Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Langit Jatuh
Tiga bulan setelah pertengkaran mereka, Bima berjuang mati-matian mengejar ketertinggalan IPK. Ia mengambil banyak SKS, mengikuti kelas tambahan, dan begadang setiap malam. Di akhir pekan, ia tetap narik ojek—tidak bisa berhenti karena ibunya di kampung butuh kiriman.
Kay sudah berkali-kali memperingatkan.
"Bim, lo kurang istirahat. Mata lo cekung," kata Kay suatu malam di kos Bima.
Bima menatap laptopnya, jari-jarinya masih mengetik kode. "Bentar lagi selesai."
"Lo bilang bentar lagi dari jam 7. Sekarang jam 11."
"Kay, gue harus selesain ini."
Kay duduk di sampingnya, meraih tangannya. "Bim, liat gue."
Bima menoleh. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin dalam, pipinya mulai cekung.
"Lo sakit," kata Kay lembut.
"Nggak. Gue capek."
"Itu namanya sakit."
Bima menarik tangannya, kembali ke laptop. "Gue nggak punya waktu buat sakit, Kay. Gue harus kejar IPK. Gue harus narik. Nyokap butuh uang."
Kay menghela napas. Ia tahu tidak bisa memaksa. Yang bisa ia lakukan hanyalah memastikan Bima makan dan sesekali membawakan vitamin.
Tapi vitamin tidak cukup.
---
Dua minggu kemudian, Kay mendapat telepan dari Mika di tengah kelas.
"Kay, lo di mana?" suara Mika panik.
"Di kelas. Ada apa?"
"Bima... Bima pingsan di perpus. Sekarang di UGD Sardjito."
Kay langsung berdiri, meninggalkan kelas tanpa permisi. Ia berlari ke parkiran, menyalakan motor, dan melaju secepat mungkin ke rumah sakit. Jantungnya berdebar kencang, tangannya gemetar di setir.
Di UGD, ia menemukan Bima terbaring di ranjang darurat, pucat pasi, dengan infus di tangannya. Mika duduk di samping, wajah cemas.
"Mik! Gimana?" Kay hampir berteriak.
"Udah sadar bentar, terus tidur lagi. Kata dokter, dia kelelahan parah, ditambah kurang gizi. Hemoglobinnya rendah banget. Harus rawat inap."
Kay memegang tangan Bima—dingin dan lemah. Air matanya jatuh.
"Bodoh," bisiknya. "Bodoh banget."
---
Dokter menjelaskan kondisi Bima dengan serius. "Dia butuh rawat inap minimal tiga hari untuk observasi dan pemulihan. Kami juga perlu cek lebih lanjut, takutnya ada komplikasi karena kelelahan kronis."
Kay mengangguk. "Baik, Dok. Tolong tangani sebaik mungkin."
Di loket administrasi, Kay menerima rincian biaya. Matanya membelalak melihat angka di kertas: Rp 15.780.000.
"Kak, ini bisa dicicil?" tanyanya lemah.
Petugas administrasi menggeleng. "Maaf, Mbak. Untuk rawat inap harus DP minimal 50% dulu, sisanya paling lambat saat pasien keluar."
Kay menarik napas. Ia mengambil kartu kredit dari dompetnya. "Bayar full."
Mika yang menemani terperanjat. "Kay, lo yakin? Itu uang banyak."
"Iya. Lo jangan bilang Bima."
"Tapi—"
"Mik, kalo dia tahu, dia bakal stres. Dia bakal mikir cara bayar. Padahal dia harus istirahat."
Mika menghela napas, lalu mengangguk. "Oke. Gue jaga rahasia."
---
Bima sadar beberapa jam kemudian. Ia membuka mata, melihat langit-langit putih, mencium bau obat. Di sampingnya, Kay tertidur di kursi dengan posisi meringkuk tidak nyaman.
"Kay," panggilnya lirih.
Kay tersentak bangun. Melihat Bima sadar, ia langsung membungkuk. "Bim! Lo sadar? Lo gimana rasanya?"
Bima mencoba tersenyum tipis. "Kayak abis di tabrak truk."
"Idih, masih bisa bercanda." Kay memegang tangannya. "Lo tahu gue takut setengah mati?"
"Maaf."
"Jangan maaf-maaf. Lo harus janji istirahat."
Bima mengangguk lemah. Tapi matanya menerawang ke sekitar—ruangan rawat inap, infus, monitor. "Ini rumah sakit?"
"Iya."
"Rawat inap?"
"Iya."
Bima diam sebentar, lalu bertanya, "Biayanya berapa?"
