💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam merangkak naik, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di dalam mansion mewah Alatas, terlihat sunyi senyap merajai setiap sudut ruangan. Para penghuni sudah masuk ke kamar masing-masing, mungkin juga sudah menyelam mimpi setelah seharian beraktivitas. Para maid juga sudah kembali ke paviliun untuk beristirahat. Hanya tersisa Cia yang terlihat tengah bersiap untuk keluar, lengkap dengan jaket kulit warna gelap yang membungkus tubuhnya yang pas.
Dengan jantung berdebar kencang, Cia bersiap untuk malam yang penuh adrenalin. Dengan gerakan sehalus mungkin, ia mengendap-endap keluar dari kamarnya, menyusuri koridor panjang. Tujuannya satu: bagasi, tempat motor sport kesayangannya terparkir.
"Aman!" gumamnya pelan, setelah berhasil menuntun motornya hingga ke depan gerbang tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan. "Tumben Pak Agus jam segini udah molor duluan!" lanjutnya, sedikit heran melihat pos satpam mansion dengan satpam tertidur pulas di dalam sana. Tanpa ia tahu jika itu adalah ulah dari saudara kembarnya sendiri. Varo menyeringai jahil dari balik tembok, memastikan Pak Agus tidur nyenyak dengan sedikit bantuan obat tidur alami.
"Bodo amat lah, yang penting gue bisa keluar! Tanpa drama!" gumamnya, tidak mau ambil pusing. Ia segera menghidupkan mesin motornya, bersiap untuk melesat ke arena balap di mana malam ini ia akan bertanding.
Namun, belum sempat ia menarik gas, dua motor sport lainnya berhenti di sampingnya, memblokir jalannya. Cia mendengus kesal. Sudah menebak pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Vano dan Varo, dua kembarannya yang selalu muncul tiba-tiba seperti makhluk astral.
"Kalian ngapain ikutan sih?!" protes Cia, dengan nada berbisik. "Nanti kalau Nyonya Kanjeng Ratu bangun dan periksa kamar kita, trus semua kosong! Bisa kena ceramah rohani tujuh hari tujuh malam kita," lanjutnya, membayangkan omelan Ratu jika sampai mereka ketahuan keluar malam-malam. "Belum lagi, Papa bisa ngunci semua kartu kredit kita! Kan bahaya gue gak bisa jajan seblak lagi!"
"Tenang aja! Mama nggak akan keluar kamar malam ini. Kan ada Papa di kamar, kek nggak tahu bucinnya si Papa aja!" sahut Vano, dengan senyum penuh arti. Ia mengedipkan matanya, memberikan kode kepada Cia. "Lagian, Papa pasti tidak akan ngebiarin Mama keluar kamar, kecuali Mama kasih Papa obat tidur!" lanjutnya yang tahu betul bucinya Nathan pada Ratu.
"Ah, iya ya, aman lah kalau gitu," Cia mengangguk-angguk, merasa lega. "Ayo, gas lah! Moga malam ini gue menang!" serunya, dengan semangat.
"Menang atau kalah tak jadi masalah, yang penting lo bisa balik ke mansion tanpa lecet!" timpal Vano, dengan tegas. Ia tahu betul keahlian Cia dalam menaklukkan jalanan, tapi tujuan mereka turun bukan untuk menjadi pemenang, melainkan hanya untuk menguji adrenalin dari hobi mereka aja. "Anggap aja ini latihan biar nggak kaget kalau nanti dikejar-kejar paparazzi." timpal Varo.
Raungan tiga motor sport milik triple membelah keheningan malam saat mereka melaju menuju arena balap yang biasa menjadi tempat berkumpulnya anak-anak motor.
Setelah beberapa menit berkendara dengan kecepatan sedang, mereka tiba di arena balapan liar yang hanya digunakan pada malam hari. Lintasan yang dibuat dari aspal itu sudah dipenuhi oleh puluhan motor dengan berbagai jenis dan warna, sementara lampu sorot dari beberapa mobil menyinari jalur balap hingga terlihat jelas. Suasana sudah sangat meriah, suara obrolan, tawa, dan deru mesin yang kadang terdengar membuat adrenalin semakin membanjiri tubuh.
Cia segera menempatkan motornya di area parkir khusus pembalap, lalu turun dengan gerakan yang anggun namun penuh kekuatan. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuhnya dan segera memasang helmnya, menyembunyikan seluruh wajahnya kecuali mata yang tajam dan penuh fokus. Malam ini, ia kembali menggunakan nama samaran yang sudah terkenal di kalangan pembalap malam yaitu nama sang mama, Ratu. "Biar sekalian promoin Mama," cicitnya, sambil tersenyum penuh arti.
