Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi itu, ruko di depan Rumah Sakit Husada mendadak menjadi pusat perhatian.
Aroma soto ayam kampung dengan bumbu rahasia Luna mulai memenuhi udara, mengalahkan bau obat-obatan khas rumah sakit.
Pratama masih merasa canggung berdiri di balik gerobaknya yang kini berada di bangunan mewah, namun dukungan Luna membuatnya terus bergerak.
Baru saja pesanan pertama disajikan, seorang wanita berseragam perawat rumah sakit masuk dengan terburu-buru.
Wajahnya tampak sumringah saat mencium aroma kuah soto yang gurih dan melihat taburan koya yang melimpah.
"Pak, ini sotonya baunya enak sekali! Saya pesan soto ceker dan sayap, lima puluh porsi ya!" seru perawat itu sambil meletakkan dua baskom besar di atas meja gerobak.
Pratama tersentak hingga hampir menjatuhkan centong kuahnya. Matanya membelalak menatap baskom tersebut.
"Li-lima puluh porsi, Mbak? Banyak sekali?"
"Iya, Pak. Untuk rapat dokter dan perawat di dalam. Tolong nasi dan lauknya dipisah ya, supaya tidak mengembang. Masukkan ke baskom ini saja semuanya," tambah wanita itu dengan nada yang sangat yakin.
Pratama menoleh ke arah Luna dengan wajah pucat dan bingung.
Seumur hidupnya berjualan di pinggir jalan, ia belum pernah menerima pesanan sebanyak itu dalam satu waktu di pagi buta.
Luna yang sedang menata gelas segera menghampiri suaminya.
Ia mengusap punggung Pratama dengan lembut, memberikan kekuatan.
"Mas, jangan bengong. Ayo pelan-pelan kita buatkan. Aku bantu siapkan plastik pembungkus lauk dan nasinya ya."
"Tapi Dik. Lima puluh porsi? Apa ayam kita cukup?" bisik Pratama khawatir.
"Cukup, Mas. Tadi kita beli ayam kampung banyak, kan? Ini rezeki kita di hari pertama," jawab Luna dengan senyum menenangkan.
Luna segera beraksi. Dengan gerakan yang sangat cekatan, ia mulai membungkus nasi ke dalam kertas cokelat dengan rapi, sementara tangannya yang lain menyiapkan potongan jeruk nipis dan sambal.
Pratama yang melihat kegigihan istrinya mulai bangkit semangatnya.
Ia mulai menyendokkan kuah panas ke dalam baskom dengan ritme yang mantap.
Di sela kesibukan itu, Luna melirik jam tangannya. Ia harus memastikan pesanan ini selesai sebelum jam delapan pagi, karena ia harus segera meluncur ke TK Pelangi untuk menjalankan perannya yang lain.
"Mas, tuangkan koyanya yang banyak di setiap porsi, biar para dokter itu ketagihan dan besok pesan lagi ke sini," bisik Luna sambil mengedipkan sebelah matanya.
Satu jam berlalu dengan sangat cepat, namun bagi Pratama, itu adalah satu jam paling luar biasa dalam hidupnya.
Berkat pesanan besar dari rumah sakit dan beberapa pelanggan yang datang silih berganti, kuali besar sotonya kini sudah hampir surut, menyisakan beberapa porsi saja di dasar panci.
Luna melirik jam tangan klasiknya dimana jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Sebagai "guru baru", ia tidak boleh datang terlambat di hari pertama.
"Mas, aku berangkat ke sekolah dulu ya. Dagangan sudah hampir habis, Mas pasti bisa handle sisanya sendiri kan?" tanya Luna sambil merapikan tas bahunya dan memastikan seragam batiknya tidak terkena noda kuah.
Pratama menoleh dengan wajah yang berseri-seri, meskipun pelipisnya basah oleh keringat.
"Iya, Dlk. Berangkatlah. Hati-hati di jalan ya. Nanti kalau sudah jam pulang sekolah, Mas jemput kamu pakai motor."
Luna tersenyum manis dan meraih tangan suaminya untuk berpamitan.
"Iya, Mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Pratama dengan tatapan penuh kasih.
