NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 jual rumah

Pintu UGD tertutup rapat. Lampu merah di atasnya menyala. Aryo duduk di kursi besi itu. Dingin. Tapi dinginnya nggak seberapa dibanding hatinya.

"Jual rumah."

Kata-kata Dewi masih terngiang. Jual rumah. Rumah satu-satunya. Rumah warisan orang tua. Rumah tempat ia lahir, tempat ia pertama kali belajar jalan, tempat ia pertama kali kenal Dewi.

Aryo pegang kepalanya. Pusing. Pusing setengah mati.

Dewi duduk di sampingnya. Tangannya memegang pundak Aryo. Diam. Nggak ngomong apa-apa.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.

"Mas..."

Aryo nggak jawab.

"Mas, aku tahu berat. Tapi Risma butuh biaya. Utang numpuk. Kita nggak punya pilihan."

Aryo angkat muka. Matanya sembab. "Rumah ini satu-satunya, Ri."

"Aku tahu, Mas. Tapi rumah bisa dicari lagi. Nyawa Risma? Nggak bisa."

Aryo diam. Dewi benar.

 

Pintu UGD terbuka. Dokter keluar. Wajahnya lelah. Masker diturunkan.

"Pak, anak Bapak selamat. Tapi harus rawat inap seminggu. Kejangnya cukup parah."

Aryo menghela napas. Lega. Tapi langsung mikir biaya.

"Biayanya, Dok?"

Dokter melihat map. "Estimasi 3,5 juta, Pak."

Aryo jatuh lunglai. 3,5 juta. Di luar utang 2,8 juta ke Kirman. Total 6,3 juta.

Dewi pegang tangannya. "Mas, kita jual rumah."

Aryo diam. Lalu mengangguk.

"Iya, Ri. Kita jual."

 

Malam harinya, Aryo nggak bisa tidur. Ia duduk di kursi rumah sakit. Risma tidur di ranjang. Selang infus masih menempel di tangan mungilnya.

Aryo pandangi anaknya. Risma tidur. Dadanya naik turun pelan. Wajahnya tenang.

"Nak, Bapak jual rumah buat kamu. Rumah tempat Bapak lahir. Tapi nggak apa-apa. Yang penting kamu sembuh."

Dari luar, suara langkah. Dewi masuk. Bawa nasi bungkus.

"Mas, makan."

Aryo terima. Tapi nggak ada selera.

"Mas, besok aku pulang. Urus jual rumah."

"Sendirian? Kamu kuat?"

Dewi mengangguk. "Harus kuat, Mas."

Aryo pegang tangannya. "Makasih, Ri."

Mereka berdua diam. Risma tidur. Lampu temaram. Lorong rumah sakit sunyi.

 

Pagi harinya, Dewi pulang. Naik angkutan desa. Sampai rumah, ia langsung bersih-bersih. Sapu lantai tanah, rapikan perabotan. Biar rumah kelihatan layak jual.

Siangnya, ia datangi calo tanah. Namanya Haji Sulkan. Orang kaya di desa.

"Bu Dewi, ada perlu apa?"

Dewi duduk di kursi tamu. Rumah Haji Sulkan besar. Mewah. Keramik mengkilat. Dewi merasa kecil.

"Pak Haji, saya mau jual rumah."

Haji Sulkan tersenyum. "Oh, yang di belakang pasar itu? Rumah orang tua Pak Aryo?"

"Iya, Pak."

"Berapa mau?"

Dewi diam. Nggak tahu harga pasaran. "Berapa layak, Pak?"

Haji Sulkan mikir. "Kondisinya kurang bagus ya, Bu. Tanahnya 100 meter. Bangunan bambu. Saya kasih 20 juta."

Dewi kaget. 20 juta? Banyak sekali. Tapi ia nggak tahu, itu harga murah. Tanah di desa, 100 meter, minimal 40 juta.

"Setuju, Pak."

Haji Sulkan tersenyum lebar. "Besok saya ke rumah. Lihat kondisi. Kalau ok, saya transfer."

Dewi pulang. Senang. 20 juta cukup buat bayar utang dan biaya Risma. Masih sisa buat modal cari kontrakan.

Sore harinya, ia ke rumah sakit. Cerita ke Aryo.

"Mas, dapat 20 juta!"

Aryo kaget. "Banyak banget?"

"Iya. Kata Haji Sulkan, itu harga pantas."

Aryo senang. Tapi ada firasat nggak enak. Nggak tahu kenapa.

 

Esok harinya, Haji Sulkan datang. Lihat rumah. Keliling. Masuk ke dalam.

"Ini dindingnya udah rapuh, Bu. Atap bocor. Lantai tanah. Saya kasih 18 juta aja."

Dewi kaget. "Kok turun, Pak? Kemarin 20."

"Itu estimasi. Setelah lihat, ya segini."

Dewi bingung. Tapi butuh uang cepat. "Iya, Pak. Setuju."

Haji Sulkan senyum. Transfer 18 juta ke rekening Dewi.

Dewi pegang buku tabungan. 18 juta. Banyak. Tapi hatinya sedih. Rumah itu tinggal kenangan.

Ia ambil beberapa barang: baju, foto pernikahan, dan satu boneka kecil milik Risma. Sisanya ditinggal.

Sebelum pergi, ia keliling rumah. Dapur tempat ia masak setiap hari. Kamar tempat ia tidur dengan Aryo. Ruang tamu tempat mereka terima tamu. Semua akan jadi milik orang lain.

