di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Elang Besi Patah Sayap
Matahari gurun yang terik memanggang sisa-sisa harapan Karavan Klan Jin.
Di sebuah lembah pasir berbentuk mangkuk, lima kereta kuda Klan Jin telah dikepung rapat. Namun kali ini, pengepungnya bukan bandit berantakan dengan senjata tumpul.
Mereka adalah Pasukan Elang Besi.
Seratus prajurit berbaju zirah hitam legam berdiri dalam formasi tembok perisai yang sempurna. Tombak-tombak panjang mereka berkilauan dingin, mengarah ke tengah lingkaran. Di langit, lima penunggang Elang Angin—binatang buas terbang tingkat rendah—berpatroli, menutup jalur pelarian udara.
Di tengah kepungan, mayat-mayat pengawal Klan Jin bergelimpangan. Darah mereka mewarnai pasir merah menjadi lumpur hitam.
"Kakek Gu!"
Jin Ling menjerit. Dia berlutut di samping kepala pengawal tua itu. Kakek Gu terbatuk darah, sebuah anak panah besi menembus bahu kanannya, memaku tubuhnya ke roda kereta.
"Nona... lari..." bisik Kakek Gu lemah. Wajahnya pucat pasi.
Seorang pria tinggi besar dengan jubah komandan berwarna perak berjalan menembus barisan perisai. Dia memegang tombak panjang bermata tiga. Aura Pembentukan Fondasi Tingkat Lima memancar darinya, menekan napas semua orang yang masih hidup.
Itu adalah Komandan Zhao, pemimpin regu pengejar Elang Besi.
"Lari?" Zhao tertawa meremehkan. Dia menendang mayat seorang pengawal. "Tidak ada yang lari dari Elang Besi. Kami adalah mata dan cakar Kekaisaran."
Zhao menodongkan tombaknya ke leher Jin Ling yang gemetar.
"Katakan padaku, Nona Jin. Di mana bajingan bernama Ye Yuan itu? Mata-mata kami melihat dia menumpang keretamu dua hari lalu."
Jin Ling menatap mata Zhao dengan berani meski air mata mengalir di pipinya. "Aku tidak tahu! Dia sudah pergi! Dia menyelamatkan kami dari bandit, lalu pergi ke barat!"
"Bohong!"
PLAK!
Zhao menampar pipi Jin Ling dengan punggung tangannya yang dilapisi sarung tangan besi.
Jin Ling terpental, sudut bibirnya pecah berdarah.
"Kami melacak sisa aura pedangnya di keretamu," desis Zhao. "Dia pasti memberikan sesuatu padamu. Atau mungkin... kau adalah pelacurnya?"
Zhao mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. "Jika kau tidak bicara dalam hitungan tiga, aku akan memotong tangan orang tua ini."
"Satu."
"Jangan! Tolong!" Jin Ling menangis histeris.
"Dua."
Zhao menyeringai kejam. Dia mulai mengayunkan tombaknya ke arah lengan Kakek Gu.
"TIGA!"
Namun, tombak itu tidak pernah mendarat.
WUUUUUUNG!
Suara siulan tajam membelah udara dari arah utara. Suara itu begitu keras dan rendah hingga membuat jantung semua orang bergetar.
Komandan Zhao mendongak.
Sebuah benda hitam jatuh dari langit seperti meteor.
BLAAAARRRR!
Benda itu menghantam tanah tepat di depan Komandan Zhao, menciptakan gelombang kejut pasir yang meledakkan formasi perisai Pasukan Elang Besi.
Puluhan prajurit elit terlempar ke udara seperti boneka kain. Kuda-kuda meringkik panik.
Debu pasir membumbung tinggi.
Di tengah kawah debu itu, berdiri sebilah pedang hitam raksasa yang menancap di tanah.
Bukan pedang patah. Pedang utuh.
Dan di atas gagang pedang itu, berdiri seorang pemuda dengan jubah cokelat lusuh yang berkibar liar. Matanya yang ungu menyala menatap Komandan Zhao dengan tatapan yang membuat darah sang komandan membeku.
"Kau menghitung sampai tiga?" suara Ye Yuan tenang, tapi terdengar jelas di seluruh lembah.
"Aku juga punya hitungan untukmu."
Ye Yuan melompat turun dari gagang pedangnya. Tangannya mencabut senjata seberat satu ton itu dari tanah seolah mencabut rumput.
"Satu: Lepaskan mereka."
"Dua: Berlutut dan minta maaf."
"Tiga: Mati."
Hening.
Komandan Zhao mundur dua langkah. Dia merasakan tekanan aura yang aneh dari pemuda ini. Kultivasinya hanya Tingkat Empat, tapi tekanan yang dipancarkannya terasa seperti gunung besi.
"Ye Yuan!" seru Zhao, matanya menyipit. "Akhirnya tikus itu keluar dari lubangnya! Pasukan! Formasi Jaring Besi! Tangkap dia hidup atau mati!"
"SIAP!"
Sisa tujuh puluh prajurit Elang Besi segera bangkit. Mereka terlatih dengan baik.
Barisan depan mengangkat perisai besi berat. Barisan belakang melemparkan rantai pengikat yang ujungnya memiliki kait cakar elang.
Clang! Clang! Clang!
Puluhan rantai melayang di udara, mencoba mengikat tangan dan kaki Ye Yuan seperti jaring laba-laba.
Ye Yuan tidak menghindar.
"Jaring?" Ye Yuan menyeringai. "Kalian mencoba menahan naga dengan benang jahit?"
Ye Yuan memutar Pedang Penakluk Langit-nya.
Berat pedang itu menciptakan pusaran angin vakum di sekelilingnya.
[Gaya Berat Asura: Pusaran Naga Hitam!]
ZING!
Saat puluhan rantai besi itu menyentuh pusaran pedang Ye Yuan, mereka tidak membelit, melainkan hancur.
Rantai-rantai itu putus berkeping-keping seolah terbuat dari kaca.
Ye Yuan tidak berhenti. Dia menghentakkan kakinya.
[Langkah Hantu Asura!]
Dia melesat maju menabrak barisan perisai baja.
Biasanya, seorang pendekar pedang akan mencari celah di antara perisai. Tapi Ye Yuan?
DUAGH!
Dia menghantamkan sisi pedang besarnya langsung ke permukaan perisai baja itu.
Kekuatan 1.000 kilogram + Qi Pembentukan Fondasi + Kecepatan Lari.
Hasilnya adalah pembantaian fisika.
Perisai baja itu penyok ke dalam, menabrak dada prajurit di baliknya, lalu menabrak prajurit di belakangnya lagi.
Barisan pertahanan Elang Besi meledak.
Lima prajurit terbang ke udara dengan tulang dada hancur lebur.
"Apa?!" Komandan Zhao terbelalak. "Kekuatan fisik macam apa itu?!"
Ye Yuan mengamuk. Dia seperti gasing maut di tengah pasukan. Setiap ayunan pedangnya menerbangkan manusia dan senjata. Zirah Elang Besi yang terkenal keras sobek seperti kertas di hadapan Pedang Penakluk Langit yang kini dialiri Api Bintang Dingin.
"Tahan dia! Pemanah udara, tembak!" teriak Zhao panik.
Lima penunggang elang di langit mulai menghujani Ye Yuan dengan panah peledak.
Boom! Boom! Boom!
Ledakan terjadi di mana-mana.
Ye Yuan melompat keluar dari asap ledakan. Jubahnya sedikit hangus, tapi Tubuh Pedang Perunggu-nya melindunginya dari serpihan ledakan.
Dia mendongak menatap elang-elang itu.
"Berisik."
Ye Yuan menyalurkan Qi ke pedangnya. Bilah hitam itu bersinar biru terang.
Dia mengayunkan pedangnya ke langit—bukan melempar pedang, tapi melepaskan Bilah Angin.
[Tebasan Penakluk Langit: Bulan Sabit Beku!]
WUSH!
Sebuah gelombang energi berbentuk bulan sabit biru melesat ke langit dengan kecepatan suara.
Gelombang itu membelah udara, memotong sayap dua elang sekaligus, lalu terus melesat membelah awan di atasnya.
Penunggang elang itu jatuh berteriak dari ketinggian ratusan meter.
BRUK!
Tiga penunggang sisa langsung memutar balik elang mereka, ketakutan setengah mati. "Mundur! Dia bisa serangan jarak jauh!"
Di darat, moral pasukan Elang Besi runtuh.
Setengah dari mereka sudah mati atau terluka parah. Senjata mereka hancur. Formasi mereka berantakan.
Ye Yuan berdiri di tengah ladang pembantaian itu. Dia menoleh ke arah Komandan Zhao yang kini berdiri sendirian, dikelilingi mayat anak buahnya.
Ye Yuan menyeret pedang besarnya mendekat. Suara sreet... sreet... gesekan pedang di pasir terdengar seperti lonceng kematian.
"Sekarang tinggal kau," kata Ye Yuan. "Pilih hitungan nomor dua atau tiga?"
Komandan Zhao gemetar. Harga dirinya sebagai komandan elit hancur lebur. Tapi dia adalah Pembentukan Fondasi Tingkat Lima! Dia tidak boleh kalah dari bocah Tingkat Empat!
"Aku akan membunuhmu!"
Zhao meraung. Dia membakar Darah Esensi-nya. Tombak bermata tiganya bersinar merah darah.
[Teknik Tombak Elang: Patukan Maut!]
Zhao melesat maju, tubuhnya berubah menjadi bayangan elang merah yang menukik tajam, seluruh tenaganya dipusatkan di ujung tombak.
Ini adalah serangan bunuh diri. Jika kena, gunung pun akan berlubang.
Ye Yuan berhenti melangkah.
Dia memegang pedang besarnya dengan dua tangan, mengangkatnya sejajar dengan bahu. Kuda-kuda yang kokoh.
"Kau cepat," kata Ye Yuan.
Mata ungunya menyipit.
"Tapi pedangku lebih berat."
