Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Selama dua hari penuh, Nadira berpikir keras.
Ucapan atasannya tentang promosi itu terus berputar di kepalanya. Kesempatan besar. Jabatan lebih tinggi. Gaji yang jauh lebih baik. Bukti bahwa tujuh tahun perjuangannya di Jakarta tidak sia-sia.
Tapi di sisi lain… ada suara Mama.
Ada suara Abah.
Dan ada rumah yang selalu menunggunya.
Hari kedua itu terasa lebih berat dari biasanya. Nadira bekerja seperti robot datang, duduk, mengetik, tersenyum seperlunya. Tapi hatinya tidak ada di sana.
Sore harinya, setelah pulang ke kos, ia menjatuhkan tasnya di atas ranjang. Tubuhnya lelah, pikirannya lebih lelah lagi.
Belum sempat ia berganti pakaian, ponselnya berdering.
“Abah ❤️”
Hatinya tiba-tiba tidak enak.
Ia segera mengangkat telepon.
“Assalamu’alaikum, Bah”
Di seberang sana terdengar napas berat.
“Wa’alaikumussalam, Dira…”
Nada suara Abah Adi berbeda. Tidak setenang biasanya.
“Bah? Kenapa?”
Abah terdiam sesaat, seolah sedang menahan sesuatu.
“Mama… masuk rumah sakit, Nak”
Jantung Nadira seperti berhenti berdetak.
“Apa?” suaranya gemetar “Kenapa, Bah?”
“Tadi siang Mama pingsan. Tekanan darahnya naik. Sekarang dirawat di rumah sakit di kota”
Dunia Nadira seperti runtuh seketika.
Ia berdiri dari ranjang, lututnya terasa lemas.
“Serius, Bah? Mama nggak apa-apa kan?”
“Dokter bilang harus dirawat beberapa hari. Mama masih sadar tapi… Mama terus nyebut nama kamu.”
Air mata Nadira jatuh tanpa bisa ia tahan.
Rasa bersalah yang selama ini ia pendam kini menghantam tanpa ampun.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun ia memilih jarak.
Dan kini, saat Mama terbaring lemah, ia bahkan tidak ada di sana.
“Bah, Nadira pulang. Malam ini juga”
Di seberang sana terdengar suara Abah yang bergetar lega.
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan”
Telepon terputus.
Nadira berdiri kaku beberapa detik. Lalu dengan tangan gemetar ia membuka lemari, menarik koper tua yang selama ini hanya menjadi pajangan di sudut kamar.
Kali ini bukan cuti.
Bukan sekadar kunjungan.
Kali ini ia pulang karena takut kehilangan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pergi dari rumah… Nadira sadar bahwa karier bisa menunggu.
Tapi orang tua tidak.
Air mata masih membasahi pipi Nadira ketika ia kembali menghubungi Abah Adi
“Bah…” suaranya serak
“Iya, Nak?”
“Nadira… nggak bisa pulang malam ini”
Hening.
“Kenapa, Dira?”
Nadira menggenggam ponselnya erat-erat.
“Nadira harus mengajukan surat resign dulu, Bah. Nadira nggak bisa langsung pergi begitu saja. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan”
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. Bukan marah. Bukan kecewa. Lebih seperti lelah.
“Berapa lama?” tanya Abah pelan
“Besok pagi Nadira langsung ajukan. Nadira usahakan secepat mungkin”
Abah terdiam beberapa detik sebelum menjawab,
“Ya sudah, Nak. Selesaikan baik-baik tapi jangan lama-lama.”
Hati Nadira terasa diremas.
Setelah telepon ditutup, ia terduduk di lantai kamar kosnya di Jakarta. Tangannya gemetar.
Ia sadar… selama ini ia selalu menunda pulang karena pekerjaan.
Dan sekarang, bahkan saat Mama terbaring di rumah sakit, ia masih terikat oleh tanggung jawab itu.
Malam itu Nadira tidak tidur.
Ia menatap layar laptop, mulai mengetik surat pengunduran diri. Setiap huruf terasa berat. Tujuh tahun perjuangan. Tujuh tahun air mata dan kerja keras. Semua seperti diringkas dalam satu kalimat formal:
Dengan ini saya mengajukan pengunduran diri…
Jarinya berhenti di atas keyboard.
