Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang latihan dan yang sedang mancing
Arhan beralasan kalau ia kalah karena memang ia tidak condong ke arah seni beladiri.
Namun Sarah membalas dengan kata-kata yang tajam yang di campur dengan hinaan yang cukup menyakitkan.
"Halah. Pecundang memang selalu punya banyak alasan ketika kalah!"
"Aku saja lah. Bahwa aku lebih kuat darimu!" Raut wajah mengejek yang terpasang di wajah Sarah itu membuat Arhan marah.
Namun untungnya, Arhan masih bisa menahan amarahnya.
'Sabar! Dia masih bocah, dan dua juga seorang perempuan. Jadi wajar kalau dia kekanakan dan cerewet.' Kata Arhan dalam hatinya.
"Terserah. Asal kau senang saja!" Kata Arhan sambil memalingkan pandangannya.
Dari sana Arhan baru menyadari kalau di tempat itu tidak hanya ada mereka berdua saja, tapi ada Wawan juga.
"Hah? Mas Wawan sejak kapan ada di sini!?" Arhan bertanya pada Wawan yang masih duduk diam dengan wajah datarnya.
"Aku sudah di sini bahkan sebelum kalian datang!" Kata Wawan.
"Ngomong-ngomong... Kalian sedang latihan, ya!?" Wawan bertanya hanya untuk basa-basi.
Itu karena Wawan tentu saja sudah tahu kalau mereka berdua sedang latihan.
"Benar... Mas sendiri sedang apa di sini!?" Arhan yang penasaran langsung menghampiri Wawan.
"Tidak lihat apa? Aku sedang memancing di sini!?" Jawab Wawan.
"Oh... Dapat banyak!?"
"Lumayan!..." Setelah itu mereka berdua duduk dan melihat ke ujung joran pancing dengan sangat fokus.
Satu gerakan kecil apapun itu akan langsung di sadari oleh keduanya karena saking fokusnya mereka pada joran.
Di sisi lain, Sarah hanya berdiri diam sambil memperhatikan dua laki-laki yang diam sambil melihat joran.
Sarah tidak mengerti kenapa Wawan begitu fokus pada jorannya.
'Padahal cuma mancing, memangnya perlu sampai sefokus itu?.'
Pada awalnya Sarah menganggap Wawan bodoh karena memelototi jorannya meskipun tidak ada tanda-tanda gerakan sedari tadi.
Namun, setelah beberapa saat Sarah di buat tercengang oleh Wawan.
Yaitu ketika ujung jorannya tertekuk sedikit saja, Wawan dengan cepat menarik jorannya.
Cepat tapi tidak serentak, bertenaga tapi tidak terlalu kuat.
Joran itu di tarik dengan tenaga yang pas hingga ikan yang tertangkap dapat di tarik naik keluar dari air dengan elegan.
Mata Sarah terbuka lebar kala itu.
Pikirannya langsung melayang kemana-mana hingga Sarah beranggapan kalau Wawan adalah seorang ahli beladiri yang hebat.
Mengapa Sarah bisa berpikir seperti itu?...
Itu karena dalam seni beladiri ada banyak teknik yang mengutamakan keakuratan, kecepatan, ketepatan, refleks dan kelembutan.
Di mata Sarah, gerakan Wawan tadi mengandung semua yang di sebutkan tadi.
Dan yang Wawan gunakan itu jauh melampaui apa yang di kuasai oleh Sarah sekarang ini.
Dalam hatinya, darah berkata. 'He... Hebat sekali.'
'Bertenaga tapi tidak terlalu kuat, cepat tapi sangat tenang.'
'Jadi seperti ini, orang yang telah menguasai ilmu beladiri hingga tingkat paling tinggi.' Dan kesalahpahaman pun muncul di dalam pikiran Sarah.
Ia mulai mengarang hal-hal yang sebenarnya hal-hal aneh dalam pikirannya.
Ia tidak tahu, kalau Wawan bisa seperti itu bukan karena dia ahli ilmu beladiri.
Tapi hanya karena Wawan sudah terlalu sering memancing untuk mengisi kurangnya bahan makanan di rumahnya.
... Tapi mungkin, apa yang Sarah pikirkan tidak terlalu salah juga.
Karena kelihaian dan ketenangan yang ada pada Wawan sekarang itu juga karena pelatihannya dengan agen Rambut Panjang.
Sarah tiba-tiba nyeletuk...
