NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAFIR DAN GARAM

06:15 AM. Samudra Hindia, 2 Kilometer Lepas Pantai Maladewa.

Dingin yang menusuk adalah hal pertama yang dirasakan Raka saat tubuhnya menghantam permukaan air dengan kecepatan terminal yang baru saja diredam oleh parasut. Lautan bukan lagi sekadar warna biru cantik dari ketinggian kini ia adalah raksasa yang mencoba menariknya ke dasar.

Raka muncul ke permukaan, terengah engah, memuntahkan air asin yang sempat masuk ke mulutnya. Pikiran taktisnya langsung bekerja: lepas parasut, cek amunisi, cek integritas setelan Liquid Shadow. Namun, ada satu variabel yang melampaui semua protokol militer itu.

"Liana!" teriaknya, suaranya parau tertiup angin laut yang kencang.

Lima meter darinya, sebuah parasut oranye menutupi permukaan air seperti kelopak bunga raksasa yang layu. Jantung Raka berdegup lebih kencang daripada saat ia melompat dari pesawat tadi.

Ia berenang dengan gaya katak yang efisien, membelah ombak kecil hingga mencapai tumpukan kain parasut itu.

Di bawah kain nilon yang berat karena air, Liana muncul dengan wajah pucat dan rambut yang lepek menempel di pipinya. Ia batuk keras, mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin.

"Sialan... kau... benar benar... lumba lumba gila," rintih Liana di sela batuknya.

Raka segera merangkul bahunya, memastikan kepala Liana tetap berada di atas air. "Bernapaslah, Li. Kau aman. Aku memegangmu."

Liana bersandar pada dada Raka, tubuhnya gemetar karena syok dan suhu air yang rendah. Ia menatap Raka dengan mata yang sedikit sayu, namun masih sempat memberikan senyuman miring. "Kau... kau memegang tanganku sampai kita menyentuh air. Janjimu... lunas."

"Jangan bicara dulu. Simpan energimu," bisik Raka. Ia menarik ritsleting kecil di kerah baju selam Liana dan memastikan sensor detak jantungnya kembali stabil.

Mereka tidak bisa lama lama terapung. Di kejauhan, kepulauan Maladewa tampak seperti garis hijau dan putih yang tenang, namun di bawah ketenangan itu, sistem radar Aegis sedang memindai setiap inci wilayah tersebut.

Raka mengeluarkan dua buah alat pendorong mikro genggam Seabob mini yang ia sembunyikan di dalam kompartemen parasutnya. Ia menyerahkan satu pada Liana.

"Target kita adalah Azure Bay Resort. Sektor Utara. Kita harus menyelam sedalam sepuluh meter agar tidak terdeteksi oleh radar pantai," instruksi Raka.

Liana memakai kembali kacamata renang taktisnya yang sempat miring. "Sepuluh meter? Raka, aku belum sarapan. Dan aku cukup yakin cokelat panas tadi pagi sudah menguap di atas pesawat."

Raka mendekatkan wajahnya, mengecup kening Liana yang terasa dingin dan asin. "Bertahanlah. Jika kita sampai di sana, aku akan memesankanmu layanan kamar paling mahal yang bisa dibobol oleh kartu kredit palsu Bimo."

Liana tertawa kecil, sedikit kehangatan kembali ke wajahnya. "Setuju. Aku ingin lobster dan pemandangan laut yang tidak membuatku tenggelam."

Mereka menyelam. Di bawah air, dunia Maladewa adalah keajaiban yang kontras dengan misi berdarah mereka. Ikan ikan tropis berwarna neon berlarian di antara terumbu karang yang menyerupai labirin safir.

Namun, Raka tetap fokus pada HUD di kacamatanya. Ia mengikuti garis navigasi merah yang menuntun mereka menuju pondok pondok apung mewah yang berdiri di atas tiang tiang kayu jati.

Mereka muncul di bawah kolong salah satu Water Villa paling ujung sebuah bangunan megah dengan kolam renang pribadi yang menjorok ke laut. Suara musik lounge yang santai terdengar sayup sayup dari sistem audio resort, kontras dengan gemuruh rudal yang mereka dengar tiga puluh menit lalu.

Raka memanjat tiang kayu dengan ketangkasan seekor kera, lalu menjulurkan tangannya untuk menarik Liana ke atas dek kayu yang tersembunyi. Mereka kini berada di teras belakang villa yang kosong.

"Protokol sterilisasi dimulai," bisik Raka sambil memeriksa ruangan di balik pintu kaca besar. Kosong. Wisatawan kaya yang menyewa tempat ini mungkin sedang sarapan di restoran utama.

