NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku Untukmu

Ambil Saja Suamiku Untukmu

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eys Resa

Bagaimana jika di hari pernikahan setelah sah menjadi suami istri, kamu ditinggal oleh suamimu ke luar negeri. Dan suamimu berjanji akan kembali hanya untukmu. Tapi ternyata, setelah pulang dari luar negeri, suamimu malah pulang membawa wanita lain.

Hancur sudah pasti, itulah yang dirasakan oleh Luna saat mendapati ternyata suaminya menikah lagi dengan wanita lain di luar negeri.

Apakah Luna akan bertahan dengan pernikahannya? Atau dia akan melepaskan pernikahan yang tidak sehat ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi

Rafi menatap pintu kamar Luna yang tertutup rapat dengan perasaan campur aduk. Ada sedikit sesal yang menggerogoti hatinya setelah menampar Luna untuk kedua kalinya, apalagi di hadapan kedua orang tuanya dan Saras. Ia tahu tindakannya sudah keterlaluan. Namun, penyesalan itu tidak bertahan lama.

Bu Endah, dengan wajah pongah, segera mendekati Rafi. "Tindakanmu sudah benar, Nak. Istri yang pembangkang seperti itu memang harus diberi pelajaran. Jangan dibiarkan saja. Nanti makin menjadi-jadi."

Mendengar ucapan ibunya, penyesalan Rafi kembali menguap digantikan oleh pembenaran diri seperti yang dikatakan oleh ibunya. Seorang istri harus nurut dengan ucapan suaminya, agar tidak membangkang.

Saras yang sedari tadi hanya diam dan menyimak, kini dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati suaminya itu. Dia memegang pundak suaminya dan mengatakan sesuatu yang membuat Rafi terpengaruh.

"Sepertinya aku yang salah disini. andai kita tidak menikah,mungkin mbak Luna nggak akan bersikap seperti itu. Dia akan tetap jadi penurut seperti sebelumnya." ucap Saras dengan nada lembut namun penuh racun.

"Tidak, ini bukan salahmu sama sekali, Sayang. Dia hanya sedang cemburu dan mungkin butuh waktu untuk bisa menerimamu." Rafi meyakinkan Saras kalau ini bukan salahnya.

"Iya, Saras, ini bukan salahmu. Dia hanya butuh didisiplinkan agar lebih menghargai suaminya dan keluarga ini." kata Bu Endah.

Rafi mengangguk-angguk, sepenuhnya percaya dengan ucapan ibunya. Ia tidak lagi merasa menyesal. Tindakannya menampar Luna, yang seharusnya menjadi aib, kini dianggapnya sebagai hal yang wajar dan benar.

Dalam hati Saras tertawa penuh kemenangan, karena semua orang di keluarga ini mendukungnya dan tidak ada yang mendukung Luna. Ini adalah kesempatan baginya untuk menguasai keluarga ini.

Di dalam kamar, Luna yang pipinya masih memerah akibat tamparan kedua Rafi, tidak lagi merasakan sakit di fisiknya. Hatinya sudah mati rasa. Ia menatap kosong ke cermin, melihat bayangan dirinya yang penuh luka. Keputusan sudah bulat. Ia tidak bisa lagi bertahan di rumah keluarga munafik ini.

Luna segera bangkit, menarik koper kecil dari dalam lemari. Ia mulai mengemas semua pakaian dan barang-barang pentingnya, tidak banyak, hanya satu koper. Setelah semuanya masuk, ia meletakkannya di sudut kamar. Malam itu untuk terakhir kalinya dia akan tidur di kamar ini. Dia terlelap dengan tekad yang bulat dan hati yang dingin dan membeku

"Hanya untuk malam ini saja," bisiknya dalam hati.