Kay sudah siap dengan jawaban. "Nggak usah pikirin. Gue urus."
"Kay."
"Bim, lo istirahat aja."
"Kay, berapa?" suara Bima melemah tapi tegas.
Kay tahu tidak bisa bohong. Tapi ia juga tahu tidak bisa bilang jujur. "Nggak banyak. BPJS lo kan aktif?"
Bima mengerutkan kening. "BPJS gue cuma kelas 3. Rawat inap begini, pasti ada biaya tambahan."
"Udah, nggak usah pikirin." Kay mengelus keningnya. "Yang penting lo sembuh."
Bima menatapnya lama. Ia tahu Kay menyembunyikan sesuatu. Tapi ia terlalu lemah untuk memaksa.
---
Tiga hari di rumah sakit, Bima menerima kabar terburuk dari kampus. Mika yang menyampaikan dengan hati-hati.
"Bim, nilai lo keluar."
Bima menatapnya. "Berapa?"
Mika menghela napas. "IPK lo 2.7."
Bima membeku. 2.7. Jauh di bawah standar beasiswa. Jauh dari 4.0 yang dulu ia banggakan.
"Dan beasiswa lo..." Mika tidak bisa melanjutkan.
Bima mengangguk pelan. "Dicabut?"
Mika mengangguk.
Bima menunduk. Tangannya yang diinfus mengepal. Kay yang mendengar dari pintu masuk langsung berlari ke sampingnya.
"Bim..."
"Gue gagal." Suara Bima bergetar. "Gue gagal total."
Kay memeluknya. "Bukan gagal, Bim. Lo sakit. Ini cuma sementara."
Bima melepaskan pelukannya. Matanya kosong. "Lo nggak ngerti, Kay. Beasiswa itu satu-satunya alasan gue bisa kuliah. Nyokap gue bangga karena gue dapet beasiswa. Sekarang? Semua hilang."
"Kita cari jalan keluar, Bim—"
"Jalan keluar apa?" Bima memotong, suaranya meninggi. "Gue harus bayar SPP sendiri sekarang. Uang kos. Uang makan. Kirim nyokap. Dan di luar sana, motor gue rusak—Mika bilang tadi, mesin motor gue jebol. Semua hancur, Kay!"
Kay terpukul. Ia belum tahu soal motor. Bima menarik napas, mencoba tenang.
"Maaf," bisiknya. "Maaf gue ngomong kasar."
"Nggak apa-apa."
Tapi Bima sudah menarik diri. Ia menatap jendela, punggungnya kaku. Kay tahu, laki-laki di sampingnya ini sedang jatuh—dan ia tidak tahu cara menolongnya tanpa membuatnya semakin merasa rendah.
---
Malam harinya, saat Bima tertidur karena obat, Kay memanggil Mika ke lorong rumah sakit.
"Motor dia rusak parah, Mik. Mesin jebol, kata lo?"
Mika mengangguk. "Iya. Dari bengkel langganannya, perbaikannya sekitar 4-5 jutaan."
Kay menghela napas. "Gue bayarin."
"Kay..."
"Gue tahu, Mik. Gue tahu dia nggak mau. Tapi dia butuh motor buat cari uang. Dan gue nggak tega liat dia jatuh lebih dalam."
Mika memegang bahu Kay. "Lo tahu kan ini bisa bikin dia tambah terpuruk? Kalo dia tahu lo bayarin semua?"
"Makanya dia nggak boleh tahu."
"Kay—"
"Mik, gue sayang dia. Gue nggak bisa liat dia hancur. Kalo harus diam-diam, gue lakuin."
Mika menghela napas pasrah. "Oke. Gue bantu."
---
Dua minggu kemudian, Bima keluar dari rumah sakit. Kay menjemput, membawanya ke kos dengan mobil. Sesampainya di kos, Bima melihat motornya sudah terparkir rapi—bersih, seperti baru.
"Motor lo udah selesai," kata Kay santai. "Kata bengkel, ada promo service gratis, jadi sekalian dibenerin."
Bima menatap motornya, lalu ke Kay. "Promo gratis? Service mesin jebol gratis?"
"Iya. Untung, kan?"
Bima mengerutkan kening. Ia tahu tidak mungkin. Tapi Kay sudah tersenyum manis dan menggandengnya masuk ke kamar.
Di kamar, Bima duduk di dipan, menatap Kay yang sibuk merapikan baju-bajunya.
"Kay."
"Hm?"
"Berapa biaya rumah sakit?"
