NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:118.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Pedang Penebas Dewa

Api kecil di telapak tangan Boqin Changing berpendar lembut, menari di antara bayangan ukiran batu yang memenuhi dinding goa. Cahaya itu menyoroti gambar demi gambar yang terukir dengan sangat halus, seolah tangan pembuatnya tidak sekadar memahat batu, tetapi juga menanamkan emosi ke dalamnya.

Boqin Changing memandang gambar-gambar itu dengan tenang. Ia tahu… ada cerita yang ingin disampaikan oleh pembuatnya.

Ukiran pertama memperlihatkan seorang anak kecil yang berjalan sendirian di tengah padang luas. Di sampingnya ada makhluk aneh berkulit ungu namun memiliki sisik seperti naga. Lalu ukiran berikutnya menunjukkan anak itu tumbuh dewasa, berlatih, bertarung, jatuh, bangkit, dan terus berjalan.  Bukan sekadar rangkaian gambar kehidupan biasa. Ini… perjalanan seseorang.

Tatapan Boqin Changing kemudian bergeser. Di sela-sela gambar itu, terdapat guratan lain. Garis-garis kecil menyerupai tulisan. Jika diperhatikan sekilas, tulisan itu tampak seperti coretan acak. Namun bagi Boqin Changing, bentuknya terasa… familiar.

Alisnya sedikit berkerut. Ia mendekat. Jari telunjuknya menyentuh permukaan batu dingin itu, menelusuri huruf-huruf asing yang tertanam di sana.

“Aku mengerti sedikit…” gumamnya pelan.

Tulisan itu bukan berasal dari alam ini. Ia yakin akan hal itu.

Boqin Changing pernah melihat bentuk huruf seperti ini sebelumnya. Ingatan dari kehidupan pertamanya perlahan muncul. Salah satu pengikut yang ia panggil melalui Bola Pemanggil pernah berasal dari alam lain. Makhluk itu juga manusia, namun memiliki kecerdasan dan kekuatan yang tinggi dan kesetiaan mutlak. Dari makhluk itulah Boqin Changing sempat mempelajari sebagian bahasa dan tulisan dunia luar.

Tidak banyak. Namun cukup… untuk mengenali.

Matanya bergerak mengikuti baris demi baris tulisan. Ia tidak mampu menerjemahkan semuanya, tetapi maknanya perlahan tersusun melalui potongan kata yang ia pahami dan konteks gambar yang mengiringinya.

Seorang pengelana dari dunia lain tersesat. Datang ke alam ini untuk mencari sesuatu. Ia kehilangan sesuatu. Ia Bertarung. Ia Menemukan pedang. Lalu… ia mengembalikannya. Semua terasa membingungkan.

Langkah Boqin Changing bergerak perlahan mengikuti urutan cerita itu. Api di tangannya bergoyang, menciptakan bayangan yang seolah membuat gambar-gambar itu hidup. Semakin ia membaca, semakin jelas kesan yang tertinggal. Kesepian, penyesalan, dan penerimaan.

Hingga akhirnya,

“Apa kau tidak mau mencari pedang itu?”

Suara Sha Nuo tiba-tiba memecah keheningan.

Langkah Boqin Changing langsung terhenti. Sorot emas di matanya memudar perlahan saat kesadarannya kembali ke kenyataan. Ia berkedip sekali, lalu menghela napas pendek.

“Hm… maaf, Paman,” ucapnya tenang. “Aku hampir melupakan tujuan kita.”

Sha Nuo hanya mendengus ringan, namun tidak berkata apa-apa lagi.

Keduanya kemudian bergerak menjauh dari dinding batu dan kembali menuju tengah ruangan. Tumpukan harta berkilau menyambut mereka sekali lagi. Kilau emas dan permata memenuhi pandangan, memantulkan cahaya api menjadi ribuan percikan kecil.

Boqin Changing berjalan di antara tumpukan itu tanpa tergesa.

