kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jejak di Pasir Waktu dan Tantangan Warisan
Tahun demi tahun berlalu di Aethelgard. Kerajaan itu telah berkembang menjadi sebuah peradaban yang makmur, mercusuar bagi mereka yang mencari harmoni dan keseimbangan. Ryo, Raja Aethelgard, dan Lyra, Ratu mereka, tidak lagi sering terjun langsung ke dalam konflik, namun peran mereka sebagai arsitek perdamaian dan stabilitas tidak pernah berhenti. Ordo Penjaga Benang, yang mereka dirikan, telah menjadi kekuatan global, dengan para Dalang dan pemimpin spiritual dari berbagai bangsa datang untuk belajar dan menyebarkan ajaran tentang Benang Asal dan Kehendak Bebas.
Anak-anak mereka, sepasang putra dan putri kembar bernama Kaelen dan Lyraea, kini telah tumbuh dewasa. Kaelen, sang pangeran, mewarisi kepekaan Ryo terhadap benang-benang eterik, meskipun dengan cara yang lebih lembut dan intuitif. Lyraea, sang putri, memiliki kecerdasan dan empati ibunya, dengan kemampuan alami untuk menyatukan orang dan menyembuhkan luka. Keduanya adalah perwujudan dari keseimbangan yang telah diperjuangkan Ryo dan Lyra.
Namun, bahkan di era kedamaian, tantangan baru selalu muncul. Kali ini, bukan ancaman eksternal yang melahap atau memanipulasi, melainkan tantangan internal yang lebih halus: bagaimana mempertahankan warisan.
Suatu hari, seorang Dalang muda dari Valoria, bernama Arion, datang ke Aethelgard. Ia adalah Dalang yang berbakat, namun memiliki pandangan yang radikal. Arion percaya bahwa dengan Benang Asal yang kini teranyam kuat, Dalang Jiwa memiliki hak untuk "mengoptimalkan" benang-benang individu, mempercepat pertumbuhan spiritual, bahkan "menghapus" benang-benang kelemahan atau keraguan dari jiwa seseorang. Ia melihat Benang Asal sebagai alat untuk menciptakan kesempurnaan, bukan hanya keseimbangan.
"Yang Mulia," kata Arion kepada Ryo dan Lyra dalam sebuah audiensi di perpustakaan istana. "Dengan Benang Asal yang aktif, kita memiliki cetak biru untuk jiwa yang sempurna. Mengapa kita harus membiarkan kelemahan, ketakutan, dan keraguan tetap ada di anyaman? Bukankah itu berarti kita mengabaikan potensi sejati kita?"
Ryo mendengarkan dengan sabar, merasakan benang Arion. Benang itu kuat, bersemangat, namun juga dipenuhi dengan sebuah idealisme yang naif dan potensi bahaya. Ia melihat benang itu ingin melakukan kebaikan, tetapi dengan cara yang salah.
"Arion," Ryo memulai, suaranya tenang. "Kelemahan dan keraguan adalah bagian dari anyaman kehendak bebas. Mereka adalah simpul yang menguji kita, yang membentuk kita. Menghapusnya berarti menghapus pilihan, menghapus pengalaman, menghapus esensi dari siapa kita."
Lyra menambahkan, "Benang Asal adalah tentang kehendak bebas, bukan kesempurnaan paksa. Setiap benang memiliki hak untuk menenun takdirnya sendiri, dengan segala simpul dan kekusutan yang mungkin ada. Tugas kita adalah membimbing, bukan memaksa."
Namun, Arion tidak mudah diyakinkan. Ia melihat pemahaman Ryo sebagai "kemandegan," sebuah ketakutan untuk mengambil langkah maju. Ia mulai menyebarkan idenya di antara Dalang-Dalang muda dan pemimpin spiritual lainnya, menemukan beberapa pendukung yang terpesona oleh gagasan kesempurnaan.
Situasi ini menciptakan keretakan halus di dalam Ordo Penjaga Benang, dan bahkan di beberapa wilayah Aethelgard. Orang-orang mulai mempertanyakan: apakah keseimbangan berarti mempertahankan status quo? Atau haruskah mereka berusaha untuk "meningkatkan" diri mereka sendiri, menggunakan pengetahuan Benang Asal untuk menciptakan jiwa yang tanpa cacat?
Ryo merasakan benang-benang perdebatan ini menyebar, mengancam untuk memecah belah harmoni yang telah ia bangun dengan susah payah. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi hanya menjelaskan secara verbal. Ia harus bertindak.
"Kita akan mengadakan sebuah pertemuan besar," Ryo memutuskan, berbicara kepada Lyra dan Master Eldrin. "Pertemuan semua Dalang dan pemimpin spiritual dari seluruh dunia. Arion akan diberikan kesempatan untuk menyampaikan visinya. Dan aku... aku akan menyampaikan visiku tentang apa artinya menjadi Dalang di era Benang Asal yang teranyam."
Lyra merasakan benang tekad Ryo, yang kini teranyam dengan sedikit kesedihan. Ini adalah pertarungan filosofis, pertarungan untuk jiwa Ordo Penjaga Benang itu sendiri. Ini adalah tantangan untuk warisan mereka, untuk semua yang telah mereka perjuangkan.
Pertemuan itu diadakan di aula utama istana Aethelgard, yang dulu menjadi tempat Ryo pertama kali membuat Anyaman Suci. Ratusan wajah, dari berbagai bangsa dan kepercayaan, memenuhi ruangan. Arion berbicara dengan penuh semangat, memproyeksikan visinya tentang dunia yang sempurna, sebuah anyaman tanpa cacat, tanpa rasa sakit, tanpa keraguan. Banyak yang terpesona.
Ketika giliran Ryo, ia tidak berbicara tentang kekuatan atau manipulasi. Ia berbicara tentang boneka Elara, yang selalu ia bawa, bahkan di acara-acara resmi. Ia menceritakan kembali kisah Elara, kisah kesalahannya, dan bagaimana melalui kekalahan itu, ia belajar tentang harga dari mencoba "memperbaiki" benang orang lain.
"Setiap benang memiliki keutuhannya sendiri," Ryo menyatakan, suaranya tenang namun bergema di hati setiap orang. "Benang Asal bukanlah cetak biru untuk kesempurnaan. Ia adalah cetak biru untuk Kehendak Bebas. Untuk memilih. Untuk belajar. Untuk merasakan sakit, dan melalui itu, tumbuh. Menghapus simpul-simpul yang tidak kita sukai berarti menghapus pelajaran, menghapus pilihan. Itu bukan Dalang. Itu adalah tirani."
Ia kemudian menceritakan tentang Mulut Jurang, tentang bagaimana ia tidak menghancurkannya, melainkan mengikatnya, mengintegrasikan kehampaan itu ke dalam anyaman keberadaan. Ia bercerita tentang Kresna, tentang bagaimana ia tidak membunuhnya, melainkan memutus benang dominasinya, memberinya kesempatan untuk menemukan jalan sendiri.
"Tugas kita," Ryo menyimpulkan, matanya menatap tajam ke arah Arion, "bukanlah menciptakan jiwa yang sempurna. Tugas kita adalah membantu setiap jiwa untuk menemukan benangnya sendiri, untuk menenun takdirnya sendiri, dengan segala keragaman dan kesempurnaannya. Untuk menghormati Benang Asal, kita harus menghormati kehendak bebas. Bahkan jika kehendak bebas itu memilih jalan yang tidak kita pahami."
Ryo mengulurkan tangannya, seperti yang ia lakukan pada konferensi dengan Valoria bertahun-tahun yang lalu. "Aku tidak akan memaksamu untuk percaya," katanya kepada Arion dan para pendukungnya. "Melainkan, aku akan membuatmu merasakan. Aku akan membuatmu merasakan anyaman kehidupan, dengan segala kerumitan dan keindahannya. Dengan segala simpul dan kekusutannya. Dan kemudian, kau yang akan memilih. Karena itulah esensi Benang Asal."
Ia mengaktifkan Anyaman Pemahaman. Kali ini, ia tidak hanya memproyeksikan kebaikan dan harmoni. Ia memproyeksikan benang-benang perjuangan, benang-benang kesedihan, benang-benang keraguan—semua teranyam dengan benang-benang keberanian, cinta, dan pertumbuhan. Ia memproyeksikan keindahan dari sebuah jiwa yang tidak sempurna, namun otentik.
Arion, dan para pendukungnya, merasakan gelombang kompleksitas kehidupan. Mereka merasakan keindahan dari benang-benang yang tidak sempurna, yang belajar dan tumbuh melalui kesulitan. Mereka merasakan kesedihan yang diperlukan untuk memahami sukacita, keraguan yang memicu pencarian kebenaran. Mereka merasakan bahwa "kesempurnaan paksa" itu hampa, tidak memiliki kedalaman.
Ketika Ryo menarik kembali Anyaman Pemahamannya, Arion berlutut. Air mata mengalir di pipinya. "Yang Mulia," ia berbisik. "Aku... aku telah salah. Visi saya... adalah tirani yang terselubung. Saya melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan. Saya merasakan kehendak bebas."
Konflik ideologi telah teratasi, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan pemahaman yang lebih dalam tentang Benang Asal itu sendiri. Ryo telah berhasil melindungi warisan yang ia ciptakan, bukan dengan mendominasi, melainkan dengan mengajarkan esensi kehendak bebas itu sendiri. Aethelgard terus berdiri teguh, sebuah bukti hidup bahwa keseimbangan sejati ada dalam menerima segala aspek kehidupan, dengan segala kekusutan dan keindahannya. Warisan Ryo dan Lyra terus berlanjut, bukan hanya dalam hukum atau monumen, tetapi dalam benang-benang jiwa setiap individu yang menghuni anyaman kehidupan.