NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang Lunas

Waktu berlalu seperti kedipan mata. Delapan belas tahun kemudian, kediaman Graciano masih berdiri megah, namun energinya kini jauh lebih tenang dan berwibawa.

Malam ini adalah pesta kelulusan Kenzo dan Zella dari universitas bergengsi, sebuah perayaan yang menandai transisi kepemimpinan generasi baru.

​Di ruang kerja utama, Kenzo berdiri di depan cermin, merapikan dasinya. Di usia dua puluh empat tahun, ia adalah bayangan cermin Kenneth saat muda, rahang yang tegas, tatapan mata yang mengintimidasi, dan aura kepemimpinan yang alami. Namun, ada satu perbedaan besar, matanya tidak lagi menyimpan kegelapan dendam, melainkan ambisi yang sehat.

​Kenneth masuk ke ruangan, rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis, namun karismanya tidak memudar sedikit pun. Ia menepuk bahu putranya.

​"Kau siap mengambil alih Graciano Group, Kenzo?" tanya Kenneth.

​Kenzo berbalik, tersenyum tipis, senyum yang dulu sangat langka bagi ayahnya. "Aku sudah belajar dari yang terbaik, Dad. Aku akan memastikan nama kita tetap di puncak, tapi dengan cara yang membuat Mommy bangga."

​Kenneth mengangguk haru. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih baik pada sosok Kenzo.

​Sementara itu, di taman belakang yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu, Zella tampil memukau dengan gaun satin berwarna emerald. Ia mewarisi kelembutan Hazel, namun memiliki kecerdasan tajam yang ia pelajari dari Kenneth dan Arthur. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang psikologi, ingin membantu orang-orang seperti Bibi Kiana yang dulu pernah berjuang dengan kesehatan mental.

​"Zella, kau cantik sekali," puji Hazel yang berdiri di sampingnya. Hazel hampir tidak terlihat menua; kebahagiaan seolah mengunci kecantikannya.

​"Terima kasih, Mom," Zella memeluk ibunya. "Apakah Daddy dan Uncle Arthur sudah berhenti berdebat tentang siapa yang akan memberikan pidato pertama?"

​Hazel tertawa kecil. "Kau tahu pria-pria dalam keluarga ini. Mereka selalu berebut untuk menunjukkan siapa yang paling menyayangimu."

​Saat acara dimulai, Kenneth dan Arthur berdiri berdampingan. Hubungan mereka bukan lagi sekadar formalitas, melainkan persahabatan yang dalam.

​"Lihat mereka," ucap Arthur sambil menunjuk Kenzo dan Zella yang sedang berbincang dengan para tamu. "Siapa sangka mereka tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa setelah semua kekacauan yang kita buat dulu?"

​Kenneth menyesap minumannya, matanya tak lepas dari Hazel yang sedang tertawa di kejauhan. "Itu karena Hazel. Dia adalah jangkar yang menahan kita agar tidak tenggelam dalam kebencian kita sendiri."

​Di akhir acara, Kenneth mengajak Kenzo dan Zella ke balkon tempat ia pertama kali memberikan jam tangannya pada Kenzo dulu.

​"Tujuh belas tahun yang lalu, di tempat ini, aku memberikan jam tangan ini pada Kenzo," ucap Kenneth sambil menyentuh jam tangan Patek Philippe yang kini melingkar di pergelangan tangan Kenzo. "Saat itu aku bilang, hutang belum lunas."

​Kenzo dan Zella mendengarkan dengan penuh hormat.

​"Sekarang, aku ingin mengatakan hal yang berbeda," lanjut Kenneth, suaranya sedikit bergetar. "Hutang masa laluku sudah lunas melalui kebahagiaan kalian. Tugas kalian bukan lagi membalas dendam atau menebus kesalahan orang tua kalian. Tugas kalian adalah menciptakan kenangan baru yang jauh lebih indah."

​Zella memeluk ayahnya dari samping, sementara Kenzo menjabat tangan ayahnya dengan erat. "Kami berjanji, Dad."

​Malam itu ditutup dengan foto keluarga yang utuh. Kenneth merangkul Hazel, dengan kedua anak mereka yang sudah dewasa berdiri dengan gagah di samping mereka. Sejarah kelam itu benar-benar telah terkubur, digantikan oleh warisan cinta yang akan terus mengalir hingga generasi berikutnya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!