Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan dari Masa Lalu
Pagi di Ciwidey selalu datang dengan aroma tanah basah dan daun teh yang dipetik sebelum matahari tinggi. Yasmin terbangun lebih awal dari biasanya. Semalam ia melakukan salat istikharah, memohon petunjuk atas satu nama yang kini tak henti berputar di kepalanya: Ragnar.
Ia duduk di tepi ranjang, memeluk sajadah yang masih hangat oleh doa.
Tidak ada mimpi aneh. Tidak ada tanda khusus. Hanya perasaan tenang—dan sedikit takut.
Takut karena jika ia melangkah lebih jauh, hidupnya tak akan pernah sama.
________________________________________
Di Jakarta, Clara berdiri di depan cermin besar apartemennya. Ia mengenakan blazer krem elegan, rambutnya ditata rapi. Ia bukan perempuan yang biasa kalah.
Ia pernah hampir menjadi istri Ragnar Aditya van Der Veen.
Ia tahu bagaimana lelaki itu tersenyum saat percaya. Ia tahu bagaimana Ragnar diam saat kecewa. Ia tahu sisi gelap dan sisi lembutnya.
Dan ia tak rela tempat itu digantikan begitu saja oleh seorang gadis desa yang bahkan belum pernah ia lihat.
Clara mengambil tasnya.
“Kalau kamu pikir aku akan menyerah begitu saja, Rag…” gumamnya, “kamu salah.”
________________________________________
Siang itu, sebuah mobil putih berhenti tak jauh dari rumah Yasmin. Bukan mobil mewah seperti milik Ragnar, tapi tetap terlihat mencolok di antara sepeda motor dan angkot yang lewat.
Yasmin yang sedang menjemur pakaian menoleh heran.
Seorang perempuan turun. Tinggi, anggun, dengan langkah percaya diri yang tidak biasa terlihat di kampung itu.
“Permisi,” suara perempuan itu halus tapi tegas.
Yasmin mendekat, sedikit canggung. “Iya?”
“Kamu Yasmin?”
“Iya.”
Perempuan itu tersenyum. “Aku Clara.”
Nama itu seperti batu jatuh ke dadanya.
Yasmin tidak pernah mendengar langsung, tapi ia tahu. Mantan yang hampir menikah dengan Ragnar.
“Boleh kita bicara sebentar?” tanya Clara.
Yasmin ragu. Tapi adab mengajarkannya untuk tidak menolak tamu.
Mereka duduk di bangku kayu di halaman samping rumah.
Clara melepas kacamata hitamnya. Matanya indah, tapi ada sesuatu yang tajam di sana.
“Aku langsung saja,” katanya tanpa basa-basi. “Aku datang bukan untuk bertengkar.”
Yasmin diam.
“Aku dan Ragnar hampir menikah. Keluarga kami sudah saling kenal. Hidup kami searah. Lalu dia berubah.”
“Karena masuk Islam?” tanya Yasmin pelan.
Clara tersenyum tipis. “Bukan hanya itu. Dia jadi orang yang berbeda. Lebih kaku. Lebih… sulit dijangkau.”
Yasmin menunduk.
“Aku tidak menyalahkanmu,” lanjut Clara. “Tapi kamu harus tahu, dunia Ragnar bukan dunia yang mudah. Keluarganya keras. Lingkungannya kejam. Kamu yakin siap?”
Yasmin merasakan detak jantungnya meningkat.
Clara berdiri, menatap kebun kecil di depan rumah.
“Ragnar itu tidak pernah benar-benar melupakan masa lalu. Dia hanya menutupnya. Kalau suatu hari dia kembali mengingatku… apa kamu siap jadi bayangan?”
Kalimat itu menusuk lebih tajam dari yang Yasmin duga.
Sebelum Yasmin sempat menjawab, Clara sudah melangkah pergi.
“Pikirkan baik-baik,” katanya sebelum masuk mobil.
Debu jalanan kembali tenang. Tapi hati Yasmin tidak.
________________________________________
Di Jakarta, Ragnar sedang berada di ruangannya ketika ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal mengirimkan sebuah foto.
Foto Clara… berdiri di depan rumah kayu Ciwidey.
Ragnar berdiri mendadak.
Clara mengirim pesan singkat:
“Aku cuma ingin memastikan calon istrimu tahu siapa kamu sebenarnya.”
Darah Ragnar terasa mendidih.
Ia segera menelepon, tapi tak diangkat.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa masa lalu yang ia kubur mulai menggali dirinya kembali.
________________________________________
Sore itu, Yasmin duduk bersama ayahnya di beranda.
“Pak…” suaranya pelan.
Asep menoleh. “Ada apa?”
“Tadi ada perempuan datang. Namanya Clara.”