Apakah ini keputusan yang tepat?
Atau keputusan yang lahir dari rasa panik?
Ia mengirim pesan ke Abah singkat:
"Besok pagi Nadira urus semuanya, Bah. Doakan lancar.
Paginya, Dira berangkat ke kantor seperti biasa. Jalanan masih dipenuhi sisa-sisa kesibukan orang yang terburu menuju rutinitas masing-masing. Sesampainya di kantor, ia menyapa rekan-rekannya dengan senyum tipis, lalu duduk di mejanya dan mulai mengerjakan tugas-tugas deadline proyek yang sejak kemarin menumpuk.
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Jari-jarinya lincah mengetik, sesekali berhenti untuk menarik napas panjang. Tak ada yang menyadari bahwa di balik wajah tenangnya, ada keputusan besar yang sudah ia pikirkan matang-matang.
Sore harinya, sebelum jam pulang tiba, Dira berdiri dari kursinya. Ia merapikan berkas-berkas di mejanya, mengambil sebuah amplop putih dari dalam tas, lalu melangkah menuju ruangan atasannya.
Tok tok tok.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Atasannya mengangkat wajahnya ketika Dira masuk.
Ada keheningan sesaat sebelum Dira mengulurkan amplop putih itu dengan kedua tangan.
Atasannya menatapnya heran ketika Nadira menyerahkan amplop putih tersebut.
“Apa ini, Dira?”
Surat itu dibuka. Dibaca. Hening beberapa detik.
“Kamu bercanda?”
Nadira menggeleng pelan.
“Tidak, Pak saya harus pulang. Mama saya dirawat di rumah sakit”
Ekspresi atasannya berubah.
“Tapi proyek baru akan dimulai bulan depan. Saya sudah rekomendasikan kamu sebagai penanggung jawab”
“Saya tahu, Pak dan saya sangat berterima kasih” Suara Nadira tetap tenang meski hatinya bergetar. “Tapi keluarga saya lebih membutuhkan saya sekarang.”
Atasannya bersandar di kursi, menatapnya dalam
“Kamu yakin? Keputusan seperti ini tidak mudah. Karier kamu sedang naik”
Nadira terdiam sejenak lalu ia tersenyum tipis
“Karier bisa saya bangun lagi, Pak tapi waktu dengan orang tua… belum tentu bisa di ulang kembali”
Ruangan itu kembali sunyi.
Akhirnya atasannya menghela napas panjang
“Saya tidak bisa menahan kamu jika ini soal keluarga tapi saya harap ini bukan selamat tinggal”
Nadira menunduk hormat.
“Terima kasih, Pak”
Keluar dari ruangan itu, dadanya terasa ringan sekaligus sesak. Ia tahu hidupnya baru saja berubah arah.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Abah.
"Mama terus tanya kamu kapan kesini"
Nadira langsung membalas:
"Hari ini juga Nadira berangkat, Bah"
Kali ini bukan ragu.
Bukan menunda.
Ia pulang.
Dan di dalam hatinya, ada doa yang terus ia ulang—
Semoga belum terlambat.
Selesai dari kantor, Nadira tidak langsung merasa lega.
Langkahnya cepat kembali ke kamar kosnya di Jakarta. Kamar sederhana itu terasa berbeda sore itu lebih sunyi, lebih asing.
Seolah-olah tempat itu tahu ia akan pergi.
Begitu pintu ditutup, Nadira berdiri diam beberapa detik. Matanya menyapu setiap sudut ruangan.
Semalam ia sudah mengemas sebagian barang karena panik tapi sekarang ia membereskannya dengan lebih rapi.
Baju-baju dilipat.
Dokumen penting dimasukkan ke map.
Beberapa barang lama ia pegang lebih lama dari yang seharusnya.
Ia menemukan foto kecil dirinya bersama Mama Ayu dan Abah Adi saat hari kelulusan. Wajahnya penuh bangga, Mama tersenyum lebar, Abah berdiri tegap di belakangnya.
Air matanya jatuh lagi
“Ma… tunggu Nadira” bisiknya pelan
Barang-barang besar yang tak bisa dibawa langsung, ia putuskan untuk dikirim lewat jasa ekspedisi ke rumah orang tuanya. Sisanya koper dan satu tas ransel akan ia bawa sendiri ke stasiun.