Tepat saat Luna melangkah keluar dari ruko, sebuah motor matic dengan stiker kantor yang tampak profesional berhenti di depan.
Pengendaranya adalah Arini, yang sudah siap dengan helm dan jaket untuk menjemput bosnya.
"Ayo, Bu, eh, Luna! Nanti telat loh hari pertamanya!" seru Arini sambil berakting layaknya rekan kerja yang akrab.
Luna segera naik ke boncengan motor Arini. Begitu motor melaju menjauh dari pandangan Pratama, Arini langsung berbisik dari balik helmnya.
"Bu CEO, pesanan lima puluh porsi tadi sukses besar. Para dokter di dalam sangat suka sotonya. Mereka bilang koyanya juara!" lapor Arini dengan nada bangga.
Luna terkekeh kecil di belakang. "Bagus. Pastikan besok ada departemen lain yang pesan lagi, tapi jangan terlalu kentara. Aku tidak mau Mas Pratama curiga kalau ini semua adalah skenarionya 'Jati Grup'."
"Siap, Bos! Sekarang kita fokus ke TK Pelangi dulu ya. Ibu siap jadi Ibu Guru hari ini?" tanya Arini sambil menambah kecepatan motornya.
Luna menatap jalanan di depannya dengan semangat.
Menjadi istri penjual soto di pagi hari dan menjadi guru TK di siang hari—hidupnya kini jauh lebih berwarna daripada sekadar duduk di kursi empuk ruang rapat.
Luna melangkah masuk ke halaman TK Pelangi dengan senyum yang dipaksakan setenang mungkin.
Suara riuh tawa anak-anak yang berlarian langsung menyambutnya. Namun, baru saja ia hendak menyapa kepala sekolah, langkahnya terhenti seketika.
Di dekat ayunan, berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas navy yang sangat rapi.
Pria itu baru saja melepaskan tas sekolah kecil milik putrinya.
"Pak Dirga?" gumam Luna pelan, namun cukup terdengar oleh pria itu.
Pria itu menoleh ke arah Luna. Dia adalah Dirga Gunawan, seorang duda keren sekaligus CEO dari Gunawan Properti, rekan bisnis yang sering ditemui Luna dalam berbagai jamuan kelas atas.
Dirga memang sudah lama menaruh hati pada Luna, bahkan sejak ia tahu Luna masih dikhianati oleh Noah.
Dirga mengerutkan dahi, menatap Luna dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Ia tampak sangat terkejut melihat Luna yang biasanya memakai blazer mewah dan tas desainer, kini berdiri di depannya dengan seragam batik guru TK dan hijab yang sangat sederhana.
"Bu Luna? Kenapa Anda ada di sini? Dengan pakaian seperti ini?" tanya Dirga dengan nada heran yang tidak bisa disembunyikan.
Luna berdehem, mencoba mengatur detak jantungnya yang mendadak tidak karuan karena takut penyamarannya terbongkar.
"Oh, Pak Dirga. Saya. sedang pengabdian masyarakat, Pak. Mengajar di sini selama beberapa waktu," jawab Luna dengan alasan yang terdengar masuk akal bagi seorang pengusaha sukses yang ingin memperbaiki citra perusahaan.
Dirga menyipitkan mata, seolah mencari celah dari kebohongan Luna.
"Pengabdian masyarakat? Seorang CEO Jati Grup turun langsung menjadi guru TK di pinggiran kota? Bukankah ini terlalu jauh dari gaya hidup Anda, Bu Luna? Ataukah ini ada hubungannya dengan menghilangnya Anda setelah masalah dengan Noah?"
Luna tersenyum tipis dan mencoba tetap tenang menjawab pertanyaan Pak Dirga.
"Hidup itu dinamis, Pak Dirga. Kadang kita perlu melihat dunia dari sudut pandang yang lebih sederhana untuk memahami arti kebahagiaan. Jadi, putri Bapak sekolah di sini?"
"Iya, ini sekolah terbaik di area ini menurut asisten saya," jawab Dirga singkat, meski matanya tetap menatap Luna dengan penuh rasa ingin tahu dan kekaguman yang terpendam.