Ia nangis. Nangis di rumah kosong itu.

"Makasih, rumah... udah temani kami..."

 

Di rumah sakit, Aryo terima kabar. Uang sudah masuk. 18 juta.

Ia bayar utang ke Kirman. 2,8 juta. Kirman terima uang itu.

"Pak, utang lunas. Saya ambil becak?"

Kirman senyum. "Becak? Itu jaminan. Kalau mau ambil, tebus 3 juta."

Aryo kaget. "3 JUTA? Itu becak bekas! Harga cuma 1 juta!"

"Terserah Bapak. Mau ambil atau nggak. Itu hak saya."

Aryo marah. Tapi nggak bisa apa-apa. Ia ambil uang 3 juta, tebus becak.

Sisa uang: 18 juta - 2,8 juta - 3 juta \= 12,2 juta.

Bayar rumah sakit Risma: 3,5 juta. Sisa 8,7 juta.

Cari kontrakan: 500 ribu per bulan. Bayar setahun: 6 juta. Sisa 2,7 juta.

Aryo hitung-hitung. Masih cukup buat hidup beberapa bulan. Tapi setelah itu?

Ia nggak mau mikir. Yang penting sekarang Risma sembuh.

 

Risma pulang tiga hari kemudian. Aryo jemput pakai becak. Becak tua itu kembali. Tapi rumah? Nggak ada.

Mereka tinggal di kontrakan. Kamar petak ukuran 3x4. Dinding triplek. Lantai semen. Kamar mandi bareng sama tetangga.

Risma ditaruh di dipan kecil. Dewi atur barang-barang. Hanya satu kardus. Itu semua harta mereka.

Aryo duduk di kursi plastik. Pandangi ruangan sempit itu.

"Ri, kita tinggal di sini."

Dewi tersenyum. "Nggak apa-apa, Mas. Yang penting kita bareng-bareng."

Aryo pegang tangannya. "Makasih, Ri."

Malam itu, mereka tidur di kontrakan baru. Berdesakan. Tapi hangat.

Risma di tengah. Matanya terbuka. Menatap langit-langit triplek.

"Risma, Nak... ini rumah baru kita. Sederhana. Tapi Bapak janji, Bapak akan jagain kamu."

Risma diam. Tapi tangannya bergerak. Meraih jari Aryo.

Aryo tersenyum. "Makasih, Nak."

 

Esok harinya, Aryo narik becak lagi. Semangat baru. Rumah baru. Hidup baru.

Ia kayuh becak keliling desa. Cari penumpang. Dapat 30 ribu.

Pulang, ia beli lauk. Ikan asin dan sayur. Makan bersama Dewi dan Risma.

"Mas, hari ini dapat 30?"

"Iya. Lumayan."

"Kita bisa, Mas."

"Iya, Ri. Kita bisa."

Malam harinya, mereka tidur nyenyak. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, mereka tidur tanpa beban utang.

Tapi pagi harinya, pintu kontrakan digedor.

"PAK ARYO! BUKA!"

Aryo buka. Seorang pria berdiri di sana. Setelan rapi. Wajah galak.

"Pak Aryo? Saya dari bank. Bapak punya utang 5 juta di bank desa. Sudah jatuh tempo 3 bulan. Ini surat peringatan terakhir."

Aryo kaget. "UTANG BANK? Saya nggak pernah pinjam bank!"

Pria itu menunjukkan kertas. Foto kopi KTP Aryo. Tanda tangan Aryo.

"Ini KTP Bapak. Ini tanda tangan Bapak. Pinjam 5 juta bulan lalu."

Aryo lihat KTP itu. Foto dia. Tapi tanda tangan? Bukan tanda tangannya.

"Ini palsu! Saya nggak pernah!"

Pria itu tersenyum sinis. "Laporkan ke polisi kalau merasa palsu. Tapi sebelum itu, kami akan sita jaminan. Rumah kontrakan ini atas nama Bapak?"

Aryo pucat. "Ini kontrakan! Saya nggak punya rumah!"

"Tapi becak itu... milik Bapak?"

Aryo diam. Jantungnya berdegup kencang.

Pria itu melambai. Dua orang masuk. Ambil becak.

"JANGAN! JANGAN AMBIL!"

Tapi mereka nggak peduli. Becak didorong keluar. Dibawa pergi.

Dewi keluar. Lihat itu. Ia menjerit.

"MAS! MAS! BECAK KITA DIAMBIL LAGI!"

Aryo jatuh berlutut. Lagi-lagi. Tanah becek. Lagi-lagi.

Pria itu pergi. Meninggalkan kertas surat.

Aryo baca. Nama peminjam: Aryo. Tanda tangan: Aryo. Tapi itu bukan tanda tangannya.

Seseorang meminjam uang pakai KTP-nya. KTP yang hilang setahun lalu. Saat kecopetan di pasar.

Sekarang, utang 5 juta itu jadi tanggung jawabnya.

Becak hilang lagi. Kontrakan terancam. Risma butuh obat.

Aryo nggak tahu harus gimana. Ia cuma bisa duduk di tanah. Nangis.

Dewi di sampingnya. Nangis juga.

Risma di dalam, nangis. Nangis keras.

Hidup mereka hancur. Lagi.

Dan kali ini, Aryo nggak tahu harus mulai dari mana.

 

[BERSAMBUNG]

 

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!