NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:29k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Pesan Dari Fahmi

Di kamar yang sejak kecil ia tempati, Hanin duduk di lantai dengan koper terbuka di depannya. Lemari kayu jati yang biasa ia buka dengan santai, malam itu terasa seperti saksi yang diam-diam menghakimi. Setiap lipatan baju yang ia ambil terasa lebih berat dari kain itu sendiri.

Tangannya gemetar saat melipat pakaian terakhir. Ia berhenti sejenak, menatap sekeliling kamar. Dinding berwarna biru muda. Rak kecil penuh buku tafsir dan novel. Meja belajar dengan lampu kuning hangat. Foto keluarga di sudut meja.

Ini malam terakhirnya di rumah. Besok pagi ia berangkat ke pesantren. Bukan untuk mondok seperti santri pada umumnya. Tapi sebagai bentuk hukuman.

Nomor Fahmi masih belum bisa dihubungi. Sejak sore tadi, ia sudah mencoba berkali-kali. Pesan centang satu. Telepon tak pernah tersambung. Seolah Fahmi menghilang begitu saja.

Hanin menelan ludah. Dadanya terasa sempit. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan Fahmi. Yang ia tahu, semuanya terasa runtuh dalam waktu singkat.

Hanin menutup koper perlahan. Bunyi resleting terdengar panjang dan menyayat. Seperti garis yang memisahkan masa lalu dan masa depan.

Hanin berdiri. Mengambil napas panjang. Lalu membuka pintu kamar.

Ruang keluarga terlihat terang. Lampu menyala penuh. Abi duduk di kursi kayu favoritnya. Tasbih berputar pelan di tangannya.

Umi duduk di sampingnya. Matanya sembap. Tapi ia tidak menangis lagi. Langkah Hanin terasa berat. Namun ia tetap berjalan.

Begitu sampai di depan Abi, ia tak sanggup berdiri lama. Lututnya perlahan turun menyentuh lantai. Ia berlutut.

“Abi .…” Suaranya pecah. Ustaz Rahmat tak langsung menoleh.

Hanin menunduk dalam. Tangannya meraih ujung jubah ayahnya, lalu menciuminya dengan gemetar.

“Maafkan Hanin, Bi … Hanin sudah membuat Abi malu. Hanin tahu Abi dikenal orang sebagai ustaz. Orang datang minta nasihat. Tapi anak Abi sendiri .…”

Kalimatnya terputus oleh tangis yang tertahan. “Maafkan Hanin, Bi. Hanin khilaf. Hanin janji tidak akan mengulanginya lagi. Hanin janji.”

Umi memalingkan wajahnya. Tangannya mengepal di pangkuan.

Ustaz Rahmat akhirnya berhenti memutar tasbih. Ia menatap anak perempuannya itu. Wajah yang sejak kecil ia didik dengan doa. Ia ajari mengaji sejak huruf hijaiyah pertama. Ia banggakan di depan jamaah karena hafalannya. Tapi, satu foto itu telah menampar harga dirinya sebagai seorang ayah dan ustaz.

“Abi tidak marah karena kamu berteman,” ucapnya pelan. “Abi marah karena kamu melanggar batas yang sudah jelas.”

Hanin terisak. Sadar betul dengan semua kesalahannya.

“Perempuan itu kehormatannya mahal, Nin. Sekali kamu sendiri yang membuka pintunya, orang tidak akan bertanya siapa yang menyuruh.”

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan keras. Tapi justru karena tenang, rasanya lebih menembus.

Hanin mengangguk. Air mata menetes tanpa henti.

Ia lalu bergeser ke arah ibunya. Berlutut lagi. Mencium tangan yang sejak kecil selalu mengusap kepalanya sebelum tidur.

“Ummi … maafkan Hanin.”

Umi akhirnya tak mampu menahan tangis. Ia memeluk kepala Hanin sebentar. Singkat. Lalu melepaskannya kembali.

“Kamu tahu bagaimana orang kampung ini memandang keluarga kita,” bisik ibunya lirih. “Sekarang mereka berbisik. Foto kamu itu bukan saja diterima Abi, tapi juga tetangga lain.”

Hanin menunduk lebih dalam. Hatinya seperti dihantam rasa bersalah yang tak terdefinisi.

Ustaz Rahmat berdiri perlahan. “Besok kamu berangkat ke pesantren sahabat Abi."

Hanin mengangkat wajahnya sedikit.

“Dua tahun kamu tidak boleh pulang. Abi dan Ummi juga tidak akan menjenguk.”

Kalimat itu jatuh seperti vonis. Hanin terdiam. Ia sempat berharap masih bisa pulang saat libur. Masih bisa melihat rumah ini. Masih bisa memeluk ibunya sesekali.

“Ini hukuman?” tanyanya pelan.

“Ini penjagaan,” jawab Abi singkat. “Dan pembelajaran.”

“Abi sebenarnya tidak ingin kamu jauh,” lanjutnya. “Tapi mungkin kamu perlu jauh untuk memahami nilai yang selama ini kamu anggap biasa.”

Tangis Hanin kembali pecah. Tapi ia tidak membantah. Ia tahu semua salahnya.

Meski jauh di dalam hatinya, ada satu luka lain yang belum terjawab. Tentang Fahmi.

“Abi .…” suaranya lirih. “Fahmi .…”

Nama itu membuat ruang kembali hening.

