🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Kedatangan Sang Maut Putih
...Bab 29: Kedatangan Sang Maut Putih...
Di kaki Pegunungan Air Mata, udara di depan gua raksasa itu mendadak membeku dalam cara yang salah. Jika dinginnya wilayah utara terasa tajam dan menusuk, maka atmosfer yang muncul saat ini terasa hampa seolah-olah oksigen dan kehidupan telah ditarik paksa dari ruang lingkup tersebut.
Tetua Mo baru saja mengangkat palu es hitamnya tinggi-tinggi, siap menghancurkan tulang rusuk Wei yang sudah terkapar bersimbah darah di tanah.
Lin Feng berdiri di sampingnya dengan seringai lebar, menikmati pemandangan Xiao Mei yang terpojok di dinding gua dengan napas yang tersengal.
"Selamat tinggal, sampah Selatan," geram Tetua Mo.
Namun, palu itu tidak pernah jatuh.
Sreett...
Sebuah suara halus, seperti kain yang robek atau ruang yang terkoyak, terdengar tepat di belakang telinga Tetua Mo. Dalam sekejap mata, sebuah tangan dengan kulit sepucat salju namun memiliki cengkeraman sekuat baja telah mencengkeram pergelangan tangan sang tetua.
Waktu seolah berhenti. Lin Feng yang tadinya tertawa, mendadak merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Ia melihat sesosok pria berambut putih berdiri di sana, dikelilingi oleh aura ungu yang berpendar redup namun mematikan.
Pakaian Han Xuan sedikit berantakan akibat teleportasi paksa, dan dari pori-porinya keluar uap perak yang merupakan sisa-sisa energi Inti Dunia yang belum stabil.
"Kau..." suara Han Xuan terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan dari liang kubur. "Kau menyentuh mereka?"
"Siapa—" Tetua Mo belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat ia merasakan energi di pergelangan tangannya mendadak hilang. Bukan patah, bukan hancur, melainkan lenyap.
Han Xuan tidak menggunakan teknik pedang. Ia menggunakan Hukum Devour murni pada skala mikroskopis melalui ujung jarinya. Ia memakan kalsium, otot, dan saraf di tangan Tetua Mo dalam hitungan milidetik. Palu es hitam yang sangat berat itu jatuh ke tanah, membawa serta potongan tangan sang tetua yang kini hanya menyisakan lubang hitam yang tak berdarah.
"AAAAAARRRRGGHHH!" jeritan Tetua Mo memecah keheningan lembah. Ia mundur dengan gontai, menatap pergelangan tangannya yang kini rata, seolah-olah tangannya memang tidak pernah ada di sana sejak lahir.
"Tuan..." Wei berbisik lemah, air mata bercampur darah mengalir di pipinya. "Anda... kembali."
Han Xuan tidak menoleh. Matanya yang memiliki pupil ganda tertuju pada Lin Feng dan Tetua Han yang masih terpaku. Xiao Mei segera berlari dan memeluk kaki Han Xuan, tubuhnya gemetar hebat.
"Maafkan aku, Tuan... aku tidak cukup kuat," isak Xiao Mei.
Han Xuan meletakkan tangan kanannya di atas kepala Xiao Mei. Sebuah kehangatan yang kontras dengan aura dinginnya mengalir, menenangkan detak jantung gadis kecil itu. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup, Xiao Mei. Sekarang, tutup matamu. Jangan biarkan apa yang akan terjadi selanjutnya mengotori penglihatanmu."
Han Xuan melangkah maju. Setiap langkahnya membuat es di bawah kakinya retak dan menghitam.
Tetua Han, yang merupakan ahli tingkat Spirit Severing awal, akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia melepaskan seluruh kekuatan kultivasinya, menciptakan badai kristal es yang tajam di sekelilingnya. "Lancang! Kau hanya seorang bocah Core Condensation yang menggunakan trik kotor! Berani-beraninya kau melukai tetua Sekte Eternal Winter!"
"Sekte Eternal Winter?" Han Xuan mengangkat kepalanya. "Setelah hari ini, nama itu hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah tentang bagaimana sebuah kebodohan bisa menghapus seluruh garis keturunan."
Han Xuan merentangkan kedua tangannya. Kali ini, ia tidak lagi menahan Han Zhao. Ia membiarkan kegelapan dari saudaranya merembes keluar sepenuhnya, menyatu dengan Hukum Nihilitas miliknya.
“Makan mereka, Xuan! Makan semuanya!” suara Han Zhao tertawa gila di dalam kepala Han Xuan.
Hukum Devour: Abyssal Domain.
Sebuah lingkaran hitam pekat melebar dari bawah kaki Han Xuan, menelan seluruh cahaya di area tersebut. Lin Feng mencoba melarikan diri menggunakan gerakan kaki cepatnya, namun ia merasa kakinya seolah-olah terikat oleh ribuan tangan yang terbuat dari bayangan.
Tetua Han mencoba menyerang dengan teknik Frost Dragon Strike, namun naga es raksasa yang ia ciptakan mendadak terurai menjadi partikel energi murni saat memasuki radius tiga meter dari Han Xuan. Energi itu tidak meledak, melainkan tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit Han Xuan, memberi nutrisi pada meridiannya yang lapar.
"Bagaimana mungkin... kau menelan Hukum Es tingkat menengahku?" Tetua Han gemetar. Wajahnya yang tadinya angkuh kini dipenuhi oleh kengerian yang murni.
"Karena esmu berasal dari tangisan seorang wanita yang kesepian," ucap Han Xuan, suaranya kini bergema dengan nada otoritas absolut. "Sedangkan laparku berasal dari kekosongan semesta yang tak memiliki akhirr."
Han Xuan menghilang.
BUM!
Ia muncul tepat di depan Tetua Han. Bukan dengan tinju, melainkan dengan sentuhan telapak tangan di dadanya.
Devouring Star: Internal Collapse.
Tetua Han merasakan organ dalamnya mendadak berputar ke arah dalam. Jantung, paru-paru, dan bahkan Inti Jiwanya (Nascent Soul) mulai mengecil, terkompresi oleh gravitasi lubang hitam yang diciptakan Han Xuan di dalam rongga dadanya.
Tidak ada darah yang keluar. Tubuh ahli tingkat Spirit Severing itu perlahan-lahan melipat ke dalam dirinya sendiri, mengecil menjadi seukuran bola kasti, sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya menjadi ketiadaan.
Lin Feng jatuh terduduk. Ia kencing di celana karena ketakutan yang luar biasa. Dua tetua terkuatnya telah dihapus dari muka bumi seolah-olah mereka hanya debu di atas meja.
"Jangan bunuh aku... tolong... aku akan memberimu apa pun!" ratap Lin Feng. "Aku punya informasi tentang ruang bawah tanah sekte! Aku punya—"
Han Xuan berjalan mendekati Lin Feng. Ia tidak berhenti sampai ujung sepatunya menyentuh hidung Lin Feng. "Informasi? Aku tidak butuh informasi dari lalat seperti kau. Aku bisa membacanya langsung dari sisa jiwamu."
Han Xuan mencengkeram kepala Lin Feng. Pusaran hitam muncul di ujung jarinya, mulai menarik keluar benang-benang cahaya dari dahi Lin Feng. Itu adalah ekstraksi memori paksa sebuah teknik terlarang yang akan menghancurkan jiwa korbannya selamanya.
Dalam hitungan detik, Han Xuan mendapatkan semua yang ia butuhkan: struktur pertahanan sekte, lokasi penjara, dan yang paling penting... rahasia tentang wanita misterius yang mengaku sebagai kesadaran Yue Ling, yang mengaku sebagai dewi.
Setelah selesai, Han Xuan melepaskan cengkeramannya. Tubuh Lin Feng jatuh lunglai, matanya putih kosong, jiwanya telah kosong sama sekali. Han Xuan meniup pelan, dan tubuh Lin Feng hancur menjadi serpihan es yang terbawa angin.