Matanya memperhatikan logam-logam mulia yang berserakan di lantai. Gelang emas. Tombak berhias permata. Patung kecil. Koin-koin kuno. Bahkan perhiasan dengan desain yang jelas bukan berasal dari satu era yang sama. Tempat ini… seperti titik kumpul sejarah.

Lalu langkahnya terhenti. Di antara tumpukan emas, sebuah mahkota terlihat setengah tertimbun. Empat berlian besar terpasang di atasnya, masing-masing memancarkan cahaya berbeda saat tersorot api.

Boqin Changing menatapnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Ingatan lain muncul. Dalam kehidupan pertamanya, pengikut yang menemukan Pedang Penebas Dewa juga pernah menyerahkan banyak harta kepadanya. Harta dari goa ini. Dari tempat ini. Dan salah satunya… mahkota itu.

Ia membungkuk, mengambil mahkota tersebut. Debu tipis menempel di permukaannya. Dengan santai, Boqin Changing memolesnya menggunakan telapak tangannya.

Kilau berlian itu kembali hidup. Sama. Persis sama. Benda ini benar-benar identik dengan yang pernah ia terima. Dengan kata lain… pedang itu seharusnya ada di sini.

Langkahnya yang berdiri sambil memegang mahkota menarik perhatian Sha Nuo. Pria itu menoleh, lalu mengangkat alis.

“Apa kau ingin menjadi kaisar juga?” tanyanya datar.

Boqin Changing terkekeh pelan.

“Tidak seperti itu, Paman.”

Tanpa penjelasan panjang, ia melemparkan mahkota itu kembali ke tumpukan harta. Logam itu berputar di udara sebelum jatuh dengan bunyi denting ringan.

Ia melanjutkan langkahnya. Sha Nuo pun ikut bergerak.

Keduanya mulai mencari di antara tumpukan harta itu. Mereka memindahkan peti, menyingkirkan perhiasan, membuka wadah logam, bahkan memeriksa patung-patung yang mungkin menyembunyikan sesuatu di dalamnya.

Waktu berlalu. Tumpukan harta perlahan berubah posisi. Namun satu hal tidak berubah. Tidak ada pedang. Tidak ada sarung pedang. Tidak ada logam panjang menyerupai bilah. Tidak ada apa pun yang bahkan mendekati bentuk pedang.

Langkah Boqin Changing akhirnya melambat. Sha Nuo juga berhenti. Keduanya saling melirik.

Kesadaran yang sama muncul di benak mereka. Di tempat yang dipenuhi harta dunia ini… tidak ada satu pun senjata berbentuk pedang. Keheningan memenuhi ruangan batu itu setelah pencarian panjang yang tidak membuahkan hasil.

Boqin Changing menatap hamparan harta yang kini sedikit berantakan akibat ulah mereka. Peti-peti terbuka. Permata tersebar. Patung-patung berpindah tempat. Namun satu hal tetap sama, tidak ada pedang.

Ia menarik napas pelan.

“Paman,” ucapnya akhirnya, “kita berkeliling sekali lagi.”

Sha Nuo menoleh singkat. Tidak bertanya. Tidak berkomentar. Ia hanya mengangguk.

Keduanya kembali bergerak. Mereka menyusuri sisi ruangan, memeriksa sudut-sudut yang sebelumnya terlewat, bahkan mengetuk dinding batu untuk memastikan tidak ada ruang tersembunyi di baliknya. Boqin Changing menggunakan indera spiritualnya, merasakan fluktuasi energi yang mungkin menandakan keberadaan artefak besar. Sha Nuo menggunakan kekuatan kasarnya, menggeser batu dan membuka retakan kecil yang tampak mencurigakan.

Namun waktu kembali berlalu tanpa perubahan. Tidak ada pedang. Tidak ada aura pedang. Tidak ada jejak energi yang menyerupai Pedang Penebas Dewa.

