NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kepompong Cahaya dan Delapan Musim yang Hilang

Setelah turun dari Pegunungan Larangan, Ranu merasakan tubuhnya semakin panas. Energi dari permata yang baru saja ia serap bergejolak di dalam pembuluh darahnya. Kulitnya yang mungil mulai mengeluarkan uap putih, dan mata peraknya bersinar tanpa bisa ia kendalikan lagi.

"Sastro," ucap Ranu dengan suara yang terdengar bergema, "Tubuh ini terlalu kecil. Jika aku tidak segera menyelaraskan energi ini, aku akan meledak dan membawa setengah dari Kerajaan Durja bersamaku."

Ki Sastro yang melihat kondisi Ranu menjadi sangat panik. "Lalu apa yang harus hamba lakukan, Tuan Muda? Apakah hamba harus mencari air es satu danau untuk mendinginkan Anda?"

Ranu menggeleng lemah, senyum tipis masih sempat tersungging di bibirnya meski ia sedang menahan sakit. "Air danau tidak akan cukup, Sastro. Aku butuh tempat yang paling sunyi di bawah akar Pohon Jati Purba di hutan larangan. Aku akan memasuki fase 'Tidur Dewa'. Selama aku tidur, jangan biarkan siapa pun menyentuh kepompongku."

"Berapa lama, Tuan Muda?" tanya Sastro cemas.

"Mungkin sehari, mungkin juga setahun. Waktu bagiku hanyalah debu yang tertiup angin," jawab Ranu.

Ki Sastro dengan setia menggendong Ranu menuju jantung hutan yang paling dalam. Di sana, di bawah perlindungan akar raksasa pohon jati yang konon sudah ada sejak zaman para dewa pertama, Ranu duduk bersila. Cahaya perak mulai keluar dari pori-pori kulitnya, memadat, dan perlahan membungkus tubuh kecil itu menjadi sebuah kepompong cahaya yang keras seperti batu ambar.

Waktu pun berlalu. Musim kemarau berganti hujan, dan bunga-bunga hutan telah bermekaran dan gugur sebanyak delapan kali. Delapan tahun telah lewat bagi penduduk Kerajaan Durja.

Selama delapan tahun itu, dunia luar telah banyak berubah. Kerajaan Mahesa, yang takut setelah kematian Patih Kebo Kenanga dan munculnya Ki Ageng Jagat sebagai pelindung Durja, mulai membangun pasukan rahasia yang jauh lebih mengerikan. Mereka tidak lagi mengirim prajurit biasa, melainkan pendekar-pendekar hitam yang memuja kegelapan.

Ki Sastro, yang kini rambutnya sudah sepenuhnya memutih namun tubuhnya tetap bugar berkat bimbingan singkat Ranu, tetap setia menjaga kepompong itu. Ia membangun sebuah gubuk kecil di dekat akar pohon jati. Setiap hari ia berlatih dan memastikan tidak ada binatang buas yang mendekat.

Suatu pagi, saat embun masih menggelantung di pucuk daun, sebuah retakan terdengar dari arah akar pohon jati.

KRAK!

Ki Sastro yang sedang mencuci kendi segera berlari mendekat. "Tuan Muda? Apakah itu Anda?"

Kepompong cahaya itu pecah berkeping-keping, hancur menjadi serpihan debu bintang yang indah. Dari dalam kepulan uap energi, muncul sesosok pemuda. Ia bukan lagi bocah mungil bertubuh pendek.

Pemuda itu kini berusia sekitar lima belas tahun. Tubuhnya tinggi, ramping namun atletis, dengan bahu yang bidang. Rambut hitamnya panjang terurai hingga ke pinggang, dan wajahnya memiliki ketampanan yang sangat tenang—perpaduan antara kelembutan seorang pemuda dan wibawa seorang penguasa abadi.

Ranu Wara membuka matanya. Mata putih perak itu kini jauh lebih dalam, dengan pola rasi bintang yang samar-samar terlihat berputar di dalam pupilnya.

Ranu mencoba menggerakkan tangannya, melihat telapak tangannya yang kini sudah lebih besar. "Ah... akhirnya. Setidaknya sekarang aku tidak perlu mendongak hanya untuk bicara dengan seekor kambing."

Ranu berdiri, kakinya yang jenjang menginjak tanah dengan mantap. Ia meregangkan tubuhnya, membuat tulang-tulangnya berderak seperti suara guntur kecil.

"Tuan Muda Ranu?" Ki Sastro bertanya dengan suara gemetar, hampir tidak mengenali sosok di depannya.

Ranu menoleh dan tersenyum. Suaranya kini lebih berat dan jernih. "Sastro, kau terlihat lebih tua. Apakah kau lupa menggunakan ramuan awet muda yang aku ajarkan?"

"Gusti! Ini benar-benar Anda!" Ki Sastro langsung bersujud dengan air mata bahagia. "Delapan tahun, Gusti! Anda tidur selama delapan tahun!"

Ranu tertegun sejenak. "Delapan tahun? Pantas saja bajuku yang dulu sekarang terasa seperti celana dalam. Sastro, apakah kau punya pakaian yang layak? Aku tidak mungkin pergi ke ibu kota hanya dengan lilitan kain sisa kepompong ini."

Ki Sastro tertawa kecil sambil mengusap air matanya. "Hamba sudah menyiapkannya, Gusti. Diajeng Sekar Arum setiap tahun mengirimkan pakaian baru ke mari, berharap Anda bangun. Ini adalah pakaian terbaik yang dijahit sendiri oleh para penjahit istana."

Ranu mengenakan pakaian itu—sebuah jubah biru tua dengan sulaman benang perak di bagian kerah, lengkap dengan ikat pinggang kulit hitam. Saat ia berdiri dengan pakaian lengkap, auranya begitu memikat hingga burung-burung di atas pohon berhenti berkicau, seolah memberikan penghormatan.

Kruyuuuk!

Suara itu kembali muncul. Ranu memegang perutnya dan menghela napas.

"Ternyata, meskipun tubuhku sudah besar dan kekuatanku meningkat, masalah perut ini tetap menjadi musuh terbesarku," gumam Ranu jengkel. "Sastro, katakan padaku kau membawa nasi timbel dengan ayam goreng yang sangat banyak."

"Tentu saja, Gusti! Hamba bahkan membawa sambal terasi kesukaan Anda!" jawab Sastro dengan semangat.

Sambil makan dengan lahap (dan tentu saja tetap dengan gaya bicara yang terlalu tua untuk umurnya), Ranu mendengarkan laporan dari Sastro tentang keadaan dunia.

"Gusti, keadaan sekarang sedang gawat. Kerajaan Mahesa telah bersekutu dengan Sekte Bayangan Neraka. Mereka telah menguasai jalur perdagangan utama dan mulai menindas rakyat kecil lagi. Kabarnya, mereka akan melakukan penyerangan besar-besaran ke Ibu Kota Durja dalam tujuh hari ke depan," lapor Sastro dengan wajah serius.

Ranu berhenti mengunyah paha ayamnya. Matanya menatap ke arah langit. Bintang ketiga di punggungnya berdenyut kencang. "Tujuh hari... waktu yang cukup untuk aku pulang ke rumah menemui Bapak dan Ibu, lalu menghancurkan sekte itu hingga ke akar-akarnya."

Ranu berdiri, sisa nasi di tangannya ia bersihkan dengan sekali kibasan energi. "Sastro, siapkan kuda. Kita akan pulang ke Kerajaan Durja. Sudah saatnya reinkarnasi dewa ini menunjukkan bahwa kedamaian bukan berarti kelemahan."

Saat mereka bersiap berangkat, Ranu menatap bayangannya di permukaan air sungai jernih. Ia tersenyum tipis melihat wajah remajanya.

"Setidaknya sekarang, kalau aku bertemu dengan pendekar sombong lagi, aku bisa menatap mata mereka tanpa harus memanjat kursi," gumam Ranu pada dirinya sendiri.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!