NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 The Piano’s Lullaby

Pagi itu, kediaman keluarga Kim yang biasanya senyap seperti museum, mendadak dipenuhi oleh suara dentuman koper-koper mahal yang diletakkan di lantai marmer. Kim Taehyung, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung V, baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah tur piano dunianya yang melelahkan namun sukses besar.

Dengan mantel panjang berwarna karamel yang menjuntai hingga lutut, V melepas kacamata hitamnya, menampakkan mata tajam yang selalu menyimpan sisi artistik yang dalam. Ia tidak mencari Jin yang sedang sibuk dengan saham, atau Suga yang mungkin sedang tertidur di lab. Tujuannya hanya satu: kamar di ujung lorong lantai dua.

"Shine! Kakak pulang!" serunya sambil membuka pintu kamar Shine tanpa mengetuk—kebiasaan buruk yang hanya bisa dimaafkan karena wajah tampannya.

Shine, yang sedang duduk di kursi dekat jendela, tersenyum lebar. "Kak Taehyung!"

V segera menghambur dan memeluk sepupunya itu erat. Namun, baru dua detik pelukan itu berlangsung, V melepaskannya dengan dahi berkerut. Sebagai seorang musisi, ia memiliki sensitivitas yang luar biasa terhadap "nada" atau getaran di sekitarnya.

"Tunggu," V menyipitkan mata, menatap Shine dari atas ke bawah. "Kau... kau tidak pucat. Dan getaran tubuhmu... kenapa nadanya sangat stabil? Biasanya saat aku pulang, kau terdengar seperti tuts piano yang sumbang karena kehabisan energi. Tapi hari ini, kau terdengar seperti simfoni yang utuh."

Shine tersipu, ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Aku... aku sedang merasa lebih baik, Kak."

"Hmm, mencurigakan," V mengelus dagunya. "Ayo ikut aku ke ruang musik. Aku membawakanmu lagu baru yang kutulis saat berada di Paris. Aku yakin ini bisa mengisi sisa energimu yang kosong."

Ruang musik di rumah itu adalah mahakarya arsitektur. Dindingnya terbuat dari kaca yang menghadap langsung ke taman belakang, dan di tengahnya berdiri sebuah Grand Piano berwarna hitam legam yang mengkilap.

V duduk di depan piano, jemarinya yang panjang dan lentik mulai menari di atas tuts. Sebuah melodi lembut, melankolis namun indah, mulai mengalir memenuhi ruangan. Biasanya, Shine akan duduk tepat di samping V, memejamkan mata, dan membiarkan alunan musik itu menjadi meditasi yang memulihkan jiwanya. Musik V selalu punya cara untuk menenangkan badai di kepala Shine setelah ia mendapatkan penglihatan.

Namun hari ini, pikiran Shine tidak ada di sana.

Hidung Shine mengendus udara. Di antara wangi kayu cendana di ruang musik, ada aroma lain yang menyusup masuk. Aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega, wangi rosemary segar, dan aroma daging panggang yang gurih.

Shine menoleh ke arah jendela besar. Dari posisi itu, ia bisa melihat dapur paviliun yang terletak tidak jauh dari bangunan utama. Di sana, melalui kaca dapur yang sedikit beruap, ia melihat sosok pria dengan kaos hitam polos yang lengannya tergulung.

Jungkook.

Pria itu sedang bergerak lincah di dapur. Sesekali ia mengelap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, memperlihatkan guratan otot dan tato yang tampak begitu gagah di bawah sinar matahari pagi. Jungkook terlihat sangat serius, seolah-olah memasak untuk Shine adalah tugas paling suci yang pernah ia emban.

V menekan sebuah nada tinggi dengan penuh perasaan, berharap Shine akan memberikan komentar seperti biasa. Namun saat ia menoleh, ia mendapati Shine sama sekali tidak menatapnya. Mata adiknya itu terpaku pada jendela, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang belum pernah V lihat sebelumnya—senyum yang penuh damba.

"Shine?" panggil V.

Shine tidak menyahut. Ia masih sibuk memperhatikan bagaimana Jungkook mencicipi saus dengan ujung sendok, lalu mengangguk puas.

V berhenti bermain. Keheningan tiba-tiba terasa canggung. Ia berdeham cukup keras hingga Shine tersentak dan menoleh.

"Ah, maaf Kak. Tadi... melodi yang sangat indah," ucap Shine gugup.