Akhirnya, Boqin Changing berhenti berjalan. Sha Nuo juga berhenti. Keduanya saling memandang dalam diam, dan tanpa perlu kata-kata, mereka memahami hasilnya. Senjata itu memang tidak ada di sini.

Boqin Changing berjalan menuju sebuah batu datar di dekat dinding dan duduk di atasnya. Sha Nuo menyusul, mengeluarkan kantong air dari cincin ruangnya lalu menyerahkannya.

Boqin Changing menerimanya. Ia minum perlahan. Air dingin mengalir melalui tenggorokannya, namun tidak mampu menenangkan pikirannya yang mulai dipenuhi tanda tanya.

Sha Nuo meneguk airnya sendiri, lalu berkata santai,

“Mungkin senjata itu bukan berada di tempat ini, tetapi di tempat lain.”

Ucapan itu terdengar sederhana. Logis. Bahkan wajar.

Namun Boqin Changing tidak menjawab. Tatapannya kosong, tertuju pada ruang di depan mereka, tetapi pikirannya jauh melayang. Jika bukan di sini… lalu di mana?

Dalam kehidupan pertamanya, pedang itu  sepertinya ditemukan di goa ini. Semua bukti yang ada selama ini juga menunjuk ke tempat ini. Namun kenyataan di hadapannya berkata sebaliknya.

Matanya perlahan bergerak. Beralih dari tumpukan harta… menuju dinding goa lagi. Seolah mencari jawaban dari batu yang bisu.

Beberapa detik berlalu. Boqin Changing berdiri. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah kembali mendekati dinding goa yang dipenuhi ukiran. Api kecil kembali muncul di telapak tangannya, menerangi gambar-gambar yang telah ia lihat sebelumnya.

Sha Nuo menatapnya sejenak, lalu ikut berdiri dan mendekat.

“Apa yang kau lihat?” tanya pria itu.

Boqin Changing tidak menoleh.

“Sebentar, Paman.”

Suaranya lembut, namun mengandung fokus yang dalam. Sha Nuo langsung diam.

Boqin Changing mulai berjalan perlahan menyusuri dinding batu itu.

Api di tangannya bergerak mengikuti langkahnya, menyoroti ukiran demi ukiran. Anak kecil. Makhluk asing. Pertumbuhan. Pertarungan. Kesepian. Pencarian.

Langkahnya pelan. Sangat pelan. Seolah takut melewatkan satu detail kecil sekalipun.

Matanya menelusuri setiap guratan. Setiap garis. Setiap simbol. Bahkan retakan alami batu pun tidak luput dari perhatiannya.

Sha Nuo berdiri beberapa langkah di belakang, memilih tidak mengganggu.

Waktu terasa melambat. Hingga akhirnya, langkah Boqin Changing berhenti. Api di telapak tangannya bergetar kecil.

Tatapannya membeku pada satu bagian dinding yang sebelumnya tertutup bayangan batu menonjol. Ia mengangkat tangannya sedikit lebih tinggi. Cahaya api menyapu permukaan ukiran itu.

Untuk pertama kalinya… ia melihatnya. Sebuah gambar pedang.

Ukiran itu tidak besar. Tidak mencolok. Bahkan tersembunyi di antara adegan lain. Namun bagi Boqin Changing, bentuknya tidak mungkin salah. Gagang panjang hitamnya dan bentuk bilah lurus dengan satu alur tipis di tengahnya.

Matanya sedikit melebar. Denyut jantungnya bertambah cepat. Ia mengenal gambar itu. Mengenalnya dengan sangat jelas.

Karena ia pernah menggenggamnya. Pernah menggunakannya. Pernah merasakan aura kehancuran yang mampu menggetarkan langit dan bumi. Itu adalah, Pedang Penebas Dewa.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
gak jadi buat daging naga goreng tepung buat lauk sahurnya boqin
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
mari kita buat daging naga goreng tepung
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
Ngabuburit
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!