Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Lampu-lampu jalanan Seoul mulai berpijar satu demi satu saat malam menjelang, memberikan kilau keemasan pada permukaan aspal yang masih sedikit basah akibat gerimis yang turun beberapa jam yang lalu. Cahaya itu menyebar melalui celah-celah tirai jendela rumah Axel, menciptakan pola-pola bayangan yang menarik di lantai kayu parket yang mengkilap. Ia memutar kunci pintu dengan gerakan yang lambat dan lelah, suara klik kunci yang terdengar jelas memecah kesunyian malam di luar.
Keheningan segera menyambutnya begitu pintu terbuka, hanya diiringi dengan desis lembut dari pendingin ruangan yang bekerja tanpa lelah di sudut ruang tamu. Udara dalam rumah terasa sejuk dan segar, bercampur dengan aroma kayu dan sedikit wangian lavender yang berasal dari lilin yang pernah dinyalakan Lusy saat masih berada di Korea.
Setelah seharian berkutat dengan aroma antiseptik yang menusuk hidung dan tekanan yang melilit dada di rumah sakit, rumah ini seharusnya menjadi tempatnya beristirahat dan melepaskan semua beban yang ditanggung. Namun, bagi Axel, istirahat yang sesungguhnya belum pernah dimulai sampai ia mendengar suara dari belahan dunia lain—suara yang selalu mampu menghapus semua rasa capek yang ada dalam dirinya.
Axel segera melempar jas dokternya yang masih sedikit berbau antiseptik ke atas sofa kain yang lembut, tidak peduli jika sedikit mengacaukan bentuk bantal yang tersusun rapi di sana. Kakinya yang terasa berat bergerak dengan sendirinya menuju meja makan, di mana ponselnya sudah terisi daya penuh setelah ditinggalkan sejak pagi hari. Jam di dinding kayu besar menunjukkan pukul delapan tepat malam; di Australia, di kota Adelaide tempat Lusy bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di sebuah universitas negeri, hari sudah merangkak lebih jauh—menjelang tengah hari yang cerah dan penuh aktivitas. Tanpa menunggu lama, jemarinya yang masih sedikit gemetar karena kelelahan menyentuh layar sentuh ponsel, mencari nama kontak yang sudah tersimpan di bagian paling atas daftar panggilan.
Detik-detik nada tunggu yang terdengar melalui speaker ponsel terasa seperti berlangsung selama berabad-abad, setiap jeda membuat hatinya berdebar lebih cepat. Ia merasakan keringat dingin muncul di pelipisnya, meskipun ruangan sudah cukup sejuk. Hingga akhirnya, layar ponselnya yang tadinya menampilkan gambar profil Lusy berubah menjadi wajah wanita itu yang penuh keceriaan, senyumnya yang hangat seketika menghapus seluruh penat yang menumpuk di pundaknya.
"Hai, Dokter Jenius yang Terlalu Banyak Bekerja."
Suara lembut Lusy menyapa melalui speaker, disertai senyum lebar yang membuat mata almondnya menyipit dengan cantik. Garis-garis halus di sekitar matanya yang muncul saat ia tersenyum selalu membuat Axel merasa tenang—seolah-olah dunia tidak pernah memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan.
Axel mengembuskan napas panjang, udara yang keluar dari paru-parunya terasa hangat setelah menahan napas sejenak. Bibirnya tertarik membentuk senyum tulus yang jarang ia tunjukkan pada siapapun selain wanita di layar itu. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu yang sudah tua namun tetap kokoh di ruang makan, merasakan bagaimana kekakuan di otot-otot punggungnya mulai sedikit mereda.
"Hai, Nona Dosen yang Paling Rajin di Seluruh Hemisfer Selatan." Jawabnya dengan nada yang penuh kehangatan, matanya tidak pernah menyimpang dari wajah Lusy yang muncul di layar. "Kamu belum tidur? Jam di sana kan sudah cukup larut bukan?"
