Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Lampu sorot panas menyinari wajah Seraphina Vanderbilt, yang kini hanya terpaut beberapa inci dari Andreas St. Clair. Adegan ciuman ini adalah klimaks emosional, seharusnya dipenuhi gairah dan keputusasaan. Tapi ini sudah take keenam, dan Seraphina masih kaku.
"Sekali lagi, Sera! Rasakan emosinya!" teriak sang sutradara dari balik monitor.
Andreas bisa merasakan napas Seraphina yang beraroma mint mahal, namun bibirnya tetap dingin dan pasif. Dia mencoba memimpin, mendorong, mencari reaksi, tapi Seraphina hanya seperti patung pualam yang indah. Sebuah kecantikan yang tidak bernyawa di depannya.
Ketika sutradara berteriak "Cut!" lagi, Andreas tidak menunggu. Dia menarik wajahnya menjauh dari Seraphina, sorot matanya yang biasanya hangat di depan kamera kini digantikan oleh kekesalan murni.
"Seraphina, apa kau baru debut akting?" suara Andreas rendah, namun cukup tajam untuk menembus keheningan yang tiba-tiba melanda set. Semua kru menahan napas. "Kau membuat bibirku muak."
Kata-kata itu menggantung di udara, lebih dingin dari hembusan angin musim dingin di Central Park. Wajah Seraphina, yang biasanya anggun dan tenang, kini memucat. Matanya yang indah sedikit melebar, terkejut dan mungkin, terluka tapi hanya sesaat. Kilatan lain muncul di matanya, kilatan yang belum pernah Andreas lihat sebelumnya.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, Seraphina melangkah maju, tangannya dengan cepat mendorong dada Andreas. Tidak terlalu kuat hingga terjatuh, tapi cukup untuk membuat Andreas terhuyung mundur.
Semua orang terkesiap.
"Muak?" desis Seraphina, suaranya kini tidak lagi lembut, tapi kasar dan penuh amarah yang tertahan. "Kau kira aku ingin menciummu, St. Clair? Kau punya bau wiski semalam yang masih menempel di napasmu! Dan ego sebesar Empire State Building!"
Andreas membeku. Bukan karena dorongan itu, tapi karena kata-kata itu. Seraphina? Gadis manis, pendiam, dan anggun yang selalu menunduk saat dia berbicara? Ini adalah Seraphina Vanderbilt yang sama sekali berbeda.
"Aku... aku tidak percaya kau mengatakan itu," kata Andreas, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Seraphina. Dia benar-benar kaget.
Seraphina menyeringai sinis, senyum yang sama sekali tidak manis. "Well, percaya saja, Tuan Raja Akting. Aku di sini bukan untuk menjadi aksesoris manismu. Aku di sini untuk berakting. Dan jika kau tidak suka cara aktingku, mungkin kau yang harus debut lagi!"
Dia melirik ke arah sutradara yang masih ternganga. "Aku butuh lima belas menit. Dan setelah itu, aku tidak mau ada bau alkohol di sekitar bibir aktor utama kita. Atau aku akan pastikan semua media di New York tahu betapa profesionalnya seorang Andreas St. Clair di lokasi syuting."
Dengan angkuh, Seraphina berbalik dan melangkah pergi, tumitnya berdentum keras di lantai. Semua kru memandang Andreas, yang masih berdiri mematung, benar-benar syok. Dia hanya mengenal Seraphina si gadis manis, tapi yang baru saja dia lihat adalah Seraphina yang liar, berani, dan tak terduga. Ini... adalah masalah. Masalah yang sangat menarik.
Bagi Andreas St. Clair, waktu adalah komoditas yang lebih berharga daripada saham perusahaannya. Baginya, berdiri di bawah lampu sorot selama dua jam hanya untuk mengulang satu adegan ciuman adalah penghinaan terhadap profesionalitasnya.
Dia berdiri di pinggir set, menenggak air mineral dengan kasar sementara asisten rias mencoba merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sempurna.
"Dia kaku seperti papan kayu," gerutu Andreas pada sutradara, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh semua orang. "Aku sudah mencium ratusan aktris, Marcus. Tapi yang satu ini? Dia bahkan tidak tahu cara membuka bibirnya. Apa dia belajar akting di biara? Rasanya aku mual."
Andreas tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa selama tiga tahun kariernya, Seraphina Vanderbilt selalu menolak naskah dengan adegan intim. Ini adalah film pertamanya yang menuntut keberanian lebih, dan Andreas St. Clair, pria paling arogan di Manhattan adalah orang yang memegang rekor sebagai Ciuman Pertama di layar sekaligus di dunia nyata bagi Sera.
Sera, yang sedang duduk di kursi aktornya, melempar naskahnya ke lantai. Bunyi plak kertas yang menghantam marmer membuat kru terdiam. Dia berdiri, menyibakkan rambut pirangnya dengan kasar, dan melangkah lebar menghampiri Andreas.
"Kau bilang apa tadi?" tantang Sera. Matanya berkilat, tak ada lagi sisa-sisa gadis manis yang selama ini dicitrakan media. "Muak? Kau mual?"
Andreas menaikkan satu alisnya, menatap Sera dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Ya. Kau membuang waktuku, Sera. Kita sudah take enam kali dan kau tetap saja seperti robot rusak. Kalau kau tidak bisa melakukannya, pulanglah ke rumah besar mu dan bermain boneka saja."
Sera berhenti tepat di depan dada Andreas. Dia begitu dekat hingga bisa mencium aroma parfum kayu cendana dan seperti yang dia duga jejak alkohol tipis dari napas pria itu.
