Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membebaskan Orang-orang Yg Terjebak Di Tanah Ilusi
Pemuda yg tak kelihatan wujud nya itu hanya menatap datar Ceni sambil melipat kedua tangan nya dengan jengah.
"NONAAAAAA." Teriak Ying Zu kala melihat keberadaan Ceni yg sedang berdiri di samping kuda sambil tertawa.
"Apa sih Ying Zu, berisik banget." Ucap Ceni setelah menghentikan tawa nya.
"Maaf nona, aku hanya mengkhawatirkan nona." Ucap Ying Zu.
Ceni tak menggubris Ying Zu, tapi saat ini ia sedang mengamati sesuatu.
"Ying Zu, apa kau merasakan sesuatu, atau mendengar suara seseorang.?" Tanya Ceni.
"Tidak nona, dari tadi aku tidak mendengar apapun." Ucap Ying Zu.
"Aku ada di hadapan kalian." Ucap pemuda itu dengan lirih.
Seketika mata Ceni membola sempurna, kala mendengar suara lirih yg ia yakini seorang pemuda itu.
"Kau dengar.?" Tanya Ceni.
Lagi lagi Ying Zu hanya menggeleng pelan.
Ceni pun menghela nafas pelan, berarti apa yg ia pikirkan adalah benar, hanya ia yg bisa mendengar suara tersebut.
"Lantas kalau Ying Zu tak bisa mendengar suara itu,? Tapi kenapa orang-orang tau bahwa kerap mendengar suara-suara lirih seseorang,? Ini sungguh aneh." Gumam Ceni.
Ceni pun berusaha fokus sambil mata nya liar melihat ke sana kemari berharap mendapatkan petunjuk agar ia bisa memecahkan misteri yg ada di hadapan nya saat ini, karena ia masih sangat penasaran dengan suara seseorang yg bisa menyambungi lagu yg ia nyanyikan tadi, bukan soal lagu yg ia permasalahkan tapi lirik tersebut adalah lagu dari masa depan, sedangkan dimana ia berdiri saat ini ialah Zaman kuno yg entah bisa di bilang masa depan atau masa lampau atau bahkan di dunia lain ia sama sekali tak tau akan hal itu.
Rasa penasaran yg berkecamuk itu membuat nya harus mencari tau, bahkan saat ini ia masih bisa mendengar suara orang tersebut tapi ia tak dapat melihat wujud dari orang itu.
"Apa iya itu arwah penasaran.?" gumam Ceni lagi.
"Nona, sebaiknya kita segera pergi dari sini." Ucap Ying Zu yg sedari tadi merasakan perasaan yg tidak nyaman berada di hutan berkabut itu.
Ceni tak menggubris Ying Zu.
Kini Ceni memilih duduk bersila di atas tanah sambil memejamkan mata berusaha berkonsentrasi dan mencoba berkomunikasi dengan sebuah suara yg ia dengar.
Sedangkan Ying Zu hanya diam dan memperhatikan Ceni, ia tau saat ini Ceni sedang berkonsentrasi, dan Ying Zu hanya bisa mengikuti apa yg Ceni lakukan yaitu duduk di tanah dengan diam tanpa mengganggu Ceni.
"Apa kau bisa mendengar ku.?" Ucap Ceni yg entah pada siapa.
Pemuda itu pun seakan mendapatkan harapan baru.
"Ya aku bisa mendengar mu." Ucap nya mantap.
"Dimana kau berada saat ini.?" Ucap Ceni.
"Di hadapan mu." Ucap pemuda itu lagi.
"Apa yg membuat mu tidak bisa terlihat,? Apa kau sudah mati.?" Tanya Ceni .
"Bisa ya, bisa juga tidak." Ucap pemuda itu.
"Kenapa kalau ya, dan kenapa kalau tidak.?" Tanya Ceni.
"Karena seingat ku aku sudah mati karena kecelakaan motor sebab balapan, tapi bangun-bangun aku malah berada di sebuah gubuk di hutan ini, rupa ku pun berubah bukan tubuh ku semasa dulu tapi seperti nya tubuh orang lain, semacam aku bereinkarnasi, di waktu-waktu tertentu orang-orang bisa mendengar suara ku." Ucap Pemuda itu.
"Lantas kalau aku bisa mendengar mu, tapi kenapa teman ku tidak bisa mendengar mu.?" Ucap Ceni ingin tau.
"Itu sebab teman mu memakai sebuah jimat." Ucap pemuda itu lagi.