Lusy menggelengkan kepalanya dengan lembut, kemudian menyandarkan dagunya di telapak tangannya yang ramping. Kuku-kukunya yang dipoles dengan warna merah muda terlihat jelas di bawah cahaya. Di belakangnya, tampak deretan rak buku yang tinggi sampai ke langit-langit apartemennya di Australia, sebagian besar berisi buku tentang sastra dan bahasa Inggris dari berbagai zaman. Cahaya temaram dari lampu belajar yang berdiri di atas meja kerjanya menerangi wajahnya dengan lembut, membuatnya terlihat lebih hangat dan dekat walau mereka berada berjauhan.
"Baru saja selesai memeriksa esai mahasiswa semester ganjil ini." Jawabnya dengan suara yang sedikit lesu namun tetap penuh semangat.
Ia menghela napas perlahan, kemudian menoleh ke arah rak buku sebentar sebelum kembali menatap kamera. "Mereka mulai kreatif banget, sayang—terlalu kreatif mungkin. Ada satu mahasiswa yang menulis bahwa idiom 'cold feet' berarti kakinya benar-benar membeku karena musim dingin yang terlalu parah. Dia bahkan melampirkan gambar foto kakinya yang dibalut handuk hangat sebagai bukti. Aku butuh cangkir kopi lagi hanya untuk bisa tertawa sendirian sambil membacanya."
Axel terkekeh dengan suara yang dalam dan riang, tubuhnya merosot lebih jauh ke sandaran kursi sambil menggenggam ponselnya dengan kedua tangan. Suara tawa Lusy selalu mampu membuatnya merasa seolah-olah semua masalah yang ada di dunia ini hanyalah omong kosong yang tidak berarti. Ia merenungkan bagaimana hari ini di rumah sakit benar-benar penuh dengan tekanan dan kesibukan yang tiada akhir.
"Sepertinya kelas Bahasa Inggrismu lebih menghibur daripada bangsal IGD hari ini." Katanya sambil mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.
"Tadi Samuel hampir membuatku gila dengan candaan-candaannya yang tidak ada habisnya—bahkan sampai menyuruhku berhenti bekerja dan mengikutinya mencari makanan khas Seoul di pinggiran kota. Tapi setidaknya dia membantuku menyadari satu kesalahan fatal yang hampir membuatku memberikan hasil lab yang salah pada pasien."
Lusy mengangkat alisnya dengan ekspresi yang sedikit khawatir namun tetap penuh rasa ingin tahu. Ia menyusun rambut coklatnya yang panjang ke satu sisi bahu dengan gerakan yang lembut. "Samuel lagi ya? Dia memang penyeimbang yang kamu butuhkan, sayang. Tanpa dia, mungkin kamu sudah berubah jadi mikroskop manusia yang hanya bisa melihat hal-hal kecil dan melupakan dunia luar yang jauh lebih luas."
Godaan itu keluar dengan nada yang penuh kasih sayang, kemudian matanya menatap Axel dengan binar penuh kerinduan yang bisa diraih bahkan melalui lensa kamera ponsel. "Kamu kelihatan lelah sekali, sayang. Matamu merah dan wajahmu juga terlihat lebih kurus dari biasanya. Kamu tidak lupa makan kan? Aku tidak mau calon suamiku jadi kurus kering seperti kayu bakar saat kita bertemu nanti."
Mendengar kata 'bertemu', ada denyut halus namun kuat di dada Axel—seolah-olah sebuah peluit kecil berbunyi di dalam hatinya. Rasa rindu yang sudah lama menumpuk seperti ombak yang tiba-tiba pasang, menghanyutkannya dengan keinginan yang luar biasa untuk bisa menyentuh Lusy secara langsung, bukan hanya melalui layar kaca yang dingin. Ia menggerakkan bibirnya seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kemudian menahan diri dan hanya tersenyum lembut.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit terlalu fokus di lab rumah kemarin malam saja. Ayah sampai harus menyeretku keluar dari sana karena aku sudah tidak sadar waktu—bahkan sampai lupa makan malam bersama dia."
"Axel..."