Saat tombak Zhao berjarak satu meter dari dadanya, Ye Yuan menebas.
Sederhana. Vertikal. Brutal.
[Gaya Berat Asura: Pemenggal Naga!]
Pedang hitam itu turun.
TRANG!
Ujung tombak Zhao patah.
Pedang Ye Yuan terus turun, membelah tangkai tombak.
Membelah helm Zhao.
Membelah zirah Zhao.
Dan membelah tubuh Zhao sampai ke tanah.
BOOM!
Tanah di belakang Zhao terbelah sepanjang sepuluh meter akibat sisa tenaga tebasan itu.
Komandan Zhao berdiri kaku. Matanya melotot. Sebuah garis merah muncul di tengah wajahnya.
"Ti... dak... mung... kin..."
Tubuhnya terbelah dua, jatuh ke kiri dan kanan.
Darah menyembur, langsung diserap oleh Pedang Penakluk Langit yang rakus.
Hening.
Angin gurun bertiup, membawa bau amis darah yang pekat.
Ye Yuan berdiri di sana, terengah-engah. Menggunakan pedang utuh ini menguras tenaganya dua kali lebih cepat daripada pedang patah. Tapi kekuatannya... kekuatannya sepadan.
Dia menoleh ke arah Jin Ling dan Kakek Gu yang masih terpaku di dekat kereta.
Ye Yuan berjalan mendekat. Wajahnya yang terkena cipratan darah terlihat mengerikan, tapi matanya lembut saat melihat mereka.
Dia mengeluarkan dua botol pil penyembuh dari cincin penyimpanannya—hasil jarahan dari Zhu Hong.
"Minum ini," kata Ye Yuan, melempar botol itu ke Kakek Gu. "Ini Pil Penyembuh Tingkat Tinggi dari Sekte Gagak Api. Lukamu akan sembuh dalam semalam."
"Tuan Ye..." Kakek Gu menangkap botol itu dengan tangan gemetar. "Kami... kami tidak tahu bagaimana harus membalas budi ini..."
"Kalian tidak berhutang apa-apa. Akulah yang membawa masalah ini pada kalian."
Ye Yuan menatap Jin Ling.
"Maafkan aku, Nona Jin. Aku pikir meninggalkan kalian akan membuat kalian aman. Ternyata aku salah."
Jin Ling menggeleng kuat, air mata mengalir lagi. Dia berlari dan memeluk Ye Yuan erat-erat, tidak peduli dengan darah dan debu di jubah pemuda itu.
"Terima kasih... Terima kasih sudah kembali..." isaknya.
Ye Yuan kaku sejenak. Dia tidak terbiasa dengan kehangatan manusia. Perlahan, dia menepuk punggung gadis itu dengan tangan kirinya yang bebas.
"Dengar," kata Ye Yuan melepaskan pelukan itu dengan lembut. "Kalian tidak bisa melanjutkan perjalanan ke utara. Pasukan Elang Besi lain mungkin akan datang."
Ye Yuan menunjuk ke arah timur.
"Pergilah ke Ngarai Batu. Di sana ada jalur rahasia pedagang yang jarang dilalui tentara. Itu akan membawa kalian keluar dari wilayah ini."
"Lalu kau?" tanya Jin Ling cemas. "Kau mau kemana?"
Ye Yuan menatap ke arah barat, tempat matahari telah tenggelam sepenuhnya.
"Aku akan ke Kota Barat. Aku akan membuat keributan besar di sana, sehingga semua mata Kekaisaran akan tertuju padaku, dan melupakan kalian."
Ye Yuan melompat mundur, menjauh dari mereka. Pedang besarnya kembali berubah menjadi cahaya hitam dan masuk ke dalam perutnya.
"Hiduplah dengan baik, Jin Ling. Mungkin suatu hari nanti, saat namaku sudah mengguncang langit, kita akan bertemu lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Ye Yuan berbalik dan melesat pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam gurun.
Malam itu, legenda tentang "Iblis Pedang Gurun" lahir. Seorang pemuda yang sendirian membantai satu kompi pasukan elit Elang Besi demi menyelamatkan sebuah karavan kecil.
Dan di kejauhan, Kota Perdagangan Barat yang megah sudah menanti kedatangan sang badai.
[Bersambung ke Bab 28]
Poin Ringkas Bab 27:
Full Power: Ye Yuan menggunakan Pedang Penakluk Langit (Utuh) untuk pertama kalinya dalam pertempuran skala besar.
Dominasi: Menghancurkan formasi perisai, senjata jarak jauh, dan elit pasukan dengan kekuatan fisik + berat pedang.
Teknik Baru:
Pusaran Naga Hitam (Pertahanan/Counter Area).
Bulan Sabit Beku (Serangan Jarak Jauh/Anti-Udara).
Boss Kill: One-hit kill terhadap Komandan Zhao (Lv 5) dengan mematahkan tombak dan zirahnya sekaligus.
Perpisahan: Ye Yuan memastikan keselamatan Jin Ling dan memilih menjadi umpan untuk menarik perhatian musuh.
Siap masuk ke Arc Kota Barat?