*********

Pagi harinya, rumah masih terasa lengang. Tidak ada aroma masakan, tidak ada suara kegiatan, hanya kesunyian yang mencekam. Bu Endah kembali merasa kesal. Dia melirik pintu kamar Luna. Gara-gara kejadian semalam, Dia merasa segan untuk mengetuk pintu kamar menantunya itu. Meskipun semalam dia mengatakan kalau Luna perlu di disiplinkan.

Akhirnya, Bu Endah memilih untuk mengetuk pintu kamar Rafi dan Saras. Pintu terbuka, menampilkan wajah mereka yang baru bangun tidur.

"Rafi, suruh istri Saras membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan!" perintah Bu Endah, menunjuk Saras. "Kalau tidak mau, suruh dia segera mencari pembantu. Ibu sudah capek!"

Saras melotot, menolak. "Kan sudah aku bilang, Bu. Aku tidak bisa bersih-bersih dan masak."

"Tetap saja, kalau kamu tidak bisa, cari pembantu untuk melakukan semua ini. Aku sudah cukup tua untuk melakukan semuanya sendiri. Aku lelah, Rafi, " keluh Bu Endah.

"Kenapa ibu tidak meminta Luna melakukan semuanya? biasanya kan dia yang mengatakannya. " kata Rafi yang terlihat kesal karena paginya selalu diganggu dengan masalah kebersihan rumah. apa tidak ada hal lain yang bisa mereka bahas pagi-pagi.

Saat mereka bertiga sedang berdebat, pintu kamar Luna terbuka. Luna keluar dari kamar sudah berpakaian rapi, dan di tangannya ada koper yang siap dibawa pergi. Bu Endah, Rafi, dan Saras terkejut melihat pemandangan itu.

"Mau ke mana kamu pagi-pagi begini?! Dan itu koper apa?!" tanya Bu Endah, nada suaranya berubah panik. "Cepat sana bereskan rumah! Sarapan juga belum siap!"

Luna hanya menatap Bu Endah, acuh. Ia melangkah santai menuju pintu depan. Rafi, yang terkejut melihat Luna akan pergi, segera menghampirinya.

"Luna, kamu mau ke mana? Kenapa bawa koper?" tanya Rafi, berusaha meraih tangan Luna.

Luna menepis tangan Rafi dengan kasar. Matanya menatap suaminya dengan tatapan tajam, tanpa sedikit pun kehangatan. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu. Aku mau kemana bukan urusanmu. Aku mau pergi dari sini. Aku tidak sudi lagi tinggal di rumah ini bersama orang munafik yang tidak tau terima kasih seperti kalian." jawabnya dingin.

"Luna, jangan begini! Aku– aku minta maaf, ya, jangan pergi." ucap Rafi, suaranya terdengar putus asa.

"Maaf? Setelah kamu menamparku dua kali? Setelah kamu membawa wanita lain ke rumah ini? Maafmu tidak ada artinya lagi, Mas." Luna terlihat menahan amarahnya.

Bu Endah ikut mendekat, mencoba menengahi. "Luna, jangan gegabah! Kalian baru saja menikah. Apa kata orang, kalian baru menikah tiga bulan dan kamu sudah berani perhi dari rumah Suamimu."

Luna menatap Bu Endah, matanya tajam. "Justru karena baru menikah, Aku tidak ingin meneruskan drama ini, terserah apa kata orang. lagi pula, apa peduliku dengan omongan orang. Ibu sendiri tidak peduli dengan omongan tetangga yang mengatakan anaknya baru menikah, sudah menikah lagi. " kata Luna dengan sinis.

"Kamu–, " bu Endah menunjuk wajah Luna.

"Aku kenapa? Oh, iya aku katakan pada kalian, Aku akan menuntut cerai. "

Semua orang terdiam. Kata-kata itu begitu lugas dan tegas.