Saat Cia melangkah memasuki arena, ia sedikit terkejut. Di sana, di antara para pembalap, ia melihat wajah yang familiar: Aksa dan Reno, dua orang yang baru dikenalnya di sekolah barunya. Aksa dengan motor sport merah menyalanya, dan Reno dengan motor sport birunya. Cia mengerutkan keningnya, merasa sedikit aneh dengan pertemuan ini. "Kebetulan yang aneh," pikirnya.
Namun, hanya sesaat ia terkejut. Ia segera memasang kembali wajah datarnya, dan kembali fokus pada tujuan utamanya: balapan. Ia tidak akan membiarkan kehadiran mereka mengganggunya kesenangan.
Di sisi lain lintasan, Aksa si juara bertahan selama setahun terakhir, sedang mengobrol dengan tiga sahabatnya. Ia juga melihat Cia, atau lebih tepatnya, Ratu, dan merasa seperti familiar dengan sosok yang di kenal dengan nama Ratu. Reno juga menatap Ratu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gila, Bos! Saingan lo malem ini nggak cuma Reno! Tapi juga seorang cewek!" ujar Bima, sambil menunjuk ke arah Cia.
"Wah, seru nih! Duel maut antara lo, Reno, dan si Ratu misterius," timpal Galang, dengan nada bersemangat.
"Tapi, gue tetep yakin Aksa yang bakal menang! Lagi pula, masa iya kita mau kalah Reno apa lagi sama cewek!" sahut Arya, dengan nada meremehkan lawannya Aksa.
Aksa tersenyum tipis. "Gue juga yakin!" ujarnya, penuh percaya diri yang selalu melekat pada dirinya.
Varo dan Vano berdiri tidak jauh dari garis start, memperhatikan Cia dengan tatapan campur aduk, percaya, khawatir namun juga siap mendukung.
"Menurut lo Cia bisa menang gak, Van? Gue nggak nyangka ternyata Aksa dan Reno yang jadi lawan Cia!" tanya Varo, menggigit bibirnya.
"Kita percaya sama Cia, menang kalah itu hal lumrah dalam sebuah pertandingan!" jawab Vano bijak. "Lagian, kalau Cia kalah, paling kita di paksa nemanin dia makan eskrim sampek ileran!" sahut Vano lalu terkekeh pelan membayangkan hal itu.
Di tengah sorak sorai penonton, terdengar suara-suara histeris para cewek yang meneriakkan nama Aksa. "Aksa! Aksa! Aksa! Aksa! We love you!" Dan juga ada beberapa yang meneriaki nama "Ratu!" yang di dominasi suara cowok-cowok yang mengangumi sosok Cia dalam nama samaran.
Di antara kerumunan penonton, Viona cs terlihat sangat bersemangat memberikan dukungan untuk Reno, kekasihnya. Ia melompat-lompat dan berteriak-teriak dengan histeris, membuat Reno tersenyum tipis di balik helmnya tapi pikirannya tertuju pada sosok Ratu yang membuat dirinya penasaran.
Cia juga tersenyum di balik helmnya saat ia melihat Viona memberikan dukungan penuh untuk Reno. "Cinta memang buta," pikirnya, sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.
Lampu start menyala, memberikan aba-aba untuk memulai balapan. Raungan mesin memekakkan telinga, menciptakan getaran yang terasa hingga ke tulang.
Brum!
Brum!
Brum!
Jantung Cia berdebar kencang, adrenalin memompa darahnya dengan cepat. Ia memegang erat stang motornya, bersiap untuk melesat secepat kilat. Ia menatap Aksa dan Reno sekilas, memberikan tatapan penuh tantangan, lalu fokus pada lampu start yang semakin mendekat.
"Lest go!" bisiknya dalam hati, memompa semangatnya sendiri.
Varo menepuk pundak Cia dari belakang, memberikan semangat. "Ingat lo harus hati-hati, jangan lupa berdoa!" peringatnya. "Dan jangan lupa juga, kalau menang, jangan sombong! Kalau kalah jangan ajak kita makan eskrim!"
Vano mengangguk setuju tanpa kata, siap siaga melindungi sang adik tersayangnya dari jauh. "Semangat Cia tetap hati-hati!" tambahnya, dengan senyum penuh dukungan.
Aksa dan Reno menoleh ke arah Cia, tersenyum tipis di balik helm mereka, lalu kembali fokus pada lampu start. Mereka siap menantang malam ini, dan masing-masing mereka yakin akan memenangkan balapan ini.
Cia menarik gas dengan penuh kekuatan, mesin motornya mengeluarkan suara raungan yang menggema di udara.
Brum!
Brum!
Begitu lampu start menyala hijau, Cia melesat seperti kilat, menjauhi garis start dengan kecepatan yang membuat penonton terkejut dan terpukau dengan aksi Cia.
"Gila, keren abis!" seru seorang penonton, dengan mata terbelalak
Bersambung...
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,