Nada bicara Lusy tiba-tiba melembut, ada kekhawatiran yang jelas tersirat di dalamnya. Wajahnya yang tadinya penuh senyum kini berubah menjadi ekspresi yang lebih serius dan penuh perhatian. Ia menjepit bibir bawahnya dengan lembut, matanya menatap Axel dengan tatapan yang mendalam.
"Aku tahu ambisimu untuk menyembuhkan orang banyak itu luar biasa. Itu salah satu alasan aku jatuh cinta padamu—karena kamu memiliki hati yang besar dan tekad yang kuat untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Tapi tolong, jangan lupakan duniamu sendiri ya. Jangan lupakan bahwa kamu juga manusia yang butuh istirahat dan perawatan. Aku ingin kembali ke Korea dan menemukan Axel yang masih utuh—dengan tubuh dan pikiran yang sehat—bukan Axel yang cuma tinggal bayangan karena terlalu banyak bekerja dan melupakan diri sendiri."
Axel menatap wajah Lusy di layar dengan mata yang penuh rasa sayang dan sedikit rasa bersalah. Ia mengangkat jempol kirinya dan menyentuh permukaan kaca ponselnya dengan lembut, seolah bisa mengusap pipi wanita itu yang selalu ia rindukan. Kulitnya merasakan getaran lembut dari ponsel setiap kali Lusy berbicara, dan ia membayangkan bagaimana rasanya jika bisa merasakan sentuhan tangan Lusy yang lembut di wajahnya.
"Aku janji. Aku akan lebih berhati-hati dari sekarang. Aku tidak akan lagi membuat diriku kelelahan seperti ini. Oh, bicara soal kembali... kapan tepatnya jadwal cutimu keluar? Aku sudah mulai menghitung hari-harinya, kamu tahu kan?"
Lusy tertawa kecil dengan suara yang terdengar seperti melodi bagi telinga Axel—suara yang selalu mampu membuat hatinya berdebar dengan gembira. Ia menurunkan dagunya dari telapak tangannya, kemudian menyesakkan rambutnya yang sedikit berantakan karena gerakan sebelumnya.
"Sabar saja, Sayang. Semester ini hampir berakhir—hanya tinggal satu minggu lagi sebelum ujian akhir mereka. Papa bilang persiapan pembukaan cabang perusahaan makanan organiknya di Korea juga sudah hampir selesai. Jadi, kemungkinan besar bulan depan aku sudah bisa pulang dan memelukmu secara nyata—bukan hanya lewat sinyal internet yang kadang naik-turun dan membuat wajah kita terlihat seperti orang kartun yang pecah-pecah."
Batin Axel membuncah dengan kegembiraan yang luar biasa saat mendengar kabar itu. Jantungnya berdebar dengan cepat, dan ia merasa seperti ada sekumpulan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Sebuah ide liar namun menarik melintas cepat di kepalanya—sebuah ide yang sudah ia pikirkan selama beberapa waktu namun belum pernah ia sampaikan pada siapa pun, termasuk Lusy.
Ia teringat akan riset penawar racun universal yang sedang ia kerjakan dengan giat di lab rahasianya di belakang dapur rumahnya. Bagi Axel, keberhasilan riset itu bukan hanya sekadar pencapaian ilmiah semata—melainkan mahakarya yang ingin ia persembahkan sebagai bukti cinta dan perhatiannya pada Lusy. Bahwa ia mampu melindungi banyak orang, termasuk wanita yang dicintainya dengan seluruh jiwa dan raganya.
"Lusy, dengar... Jika kamu kembali nanti—saat kamu benar-benar berada di sini bersamaku—aku akan menyiapkan sesuatu yang sangat spesial untukmu. Sesuatu yang sedang aku kerjakan dengan seluruh jiwaku dan energiku sekarang ini."
Lusy mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi yang penuh rasa ingin tahu. Ia menyipitkan matanya sedikit, seolah mencoba menebak apa yang ada di pikiran Axel. Bibirnya sedikit terbuka, menunjukkan kegembiraan dan rasa penasaran yang besar.