"Dengar ya, St. Clair," Sera menunjuk dada Andreas dengan jari telunjuknya, menekannya keras-keras. "Aku tidak kaku karena aku tidak bisa akting. Aku kaku karena aku harus menempelkan bibirku pada pria sepertimu yang bahkan tidak bisa membedakan mana lokasi syuting dan mana bar!"
Andreas tertawa sinis, tidak bergeming. "Oh, jadi sekarang kau menyalahkan aku atas kegagalanmu? Manis sekali. Akui saja, kau memang amatiran dalam hal ini."
"Amatiran?" Sera tertawa getir, suaranya meninggi. "Mungkin kau hebat karena kau melakukannya dengan siapa saja. Tapi bagiku, ini bukan sekadar bisnis! Dan jika kau ingin aktif, baik. Aku akan berikan apa yang kau mau di take ketujuh, dan setelah itu, jangan berani-berani bicara padaku lagi di luar naskah!"
Andreas tertegun sejenak. Dia terbiasa dengan aktris yang memujanya atau setidaknya menjaga sikap di depannya. Tapi Sera? Gadis ini terlihat siap untuk mencabik wajahnya. Ada api di mata itu yang belum pernah Andreas lihat sebelumnya, api yang jauh lebih menarik daripada akting gadis manis yang biasa Sera perankan.
"Marcus! Nyalakan kameranya!" teriak Sera pada sutradara tanpa melepas pandangannya dari mata Andreas. "Kita lakukan take ketujuh sekarang. Dan kau, Andreas... bersiaplah untuk tutup mulut."
Andreas hanya bisa mengerjap kan mata, benar-benar kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya. Dia merasa ada yang berbeda. Gadis di depannya ini bukan lagi patung pualam yang dingin, tapi bom waktu yang siap meledak.
Setelah ledakan amarah Seraphina, suasana di set yang berlokasi di sebuah rooftop mewah kawasan Upper East Side itu menjadi sunyi senyap. Para kru bergerak dengan langkah berjinjit. Marcus, sang sutradara, hanya bisa memberikan isyarat tangan agar kamera segera siap.
Andreas berdiri di posisinya, membelakangi lampu kota New York yang berkelap-kelip. Dia mencoba mengatur napasnya. Kata-kata Sera masih terngiang, "Kau punya bau wiski semalam yang masih menempel di napas mu!" Sial, dia benar. Andreas diam-diam mengunyah permen mint dengan gusar, matanya tak lepas dari pintu trailer tempat Sera menghilang sejenak.
Pintu terbuka. Seraphina keluar dengan jubah sutra yang tersampir di bahunya, sebelum ia menjatuhkannya ke kursi. Dia berjalan menuju Andreas dengan dagu terangkat. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi wajah gadis manis yang membosankan.
"Kau siap, St. Clair?" tanya Sera dingin. Matanya tajam, menantang pria di depannya.
Andreas menyeringai tipis, meski jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. "Tunjukkan padaku apa yang kau punya, Vanderbilt."
"Camera... Rolling... Action!"
Sesuai naskah, Andreas menarik lengan Sera, memaksanya berbalik di bawah rintik hujan buatan yang mulai turun. Tapi kali ini, Sera tidak menunggu Andreas memimpin. Begitu tangan Andreas menyentuh pinggangnya, Sera justru merenggut kerah kemeja Andreas, menarik pria itu mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.
Andreas tersentak. Ini tidak ada di latihan.
Sera menatap mata Andreas dalam-dalam, tatapan yang penuh dengan amarah, harga diri, dan sesuatu yang jauh lebih mentah. Kemudian, dia menutup jarak itu.
Ciuman itu bukan lagi sekadar akting kaku. Sera menekankan bibirnya dengan paksa, sebuah pernyataan perang daripada ungkapan cinta. Andreas yang awalnya terkejut, perlahan kehilangan kendalinya. Dia merasakan betapa gemetarnya jemari Sera di kerah bajunya, kontras dengan keberanian tindakannya.
Saat itu juga, Andreas menyadari sesuatu yang merusak logikanya, Sera tidak tahu apa yang dia lakukan. Gerakannya polos, penuh rasa ingin tahu yang tersembunyi di balik amarah. Ini bukan teknik aktris veteran. Ini adalah sesuatu yang sakral.
"Cut! Great God, itu bungkus!" teriak Marcus histeris.
"Itu gila! Chemistry-nya meledak!"
Sera segera melepaskan Andreas seolah pria itu adalah api yang membakarnya. Dia mundur dua langkah, napasnya tersengal, bibirnya sedikit bengkak dan memerah.
Dia menatap Andreas dengan tatapan benci yang murni, namun ada genangan air mata di sudut matanya yang dia tahan sekuat tenaga.
Tanpa sepatah kata pun, Sera berbalik dan berlari menuju area parkir, meninggalkan kru yang bersorak.
Andreas berdiri mematung di tengah hujan buatan yang masih mengucur. Dia menyentuh bibirnya sendiri. Rasa manis dan polos dari ciuman tadi masih tertinggal.
"Dia... dia tidak pernah melakukannya sebelumnya," gumam Andreas lirih.
Seorang asisten produksi mendekat, memberikan handuk pada Andreas.
"Luar biasa, Sir. Saya dengar dari manajernya, Nona Vanderbilt sangat gugup karena ini adalah ciuman pertamanya. Dia menjaga reputasinya dengan sangat ketat di High Society."
Dunia Andreas seakan berhenti berputar. Ciuman pertama?? Pria yang dikenal sebagai pemangsa di New York itu tiba-tiba merasa seperti penjahat paling rendah. Dia baru saja menghina dan merusak momen yang dijaga ketat oleh seorang wanita hanya karena egonya yang setinggi langit.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