Suasana kembali sunyi. Hanya suara isak tangis Xiao Mei dan napas berat Wei yang terdengar.
Han Xuan berbalik. Ia mendekati Wei dan meletakkan tangannya di dada pria itu. Ia menyuntikkan energi Inti Dunia yang sangat murni, menyatukan kembali tulang-tulang Wei yang patah dan menutup luka dalamnya dalam hitungan menit.
"Maaf aku terlambat, Wei," ucap Han Xuan.
Wei batuk pelan, namun wajahnya mulai kembali berwarna. "Tuan... Anda... Anda jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tapi aura Anda... terasa sangat dingin."
Han Xuan menatap tangannya yang masih memancarkan asap hitam. "Itu adalah harga yang harus dibayar untuk melindungi apa yang tersisa. Istirahatlah di sini. Aku telah memasang segel baru yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun di benua ini kecuali mereka memiliki otoritas dewa."
Han Xuan berdiri dan menatap ke arah puncak gunung yang tertutup awan ungu gelap.
"Tuan, Anda mau kembali ke atas?" tanya Xiao Mei dengan khawatir.
"Ada hutang yang harus ditagih," jawab Han Xuan. "Dan ada seorang 'dewi' yang harus aku tanya mengapa ia membiarkan anjing-anjingnya melukai orang-orangku."
Han Xuan melompat ke udara, berubah menjadi garis perak yang membelah badai salju. Kali ini, ia tidak akan menyelinap. Ia akan berjalan melewati pintu depan Sekte Eternal Winter sebagai pemangsa puncak yang sedang menuntut haknya.
Di dalam jiwanya, Han Zhao tertawa puas. “Itulah adikku! Jangan sisakan satu pun dari mereka! Mari kita jadikan gunung ini sebagai perjamuan besar!”
"Tutup mulutmu, Zhao," batin Han Xuan dingin. "Perjamuan ini baru saja dimulai."
Han Xuan kembali sampai di depan gerbang hancur Sekte Eternal Winter dalam waktu kurang dari satu menit. Xue Ren, sang Master Agung, masih berdiri di sana dengan gemetar, memegang tongkatnya yang kini retak. Di belakangnya, ribuan murid sekte berlutut, tidak berani mengangkat kepala mereka.
Namun, Han Xuan tidak melihat ke arah mereka. Matanya tertuju pada wanita transparan yang berdiri di puncak bangunan utama.
"Kau kembali begitu cepat, Tuan Muda Han," ucap wanita itu, suaranya tetap lembut seolah-olah pembantaian di bawah sana tidak pernah terjadi. "Apakah kau sudah merasa lebih baik setelah melampiaskan amarahmu?"
"Kau membiarkan mereka menyerang orang-orangku untuk menguji batasan kekuatanku, bukan?" Han Xuan mendarat di depan wanita itu, membuat lantai kristal di bawahnya hancur.
Wanita itu tersenyum sedih. "Seorang dewa butuh kepastian sebelum ia menyerahkan jantungnya kepada orang asing. Kau memiliki kehampaan yang murni, namun kau masih memiliki ikatan dengan manusia lemah itu. Itu adalah kelemahan... atau mungkin, itu adalah satu-satunya hal yang akan mencegahmu menjadi monster seperti saudaramu."
"Aku tidak butuh filosofimu yang sederhana itu," sahut Han Xuan. "Berikan apa yang kau janjikan, atau aku akan mengambilnya bersama dengan seluruh gunung ini."
Wanita itu perlahan memudar, berubah menjadi ribuan butir salju yang bersinar. "Ikuti aku ke dasar makam, Han Xuan. Mari kita lihat, apakah kau cukup kuat untuk menelan rasa sakit seorang dewi yang telah membeku selama sepuluh ribu tahun."
Han Xuan melangkah mengikuti butiran salju itu menuju ruang bawah tanah yang paling gelap. Ia tahu, di bawah sana, babak sebenarnya dari takdirnya di Tanah Beku ini akan ditentukan.
<>Cerita Bersambung