"Tunggu saja surat cerainya akan dikirim kemari," lanjut Luna, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak di dalam. "Dan juga, aku ingin kalian membayar biaya operasi Bu Endah yang sudah aku bayar dulu. Ayah mertua bilang, Rafi akan membayarnya, kan? Jadi, Aku akan memasukkannya dalam tuntutan perceraian. Hitung saja semuanya, termasuk biaya obat-obatan dan kebutuhan rumah tangga selama ini yang sudah aku keluarkan untuk menutupi kekurangan biaya hidup di keluarga ini. "

Bu Endah, Rafi, dan Saras hanya bisa terdiam, tidak mampu berkata-kata. Mereka tidak menyangka Luna akan mengambil langkah sejauh ini, apalagi sampai menuntut ganti rugi atas semua uang yang sudah dia keluarkan selama ini.

Dengan langkah mantap, Luna melangkah keluar, membuka pintu depan. Ia menghirup udara segar pagi hari, udara yang terasa begitu bebas. Rasanya seperti sebuah beban berat terangkat dari pundaknya.

Ia membiarkan gerbang rumah tertutup, meninggalkan keluarga itu dalam kebingungan dan penyesalan yang terlambat. Luna akhirnya membebaskan dirinya dari keluarga parasit yang tidak tau terima kasih dan telah merenggut kebahagiaannya. Ia tidak lagi menoleh kebelakan dan ingin melepaskan ikatan pernikahan yang kosong, dan dia siap memulai hidup barunya.

1
Abinaya Albab
nama Saras kn banyak yg memiliki kn ya harusnya disini Luna konfirmasi dlu apakah Saras yg dia kenal atw Saras lain dg menyebutkan ciri²/memperlihatkn foto ya kn walaupun mmg pada akhirnya Saras itu
Abinaya Albab
baru saja mbak skg nona 🤭
Abinaya Albab
lebih enak Nak... daripada Mbak
Abinaya Albab
cuma asisten CEO katanya lahhhh anakmu itu juga mlh cuma manager
Abinaya Albab
tidur pulas dengan gelisah gimana ya mksd nya 🤔
Abinaya Albab
nona 😂 tumben 🤔
Abinaya Albab
ini kok gk ada sopan santunnya di depan atasan masih saja nyiyir
Abinaya Albab
disentuh aja blm kok udh dikata mandul 😂
Abinaya Albab
coba pak Doni menikah lagindgbwanita yg sehat apakah Bu Endah mau berbagi suaminya 😤
Abinaya Albab
pdhl klo udh punya penyakit jantung gk boleh capek² loh itu gk takut jantungnya kumat apalagi dg dibiayai sama orang yg selalu di caci maki & yg mengurusnya saat sakit
Abinaya Albab
kamu di nikahi cm dijadikan babu + donatur buat keluarga suamimu Lun
Cahya Kirana
pdhl jgn pengacara ya setidaknya Luna CEO perusahaan ke gitu warisan dari kake nya kan lebih keren ta
Erna Masliana
iya masa orang kaya gak bisa nyewa detektif..apa apa harus sendiri malah mencurigakan
Erna Masliana
miskin banget apa gak niat bayar..kalo miskin kebangetan rasanya gak mungkin..dia bisa ngasih nafkah 5 juta perbulan berarti gaji lebih besar dong..masa kerja berapa tahun..masa iya 150jt aja keteteran.. ibunya gak mungkin gak punya perhiasan..
Erna Masliana
Boss gak punya harga diri apalagi wibawa
Erna Masliana
ya tetap disana kan gadai sama dengan pinjam.. tinggal bayar cicilannya dg benar jangan nunggak
Erna Masliana
masa?? gaji kamu kemana?? kan jabatan kamu lumayan bagus..masa iya 150 aja gak ada
Erna Masliana
lagian jadi pelakor pilih mangsa yang belangsak dapet buwung doang 😛
Erna Masliana
nah jantung aman Bu... jangan sampe kambuh.. obat mahal
Erna Masliana
udah uyuhan cepet sadar.. aku baru beres baca yang 5th disiksa fisik mental hingga akhirnya menyerah cerai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!