Wajah Asep berubah serius.
“Dia mantan calon istri Ragnar.”
Asep terdiam beberapa saat. “Apa yang dia katakan?”
Yasmin menceritakan semuanya. Tentang dunia yang kejam. Tentang keluarga yang keras. Tentang bayangan masa lalu.
Setelah selesai, Yasmin menunduk. “Pak… apakah saya terlalu jauh bermimpi?”
Asep menatap anaknya dengan lembut.
“Menikah bukan tentang kaya atau miskin. Tapi tentang kuat atau tidaknya iman dan hati.”
“Tapi kalau keluarganya tidak menerima saya?”
“Kalau lelaki itu tidak bisa membelamu di depan keluarganya, berarti dia belum siap jadi imam.”
Yasmin mengangguk pelan.
Namun jauh di dalam hatinya, benih keraguan mulai tumbuh.
________________________________________
Malam itu Ragnar tiba-tiba muncul kembali di Ciwidey.
Tanpa pemberitahuan.
Yasmin yang sedang membantu ibunya terkejut melihat mobil hitam itu berhenti lagi di depan rumah.
Ragnar turun dengan wajah tegang.
Pak Asep menyambutnya di luar.
“Ada apa, Nak?”
“Saya ingin bicara, Pak. Tentang Clara.”
Yasmin ikut duduk, jaraknya tetap terjaga.
Ragnar menatap Yasmin langsung. “Saya minta maaf kalau dia datang mengganggu.”
Yasmin menjawab jujur, “Beliau tidak mengganggu. Hanya mengingatkan.”
“Mengingatkan apa?”
“Bahwa saya mungkin tidak cocok dengan dunia Anda.”
Ragnar terdiam.
Ia menatap kebun kecil di depan rumah, lalu kembali pada Yasmin.
“Dunia saya memang keras. Tapi saya tidak ingin lagi hidup di dalamnya sendirian.”
Ia menelan ludah.
“Clara bagian dari masa lalu saya. Tapi saya tidak kembali padanya, bukan karena marah. Saya pergi karena saya sadar kami tidak berjalan ke arah yang sama.”
Yasmin menatapnya, mencoba membaca ketulusan di matanya.
“Apakah Anda masih mencintainya?” pertanyaan itu keluar begitu saja.
Ragnar terdiam cukup lama.
“Cinta itu bekasnya tidak hilang begitu saja,” katanya pelan. “Tapi saya tidak ingin kembali ke sana.”
Jawaban itu jujur. Dan justru karena jujur, Yasmin merasa semakin takut.
Ia tidak ingin menjadi pelarian.
________________________________________
Setelah Ragnar pulang malam itu, Yasmin masuk ke kamarnya. Ia membuka laci kecil dan mengeluarkan sebuah benda lama—gelang kayu kecil dengan ukiran huruf R.
Ia menatapnya lama.
Bertahun-tahun lalu, saat ia masih SMP, ia pernah tersesat di Bandung saat mengikuti lomba mengaji. Seorang lelaki asing menolongnya kembali ke rombongan. Lelaki itu tinggi, berkulit terang, dan memiliki logat yang berbeda.
Sebelum berpisah, lelaki itu memberi gelang itu sambil bercanda, “Kalau suatu hari kamu butuh bantuan, panggil saja huruf R ini.”
Yasmin tak pernah tahu siapa namanya.
Tapi anehnya, ketika pertama kali mendengar nama Ragnar, hatinya bergetar dengan cara yang sama.
Mustahil… bukan?
Atau justru takdir sedang bermain dengan cara yang terlalu rapi?
________________________________________
Di Jakarta, Helena duduk di ruang makan besar rumahnya.
“Selidiki keluarga gadis itu,” perintahnya pada asistennya.
“Sampai sejauh mana, Bu?”
“Sampai ke masa lalu mereka.”
Helena tidak ingin warisan keluarganya jatuh pada orang yang tidak ia kenal.
Sementara di apartemennya, Clara memandangi foto lama dirinya dan Ragnar. Senyum mereka masih utuh di sana.
“Kalau aku tidak bisa memilikinya lagi,” bisiknya pelan, “aku juga tidak akan membiarkan orang lain mengambilnya dengan mudah.”
Di antara Ciwidey dan Jakarta, badai mulai berkumpul.
Ta’aruf yang seharusnya sederhana kini mulai disusupi bayangan, dendam, dan rahasia.
Dan Yasmin belum tahu—
Bahwa huruf R di gelang kayu itu mungkin bukan kebetulan.
Bahwa masa lalunya dan masa lalu Ragnar terhubung jauh lebih dalam daripada yang mereka sadari.
Dan ketika kebenaran itu terungkap, bukan hanya cinta yang akan diuji.
Tapi juga kepercayaan.