. Biasanya, ia akan terbangun karena teriakan melengking Bibi Sumi yang menyuruhnya mencuci tumpukan baju kotor atau karena tendangan kecil Siska di pintu gudangnya. Namun pagi ini, suasana begitu tenang. Begitu sunyi, hingga Mirasih sempat mengira dirinya sudah meninggal dalam tidur.
Ia bangkit dari dipan bambunya yang keras, meraba lebam di lengannya yang kini berwarna kebiruan. Anehnya, rasa sakitnya tidak separah kemarin. Saat ia melangkah keluar dari gudang menuju dapur untuk memulai tugas rutinnya menimba air dan menyiapkan tungku ia justru mencium aroma yang sangat asing di rumah itu.
Aroma nasi goreng dengan bumbu terasi yang sedap, bercampur wangi telur dadar yang baru diangkat dari wajan.
"Mirasih? Sudah bangun, Nduk? Ayo, cuci muka dulu terus sini, kita sarapan bareng," suara Bibi Sumi terdengar dari ruang makan. Nada suaranya begitu manis, jauh lebih manis daripada martabak semalam.
Mirasih terpaku di ambang pintu dapur. Di meja makan kayu yang biasanya hanya ditempati oleh Paman, Bibi, dan Siska, kini sudah tersedia berbagai macam hidangan. Ada nasi goreng, telur dadar, tempe goreng, bahkan ada kerupuk udang yang mahal.
"Kenapa diam saja? Sini, duduk di sebelah Bibi," ajak Sumi sambil menarik kursi.
Mirasih mendekat dengan ragu. "Tapi, Bi... cucian di belakang belum disentuh. Nanti kalau Paman bangun dan belum ada air panas untuk kopinya..."
"Sudah, sudah. Jangan pikirkan cucian. Biar Siska yang mengerjakan itu nanti," sahut Paman Broto yang tiba-tiba muncul dari arah kamar mandi. Wajahnya masih bengkak dan lebam-lebam, tapi matanya berbinar aneh. Ia mengenakan sarung bersih dan kaos oblong putih. "Sekarang kamu makan yang banyak. Kamu itu kurus sekali, Mir. Paman tidak mau kamu sakit."
Mirasih duduk dengan gemetar. Ini pertama kalinya dalam setahun ia dipersilakan duduk di meja makan yang sama dengan mereka. Ia merasa seperti sedang bermimpi. Namun, kedamaian itu segera terusik saat Siska keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan.
"Loh, kok anak sial ini ada di sini? Ngapain duduk di kursi aku?" bentak Siska sambil menunjuk Mirasih dengan jijik. "Heh, pembantu! Sana balik ke dapur! Bau tau!"
Biasanya, Bibi Sumi akan ikut menertawakan atau setidaknya mendiamkan Siska. Tapi pagi ini, sebuah kejadian luar biasa terjadi.
BRAK!
Paman Broto menggebrak meja hingga cangkir teh bergetar. "Jaga mulutmu, Siska! Mirasih itu saudara kita juga,sudah jadi tanggung jawabku untuk melindungi. Kamu yang harus kerjakan cucian di belakang!"
Siska terbelalak, mulutnya menganga lebar. "Apa? Bapak gila? Aku disuruh nyuci baju saru rumah ini? Ogah! Dia itu cuma numpang di sini, Bapak lupa? Dia itu cuma sampah yang Bapak pelihara!"
"Cukup!" teriah Bibi Sumi ikut menimpali. "Siska, dengar Bapakmu. Kerjakan saja apa yang diperintahkan. Kalau kamu tidak mau, tidak ada uang jajan untukmu sebulan ini!"
Siska menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Ia menatap Mirasih dengan pandangan penuh kebencian. "Lihat saja kamu, Mirasih. Aku tidak tahu jampi-jampi apa yang kamu kasih ke Bapak sama Emak, tapi kamu bakal bayar ini!"
Mirasih hanya bisa menunduk dalam. Nasi goreng yang masuk ke mulutnya terasa hambar karena rasa takut yang kembali merayap. Ia tahu betul paman dan bibinya. Perubahan sikap yang terlalu mendadak ini justru terasa lebih mengerikan daripada pukulan. Ini seperti seekor harimau yang tiba-tiba berhenti mengaum dan justru menjilati mangsanya sebelum diterkam.
Siang harinya, ketegangan kembali memuncak. Sekitar pukul satu siang, suara deru mesin mobil Jeep kembali terdengar. Debu jalanan beterbangan saat kendaraan itu berhenti tepat di depan pagar rumah.
Pak Jono tidak turun, tapi tiga orang anak buahnya yang berbadan seperti raksasa keluar dengan membawa tongkat kayu dan rantai. Mereka tidak lagi mengetuk pintu, melainkan menendangnya hingga engselnya nyaris lepas.
"Broto! Keluar kamu! Mana uangnya?" teriak salah satu penagih hutang yang lengannya penuh tato.
Paman Broto keluar dari kamar dengan langkah yang diatur agar terlihat tenang, meskipun peluh dingin sebesar biji jagung mulai membasahi dahinya. Bibi Sumi berdiri di belakangnya, memegang lengan suaminya dengan erat.
"Sabar, Mas... Sabar," ucap Broto sambil mengangkat kedua tangannya.
"Sabar matamu! Bos Jono bilang batasnya siang ini! Mana enam puluh jutanya?" si penagih hutang menarik kerah baju Broto dan menyeretnya ke teras depan.
Tetangga mulai keluar dari rumah masing-masing. Mereka berdiri di kejauhan, berbisik-bisik sambil menatap sinis ke arah keluarga Broto. Selama ini, keluarga itu memang tidak disukai karena sombong saat punya uang dan kasar pada Mirasih.
"Rasain itu si Broto. Kualat gara-gara nyiksa anak yatim," bisik seorang ibu paruh baya di balik pagar rumah sebelah.
"Iya, judi terus sih kerjaannya. Lihat saja, sebentar lagi rumah itu bakal disita," sahut tetangga lainnya dengan nada puas.
Di teras, Paman Broto mencoba bernegosiasi. "Mas, tolong sampaikan pada Pak Jono. Saya baru saja menutup kesepakatan penjualan tanah peninggalan kakak saya di desa seberang. Pembayarannya lusa pagi. Saya janji, bukan cuma enam puluh juta, saya akan bayar tujuh puluh juta sebagai tanda terima kasih saya karena sudah diberi waktu."
Penagih hutang itu tertawa keras, lalu tiba-tiba wajahnya berubah gelap. BUGH! Sebuah pukulan mendarat tepat di perut Broto, membuatnya tersungkur sambil memegangi perutnya.
"Lusa? Kamu pikir kami bodoh? Janjimu itu lebih murah dari kotoran ayam!"
"Benar, Mas! Demi Tuhan, lusa saya sendiri yang antar uangnya ke rumah Pak Jono! Kalau lusa uang itu tidak ada, Mas boleh bakar rumah ini beserta isinya!" teriak Broto sambil merintih kesakitan di lantai.
Mendengar janji "bakar rumah" itu, para penagih hutang berhenti sejenak. Mereka saling pandang. Nilai tujuh puluh juta tentu jauh lebih menggiurkan daripada hanya enam puluh juta.
"Tujuh puluh juta, ya?" salah satu dari mereka menginjak punggung Broto dengan sepatu boot-nya. "Oke. Kami pegang kata-katamu. Tapi sebagai pengingat agar kamu tidak lupa..."
PLAK! PLAK!
Dua tamparan keras kembali mendarat di wajah Broto yang sudah hancur. Mereka juga menendang rusuk Broto sekali lagi sebelum akhirnya meludah ke lantai.
"Ingat, lusa pagi. Kalau sampai telat satu jam saja, kami tidak akan bicara lagi. Kami akan bawa bensin dan korek api," ancam mereka sambil berjalan kembali ke mobil.
Mobil Jeep itu pun pergi meninggalkan kepulan debu. Paman Broto tergeletak di teras dengan napas tersengal-sengal. Bibi Sumi langsung lari menolongnya.
"Pak! Bapak tidak apa-apa?" tanya Sumi cemas.
Broto terbatuk, mengeluarkan sisa darah dari mulutnya. Ia tersenyum getir, sebuah senyum yang terlihat mengerikan di wajahnya yang babak belur. "Tidak apa-apa, Bu... Biarkan saja. Mereka tidak tahu kalau besok malam, hidup kita akan berubah. Besok malam adalah malam Selasa Kliwon."
Mirasih, yang mengintip dari balik jendela, menggigil hebat. Ia mendengar kata-kata itu. "Malam Selasa Kliwon". Ia teringat cerita-cerita orang tua tentang ritual-ritual kuno di hutan belakang desa. Ia merasa ada benang merah antara kebaikan paman dan bibinya pagi ini, janji lusa pada rentenir, dan malam Selasa besok.
Para tetangga di luar mulai membubarkan diri. Mereka mencibir sambil berlalu. "Keluarga gila," umpat salah seorang dari mereka. "Besok kita lihat, paling mereka bakal diseret ke kantor polisi atau hilang ditelan bumi."
Mirasih mundur dari jendela. Ia masuk ke dalam kamar gudangnya .
Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang tidak biasa berhembus di dalam gudangnya yang pengap. Bau kemenyan yang sangat tipis mulai tercium, bercampur dengan aroma singkong bakar yang sangat tajam. Bau itu seolah datang dari balik dinding kayu rumahnya.
Dari luar, terdengar suara Bibi Sumi memanggilnya kembali. "Mirasih! Nduk, sini keluar. Bantu Bibi siapkan air hangat untuk Pamanmu .
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk