Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demonstrasi Pertarungan (2)
Jumat pagi, aku terbangun bukan karena alarm.
Tapi karena kecemasan yang sudah bersarang di perutku sejak sebelum fajar.
Hari ini demonstrasinya.
Lysan sudah terjaga, duduk bersila di tepi tempat tidurnya. Matanya terbuka saat mendengar aku bergerak.
"Gugup?" tanyanya langsung.
"Banget," jawabku jujur. "Kamu?"
"Selalu, sebelum pertempuran." Ia berdiri, meregangkan tubuh dengan gerakan yang mengalir—anggun tapi efisien. "Tapi gugup itu bagus. Artinya kamu peduli. Artinya kamu tidak akan ceroboh."
"Atau justru membeku."
"Kamu tidak akan membeku." Nadanya meyakinkan, bukan sekadar basa-basi. "Aku sudah lihat cara kamu sparring. Instingmu bagus. Percaya saja sama itu."
Kami bersiap dalam keheningan yang nyaman—rutinitas pagi yang sama, tapi terasa lebih berat hari ini. Setiap gerakan lebih disadari, seperti ritual sebelum perang.
"70%," aku bergumam pelan. "Tidak lebih."
Sarapan di ruang makan terasa aneh—seperti mimpi yang setengah sadar. Suasananya campur aduk antara gelisah dan bersemangat.
Kelompok belajar sudah berkumpul di meja biasa, tapi percakapannya lebih sunyi dari biasanya. Semua orang tampak sedang menyimpan sesuatu di dalam kepala masing-masing.
"Bracket diumumkan jam sembilan," kata Marcus, bolak-balik mengecek catatannya. "Berdasarkan skor penilaian ujian masuk. Harusnya seimbang—tidak ada yang terlalu timpang."
" 'Harusnya' itu kata yang berbahaya," sahut Cassia kering. "Aku pernah lihat sendiri pertandingan yang katanya 'seimbang' berakhir dengan satu mahasiswa dirawat tiga hari di klinik."
Mira dan Kira saling pandang.
Finn mencoba mencairkan suasana. "Ya sudah, paling buruk kita semua masuk klinik bareng. Setidaknya ada teman! Bonding yang bagus, kan?"
Tidak ada yang tertawa. Tapi ketegangan di meja itu sedikit mereda.
Elara berdiri, mengangkat cangkirnya. "Toast dulu. Untuk bertahan hidup, untuk tampil sebaik mungkin, dan untuk membuktikan bahwa mahasiswa beasiswa juga bisa berdiri sejajar dengan anak-anak bangsawan."
"Setuju," gumam semuanya hampir bersamaan, mengangkat cangkir masing-masing.
Aku meneguk teh tanpa benar-benar merasakannya. Jantungku terlalu berisik untuk itu.
Arena Utama berdiri di jantung Academy—bangunan bergaya gladiatorial yang mampu menampung ribuan orang sekaligus.
Dan hari ini, hampir tidak ada ruang kosong.
Tribun penuh sesak. Keluarga bangsawan di kotak VIP. Pedagang di bagian tengah. Seluruh fakultas di podium khusus mereka. Bahkan warga umum dari Kota Academy memadati bangku-bangku paling atas.
Ini lebih besar dari yang kubayangkan, batinku, memandangi lautan kepala itu.
"Teater politik," Azure Codex menimpali pelan di pikiranku. "Semua orang menonton—menilai investasi mereka, mencari bakat baru, mengidentifikasi ancaman. Kamu tidak sekadar melawan lawan. Kamu sedang tampil di hadapan penonton."
Sekitar dua ratus mahasiswa Tahun awal berkumpul di lantai arena, dibagi dalam beberapa kelompok. Kepala Sekolah Thorne berdiri di podium sentral, suaranya mengisi seluruh ruangan lewat amplifikasi magis.
