Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Luka
Bel istirahat kedua telah berbunyi, semua murid melepaskan kelelahannya dengan meregangkan seluruh badan.
Arsa mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya, menaruhnya di atas meja.
Pandangannya berkeliling mencari sang pujaan hati, yang ternyata sedang mengecek isi dompetnya.
"Duh, gw lupa lagi bawa bekal gegara kesiangan," gumam Asha dengan wajah yang murung dan perut yang lapar. "ish tapi duit gwe sekarat lagi."
Saat Asha tengah berpikir keras apa yang harus ia lakukan, ia menutup matanya dan mengerinyitkan dahi.
"Kenapa? Lupa bawa bekal ya?" tanya Arsa yang secara tiba-tiba berdiri di hadapan Asha.
Asha membuka matanya dan tersentak ketika melihat wajah kekasihnya itu berada beberapa cm dari wajahnya.
Asha reflek mendorong Arsa mundur. "Ish, bikin kaget aja" kata Asha sembari mengelus dadanya.
Arsa cekikikan kecil lalu membenahi posisi duduknya dan menaruh kotak bekalnya di depan Asha.
"Hehe. Simpan aja uangnya, kita makan bekalku aja" ajak Arsa sembari memegang tangan Asha, mendorongnya turun secara perlahan.
Awalnya Asha begitu kagum dengan perlakuan yang Arsa berikan kepadanya. Pipinya memerah dalam sekejap.
Tetapi...
"Makasih banyak sayang, tapi aku ada uang kok" tolak Asha dengan nada halus.
"Hayoo, tiga belas ribu gitu kan buat beli bensin?"
Asha diam sejenak membenarkan apa yang Arsa katakan. Tapi, tetap saja di dalam hatinya dia tidak ingin terlalu merepotkan Arsa.
"Hadehh Arsa, coba deh kamu lihat kotak bekalmu," perintah Asha kepada Arsa sembari menunjuk kotak bekal.
Arsa melihat kotak bekalnya, namun tidak menemukan satupun keanehan. "Apa?" tanya Arsa.
Asha mendengus pelan karena kepolosan Arsa yang tiada habisnya.
"Kecil gini, lo makan sendiri aja belum tentu kenyang. Gimanasii" omel Asha dengan mata yang berkeliling dan tangan yang melipat.
"Ohhh," Arsa terkejut dengan kepolosannya sendiri. Kemudian, ia melihat ke arah Asha dengan begitu dalam.
"Tapi kalo makannya disuapin my princess, satu suap pun bakalan kenyang kok" gombal Arsa dengan senyuman yang lebar.
Asha membalas menatap mata Arsa, tidak heran lagi dengan kemampuan Arsa yang selalu saja mampu menggombal.
"Berapa cewek sudah yang kamu gombal kaya gini?" tanya Asha dengan curiga, ia masih bingung darimanakah Arsa belajar ilmu pergombalan.
Arsa tersenyum lebar dan membuat Asha menjadi heran. Tiba-tiba Arsa mengangkat tangan kanannya, menunjukkan angka tiga.
Seketika Asha terpancing, dia merasa marah karena Arsa malah menjawab pertanyaan jebakan itu.
Dalam hatinya, ia sakit hati karena ternyata dia bukan yang pertama ataupun satu-satunya.
"Siapa?" tanya Asha dengan nada judes. Mempersiapkan telapak tangannya untuk dicap di pipi Arsa.
"Sarah," Asha semakin marah, ia tahu bahwa Sarah adalah teman sekelasnya sendiri yang super-duper aktif.
Asha ingin menghentikan Arsa yang masih ingin menyebutkan, tangannya sudah ia angkat untuk menghantam Arsa. Akan tetapi, tiba-tiba terhenti...
"Asha, dan yang terakhir Sarah Ashalova!" sebut Arsa dengan suara nyaring dan sangat heboh. Lalu, ia tertawa terbahak-bahak.