"Apa itu? Cincin baru dengan desain yang lebih cantik? Atau kamu mau membawaku liburan romantis ke Pulau Jeju seperti yang kita rencanakan dulu?" tanyanya dengan suara yang penuh harapan. Ia kemudian menutupi mulutnya dengan tangan kecilnya sambil tertawa pelan. "Jangan bilang kamu sudah menyewa seluruh taman hiburan untuk kita berdua ya? Karena itu akan terlalu boros, sayang."
Axel tersenyum dengan ekspresi yang misterius dan penuh percaya diri. Ia menggoyangkan kepalanya perlahan, kemudian menjepit bibirnya dengan lembut seolah sedang menghindari diri untuk tidak mengatakan terlalu banyak. Ia tahu bahwa Lusy pasti tidak akan menyangka apa yang sebenarnya sedang ia kerjakan di balik semua kesibukannya.
"Lebih dari itu, Sayang. Ini adalah pencapaian terbesarku sejauh ini—sesuatu yang bisa mengubah banyak hal dalam dunia medis. Aku ingin saat kita bertemu nanti, aku bukan hanya Axel yang sukses sebagai dokter di rumah sakit besar. Aku ingin menjadi Axel yang berhasil mengubah dunia medis untuk yang lebih baik. Aku ingin memberimu rasa aman yang absolut—bahwa tidak ada bahaya apapun yang bisa menyakitimu atau orang-orang yang kita cintai."
Lusy melihatnya dengan wajah yang penuh cinta dan pemahaman. Ia menggelengkan kepalanya dengan lembut, kemudian memberikan senyum yang hangat dan tulus. Cahaya dari lampu belajar di belakangnya membuat rambutnya tampak seperti bersinar dengan kilau emas.
"Kamu sudah lebih dari cukup bagiku, Sayang—dengan atau tanpa pencapaian besar itu." Ia kemudian menunjuk jari telunjuknya ke arah kamera dengan ekspresi yang sedikit menyuruh. "Tetapi baiklah, aku akan menagih janji spesial itu saat aku tiba di sana nanti. Sekarang, pergilah tidur segera ya. Kamu sudah lelah sekali. Aku tidak mau besok pagi harus bicara dengan 'zombie' yang mata merah dan wajahnya lesu kayak orang tidak punya semangat."
Axel tertawa lembut mendengarnya, kemudian mengangguk dengan penuh kerendahan hati. Ia melihat wajah Lusy di layar dengan mata yang penuh rasa rindu yang luar biasa. Setiap detik yang mereka lewati jauh dari satu sama lain terasa seperti tahun bagi dirinya.
"Baiklah, Nona Dosen yang Galak. Selamat istirahat di sana ya, Sayang. Jangan terlalu lama bekerja juga ya. Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini."
"Aku lebih mencintaimu, Axel Bahng." Balas Lusy dengan suara yang lembut namun penuh kekuatan. Ia meniup udara ke arah kamera sebagai tanda ciuman, kemudian memberikan senyum terakhir sebelum mereka mengakhiri panggilan. "Cium Ayah dari aku ya. Sampai jumpa lagi besok malam."
Layar ponsel itu segera menggelap saat panggilan berakhir, meninggalkan Axel sendirian dalam kesendirian ruang makan yang kini terasa lebih hangat dan penuh dengan kehangatan. Ia tetap menatap layar ponsel yang sudah gelap itu untuk beberapa saat, merenungkan setiap kata yang telah mereka bicarakan. Kemudian, matanya perlahan beralih ke arah pintu dapur—ke arah ruangan kecil yang menjadi laboratorium rahasianya di balik dinding kayu yang kokoh.
Motivasi baru kini membakar dada Axel dengan nyala yang lebih kuat dari sebelumnya. Setiap tetesan keringat yang ia curahkan untuk riset itu kini memiliki makna yang lebih dalam—bukan hanya untuk mengejar ambisi ilmiahnya, tapi juga untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi wanita yang dicintainya. Ia ingin segera menyelesaikan ramuan eksperimental itu, menjadikannya sebagai 'hadiah' luar biasa untuk menyambut kepulangan tunangannya yang sudah lama ditunggu-tunggu.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