"Selamat datang, para mahasiswa, staf pengajar, dan tamu terhormat, di Demonstrasi Publik Tahun Fondasi Arcanum Academy!"
Tepuk tangan menggelegar dari tribun.
"Hari ini kalian akan menyaksikan hasil tiga minggu pelatihan intensif. Bracket pertempuran dirancang untuk menguji bukan hanya kemampuan magis, tapi juga taktik, adaptasi, dan ketahanan mental."
Ia menggerakkan tangannya, dan tampilan magis raksasa muncul mengambang di udara—pohon bracket turnamen yang terisi secara real-time.
Aku memindai dengan cepat—
BLOK A, RONDE 1:
Pertandingan 3: KAEL ASHVERN vs THANE.
Aku tidak mengenalnya secara personal, tapi pernah melihatnya berlatih—manusia, bertubuh besar, pengguna pedang dan perisai. Tipe defensif.
"Matchup yang bagus buat kamu," Lysan berbisik di sampingku. "Petarung defensif bisa dieksploitasi kalau kamu cukup cerdas dan agresif."
"Atau aku yang kehabisan tenaga duluan karena tidak bisa menembus pertahanannya," balasku.
"Optimis dikit, Kael."
Bracket terus terisi,
BLOK A, RONDE 1:
Pertandingan 1: Derek vs Milo
Pertandingan 2: Elara vs Cassandra
Pertandingan 3: Kael vs Thane
Pertandingan 4: Lysan vs Terra
Kelompok belajar kami tersebar di berbagai blok—mungkin memang disengaja, supaya eliminasi awal tidak semuanya jatuh di satu tempat.
Derek main duluan. Tentu saja—slot utama selalu untuk anak bangsawan.
Kepala Sekolah Thorne menutup dengan tatapan yang menyapu seluruh arena. "Pertandingan berjalan berurutan. Aturan standar—selesai saat menyerah, knockout, atau wasit menghentikannya. Kekuatan mematikan dilarang, ward keselamatan aktif. Brutalitas berlebihan berujung diskualifikasi."
Jeda singkat, tapi berat.
"Dan untuk pengingat semua orang—ini demonstrasi pendidikan, bukan arena gladiatorial. Saya harap ada sportivitas, kendali diri, dan saling menghormati."
Pesannya jelas. Jangan berlebihan.
"Pertandingan pertama—Derek versus Milo—bersiap!"
Arena bersih kecuali dua orang.
Derek melangkah masuk dengan kepercayaan diri yang tipis garisnya dengan arogansi—jubah tempur yang jelas bukan keluaran standar Academy, pedang dengan ukiran yang mungkin pusaka keluarga, postur yang tampak seperti sudah dilatih untuk terlihat sempurna.
Milo Greaves di hadapannya—anak rakyat biasa, energi gugup, perlengkapan standar. Sudah terlihat kalah sebelum apa-apa.
Wasit, Professor Ironhand, mengangkat tangan. "Petarung siap?"
Keduanya mengangguk.
"MULAI!"
Derek tidak terburu-buru. Ia maju dengan langkah yang terukur dan terkontrol. Milo melemparkan mantra defensif—dinding tanah.
Derek menebas. Dinding itu hancur seketika.
Milo tersandung mundur. Paniknya terlihat dari caranya bergerak. Ia mencoba baut api sebagai serangan balik—Derek membelokkannya dengan pedang, hampir tanpa usaha, tanpa melambat sama sekali.
Dua menit. Hanya dua menit sampai Milo dilucuti, bilah Derek di tengkuknya.
"Menyerah," kata Derek, nadanya tenang.
"A-aku menyerah!"
"Pertandingan! Pemenang Derek Deimont!"
Tepuk tangan dari tribun—kaum bangsawan antusias, yang lain sopan secukupnya. Derek menyarungkan pedang, membungkuk ke arah kotak VIP, lalu keluar dengan langkah yang sama terukurnya.
