Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadiku
Di bawah langit Brisbane yang mulai menjingga, aroma rumput basah sisa hujan sore itu mendadak terasa menyesakkan bagi Takara. Di depannya, Jake berdiri dengan ransel besar dan sebuah mimpi yang baru saja akan lepas landas.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Jake:
"Gak peduli apapun yang terjadi, kita akan tetap jadi sahabat kan?"
Bagi Jake, itu adalah jangkar. Sebuah jaminan bahwa ketika dunia barunya di Seoul nanti terlalu bising, dia masih punya satu tempat pulang yang tenang bernama Takara. Tapi bagi Takara, kalimat itu tak ubahnya vonis mati bagi perasaan yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Bagi mereka yang tinggal di lingkungan Australia di mana wajah Asia adalah minoritas, Jake dan Takara adalah satu paket.
Jake adalah anak laki-laki yang selalu menarik Takara ke lapangan bola.
Takara adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa di balik tawa ceria Jake, ia sering menangis diam-diam karena rindu masakan neneknya di Korea.
Mereka berbagi segalanya: rahasia, playlist lagu, hingga bekal makan siang. Jake adalah "nadi" bagi Takara, tanpa laki-laki itu, hidupnya terasa sunyi. Namun, menjadi "nadi" berarti kamu harus terus berdenyut di dalam, tersembunyi, agar sang tubuh tetap hidup. Takara tidak boleh terlihat, hanya boleh terasa.
———
Cahaya fajar yang abu-abu menembus jendela kaca houseboat, memantulkan riak air Sungai Amsterdam ke langit-langit kayu yang rendah. Takara mengeratkan selimut wolnya, mencoba mengusir gigil yang telanjur merayap di sela tulang. Di sini, ribuan mil dari hiruk pikuk Seoul maupun kehangatan Brisbane, ia pikir ia bisa menemukan ketenangan.
Namun, getaran di atas nakas kayu menghancurkan sunyi itu.
Takara meraih ponselnya. Layarnya berpendar terang, menampilkan sederet notifikasi yang kontras dengan suasana pagi yang senyap.
Jake: Takaraaa, gue baru selesai latihan jam 3 pagi. Kepala gue mau pecah.
Jake: Gue kangen Australia. Gue kangen duduk di pinggir dermaga sambil dengerin lo ngomel soal tugas sekolah.
Jake: Amsterdam jam berapa? Lo jangan lupa sarapan. Kabari gue kalau udah bangun.
Takara menghela napas, uap tipis keluar dari bibirnya. Membaca pesan Jake sudah menjadi ritual pagi yang lebih wajib daripada secangkir kopi hitam. Di Korea, Jake adalah matahari. pusat semesta yang dipuja jutaan orang.
Namun di dalam kotak pesan ini, Jake hanyalah seorang laki-laki rapuh yang sedang tersesat dalam ambisinya sendiri.
Takara bangkit, melangkah menuju dek kecil di bagian belakang perahu. Suara air yang menabrak lambung kapal terdengar ritmis. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan sungai yang gelap; wajah yang tampak lelah karena terus-menerus menjadi tong sampah emosi bagi seseorang yang tidak bisa ia miliki.
"Kenapa lo selalu lari ke gue, Jake?" bisiknya lirih pada angin dingin.
Ia tahu jawabannya. Karena bagi Jake, Takara adalah satu-satunya bagian dari "manusia biasa" yang tersisa dalam hidupnya. Jake tidak butuh Takara sebagai kekasih, dia butuh Takara sebagai bukti bahwa dia masih punya akar.
Dan Takara, dengan bodohnya, selalu bersedia menjadi akar itu meskipun ia sendiri perlahan membusuk di dalam tanah yang lembap.
Takara mulai mengetik balasan. Jarinya sempat ragu di atas papan ketik. Ia ingin menulis: 'Berhenti kirim pesan kayak gini kalau lo cuma anggep gue sahabat. Gue sakit hati, Jake.'
Tapi, jemarinya justru mengetik:
Takara: Minum air hangat dan langsung tidur. Gue baru bangun. Amsterdam lagi dingin banget, kayaknya gue butuh cokelat panas yang sering lo buat dulu.
Send.
Hanya butuh tiga detik sampai ponselnya bergetar kembali. Sebuah panggilan video masuk. Di layar, muncul wajah Jake yang pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, namun matanya langsung berbinar saat melihat Takara.
"Ra! Akhirnya diangkat," suara Jake serak, khas orang kelelahan. "Lihat deh, gue nemu foto lama kita di dompet... lo lucu banget pas masih pake behel."
Takara terpaku. Di antara ribuan penggemar yang meneriakkan namanya, Jake justru memilih menghabiskan lima menit waktu istirahatnya hanya untuk melihat wajah Takara yang baru bangun tidur lewat layar kecil.
Inilah friendzone yang paling berbahaya: ketika dia memberikan seluruh perhatiannya, tapi tidak memberikan hatinya.
———
Takara menyampirkan tas kanvasnya, berisi sketsa-sketsa desain yang setengah matang. Ia melangkah keluar dari houseboat, menyambut udara pagi Amsterdam yang segar namun menggigit. Alih-alih terburu-buru mengejar trem, ia memilih berjalan kaki. Di kota ini, setiap sudut adalah galeri seni, dan bagi mahasiswa jurusan desain sepertinya, ini adalah surga.
Ia berjalan menyusuri trotoar berbatu di sepanjang kanal. Langkahnya santai, menikmati bunyi gesekan sol sepatunya dengan jalanan yang lembap.
"Pagi, Mr. Van Dijk!" sapa Takara ramah kepada seorang penjual bunga yang sedang menata tulip-tulip segar. Ia juga menyempatkan diri melambai pada nenek penjual pernak-pernik antik yang selalu memberinya diskon hanya karena Takara suka mendengarkan cerita masa lalunya.
Senyum manis Takara merekah alami. Kehidupan ini begitu tenang, begitu nyata. Sesuatu yang sangat mewah bagi orang seperti Jake.
Di tengah jembatan kayu yang melintasi kanal, Takara berhenti. Ia mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera ke arah deretan rumah-rumah ramping berwarna-warni yang terpantul di air sungai yang tenang, lengkap dengan sepeda-sepeda yang terparkir rapi di pagar jembatan.
Ia merekam video pendek berdurasi sepuluh detik. Tanpa filter, tanpa naskah. Hanya suara angin dan denting bel sepeda di kejauhan.
Takara: "Lihat, Jake. Dunia nggak cuma soal lampu panggung dan makeup tebal. Di sini, matahari baru bangun dan semua orang nggak peduli siapa gue. I wish you could breathe this air too."
Sent.
Takara kembali melangkah. Ia tahu, di belahan dunia lain, video itu mungkin akan ditonton Jake di dalam mobil van yang gelap, di sela-sela jadwal pemotretan yang mencekik, atau di tengah kerumunan pengawal yang menjaganya ketat.
Ada rasa bersalah yang aneh setiap kali Takara membagikan potongan hidupnya yang damai. Ia seolah sedang memamerkan "oksigen" kepada seseorang yang sedang tenggelam. Takara bebas mencintai dunia, sementara Jake hanya bebas mencintai kariernya.
Sesampainya di gerbang kampus, sebuah notifikasi balasan masuk. Bukan pesan teks, melainkan sebuah foto.
Jake mengirimkan foto selfie di depan cermin besar ruang latihan. Wajahnya basah oleh keringat, rambutnya berantakan, dan di tangannya ada botol air mineral yang sudah kosong. Tapi yang membuat jantung Takara berhenti sejenak adalah ekspresi Jake.
Laki-laki itu tersenyum lebar sambil menunjuk ke arah layar ponsel lain di tangannya yang sedang memutar video kiriman Takara.
Jake: "Makasih, Ra. Video lo bikin oksigen di paru-paru gue rasanya penuh lagi. Tunggu ya, suatu hari nanti, gue bakal jalan di samping lo di jembatan itu. Just you and me. No cameras, no fans. Just us."
Takara terdiam di depan lobi kampus. Kalimat "Just us" itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra. Jake selalu tahu cara membuatnya melambung, sekaligus cara mengingatkannya bahwa mereka hanya bisa sedekat itu lewat layar kaca.
———
Di belahan dunia lain, di dalam gedung manajemen yang megah di Seoul, suasana ruang tunggu member ENHYPEN tampak kontras dengan ketenangan Amsterdam. Musik bass berdentum dari ruang latihan sebelah, dan staf berlalu-lalang dengan cepat.
Namun, di salah satu sudut sofa, Jake tampak seperti berada di dimensinya sendiri. Ia menatap layar ponsel dengan senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan, jenis senyum yang hanya muncul saat ada notifikasi dari Takara.
Para member lain yang sedang beristirahat hanya bisa saling lirik. Mereka sudah hafal di luar kepala.
"Lagi? Amsterdam lagi?" celetuk Sunghoon sambil meneguk air mineral, matanya melirik layar ponsel Jake yang masih memutar video jembatan kanal.
Jake tidak membantah, ia justru memutar balik video itu untuk kesepuluh kalinya. "Lo lihat deh, Hoon. Udaranya kayaknya seger banget di sana. Takara bilang dia baru mau ke kampus."
"Jake, kita semua tahu Takara mahasiswa desain, kita tahu dia tinggal di houseboat, dan kita bahkan tahu dia punya tetangga penjual bunga namanya Mr. Van siapa-lah itu," potong Heeseung sambil terkekeh pelan. "Lo ceritain itu ke kita hampir setiap hari."
Bagi para member, Takara adalah sosok "sahabat legendaris" yang belum pernah mereka temui secara langsung, namun seolah-olah sudah tinggal bersama mereka di dorm.
Jake tidak pernah bisa menyimpan rahasia tentang Takara.Kalau Jake sedang stres karena koreografi, dia curhat ke Takara. Kalau Jake sedang rindu rumah, dia menelepon Takara. Bahkan kalau Jake baru saja membeli baju baru, orang pertama yang ia mintai pendapat adalah Takara lewat mirror selfie.