Asha menurunkan tangannya perlahan, pipinya memerah dan merasa malu karena tangan kanannya terlihat begitu jelas akan menampar.
Padahal dia yang ingin menjebak Arsa, tapi malah dia yang terkena jebakan.
"Arsa bodoh..." gumamnya dengan hati yang berbunga-bunga. Senang, karena ia adalah satu-satunya.
Arsa berhenti tertawa lalu membuka kotak bekalnya. Memperlihatkan makanan kelas atas: udang, sayur-sayuran, nugget, dan nasi.
Arsa berasal dari keluarga yang bisa dibilang kaya-raya, sementara Asha berasal dari keluarga sederhana.
Arsa menyendok bekalnya, lalu mengarahkannya ke depan mulut Asha.
Asha awalnya terdiam dan menatap mata Arsa untuk mendapatkan kepastian.
"Buka mulutnya sayang."
Asha membuka mulutnya sembari memejamkan mata, membiarkan Arsa sendiri yang memasukkan sesendok makanan itu ke mulutnya.
Tetapi...
Brakkkkkk...
Asha tak tahu apa yang terjadi. Saat ia membuka mata, ia melihat meja makannya telah terbaring dan bekal makan Arsa berhamburan di lantai.
Ia melihat Sarah, teman sekelasnya terbaring di atas meja itu. Asha terdiam karena saking kagetnya.
"Yaampun Sarah, lo kenapa!?" tanya Arsa dengan nada begitu khawatir. Ia berdiri lalu berusaha membantu Sarah bangun.
"Bekal makannya berhamburan... Gajadi dong gw makan disuapin Arsa?" pikir Asha dengan hati yang shok karena sesuatu terjadi begitu cepat.
Rasa marah dan kecewa perlahan berkumpul di hatinya. Ia marah karena Sarah secara tiba-tiba mengacaukan keromantisannya dengan Arsa, ditambah Arsa yang malah membantu gadis hyperaktif itu bangkit.
"Duh maaf, gw gasengaja banget Arsa, Asha" pinta maaf gadis berambut pendek itu dengan nada sangat memohon. Dia adalah Sarah.
Tak lama kemudian seorang gadis lainnya datang dari arah kiri Arsa.
"Maaf, gw sama Sarah tadi main kejar-kejaran. Ini salahnya gw..." ucap gadis itu dengan kepala yang menunduk.
Asha masih terdiam melihat cowoknya itu yang malah membantu membersihkan baju Sarah yang ditempeli banyak makanan.
"Udah-udah gapapa," kata Arsa singkat yang membuat Asha semakin sakit hati.
'Kok Arsa gak marah? Harusnya dia kan marah karena momen bareng gwe dikacaukan dua orang sialan ini?' batin Asha.
"Eh goblok, lo berdua ngapain sih bego malah main lari-larian di kelas? Buta kah itu mata galiat orang makan?" bentak Asha dengan suara yang sangat nyaring, menarik perhatian ketiga orang di depannya.
"Maaf Sha, gw gase—"
Asha tiba-tiba mendorong Sarah hingga jatuh terduduk. Tak memberikan kesempatan Sarah untuk berbicara.
Arsa meneguk salivanya, matanya membulat karena terkejut melihat seberapa mengerikannya Asha ketika marah.
"BACOT BEGO!!" bentak Asha sekali lagi sembari melangkah mendekat ke Sarah. Tangannya mengepal begitu keras. Namun, ia tiba-tiba dihadang oleh Arsa.
"Ashaa, tenangkan diri kamu. Jangan terlalu terbawa emosi" kata Arsa pelan.
Perilaku yang dilakukan Arsa bukannya membuat Asha tenang, tetapi semakin membuat Asha terbakar dalam amarah.
"Lo kenapa sih Arsa malah ngebela dia? Gw ini cewek lo, BUKAN DIA!" tanya Asha dengan rasa heran luar biasa sembari menunjuk ke dirinya sendiri.
