Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Mendekat
Udara di koridor sekolah setelah keluar dari ruang kepala sekolah terasa jauh lebih ringan secara fisik, namun secara mental, aku bisa merasakan beratnya variabel baru yang baru saja masuk ke dalam kalkulasi hidupku. Maruo Nakano bukan sekadar pria dengan setelan jas mahal; dia adalah perwujudan dari struktur kekuasaan yang tidak menyukai anomali. Dan aku, Ren Saiba, adalah anomali terbesar yang pernah masuk ke dalam radar pengawasannya.
Aku berjalan perlahan menyusuri koridor lantai dua. Suasana kelas-kelas lain masih dipenuhi oleh dengung pelajaran, namun di koridor ini, kesunyian terasa begitu tajam. Aku berhenti sejenak di depan jendela besar yang menghadap ke arah gedung olahraga. Di sana, dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Yotsuba yang sedang berlari di lapangan, rambut pendeknya berkibar tertiup angin.
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Evaluasi Ancaman Jangka Panjang]
[Bahasa Sistem: Mendeteksi Pergeseran Struktur Hubungan Akibat Intervensi Eksternal]
Pesan Maruo tadi sangat jelas: dunia luar tidak berjalan dengan logika sastra. Itu adalah ancaman sistemik. Dia tidak akan menyerangku dengan otot, melainkan dengan memutus jalur pengaruhku atau, yang lebih buruk, mengisolasi kembar lima dariku.
Langkah kaki cepat dari arah belakang memecah lamunanku. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu. Aroma lavender yang tajam dan langkah sepatu yang penuh otoritas itu hanya milik satu orang.
"Kau masih hidup rupanya, Ren-kun," suara Haruno Yukinoshita bergema di koridor yang sepi.
Ia berdiri beberapa meter di belakangku, menyandarkan tubuhnya yang ramping pada dinding koridor. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan; sebaliknya, ia tampak sangat terhibur, seolah-olah ia baru saja menonton babak paling menarik dari sebuah drama teater.
"Hidup dan masih bernapas dengan cukup baik, Haruno-san," jawabku tanpa merubah posisiku. "Kau tidak ikut pergi bersama Maruo-san? Kupikir kalian berada dalam satu frekuensi yang sama hari ini."
Haruno tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng kristal yang dingin. "Aku? Bergabung dengan pria sekaku dia? Jangan menghinaku. Aku hanya menyukai kekacauan yang kau ciptakan. Maruo-san melihatmu sebagai virus yang harus dibasmi, tapi aku melihatmu sebagai katalis yang membuat Yukino dan Nakano bersaudara menjadi jauh lebih... menarik."
Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di sampingku. Matanya yang tajam mengikuti arah pandanganku ke lapangan olahraga. "Tapi kau harus tahu, Ren. Maruo bukan tipe pria yang akan membiarkan 'aset' miliknya tercemar. Dia sudah mulai menyiapkan rencana untuk memindahkan mereka ke sekolah privat di Tokyo setelah semester ini berakhir. Dia pikir, dengan menjauhkan mereka darimu, variabel kejujuran yang kau tanamkan akan layu dengan sendirinya."
Aku mengepalkan tangan di dalam saku celanaku. Ini adalah variabel yang paling berbahaya. Pemisahan fisik.
"Dia bisa memindahkan tubuh mereka, tapi dia tidak bisa memindahkan kesadaran mereka," ujarku dengan nada yang sangat dingin dan analitis. "Jika dia mencoba memaksakan kehendaknya, dia hanya akan mempercepat kehancuran hubungan yang sedang dia coba lindungi."
"Mungkin," Haruno mengangkat bahu dengan anggun. "Tapi apakah kau siap menghadapi badai yang akan dia kirimkan padamu secara pribadi? Besok, rumor tentang 'metode manipulatifmu' akan mulai tersebar di koridor ini. Maruo memiliki kendali atas beberapa dewan sekolah, dan mereka tidak suka pada murid pindahan yang terlalu menonjol."
"Terima kasih atas informasinya, Haruno. Tapi aku sudah menulis skenario untuk itu juga."
Haruno menatapku cukup lama, seolah sedang mencoba mencari setitik rasa takut di mataku. Namun, yang ia temukan hanyalah ketenangan mutlak dari seorang pria yang telah menerima kematian dan kembali untuk menulis ulang takdirnya.
"Kau benar-benar monster, Ren Saiba," bisiknya dengan nada yang hampir terdengar seperti pujian. "Mari kita lihat, apakah monstermu bisa bertahan saat seluruh sekolah mulai berbalik melawanmu."
Haruno berbalik dan pergi, meninggalkan aroma lavendernya yang memudar. Aku tetap di sana selama beberapa menit, membiarkan sistem di kepalaku memproses semua data baru ini.
