Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Racun di Balik Bingkai
Arkanza berdiri terpaku di ruang kerjanya. Foto di tangannya itu tampak kusam, namun wajah ibunya yang cantik terlihat jelas sedang tersenyum di samping seorang pria muda yang sangat ia kenali—Alan.
"Kau pikir dia obatmu? Dia adalah racun yang sengaja dikirim dari masa lalu untuk menghancurkanmu," pesan Dion terus terngiang di kepalanya.
Rahang Arkanza mengeras hingga urat lehernya menonjol. Sesak napas yang biasanya hilang saat ada Aira, kini kembali muncul. Bukan karena alergi, tapi karena rasa dikhianati yang menghimpit dadanya.
Ceklek.
Pintu terbuka. Aira masuk dengan membawa segelas susu hangat, wajahnya masih mengenakan plester kecil di pipi bekas tamparan ayahnya.
"Tuan, ini sudah malam. Anda harus istirahat," ucap Aira lembut.
"Jangan mendekat!" bentak Arkanza tiba-tiba. Ia berbalik dengan gerakan secepat kilat, matanya merah menyala penuh amarah.
Aira tersentak mundur hingga punggungnya menabrak pintu. "T-Tuan... ada apa? Apa saya melakukan kesalahan?"
Arkanza berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman palu hakim. Ia mengangkat foto itu tepat di depan wajah Aira. "Bisa kau jelaskan padaku, siapa pria di samping ibuku ini?"
Aira menyipitkan mata, mencoba melihat gambar kusam itu. Detik berikutnya, napasnya tertahan. "Ini... ini Ayah. Tapi, kenapa Ayah bisa bersama ibu Anda? Dan kenapa wajah mereka... mereka terlihat sangat akrab?"
"Sangat akrab? Kau menyebutnya akrab?" Arkanza tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Mereka terlihat seperti sepasang kekasih, Aira! Dan kau... kau datang padaku di malam yang tepat, di hotel yang tepat, seolah-olah takdir memang sudah mengaturnya!"
"Tunggu, Tuan! Apa maksud Anda?" Aira mulai terisak. "Saya tidak tahu apa-apa soal foto ini! Saya bersumpah!"
"BOHONG!" Arkanza mencengkeram bahu Aira, mendorongnya hingga terhimpit ke daun pintu. "Dion benar. Ayahmu adalah orang kepercayaan ibuku. Dan sekarang aku sadar, pernikahan ini bukan kebetulan. Berapa banyak yang direncanakan ayahmu? Berapa miliar yang kalian targetkan untuk merampok hartaku melalui sandiwara 'obat hidup' ini?!"
"Demi Tuhan, Tuan Arkan! Saya tidak serendah itu!" teriak Aira dengan air mata yang mulai menderas. "Ayah saya memang penjudi, dia memang jahat! Tapi saya tidak pernah tahu dia mengenal keluarga Anda! Saya ditabrak oleh Anda malam itu karena saya sedang melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa saya!"
"Hentiikan aktingmu, Aira Kirana!" Arkanza mencengkeram rahang Aira, memaksanya menatap mata elangnya yang penuh luka. "Kau tahu apa yang paling aku benci? Pengkhianatan. Aku sudah mulai memercayaimu, aku bahkan sudah mulai merasa nyaman saat memelukmu semalaman. Tapi ternyata, kau adalah racun yang paling berbahaya."
"Jika saya adalah racun, kenapa Anda tidak mati saat menyentuh saya?" tantang Aira dengan suara parau. "Jika ini semua rencana Ayah, kenapa tubuh Anda justru merasa tenang saat di dekat saya? Apa tubuh Anda juga berbohong?"
Arkanza terdiam sejenak. Pertanyaan Aira menusuk tepat ke logikanya yang sedang kacau. Namun, egonya jauh lebih tinggi. "Mungkin itu bagian dari rencanamu. Memberiku kenyamanan palsu sebelum akhirnya kau menusukku dari belakang."
"Anda kejam, Tuan Arkanza. Anda benar-benar monster yang tidak punya hati," bisik Aira dengan nada kecewa yang mendalam.
"Memang! Dan kau baru saja menyadarinya?" Arkanza melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Aira jatuh terduduk di lantai. Gelas susu di nampan tersenggol dan pecah berkeping-keping, membasahi ujung gaun tidur Aira.
"Bersihkan kekacauan ini, dan jangan pernah keluar dari kamar tanpa izin dariku!" bentak Arkanza. "Mulai malam ini, hubungan kita hanya sebatas transaksi medis. Kau adalah alatku untuk bernapas, tidak lebih! Jangan harap kau akan mendapatkan satu inci pun dari kepercayaanku lagi!"
Arkanza melangkah keluar dari ruangan, membanting pintu dengan kekuatan yang membuat seluruh ruangan bergetar. Ia mengunci pintu itu dari luar.
Di dalam kamar, Aira terisak hebat di lantai yang basah. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengumpulkan pecahan kaca. Di tengah kesedihannya, matanya tertuju pada foto yang terjatuh di dekatnya. Ia membalik foto itu.
Ada tulisan tangan yang sangat halus di balik foto tersebut:
"Alan, jika sesuatu terjadi padaku, tolong lindungi Arkanza. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di rumah ini. Hanya kau yang tahu siapa yang sebenarnya menginginkan kematianku."
Aira terpaku. Napasnya tercekat. "Lindungi Arkanza? Pembunuh sebenarnya?"
Ia memegang dadanya yang sesak. Ternyata, ayahnya bukan penghancur bagi ibu Arkanza, melainkan orang yang dititipi pesan rahasia. Namun, bagaimana ia bisa memberitahu Arkanza, jika pria itu kini memandangnya sebagai musuh?
Di luar kamar, di balik pintu yang tertutup, Arkanza menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia meremas dadanya yang kembali terasa nyeri. Bukan karena bintik merah, tapi karena hatinya yang terasa hancur berkeping-keping saat melihat air mata Aira.
"Kenapa..." bisik Arkanza pada kegelapan. "Kenapa setiap kali aku mulai peduli, dunia selalu mengingatkanku bahwa aku tidak pantas untuk dicintai?"
...****************...
Aira menyadari bahwa jika ia bisa menemukan ayahnya dan menanyakan rahasia itu, ia bisa membuktikan dirinya tidak bersalah. Namun, di saat yang sama, ia melihat dari jendela kamar, Dion sedang berdiri di bawah lampu taman mansion, menatap ke arah kamarnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Dion mengangkat ponselnya, mengirim pesan baru ke Aira: "Mau tahu rahasia kematian ibu Arkanza? Temui aku di taman belakang sekarang, atau suamimu yang malang itu akan mati tanpa tahu kebenarannya."