Mereka menyelinap masuk. Liana langsung menjatuhkan diri ke atas karpet tebal yang empuk, sementara Raka tetap berdiri di dekat jendela dengan pistol di tangan.

"Oh Tuhan... karpet ini lebih berharga daripada seluruh hidupku di lubang Bogor," gumam Liana sambil memejamkan mata.

Raka berjalan menuju lemari pakaian villa tersebut. Ia

melemparkan sebuah jubah mandi sutra putih ke arah Liana. "Ganti bajumu. Aku akan memindai jaringan WiFi tempat ini. Jika Yudha benar benar di sini, dia pasti meninggalkan jejak enkripsi."

Liana bangkit, memegang jubah sutra itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik rambutnya yang basah ke belakang. Ia menatap Raka yang sedang sibuk membongkar panel listrik di dinding.

"Raka?" tanya Liana.

"Ya?" jawab Raka.

"Terima kasih. Untuk... semuanya. Saat di pesawat tadi, aku benar benar berpikir itu adalah akhir dari baris kodemu dan kodeku." senyum Liana.

Raka berhenti sejenak, lalu menoleh. Ia melihat Liana berdiri di sana, di tengah kemewahan yang palsu, tampak rapuh namun tetap kuat. Ia berjalan mendekat, meletakkan tangannya di pinggang Liana, dan menariknya ke dalam pelukan yang tenang.

"Aku tidak akan membiarkan sistem ini menghapusmu, Li. Tidak hari ini, tidak selamanya," kata Raka dengan suara rendah yang bergetar karena emosi yang jujur.

Liana mendongak, jemarinya meraba rahang kaku Raka yang mulai ditumbuhi janggut tipis. "Kau tahu? Di momen seperti ini, kau benar benar terlihat seperti pria normal. Bukan hantu, bukan mesin. Hanya Raka."

Liana berjinjit, memberikan ciuman lembut di bibir Raka ciuman yang terasa asin karena air laut, namun manis karena janji yang tersirat di dalamnya. Raka membalasnya, membiarkan pertahanan taktisnya runtuh selama beberapa detik yang berharga.

Momen itu terputus ketika tablet Liana yang diletakkan di atas meja berbunyi ping dengan frekuensi tinggi.

"Ada sinyal," kata Liana, langsung kembali ke mode profesional meski masih mengenakan jubah mandi sutra. Ia duduk di depan layar, jemarinya bergerak cepat. "Raka, tebakanmu benar. Resort ini hanyalah kedok. Di bawah lantai dansa gedung utama, ada pusat transmisi satelit bawah tanah."

Raka memeriksa senjatanya. "Bisa kau akses pintunya?"

"Tidak semudah itu. Pintunya menggunakan kunci biometrik ganda: pola retina dan... ritme jantung. Yudha benar-benar menggunakan dirinya sendiri sebagai kunci." keluh Liana.

Raka menatap ke arah gedung utama resort yang megah di kejauhan. "Kalau begitu, kita tidak perlu kunci. Kita butuh pemilik kuncinya."

Liana menatap Raka dengan cemas. "Kau mau memancingnya keluar?"

"Dia sudah tahu kita di sini, Li. Pesawat tadi adalah tes. Dia ingin melihat apakah kita masih layak menjadi lawannya," Raka tersenyum dingin. "Mari kita berikan dia pertunjukan yang dia inginkan. Tapi pertama-tama..."

Raka berjalan ke arah telepon villa dan menekan tombol Room Service.

"Ya, selamat pagi," kata Raka dengan suara yang berubah total menjadi suara turis Amerika yang ceria.

"Bisa kirimkan dua porsi lobster panggang dan sebotol sampanye terbaik ke Villa 402? Oh, dan tambahkan cokelat panas yang banyak gulanya. Istri saya sedang butuh semangat." ucap Raka.

Liana menahan tawa di balik tangannya, wajahnya merona saat mendengar kata istri saya.

"Istri, huh?" goda Liana setelah Raka menutup telepon. "Sejak kapan kita menikah, Kapten?"

"Itu adalah bagian dari penyamaran, Li. Jangan terlalu baper," sahut Raka, meskipun telinganya sedikit memerah.

"Oh, tentu saja. Hanya penyamaran," Liana kembali ke komputernya sambil bersenandung kecil. "Tapi aku suka ide tentang lobster itu. Dan mungkin setelah misi ini selesai, kita bisa mendiskusikan soal istri itu di toko buku kita."

Raka tidak menjawab, tapi ia membiarkan senyum tipis menghiasi wajahnya. Di tengah kepulauan yang indah ini, badai besar sedang bersiap untuk pecah. Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa ia tidak keberatan diterjang badai, asalkan Liana ada di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!