"Indah? Aku baru saja berhenti di tengah lagu, Shine," V mengangkat sebelah alisnya. Ia ikut melihat ke arah jendela, lalu matanya menangkap sosok Jungkook di dapur. "Oh... jadi itu sebabnya. Siapa pria bertato itu? Dan sejak kapan koki pribadi kita jadi semuda dan... setampan itu?"

"Dia Jeon Jungkook, Kak. Dia... dia tinggal di sini sekarang atas izin Kak Suga," jawab Shine dengan suara pelan.

V berdiri, berjalan mendekati jendela. Ia menatap Jungkook dengan tatapan menyelidik. Sebagai sepupu yang sangat protektif—meski dengan cara yang lebih eksentrik dibanding Jin dan Suga—V langsung merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.

"Jadi dia 'baterai' baru yang dibicarakan Namjoon di depan gerbang tadi?" V bersedekap. "Sepertinya dia bukan hanya mengisi energimu, Shine. Dia juga menyedot seluruh perhatianmu. Aku baru pulang setelah tiga bulan, dan kau mengabaikan laguku demi melihat pria memotong bawang?"

"Bukan begitu, Kak..." Shine mencoba membela diri, namun pipinya yang merona merah tidak bisa berbohong.

Tepat saat itu, Jungkook menoleh ke arah jendela ruang musik. Seolah memiliki radar khusus, matanya langsung menangkap sosok Shine di sana. Senyum manis—jenis senyum yang hanya ia berikan pada Shine—merebak di wajahnya. Jungkook mengangkat tangannya pelan, melambai ke arah Shine sebelum kembali sibuk dengan masakannya.

Shine membalas lambaian itu dengan gerakan kecil yang malu-malu.

V menghela napas panjang, dramatis seperti biasa. "Duniaku runtuh. Energiku sebagai pianis nomor satu kalah oleh wangi tumisan. Baiklah, aku ingin tahu sehebat apa masakan pria itu sampai bisa membuat Oracle kesayanganku jadi seperti remaja yang sedang jatuh cinta."

Siang harinya, meja makan menjadi arena perang saraf baru. Jungkook menyajikan Pan-Seared Salmon dengan saus lemon mentega yang aromanya membuat siapa pun menelan ludah.

Jin duduk di kepala meja, Suga di sampingnya, dan V di hadapan Shine. Jungkook berdiri di sisi meja, siap melayani, namun matanya terus tertuju pada Shine, memastikan gadis itu menyukai setiap suapan yang masuk ke mulutnya.

"Terlalu banyak mentega," kritik Suga pedas setelah suapan pertama. Padahal, dalam hati ia mengakui ini salmon terenak yang pernah ia makan.

"Kurasa teksturnya terlalu lembut. Aku lebih suka yang agak garing," tambah Jin, ikut-ikutan memberi kritik tanpa dasar.

V, yang sedang memotong salmonnya, menatap Jungkook dengan senyum miring. "Jadi, Chef Jeon. Shine bilang kau punya 'energi khusus'. Apa kau juga memasukkan energi itu ke dalam bumbu-bumbumu?"

Jungkook membungkuk sopan, namun nada bicaranya tetap tenang dan percaya diri. "Saya hanya memasak dengan hati, Tuan V. Tapi jika Nona Shine merasa lebih baik setelah memakannya, itu karena kebahagiaannya sendiri, bukan hanya karena masakan saya."

Shine menatap Jungkook dengan penuh kekaguman. "Ini enak sekali, Jungkook. Terima kasih."

Melihat interaksi manis itu, V mendadak merasa kesepian. Ia menoleh pada Jin dan Suga. "Hyung, sepertinya kita benar-benar punya masalah besar. Dia bukan hanya koki, dia pencuri."

"Pencuri apa?" tanya Jin dengan kening berkerut.

"Pencuri perhatian Shine. Lihatlah, dia bahkan tidak menyentuh sayurannya karena sibuk menatap mata Chef Jeon," goda V.

Shine hampir tersedak, sementara Jungkook hanya tersenyum tipis—senyum kemenangan yang tersembunyi. Jin dan Suga langsung memberikan tatapan mematikan pada Jungkook, namun sang koki hanya membalasnya dengan binar mata yang seolah berkata, 'Aku tidak akan pergi ke mana-mana'.

Malam itu, V kembali ke ruang musik. Ia tidak memainkan lagu sedih lagi. Ia memainkan sesuatu yang lebih bersemangat, sebuah tantangan bagi pria di dapur paviliun. Namun, ia menyadari satu hal: musiknya mungkin bisa mengisi telinga Shine, tapi hanya Jungkook yang bisa mengisi jiwanya hingga penuh.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!