Kay berhenti melipat. "Udah gue bilang, nggak usah dipikirin."
"Berapa?" Bima memaksa.
Kay mendekat, duduk di sampingnya. "Bim, lo baru sembuh. Jangan mikirin yang—"
"Kay, gue harus tahu."
Kay menatap matanya—mata dalam yang sekarang penuh luka. Ia tahu Bima tidak akan menyerah.
"15,7 juta," bisiknya.
Bima membeku. Matanya membelalak, lalu mengerut. "15,7 juta?"
"Iya. Tapi—"
"Lo bayar?"
Kay diam.
"Kay, lo bayar?" suara Bima bergetar.
"Iya."
Bima menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya turun naik. Kay panik.
"Bim, jangan—"
"Gue gagal." Suara Bima teredam. "Gue sakit, IPK hancur, beasiswa ilang, motor rusak, dan sekarang lo harus keluar uang 15 juta buat gue. Gue... gue nggak bisa."
Kay meraih tangannya, menariknya dari wajah. "Bim, liat gue."
Bima mengangkat kepala. Matanya merah, basah.
"Ini bukan gagal. Ini cobaan. Dan kita hadapi bareng-bareng."
"Tapi gue nggak bisa bayar—"
"Gue nggak minta lo bayar sekarang. Nanti, pas lo udah kerja. Lo bayar gue pelan-pelan. Yang penting sekarang lo fokus pulih, fokus kuliah."
Bima menggeleng. "Gue nggak pantas dapet lo."
"Bima!" Kay memegang wajahnya. "Jangan ngomong gitu. Lo pantas. Lo lebih pantas dari siapa pun."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi." Kay mengusap air mata di pipi Bima. "Gue milih lo. Gue sayang lo. Dan gue nggak akan pergi cuma karena masalah uang. Ngerti?"
Bima menatapnya lama. Lalu tanpa kata, ia menarik Kay ke dalam pelukan. Ia menangis—bukan isak tangis kecil, tapi tangis lepas yang selama ini ia tahan.
Kay memeluknya erat, membiarkan Bima meluapkan semua.
"Maaf," bisik Bima di sela tangis. "Maaf gue nyusahin."
"Lo nggak nyusahin. Lo lagi berjuang. Dan gue di sini buat bantu."
Mereka berpelukan lama. Di luar, hujan turun deras. Tapi di dalam kamar sempit itu, ada kehangatan yang tak tergantikan.
---
Mika datang sore itu membawa makanan. Ia melihat Bima yang masih sembab, tapi sudah lebih tenang. Kay sedang membuatkan teh di dapur kos.
"Gimana?" tanya Mika pelan pada Kay.
"Udah sedikit reda. Tapi masih berat."
Mika menghela napas. "Kay, lo harus hati-hati. Laki-laki kayak Bima, harga dirinya tuh rapuh. Kalo terlalu banyak bantuan, dia bisa makin terpuruk."
"Gue tahu. Tapi gue nggak tega."
"Lo harus cari cara biar dia tetap merasa berguna. Jangan jadi pahlawan, jadi pendamping."
Kay mengangguk. "Makasih, Mik."
Mika tersenyum, lalu masuk ke kamar menyapa Bima.
---
Malamnya, Kay pulang dengan perasaan campur aduk. Di rumah, ia duduk di kamar, menatap buku tabungannya yang berkurang drastis. Tapi ia tidak menyesal.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bima: "Makasih buat hari ini. Makasih buat semuanya. Gue janji, bakal balikin semua. Dan gue janji, bakal jadi lebih baik."
Kay membalas: "Nggak usah buru-buru balikin. Yang penting lo sembuh. Dan inget, lo berharga. Bukan karena uang. Tapi karena lo lo."
Bima: "Gue sayang lo."
Kay tersenyum. Tiga kata yang dulu susah sekali diucapkan Bima, kini mulai sering muncul.
Kay: "Gue juga sayang lo. Istirahat. Jangan begadang."
Bima: "Iya, Bu."
Kay tertawa kecil. Lalu ia menatap langit-langit, berdoa dalam hati.
Tolong jagain dia. Jagain Bima. Dia lagi jatuh, tapi dia berusaha bangkit. Tolong kasih dia kekuatan.
Di luar, hujan mulai reda. Dan di kos Demak, Bima menatap buku sketsanya. Ia mengambil pensil, mulai menggambar—Kay sedang tersenyum di tengah hujan, dengan payung di tangan. Di bawahnya, ia menulis:
"Dia yang selalu ada saat langitku jatuh. Aku akan bangkit, untuknya."