Dia terlatih dengan baik. Fundamentalnya kuat, agresinya terkontrol. Lawan yang berbahaya.
"Setidaknya bukan dia yang kulawan di Ronde 1," gumamku.
"Tapi kalau kalian berdua terus menang," Lysan menunjukkan, "pertemuan itu hanya soal waktu."
Urusan itu nanti saja.
Pertandingan kedua, Elara versus Cassandra—lebih sengit, lebih seimbang. Dua penyihir yang sama-sama taktis, saling tukar mantra dan penghalang. Elara menang lewat efisiensi mana yang lebih baik; Cassandra kehabisan duluan, pertahanannya runtuh. Kemenangan yang bersih. Kelompok belajar kami bersorak.
Pertandingan ketiga semakin dekat.
Giliranku.
"Kael Ashvern, Thane—ke arena!"
Perutku mengencang. Kakiku berat.
Napas. Bergerak. Kamu sudah berlatih untuk ini.
Aku berjalan ke pusat arena. Thane sudah menunggu—lebih besar dari yang kuingat. Mungkin 190 sentimeter, bahu lebar, baju zirah pelat penuh yang pasti bukan fasilitas standar Academy—entah pengadaan keluarga. Perisai besar di lengan kiri, pedang panjang di tangan kanan.
Kesatria klasik.
Ia mengangguk sopan. "Semoga yang terbaik yang menang."
"Sama," balasku, mencabut pedang latihan.
Di tubuhku hanya baju zirah kulit standar—ringan, mobile. Tanpa perisai.
Kecepatan versus pertahanan. Begitulah jadinya.
Professor Ironhand berdiri di antara kami. "Aturan standar. Selesai saat menyerah, knockout, atau aku menghentikan. Jelas?"
"Ya, Pak," kami berdua bersamaan.
"Siap?"
Anggukan.
"MULAI!"
Thane langsung mengambil kuda-kuda defensif—perisai terangkat, pedang siap, berat badan tersebar merata. Tidak menyerang. Cukup berdiri dan menunggu.
Strategi tank klasik, kata Azure Codex. Paksa lawan yang menyerang, habiskan tenaga mereka, balas saat ada celah.
"Bagaimana cara masuk?"
Aku mengitarinya dengan lambat. Thane berputar mengikuti, selalu menjaga perisai menghadapku.
Sabar sekali orang ini.
Penonton mulai bergumam—mungkin berharap sesuatu yang lebih dramatis.
Aku gertakan ke kiri. Perisainya bergerak. Gertakan kanan—mengikuti juga.
Refleks yang bagus.
Lalu aku menyerbu—tusukan cepat ke arah kakinya yang terbuka. Perisai turun secepat kilat, memblok. Pedangnya membalas—aku parry, mundur, selesai.
Ronde pertama berakhir seri.
Oke. Pertahanannya hampir tanpa celah. Butuh cara lain.
Serang dari banyak sudut sekaligus, Azure Codex menyarankan. Perisainya tidak bisa jaga semuanya bersamaan. Paksa perisai naik lewat serangan atas, langsung sambut bawah.
Kucoba.
Tebasan keras dari atas—Thane mengangkat perisai, memblok mudah. Tapi langsung aku turunkan diri, sapuan kaki ke arah kakinya.
Ia terhuyung. Tidak jatuh, tapi keseimbangannya terganggu.
Celah terbuka.
Aku menusuk ke celah di dadanya—pedangnya motong di tengah jalan, membelokkan bilahdku.
Pemulihan yang cepat sekali.
Sialan.
Reaksi penonton terbagi—sebagian terkesan dengan taktikku, sebagian dengan pemulihan Thane.
Kami mengitari lagi. Thane bicara, napasnya mulai terasa.
"Kamu cepat. Tapi butuh lebih dari sekadar itu."
"Belum semuanya kutunjukkan," balasku.