"Ya tapi kan gak seharusnya kamu kesetanan kaya gini?" bela Arsa sekali lagi. Asha terdiam mematung, melemaskan tangannya hingga jatuh begitu saja.
Air mata Asha tiba-tiba jatuh. Di ikuti Arsa yang langsung merasa bersalah karena mengucapkan kata yang kasar.
"Ma—"
"Gw ganyangka lo bilang gw kesetanan, Arsa," ucap Asha dengan suara yang pelan namun tajam.
"Gw ini pacar lo, bukan setan..."
Asha menarik nafas pelan.
"Gw laper tau ga!? Lo ga tau sesenang apa gw liat lo peka dan ngegombal gw kek gitu, gw cuman pengen nikmatin momen kita doang, tapi diganggu dua sialan ini..." jelas Asha menunjuk ke arah Sarah dan gadis lainnya.
Arsa menundukkan kepalanya dan merasakan apa yang Asha rasakan. Di sisi lain Sarah juga merasakan hal yang sama, dia merasa sangat bersalah.
"Kalian jangan bertengkar hanya karena gw, plis" ucap Sarah sembari bangkit dari duduknya. Namun, ucapannya tak digubris oleh Arsa maupun Asha.
Arsa berjalan mendekat ke arah Asha untuk segera meminta maaf. Namun, tiba-tiba jari telunjuk Asha menghentikannya.
"GAUSAH MENDEKAT!"
"Gw udah kecewa sama lo, gw udah cape akhir-akhir ini kelahi terus sama lo" sinis Asha dengan air mata yang terus berjatuhan.
Arsa hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya.
Apa yang dikatakan oleh Asha benar, mereka akhir-akhir ini selalu saja bertengkar, meskipun masalahnya sangat sepele.
'Lagi-lagi begini, bertengkar lagi, lagi, dan lagi. Dan semuanya juga karena kebodohan gw' batin Arsa dengan rasa penuh penyesalan dan kesal kepada dirinya sendiri.
"Gw gamau lagi lihat ataupun dengar suara lo, titik." Asha berbalik badan lalu pergi keluar kelas, berlari menuju WC perempuan.
Arsa tak mengejarnya dan malah diam, ia sibuk merenungi apa yang seharusnya ia lakukan.
Tak lama, ia memegang kepalanya sendiri setelah tau apa yang harusnya ia lakukan sedari tadi, namun semuanya sudah terlambat.
Pada akhirnya dia hanya bisa melampiaskan emosinya dengan menendang meja yang masih terbaring.
Di sisi lain, Asha menatap pantulan wajahnya sendiri yang begitu sembab karena menangis. Ia segera membasuh wajahnya.
'Gw udah tau kok gw gak secantik Sarah, gw juga gak sepintar Sarah, kenapa gw kaget lagi kalo Arsa ngebela Sarah.'
'Arsa juga ganteng, populer, dan pintar, jadi wajar aja gw gak berarti apa-apa...' batin Asha yang penyakit insecure-nya mulai menyerang.
Alasan Asha marah tadi bukan hanya karena momen romantis yang gagal, melainkan karena rasa insecure dan iri hatinya kepada Sarah.
Sarah adalah seorang gadis yang cantik, ia juga merupakan peringkat dua di kelas.
Berbanding terbalik dengan Asha yang pas-pasan dan selalu mentok berada di peringkat lima. Jadi wajar saja jika Arsa yang membela Sarah malah membuat Asha menjadi marah.
Dan...
Baik Arsa maupun Asha, keduanya tidak tau bagaimana menyelesaikan masalah rumit ini.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
HOREE!! BERBUCIN-BUCIN DAHULU BERTENGKAR-TENGKAR KEMUDIAN, AWOWKWOWK.
Duh guys sumpah deh menurut kalian Asha sensitif banget gak sih? Kalo menurut author sih kayanya gak ada yang salah deh, si Asha cemburuan, si Arsa gak pekaa. Kombo maut ini, wkwkwk.
Menurut kalian gimana? Komen ya!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku