Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Cumbu di Balik Badai
Genevieve tidak ingin memikirkan siapa yang membersihkan lantai atau dari mana roti hangat itu berasal.
Rasa lelah yang bercampur dengan suhu dingin membuatnya hanya menginginkan satu hal: tempat tidur. Ia mengabaikan susu madu itu, meski aromanya begitu menggoda, dan langsung naik ke kamarnya di loteng.
Di luar, langit seolah sedang mengamuk. Guntur menggelegar sahut-menyahut, diikuti kilatan petir yang membelah kegelapan malam.
Hujan turun semakin deras, menghantam atap seng dengan irama yang riuh namun entah mengapa terasa seperti pengantar tidur yang sempurna.
Genevieve menarik selimut wolnya hingga ke telinga, meringkuk mencari kehangatan, dan dalam hitungan menit, ia pun jatuh terlelap.
Suasana tidur itu begitu enak, begitu pulas... sampai perlahan-lahan kesadarannya mulai terusik oleh sesuatu yang ganjil.
Di tengah mimpinya yang kabur, Genevieve merasakan sebuah hawa dingin yang kontras dengan kehangatan selimutnya. Hawa itu merayap pelan, melingkari tubuhnya seperti kabut musim dingin. Lalu, ia merasakannya—sentuhan lembut namun tegas.
Seseorang, atau sesuatu, sedang berada sangat dekat dengannya.
Bulu kuduk Genevieve berdiri saat ia merasakan napas dingin yang tidak berhembus, namun terasa seperti getaran di permukaan kulitnya. Sebuah bibir yang sekeras marmer dan sedingin es menempel di ceruk lehernya. Sentuhan itu tidak kasar; itu adalah ciuman yang lambat, penuh kerinduan, dan sangat posesif.
"Mmhh..." Genevieve bergumam dalam tidurnya, kepalanya miring ke samping tanpa sadar, seolah memberikan akses lebih luas bagi tamu tak diundang itu.
Aroma mawar liar dan anggur merah yang sangat kuat kini memenuhi indra penciumannya, memabukkannya bahkan dalam kondisi tidak sadar.
Ciuman itu berpindah dari leher ke garis rahangnya, meninggalkan jejak dingin yang membuat jantung Genevieve berdetak tidak beraturan dalam tidurnya.
Ia merasa seolah-olah sedang tenggelam dalam lautan es yang manis. Ia ingin membuka mata, ingin berteriak dan mendorong sosok itu seperti yang ia lakukan tempo hari, namun tubuhnya terasa sangat berat, seakan-akan badai di luar sana telah menghipnotisnya untuk tetap diam.
Di tengah kilatan petir yang menerangi kamar sesaat, sebuah bayangan tinggi membungkuk di atasnya. Mata yang biasanya merah pekat itu kini meredup, menatap wajah tidur Genevieve dengan intensitas yang mengerikan sekaligus memuja.
"Sudah kubilang, Genevieve..." sebuah bisikan parau yang sangat halus menyentuh telinganya, menyatu dengan suara gemuruh guntur. "Kegelapan ini tidak akan pernah benar-benar membiarkanmu pergi."
Dalam kabut tidurnya, Genevieve merasa garis antara kenyataan dan mimpi benar-benar lebur.
Awalnya, sentuhan di lehernya terasa sedingin es yang tajam, namun perlahan, suhu itu berubah. Seperti sebuah keajaiban yang tidak masuk akal, bibir yang mencumbunya itu mulai terasa hangat—hangat yang pas, seperti pelukan di tengah badai salju.
"Mmhh... jangan pergi..." racau Genevieve pelan.
Gadis itu bergerak gelisah di bawah selimutnya, namun bukannya menjauh, ia justru semakin menyandarkan kepalanya ke arah sentuhan itu.
Rasa nyaman yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya. Ciuman-ciuman halus itu terasa begitu protektif, seolah sosok yang berada di kegelapan itu sedang menyalurkan seluruh sisa kehidupan yang ia miliki hanya untuk memastikan Genevieve tetap hangat di malam yang dingin ini.
Genevieve mengigau kecil, bibirnya membentuk lengkungan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan saat terjaga. Dalam pikirannya yang setengah sadar, ia merasa seperti sedang dijaga oleh malaikat maut yang lembut.
Ia tidak lagi merasa sendirian atau kesepian seperti saat ia jatuh dari sepeda sore tadi.
Valerius—yang memang berada di sana—tertegun sejenak mendengar igauan itu. Tangan pucatnya yang tadinya ingin menarik diri, kini justru terulur untuk membelai pipi Genevieve dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah barang porselen yang bisa hancur kapan saja.
"Kau hanya menginginkanku saat kau bermimpi, Little Librarian," bisik Valerius dengan nada getir yang manis.
Ia terus mengecup ceruk leher Genevieve, menyesap wangi tubuh gadis itu yang selalu membuatnya mabuk. Malam itu, di bawah raungan badai dan petir, Valerius melanggar perintah Genevieve untuk pergi.
Ia tidak bisa. Bagi seorang monster yang telah hidup berabad-abad, kehangatan tidur Genevieve adalah satu-satunya rumah yang tersisa untuknya.
Valerius benar-benar telah kehilangan kendali atas akal sehatnya.
Aroma Genevieve malam ini, yang bercampur dengan sisa-sisa aroma hujan dan kehangatan tempat tidur, menjadi candu yang jauh lebih kuat daripada dahaganya akan darah. Bagi Valerius, ceruk leher Genevieve adalah sebuah altar, dan ia adalah pemuja yang tidak ingin berhenti bersujud di sana.
Ia membenamkan wajahnya lebih dalam, hidungnya menyesap setiap inci kulit halus itu dengan napas yang mulai memburu.
Setiap kali ia menghirup aroma itu, ia seolah ditarik kembali ke masa ratusan tahun lalu—saat ia masih bisa merasakan sinar matahari dan detak jantungnya sendiri. Genevieve adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkannya dengan kemanusiaan yang telah lama hilang.
"Indah... sangat indah," bisik Valerius nyaris tak terdengar, suaranya parau karena menahan gejolak yang membakar dadanya.
Bibirnya kini tidak hanya mengecup, tapi mulai menghisap pelan kulit di sana, menciptakan sebuah tanda merah keunguan yang kontras di atas kulit Genevieve yang putih bersih. Ia tahu ini salah. Ia tahu ia telah berjanji untuk pergi.
Namun, melihat Genevieve yang mengigau nyaman di bawah sentuhannya, Valerius merasa egoismenya menang.
Tangannya yang dingin perlahan merayap di bawah tengkuk Genevieve, mengangkat sedikit kepala gadis itu agar ia bisa mencapai sudut leher yang lebih dalam.
Genevieve justru mendesah lembut dalam tidurnya, tangannya bergerak tanpa sadar mencengkeram lengan baju Valerius yang rapi, seolah meminta sosok dalam "mimpinya" itu untuk tetap tinggal.
Cengkeraman kecil itu membuat Valerius mematung. Matanya yang gelap berkilat penuh emosi.
Ia terus menerus menghirup harum itu, seolah ingin menyimpan aroma Genevieve di dalam paru-parunya yang mati agar ia bisa bertahan hidup jika suatu saat nanti ia benar-benar harus pergi selamanya.
Malam itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, Valerius tidak lagi menjadi monster yang ditakuti; ia hanyalah seorang pria yang malang, yang terperangkap dalam obsesi manis pada seorang gadis yang telah mengusirnya.
keren
cerita nya manis