[Status Pekerjaan: 100%]
[Misi Baru Terdeteksi: Mempertahankan Eksistensi Kelompok]
[Hadiah: Membuka Fitur 'Otoritas Karismatik']
Aku kembali berjalan menuju kelas 3-J. Saat aku membuka pintu, semua mata tertuju padaku. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Itsuki segera berdiri, wajahnya penuh kecemasan. Miku juga menghentikan kegiatannya menulis, menatapku dengan mata yang seolah mencari jawaban atas apa yang terjadi di ruang kepala sekolah.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya berjalan menuju mejaku, duduk, dan membuka buku catatan novelku. Aku menuliskan satu kalimat di halaman baru:
"Badai tidak datang untuk menghancurkan, ia datang untuk membersihkan jalur bagi mereka yang berani berdiri tegak."
"Saiba-kun?" Itsuki mendekat, suaranya gemetar. "Apa yang dikatakan Ayah? Apakah dia... apakah dia melakukan sesuatu padamu?"
Aku mendongak, menatap Itsuki, lalu beralih pada saudara-saudaranya yang lain yang kini mulai berkumpul di sekeliling meja. Sifat pelindungku muncul ke permukaan, namun aku tetap menjaganya agar tidak terlihat emosional yang berlebihan.
"Dia mencoba merubah genre cerita kita, Itsuki," jawabku tenang. "Tapi tenang saja. Aku masih pemegang pena utamanya. Selama kalian tidak melepaskan kejujuran yang sudah kalian temukan, tidak ada satu pun kekuatan di sekolah ini yang bisa memisahkan kita."
Nino, yang duduk di belakangku, menyentuh bahuku pelan. "Kau bicara seolah-olah perang akan segera pecah."
"Bukan akan pecah, Nino," balasku sembari menatap matanya yang tajam. "Perangnya sudah dimulai sejak kita turun dari panggung kemarin. Dan sekarang, kita hanya perlu memastikan bahwa kita adalah orang terakhir yang berdiri saat debunya mengendap."
Di sudut kelas, aku melihat Yukino yang sedang menatapku dengan pandangan yang dalam. Ia tahu apa yang dikatakan kakaknya padaku. Ia tahu bahwa mulai hari ini, keberadaanku di Akademi Sakura akan diuji oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar pengganggu sekolah.
Namun, saat aku melihat Miku yang menggenggam pulpennya dengan erat dan Yotsuba yang mengepalkan tangannya dengan semangat, aku tahu bahwa variabel manusia yang sudah kubentuk ini tidak akan mudah dipatahkan.
Keesokan paginya, atmosfer di Akademi Sakura terasa berbeda. Bukan lagi kehangatan musim semi yang menyambutku di gerbang, melainkan sebuah hawa dingin yang tak kasat mata—sebuah ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka terhadap perubahan arus sosial. Saat aku berjalan menyusuri koridor, bisikan-bisikan yang kemarin terdengar seperti pujian kini telah bermutasi menjadi nada-nada sumbang yang penuh kecurigaan.
Peringatan Haruno terbukti benar. Racun rumor mulai bekerja.
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Mendeteksi Anomali Sosial dalam Jangkauan 20 Meter]
[Bahasa Sistem: Tingkat Hostilitas Lingkungan Meningkat 35%]
Aku berhenti di depan loker sepatuku. Di pintu loker itu, tertempel sebuah sobekan kertas anonim bertuliskan: "Sang Editor atau Sang Manipulator?". Aku menarik kertas itu dengan gerakan tenang, meremasnya kecil, dan memasukkannya ke saku tanpa mengubah ekspresi wajahku sedikit pun. Bagiku, ini hanyalah variabel gangguan yang sudah diprediksi.
Namun, saat aku masuk ke ruang kelas 3-J, situasinya jauh lebih nyata. Kerumunan siswa yang biasanya mengobrol riuh mendadak sunyi saat aku melangkah masuk. Di tengah ruangan, aku melihat Nino berdiri dengan tangan berkacak pinggang, menghadapi sekelompok siswa dari kelas lain yang tampaknya sengaja datang untuk memancing keributan.
"Katakan sekali lagi," suara Nino terdengar rendah dan berbahaya. "Katakan lagi apa yang baru saja kalian ucapkan tentang Saiba."
Seorang siswa laki-laki dengan tampang sombong mencibir, "Kami cuma dengar dari komite sekolah, Nino-san. Kabarnya naskah kalian itu bukan hasil kerja keras kalian. Saiba cuma menggunakan teknik psikologis untuk mencuci otak kalian supaya kalian menulis apa yang dia mau. Dia cuma memanfaatkan kalian untuk menaikkan reputasinya sendiri sebagai murid pindahan."
Miku, yang biasanya menarik diri, kini berdiri di samping Nino. Bahunya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang berusaha ia kendalikan. "Itu... itu tidak benar. Kalian tidak tahu apa-apa tentang apa yang kami lalui."
Aku melangkah maju, memecah kerumunan itu. Suara langkah sepatuku di lantai kayu terdengar begitu dominan hingga semua mata beralih padaku. Aku meletakkan tas sekolahku di meja dengan suara buk yang mantap.