Aku menyerang lagi—kombinasi dari berbagai sudut berbeda. Dan Thane memblok, memblok, memblok. Menjengkelkan. Pertahanannya seperti tembok batu.
Tapi—
Pola napasnya berubah. Staminanya turun lebih cepat dari kamu. Baju zirah itu ada harganya. Kita bisa mengalahkannya lewat ketahanan.
Permainan waktu?
Tapi penonton sudah mulai gelisah. Gumaman dari tribun terdengar jelas.
"Membosankan..."
"Kalau cuma begini terus..."
Tidak. Aku butuh keputusan yang lebih tegas.
"Azure, aktifkan. Tiga puluh persen. Analisis lintasan saja."
Mengaktifkan.
Tiba-tiba—gerakan Thane melambat di mataku. Bukan karena dia lebih lambat. Pemprosesanku yang berakselerasi.
Setiap mikro-gerakan terbaca,
Perisai di 45 derajat kiri. Pedang siap counter dari kanan. Kaki kiri menanggung 60% berat. Kaki kanan terbuka.
Aku menyerang ke kaki kanannya. Thane menggerakkan perisai—sudah kuprediksi. Di tengah serangan, aku berputar, mengalihkan target ke celah bahu kirinya.
Bilahdku mengenai. Ward menyala.
"Poin!" Professor Ironhand berseru.
Thane mundur selangkah, wajahnya bingung sebentar. "Bagaima—"
Aku tidak menjawab. Kembali ke kuda-kuda.
Bagus. Tapi jangan terlalu mudah. Kena satu serangan di pertukaran berikutnya—sengaja.
Pertukaran selanjutnya, aku sengaja terlambat membaca counternya—hantaman perisai ke bahuku. Aku tersandung mundur, meringis. Setengah akting, setengah tidak—itu sakit sungguhan.
"Poin!"
Skor imbang. Penonton mulai lebih terlibat—pertarungan yang bolak-balik.
Thane bernapas semakin berat. Baju zirahnya mulai menagih harganya.
Aku menekan—kombinasi yang semakin cepat, memaksanya terus bereaksi. Responsnya mulai sedikit lebih lambat.
Tingkat kelelahan 67%. Waktu reaksi berkurang 0,14 detik. Sisi kanan 12% lebih terbuka.
Aku fokuskan serangan ke sisi kanannya, berulang-ulang. Thane berjuang mengikuti.
Lalu—celah besar terbuka.
Stamina habis, perisai turun terlalu rendah, dada sepenuhnya terbuka.
Aku bisa mengakhirinya sekarang juga. Tapi—
Tujuh puluh persen. Buat ini terlihat diperjuangkan.
Alih-alih langsung mengakhiri, aku menyerang dengan cara yang mudah dibaca. Thane, dalam kondisi terdesak, mencoba counter yang kasar dan liar.
Aku "nyaris" menghindarinya—berguling, bangkit di belakangnya—bilah di tengkuknya.
"Menyerah," aku berkata pelan.
Hening sebentar. Napas kami berdua berat.
"...Aku menyerah," Thane akhirnya mengakui.
"PEMENANG KAEL ASHVERN!"
Tribun meledak. Bagian rakyat biasa bersorak keras. Bagian bangsawan tepuk tangan sopan—tapi aku menangkap beberapa pasang mata yang sedang menilai, bukan sekadar menonton.
Aku mengulurkan tangan, membantu Thane berdiri.
"Pertarungan yang bagus," kataku, dan itu tulus.
Ia menggenggam tanganku, mengangguk dengan hormat. "Kamu juga. Lebih cepat dari yang kukira. Taktik yang menarik."
Kami keluar bersama—sportivitas tetap terjaga.
Tapi saat aku melangkah ke area istirahat, punggungku terasa panas.
Banyak mata sedang menatap. Dan ini bukan tatapan biasa—ini evaluasi. Dari kotak VIP, dari bagian pedagang, dari podium fakultas. Kepala-kepala menunduk saling berbisik, pandangan sesekali beralih ke arahku.
Kita sudah menarik perhatian. Sesuai rencana. Tapi sekarang konsekuensinya datang—berbagai pihak akan mendekat. Bersiaplah.
Kelompok belajar langsung mengerumuniku.
"Itu tadi gilaa!" Elara hampir melompat. "Waktu kamu alihkan serangan ke bahu di tengah jalan—bagaimana bisa kamu baca pertahanannya secepat itu?"
"Latihan," jawabku singkat. "Kakek mengajarku untuk baca lawan."
Bukan kebohongan sepenuhnya. Kakek memang mengajarkan itu—Azure Codex hanya mempertajamannya.
Finn menepuk bahuku dengan cara yang terasa lebih seperti pukulan. "Akhirnya si kura-kura itu rubuh juga! Kukira kamu bakal dibosankan sampai mati sama semua blokan-blokan itu!"
"Baju zirah berat itu ada harganya," kataku. "Tinggal tunggu dia kelelahan."
Lysan memandangku dengan cara yang sudah mulai kukenali—terlalu cermat untuk disukai.
"Kamu beradaptasi dengan cepat," ujarnya. "Hampir seperti... kamu sudah tahu gerakannya sebelum dia membuatnya."
Hati-hati.
"Pengenalan pola," jawabku santai. "Dia punya kebiasaan-kebiasaan kecil. Pergeseran berat badan, perubahan napas. Hal-hal yang terlihat kalau kamu tahu harus lihat ke mana."
"Mm." Lysan tidak berkomentar lebih lanjut. Tidak curiga—tapi waspada.
Aku perlu lebih berhati-hati di sekitarnya.
Cassia mendekat, ekspresinya netral tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang terasa seperti persetujuan. "Solid. Menang tanpa pamer. Pintar."
"Makasih."
Marcus, tentu saja, sudah punya catatan. "Secara statistik cukup menarik—waktu kemenanganmu tepat di median Ronde 1. Tidak yang tercepat, tidak yang terlama. Kebetulan?"
"Beruntung," jawabku.
Ia menyesuaikan kacamatanya dengan tatapan skeptis, tapi tidak mengejar lebih jauh.
Pertandingan-pertandingan lain berlanjut. Lysan menang bersih—penggunaan sihir penyembuhan sebagai pertahanan sungguh brilian. Finn menang tipis lewat keteguhan yang murni mengalahkan kesenjangan teknik. Si kembar bertarung di pertandingan terpisah, keduanya menang meyakinkan—sinergi elemental mereka terlihat bahkan saat sendirian. Marcus kalah—melawan lawan dengan spesialisasi ilusi yang lebih berpengalaman. Ia menerimanya dengan tenang: "Hasil yang sudah bisa diprediksi. Pertarungan bukan bidangku. Penelitian iya." Cassia mendominasi pertandingannya dengan presisi yang hampir terlihat tidak adil.
Menjelang sore, Ronde 1 selesai. Bracket menyempit.
Ronde 2 bahkan belum dimulai, tapi orang-orang sudah datang.
Saat aku meninggalkan area istirahat menuju asrama, tiga kelompok berbeda "secara kebetulan" mencegatku di sepanjang jalan.
Yang pertama—perwakilan bangsawan. Pria muda, berpakaian rapi, insignia House Silvermark di kerahnya. Bukan mahasiswa—agen eksternal.
"Kael Ashvern?" Ia mendekat dengan senyum yang terkalkulasi. "Penampilan yang mengesankan hari ini. Nama saya Adrian Silvermark. House kami selalu mencari individu berbakat—"
"Tidak tertarik," potongku langsung.
Senyumnya goyah sedikit. "Kamu belum mendengar tawarannya—"
"Apa pun itu, tidak tertarik. Terima kasih."
Aku berjalan melewatinya. Ia tidak mengikuti, tapi tatapannya terasa membakar punggungku.
Yang kedua—seorang wanita paruh baya dengan lencana Merchant Guild, mata yang tajam, dan senyum yang ramah tapi kalkulatif.
"Anak muda, sebentar saja? Pertarungan tadi—sangat taktis. Kami butuh orang seperti kamu untuk pengamanan karavan, ekspedisi dungeon—"
"Saya mahasiswa Tahun Fondasi. Terikat kontrak dengan Academy."
"Setelah lulus tentunya! Ini cuma diskusi awal—"
"Tidak tertarik. Maaf."
Aku mempercepat langkah.
Yang ketiga berbeda dari keduanya.
Sosok berkerudung berdiri di bayangan antara dua bangunan—wajahnya tidak terlihat jelas. Tidak mendekat. Hanya mengamati.
Saat aku melewatinya, sebuah suara berbisik—pelan sekali, hampir tidak terdengar,
"Pemilik Azure Codex. Kami tahu. Hati-hati dengan siapa yang kamu percaya."
Kakiku berhenti sendiri.
Aku berbalik—
Tidak ada siapa-siapa.
Sosok itu sudah hilang, seolah tidak pernah ada.
Bukan rekruter biasa, Azure Codex bersuara, tegang. Ancaman? Peringatan? Pengumpulan informasi? Afiliasi tidak diketahui. Sangat berbahaya.
Jantungku berdegup tidak karuan.
Seseorang di Academy ini tahu soal Azure Codex.
Bagaimana?
Kami sudah berhati-hati. Liontin peredam selalu aktif. Void magic tidak pernah kutampilkan secara terbuka—
Kecuali mereka sudah mengawasi lebih lama dari yang kami kira.
Aku tidak bisa tidur.
Kata-kata itu terus berputar. "Kami tahu."
Siapa "kami"?
Shadow Syndicate? Mereka sudah pernah mencoba membunuhku di desa. Faksi lain? Para pemburu Philosopher Stone? Agen internal Academy?
Terlalu banyak kemungkinan, terlalu sedikit jawaban.
Besok, kita harus lebih ketat lagi. Tidak ada void magic sama sekali. Penggunaan Stone seminimal mungkin. Andalkan kemampuan pedang murni sebisa mungkin.
"Tapi kalau aku perlu menang—"
Menang tidak sebanding dengan konsekuensinya kalau paparan itu berujung pada kematianmu belakangan. Kalah dengan strategis masih lebih baik daripada jadi target yang sudah dicat merah.
Aku terdiam.
Demonstrasi ini penting—performaku menentukan sumber daya, peluang, posisi ke depan. Tapi bertahan hidup tetap nomor satu.
Apa yang akan Kakek katakan?
"Hidup dulu, baru bertarung lagi besok. Harga diri tidak ada artinya kalau kamu sudah mati."
Benar.
Keputusan sudah dibuat: bertarung cerdas besok. Menang kalau bisa tanpa memperlihatkan Azure Codex secara jelas. Kalau tidak bisa—kekalahan yang terhitung masih bisa diterima.
Bertahan hidup dulu.
Tapi tidur tetap tidak mau datang.
Pikiranku berputar-putar. Siapa lagi yang mengawasi? Berapa banyak yang sudah tahu? Apakah Academy ini benar-benar aman?
Di seberang ruangan, napas Lysan teratur dan tenang. Tidur yang damai.
Aku iri sekali.
Sekitar pukul tiga pagi, kelelahan akhirnya mengalahkanku.
Tidur yang gelisah. Mimpi tentang sosok berkerudung, tentang Shadow Syndicate, tentang malam di desa ketika segalanya hampir berakhir.
Aku terbangun beberapa kali, tangan secara naluriah meraih Azure Codex—memastikannya masih di sana.
Masih ada. Masih aman.
Untuk saat ini.