“Lupakan,” potong Abi tegas.

Hanin terdiam.

“Kalau laki-laki itu benar-benar menjaga kamu, dia tidak akan membiarkan foto itu ada.”

Kalimat itu menusuk tepat di titik yang paling sakit. Hanin menunduk. Tak bisa membela. Tak bisa membantah.

Karena memang benar, ia yang ragu. Ia yang takut. Ia yang berkali-kali berkata tidak yakin. Dan Fahmi yang meyakinkan.

“Cuma buat kita.”

Sekarang semuanya bukan lagi “buat kita”.

Hanin menarik napas panjang. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia mengangguk.

“Baik, Bi. Hanin terima.”

Tangisnya tak lagi keras. Hanya sisa-sisa sesak yang tertahan di dada.

Setelah mencium tangan orang tuanya sekali lagi, ia berdiri perlahan dan kembali ke kamar.

Pintu tertutup. Hanin bersandar di baliknya. Kakinya lemas. Ia meluncur pelan hingga duduk di lantai.

Dua tahun. Tanpa pulang. Tanpa dijenguk. Dan tanpa kepastian tentang Fahmi.

Ia merangkak ke ranjang. Duduk. Menghapus air mata dengan ujung jilbabnya.

Di meja belajar, ponselnya tergeletak. Ponsel itu tak juga menyala, Hanin lalu meraihnya.

Belum ada balasan. Nomor Fahmi tetap tak bisa dihubungi. Ia menggigit bibirnya, menahan kecewa. Mungkin ponselnya disita. Mungkin ia juga dihukum.

Atau mungkin ... Hanin menggeleng cepat. Jangan berpikir yang aneh-aneh.

Ia meletakkan ponsel itu kembali. Berbaring memandang langit-langit kamar.

Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Hanin refleks bangkit. Jantungnya berdetak keras. Tangan gemetar meraih ponsel. Nama Fahmi muncul di layar.

Dadanya seakan berhenti sesaat. Air mata yang tadi hampir kering kembali memenuhi mata. Ia membuka pesan itu dengan tangan yang gemetar.

Isinya singkat. "Lupakan aku. Kita akhiri saja hubungan ini. Orang tuaku tak merestuinya. Kita jalan masing-masing."

Dunia seperti berhenti berputar. Hanin membaca ulang. Huruf-huruf itu tetap sama.

Tak ada penjelasan. Tak ada permintaan maaf. Tak ada perjuangan. Tak ada janji. Hanya perpisahan.

Hanin terduduk lemas di tepi ranjang. Ponsel masih di tangannya. Tatapannya kosong.

Tadi sore ia masih bertanya-tanya apakah Fahmi baik-baik saja. Sekarang ia tahu jawabannya. Fahmi memilih menyerah.

Tangannya mulai gemetar hebat. Napasnya memburu. Air mata jatuh tanpa suara.

Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Dihukum dua tahun. Atau ditinggalkan dalam satu pesan singkat.

Hanin menutup mulutnya agar tak terdengar menangis. Ia tak ingin Abi dan Ummi mendengar. Ia tak ingin dianggap masih memikirkan laki-laki itu.

1
Eka ELissa
kmu pasti bisaa nin jalanin smua nya...kmrin aj kmu bisa kan msk kmu kli ini GK mampu.... semngat nin....ada Arsen gantinya Fahmi 😄🤭
Soraya
lanjut mam
Apriyanti
lanjut thor 🙏
ken darsihk
pleaseee Hanin lupakan Fahmi dia bukan jodoh mu , dan demi persahabatan mu dngn Ghania kamu harus melupakan Fahmi
💪💪 Hanin
Teh Euis Tea
udah ya hanin km harus semangat, lupakan si fahmi dia udah mau nikah dgn sahabat km ghania, semoga km dpt penganti yg lebih dari si fahmi
Patrick Khan
udah ahhhh jgn sedih trs 😖😖😖waktunya Hanin bahagia dan ada air mata lg😭😭😭
Ilfa Yarni
tumben cerita mama Reni ini mengandung bawang nangis trus dibuatnya
Supryatin 123
jujur lebih baik Fahmi daripada jadi lelaki pecundang lnjut thor 💪💪
Radya Arynda
alhamdulillah hanin tidak sama pecundang seperti fahmi,,,semogah kamu mendapat kan yang ter baik hanin.....
Eka ELissa
aduh knpaa pke nanya cih Fahmi....
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Soraya
lanjut thor
Teh Euis Tea
alhamdulilah aku baca marathon thor
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Mama Reni: 😍😍😍😍😍😍
total 1 replies
Teh Euis Tea
sabar ya hanin si fahmi bkn jodohmu, lupakan dia semoga km bertemu jodoh yg sayang sm km
ken darsihk
Fahmi akan berkata jujur kah tentang Hanin ??
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??
Oma Gavin
kenapa fahmi malah nyebut hanin sudah dibilang anggap asing malah cari perkara fahmi
Supryatin 123
jadi curiga kan si ghania.dasar si Fahmi rada bego lnjut thor 💪💪
Naufal Affiq
lanjut kak
Radya Arynda
mantap hanin,,buang lah sampah yang tidak menghargai,dan tidak membela mu,,,kalau tau kenyataanya tentang hidup hanin setelah kamu buat masalah,menyesal kamu,,,keluargamu sombong dan egois...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!