"Menarik," ujarku, suaranya jernih dan sangat dewasa, memotong ketegangan di ruangan itu. "Reputasi adalah sesuatu yang dibangun di atas hasil. Jika kalian merasa naskah itu adalah hasil cuci otak, silakan tulis sesuatu yang lebih jujur dan lebih kuat dari itu. Sampai saat itu tiba, opini kalian hanyalah kebisingan tanpa data."
Siswa laki-laki itu mendengus, mencoba menjaga martabatnya. "Kau pikir kau hebat karena bisa memikat kembar lima? Maruo-san sudah tahu siapa kau sebenarnya, Saiba. Kau tidak akan bertahan lama di sekolah ini."
"Aku tidak butuh izin dari siapa pun untuk bertahan, termasuk dari orang yang kau sebutkan," balasku dengan tatapan yang begitu tajam hingga siswa itu tanpa sadar mundur satu langkah.
[Otoritas Karismatik: Aktif]
[Bahasa Sistem: Efek Intimidasi Berhasil Terhadap Target Sekunder]
Setelah kelompok provokator itu pergi dengan perasaan dongkol, suasana kelas masih terasa berat. Yotsuba segera menghampiriku, wajahnya yang biasanya ceria kini tampak layu. "Saiba-san... kenapa mereka begitu jahat? Padahal kemarin mereka sangat menyukai naskah kita."
Aku duduk di kursiku, menatap kelima gadis yang kini mengerumuniku. "Dunia tidak suka pada sesuatu yang tidak bisa mereka pahami, Yotsuba. Dan mereka tidak bisa memahami bagaimana lima orang yang biasanya dianggap 'biasa' bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Cara termudah bagi mereka untuk menerima kenyataan itu adalah dengan menganggap ada kecurangan di baliknya."
Nino menarik kursi dan duduk tepat di depanku, matanya menatapku dengan intens. "Kau tahu ini akan terjadi, bukan? Sejak kau keluar dari ruang kepala sekolah kemarin, kau sudah tahu Ayah akan melakukan ini."
"Prediksi adalah bagian dari tugasku, Nino," jawabku tenang. "Maruo-san tidak menyerah begitu saja. Dia menggunakan kekuatan yang paling mudah ia kendalikan di sekolah ini: persepsi massa. Dia ingin membuatku terisolasi agar aku merasa tidak nyaman dan pergi dengan sendirinya."
"Kami tidak akan membiarkan itu terjadi!" Itsuki berseru, menarik perhatian seluruh kelas. "Kami akan menulis pernyataan resmi. Kami akan membuktikan bahwa setiap kata dalam naskah itu adalah milik kami!"
Aku memberikan senyum tipis, sebuah ekspresi yang sangat manusiawi yang kini semakin sering muncul sejak aku mengenal mereka. "Terima kasih, Itsuki. Tapi biarkan mereka bicara. Semakin banyak mereka bicara, semakin banyak lubang yang akan mereka buat dalam logika mereka sendiri. Tugas kalian saat ini bukan berdebat, tapi tetaplah menjadi bukti hidup bahwa kalian telah berubah."
Ichika, yang sejak tadi hanya mengamati dari kejauhan, akhirnya angkat bicara. "Saiba-kun benar. Semakin kita bereaksi, semakin senang orang-orang yang mengirim mereka. Tapi..." ia menatapku dengan pandangan yang lebih serius, "bagaimana jika mereka mulai menyerangmu secara personal, lebih dari sekadar rumor? Ayah punya koneksi yang jauh lebih dalam dari sekadar siswa di koridor."
Aku menyandarkan punggungku, menatap ke arah jendela di mana awan hitam mulai berkumpul di langit Chiba—sebuah metafora yang sempurna untuk situasi kami saat ini.
"Biarkan badainya datang, Ichika," ujarku dengan nada yang penuh wibawa dan tanpa keraguan. "Aku sudah menyiapkan penangkal petirnya. Dan jika Maruo-san ingin bermain dengan narasi kekuasaan, aku akan menunjukkan padanya bagaimana rasanya menghadapi narasi yang ditulis oleh seseorang yang tidak punya apa pun untuk dipertaruhkan."
Di sudut kelas, Yukino Yukinoshita sedang menulis sesuatu di buku catatannya. Ia kemudian merobek kertas itu dan memberikannya padaku saat ia berjalan keluar kelas menuju perpustakaan.
Aku membuka kertas itu. Isinya singkat: "Dewan sekolah akan mengadakan rapat tertutup sore ini. Haruno ada di sana. Jangan datang sendirian."
Aku meremas kertas itu dan menatap kembar lima. "Sore ini akan menjadi penentu. Apakah kalian siap untuk sekali lagi berdiri di sampingku, meski seluruh sekolah mungkin akan menatap kalian dengan cara yang berbeda?"
Mereka berlima saling berpandangan, lalu serempak mengangguk. Tidak ada lagi keraguan di mata mereka. Nino mengepalkan tangannya, Miku memperbaiki letak headphone-nya, dan Yotsuba mengepalkan tinju semangatnya.
"Ke mana pun kau pergi menulis sejarah kita, kami akan ada di sana, Saiba," ujar Nino dengan penuh keyakinan.