"Hey! Ayo kita bertarung!" Blak-blakan ia menentang Wawan untuk bertarung tepat di hadapan Arhan.
Ekspresi Wawan masih tidak bergeming, tapi di dalam hatinya ia merasa panik karena tahu kalau Sarah itu sangat kuat.
Arhan saja di buat terlempar hingga masuk sungai tadi, mana mungkin Wawan tidak sadar kalau Sarah punya power yang tidak main-main.
Wawan berusaha untuk menghindari pertarungan ini dengan beralasan.
"Aku tidak punya waktu!"
"Komandan bilang kalau kita akan memberantas para kriminal itu dalam waktu beberapa hari lagi, jadi aku perlu menjaga kondisi!" Padahal mah Wawan hanya tidak berani bertarung saja di sini.
Sarah yang mendengar alasan Wawan tentu percaya dan memakluminya.
"Baiklah, kita akan tunda pertarungan kita hingga kita selesaikan berurusan dengan para kriminal itu!" Kata Sarah.
Sarah pun pergi seorang diri untuk kembali ke markas.
Wawan dan Arhan lanjut menatap ujung joran di sana hingga mereka menangkap cukup banyak ikan untuk semua orang.
Beberapa hari kemudian.
Akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu semua orang... Kecuali oleh Wawan tiba.
Yaitu hari dimana mereka akan menyerang markasnya Yanto Si Raja Tega.
Semua orang tampak sudah menyiapkan persenjataan mereka dan siap untuk berangkat kapan saja.
Sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu mendengarkan sepatah dua patah kata yang di ucapkan oleh komandan mereka.
Meskipun itu tidak penting, tapi sebagai bentuk penghormatan pada atasan jadi mereka tetap melakukan itu.
"Itu saja yang bisa saya sampaikan pada kalian semua!"
"Karena sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, maka saat ini juga kita akan berangkat untuk melancarkan serangan!" Semua orang masuk ke dalam mobil.
Ada empat mobil yang mereka miliki pada saat ini dan masing-masing mobil mengangkut orang dan persenjataan.
Wawan mengemudikan satu mobil yang melaju di bagian paling belakang.
Di mobil itu ada Sarah dan Arhan yang memang di tempatkan bersama Wawan karena menurut komandan Wawan sudah cukup bisa di andalkan untuk menjaga junior.
Dalam hatinya Wawan merasa sangat keberatan karena ia sendiri tidak yakin bisa menjaga dirinya sendiri, bagaimana bisa ia menjaga orang lain.
Tapi karena ini permintaan komandan jadi Wawan tak punya pilihan lain selain menurutinya.
Suasana di dalam mobil Wawan terasa sangat sunyi dan sepi karena di mobil itu hanya ada tiga orang.
Dan dua di antara tiga orang itu adalah orang yang jarang bicara.
Tentu saja suasana di sana akan sepi.
Sejenak kita berpindah pada dua anak buah Yanto yaitu Layla dan Sari yang sekarang ini sedang berkumpul di sebuah restoran.
Mereka duduk di ruang VIP yang sangat mewah dan tertutup dari pelanggan lainnya.
"Ada apa kamu memanggilku ke sini!?" Tanya Sari datar dan acuh.
Layla tidak langsung menjawab.
Ia terlebih dahulu menyesap kopinya yang sangat mahal dengan isi yang tidak seberapa.
"Alasan aku mengundangmu ke sini hanya ada satu... Yaitu mengajakmu untuk memberontak!" Alis mata Sari seketika berkerut di susul ekspresi wajahnya yang tenggelam.
"Kau gila!?" Kata Sari.
"Jangan salah paham. Yang aku maksud bukan memberontak pada bos Yanto, tapi memberontak pada Kipli!"
"Tau sendiri lah, kalau si Kipli itu kadang suka menyuruh kita seenaknya mentang-mentang dia dekat dengan bos!" Sari terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Layla.
Menyadari kalau Sari lumayan tertarik dengan rencananya, Layla tidak membuang-buang kesempatan untuk melanjutkan membahas rencananya.
"Aku tahu kamu juga pasti muak terus-menerus berada di bawah komando si Kipli bukan!?"
"Jadi aku mengajak kamu untuk memberontak pada si Kipli dan buat dia menghilang dari geng kita!" Layla tersembunyi kejam.
Matanya di penuhi keyakinan kalau rencananya akan berjalan lancar dan juga yakin kalau Sari akan ikut bergabung dengannya.