Ceni pun membuka mata nya lalu menoleh pada Ying Zu.
"Apa kau memiliki jimat Ying Zu.?" Tanya Ceni.
Sekejap Ying Zu bingung lalu mengangguk mantap.
" iya nona, ini jimat dari guru ku sebagai lambang penjagaan dari gangguan makhluk jahat." Ucap Ying Zu memperlihatkan sebuah jimat.
"Huh berarti aku makhluk jahat kah,? Sehingga dia tak bisa mendengar suara ku." gerutu pemuda itu.
"Benda penghancur segel lembah Kematian." Gumam Ceni iseng, barang kali menemukan petunjuk.
Tapi tanpa Ia sangka-sangka sebuah giok merah berbentuk segi panjang dengan memancarkan cahaya merah dengan pola rumit pun tiba-tiba berada di telapak tangan nya.
"Benda apa ini.?" Ucap Ceni membolak-balikkan Giok panjang itu.
Ceni pun mencoba mengarahkan giok merah menyala itu di hadapan nya, dan tiba-tiba.
CRAKK
Udara di hadapan nya seolah retak menimbulkan bunyi yg layak nya kaca retak, sedikit demi sedikit retakan itu pun menjalar ke arah lain nya, Ceni dan Ying Zu pun Memilih mundur agar kejadian tak di ingin kan tidak menimpa mereka.
PRANG
Udara yg tadi nya hanya retakan pun tiba-tiba pecah layak nya kaca.
Ying Zu yg melihat itu kaget setengah mati, sedangkan Ceni Mata nya bahkan tak berkedip sama sekali melihat kejadian ajaib yg ia saksikan pertama kali nya.
"Zaman kuno memang keren." Gumam Ceni dengan mata yg berbinar.
Hutan yg tadi nya kabut kini tampak cerah dan terdengarlah kicauan burung-burung di hutan itu yg sebelumnya memang pantas di sebut hutan kematian di karena kan sunyi, tapi kini kesunyian itu seakan sirna beserta kabut-kabut yg sebelumnya menyelimuti seluruh hutan kini hilang tanpa jejak.
Suara yg ia ajak komunikasi tanpa wujud itu kini menunjukkan wujud nya, seorang pemuda tampan berkulit putih bak aktor cina itu tersenyum ke arah Ceni.
Sejenak Ceni mengerjapkan mata nya.
"Akhirnya aku bebas, akhirnya, akhirnya, akhirnya hahahaha." Tawa pemuda itu sekaligus menyadarkan Ceni dan Ying Zu dari keterkejutan yg sejenak menghampiri kedua nya.
"Kau bisa melihatku kan.?" Ucap pemuda itu.
Ceni pun mengangguk pelan.
Tanpa aba-aba pemuda itu pun menggendong Ceni lalu berputar-putar dengan bahagia nya.
Ceni yg kaget pun berteriak.
KYAAAAAAA
"Hei turun kan aku." Teriak Ceni.
BUGH
Ceni pun menonjok pemuda tersebut.
"Aawwsss, kau jahat sekali nona." Ucap Pemuda itu mengelus kening nya setelah di tonjok Ceni sebelum melompat dari Gendongan nya.
"Enak aja lu main peluk- peluk minta di gibeng hah.?" teriak Ceni.
"Ampun suhu." Ucap pemuda itu mengangkat kedua tangan nya.
Ceni pun hanya mendengus saja.
Dari kejauhan tampak lah orang-orang berlarian dengan senyum sumringah.
"Kita bebas, akhirnya setelah sekian lama."
"Ya kau benar, kita terjebak di wilayah ini sudah cukup lama."
"Aku ingin pulang aku ingin pulang."
"Ayo cepat cepat cepat."
Begitulah Ucapan orang-orang yg saat ini berlarian menuju ke arah Ceni dan Ying Zu berada jangan lupakan pemuda yg berada di hadapan Ceni.
"Apakah itu orang-orang yg selama ini terjebak di batas ilusi.?" Tanya Ceni.
"Ya kau benar, walaupun kami terjebak di sini, tapi sumber daya makanan sangat berlimpah sehingga kami tak kelaparan." Ucap pemuda itu.
"Ternyata hutan ini gak seseram yg orang-orang katakan." Ucap Ying Zu.
"Maka dari itu jangan hanya mendengar omongan orang habis itu berasumsi bahwa apa yg kita dengar itu lah kenyataan nya yg padahal tidak." Ucap pemuda itu bijak.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