Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberadaan Siska
Di sebuah sudut kota yang jauh dari gemerlap lampu kristal Jakarta, sebuah apartemen kelas bawah menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang Siska. Ruangan itu sempit, dengan dinding yang ditumbuhi jamur di sudut-sudutnya dan aroma lembap yang menusuk hidung. Sangat kontras dengan kamar tidurnya di rumah Sarah yang selalu beraroma esens mawar dan melati dari Prancis. Di atas meja kayu yang catnya sudah mengelupas, berserakan botol-botol minuman murah dan sisa makanan instan yang sudah mengering.
Siska duduk di tepi ranjang yang berderit, menatap layar ponselnya yang retak dengan mata merah dan sembab. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna kini kusut masai, mencerminkan kekacauan di dalam kepalanya. Ia baru saja membaca berita tentang Gia dan Ares yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial. Bukannya merasa bebas setelah melarikan diri dari pernikahan yang ia anggap membosankan, Siska justru merasa seperti pecundang yang kehilangan segalanya.
"Kenapa dia bahagia sekali?" gumam Siska dengan suara serak, nyaris menyerupai geraman.
"Seharusnya dia menderita. Seharusnya Ares membencinya karena dia hanya seorang pengganti yang rendah!"
Siska tak pernah menyangka kalau Gia justru akan menggantikan posisinya. Dia tidak terima melihat Gia bahagia bersama Ares padahal yang ia tau Ares adalah orang yang kaku dan membosankan hingga membuatnya jenuh.
Sebenarnya, alasan Siska kabur di hari pernikahan bukan hanya karena rasa jenuh. Ia terjebak dalam delusi cinta yang ditawarkan oleh Rian, seorang pria yang mengaku sebagai pengusaha kaya dari luar negeri.
Rian menjanjikan Siska kehidupan yang lebih liar, tanpa aturan kaku keluarga Ardiansyah yang dianggapnya sebagai penjara. Siska, dengan segala kesombongannya, percaya bahwa ia bisa mendapatkan lebih dari sekadar menjadi istri seorang CEO yang gila kerja seperti Ares. Ia membawa lari sebagian perhiasan dan uang simpanan ibunya, membayangkan ia akan berlayar di atas kapal pesiar mewah di Mediterania.
Namun, kenyataan menghantamnya hanya dalam waktu satu minggu. Begitu mereka sampai di persembunyian, Rian menghilang tanpa jejak, membawa semua perhiasan dan uang yang dibawa Siska. Pria itu hanyalah seorang penipu ulung yang telah mengincarnya sejak lama. Kini, Siska terjebak di apartemen murah yang disewa atas nama orang lain, tanpa uang, tanpa perlindungan, dan yang paling menyakitkan bagi egonya, tanpa martabat.
Tiba-tiba, pintu apartemennya digedor dengan kasar. Suara hantamannya bergema di ruangan yang sunyi itu, membuat jantung Siska mencelos.
"Siska! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam, anak bodoh!" Suara Sarah, ibunya, terdengar melengking dari balik pintu, penuh dengan amarah yang meledak-ledak.
Siska dengan ragu membuka grendel pintu yang berkarat. Begitu pintu terbuka, Sarah langsung masuk menyerobot dan tanpa aba-aba menampar pipi putrinya itu dengan sangat keras hingga Siska tersungkur ke lantai yang dingin.
"Tamparan itu untuk perhiasanku yang hilang!" Teriak Sarah sambil terengah-engah, wajahnya merah padam.
"Dan ini untuk rasa malu yang kamu berikan kepada seluruh keluarga!" Sarah menunjuk-nunjuk wajah Siska dengan jari yang gemetar.
"Lihat apa yang kamu lakukan, Siska! Gara-gara drama kaburmu dengan laki-laki penipu itu, kita kehilangan segalanya! Ares memutus semua aliran dana perusahaan kita. Nyonya Besar mengancam akan memenjarakan kita jika kita berani muncul di depan mereka. Dan yang paling gila, si anak haram itu! Gia! Dia sekarang duduk manis di atas takhtamu, mengenakan pakaian mahal, dan dipuja-puja oleh Ares!"
Siska memegang pipinya yang panas, matanya berkilat penuh kemarahan yang kini beralih kepada ibunya.
"Jangan salahkan aku sepenuhnya, Ma! Mama yang selalu menuntutku untuk jadi boneka pajangan di depan Ares! Aku muak dengan aturan-aturan bodoh Ardiansyah itu!"
Sarah mencengkeram bahu Siska, mengguncangnya dengan kasar hingga kepala Siska terantuk sandaran ranjang.
"Dengar ya! Mama sudah mulai bertindak. Mama sudah melakukan serangan di media. Mama sudah membongkar status asli Gia sebagai anak hasil perselingkuhan suamiku. Orang-orang sekarang menghujatnya sebagai darah kotor. Tapi itu tidak cukup! Ares malah memasang badan untuknya. Dia melindunginya seperti seorang pahlawan!"
Sarah menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sambil matanya mengelilingi ruangan kumuh itu dengan jijik. Ia kemudian duduk di samping Siska, suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat berbisa.
"Siska, dengar Mama. Satu-satunya cara kita bisa kembali ke puncak dan mendapatkan kembali kekayaan kita adalah dengan menghancurkan pernikahan mereka. Kamu harus muncul kembali. Tapi bukan sebagai pengantin yang kabur."
"Lalu sebagai apa? Seluruh dunia tahu aku menghilang!"
"Sebagai korban, Siska!" Sarah mendekatkan wajahnya, matanya memancarkan kegilaan.
"Kita akan buat skenario bahwa hari itu kamu bukan kabur, tapi diculik. Kita akan bilang bahwa ada orang-orang suruhan yang menyekapmu sehingga kamu tidak bisa datang ke gereja. Dan tebak siapa yang akan kita tunjuk sebagai otaknya?"
Siska terdiam, otaknya mulai bekerja seirama dengan kelicikan ibunya.
"Gia?"
"Tepat sekali! Kita akan bilang bahwa Gia, dengan segala kecemburuannya sebagai anak yang terbuang, merencanakan penculikan kakak tirinya sendiri supaya dia bisa menggantikan posisimu di pelaminan. Orang-orang akan lebih percaya pada cerita adik yang haus harta daripada cerita cinta suci. Kita akan buat Gia terlihat persis seperti ibunya, perempuan licik, penggoda, dan penghancur rumah tangga orang lain"
Siska tertawa sinis, suaranya terdengar pecah dan bergetar.
"Tapi Ma, Ares tidak bodoh. Dia pasti akan menyelidikinya. Apalagi waktu itu aku pernah menghubungi Ares kalau aku menyesal pergi darinya!"
"Dasar bodoh!" Siska mendorong pelan kepala Siska di bagian kening dengan jari telunjuknya.
"Biarkan dia menyelidik, dan katakan saja waktu itu kau dibawah ancaman. Kita akan siapkan saksi palsu. Yang penting adalah opini publik, Siska. Jika seluruh dunia menuding Gia sebagai dalang penculikan, Nyonya Besar tidak akan punya pilihan selain mengusirnya demi nama baik Ardiansyah. Dan saat kursi itu kosong, kamulah yang akan kembali mengisinya sebagai korban yang malang"
Rasa iri dan dengki yang selama ini tertimbun kini merayap kembali ke hati Siska, lebih kuat dari sebelumnya. Ia membayangkan Gia yang kini mengenakan kalung berlian pemberian Ares, duduk di meja makan mewah, dan mendapatkan perhatian dari Nyonya Besar, semua hal yang seharusnya menjadi hak lahirnya sebagai putri yang sah.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Siska akhirnya, suaranya kini dingin, tajam, dan penuh dendam.
Sarah tersenyum penuh kemenangan, sebuah senyuman yang menyembunyikan rencana busuk di baliknya.
"Ikut Mama pulang sekarang. Kita punya waktu seminggu untuk merapikan penampilanmu yang berantakan ini. Kamu harus terlihat pucat, lemah, dan trauma. Kamu akan muncul di acara Gala amal keluarga Ardiansyah minggu depan. Bukan sebagai pelarian, tapi sebagai kejutan yang akan meruntuhkan dunia Gia Ardiansyah dalam semalam, karena kita punya rahasia masa lalu Gia"
semoga ada bonchap nya.
selamat Gia dan Ares