Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13: Bangkitnya Sang Penjaga Laut
Deburan ombak yang menghantam sisa-sisa dermaga tujuh terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Langit di atas Pelabuhan Utara kini berubah menjadi kelabu pekat, dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar tanpa suara guntur yang menyertainya—sebuah pertanda bahwa keseimbangan sihir di tempat ini telah rusak total. Elara berdiri mematung, air laut yang dingin meresap ke dalam pakaian kulitnya, namun rasa dingin itu tidak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di dadanya saat menyadari bahwa kekuatannya sendiri telah digunakan sebagai kunci pembuka segel.
Alaric masih mendekapnya erat, napas pria itu terdengar berat di dekat telinga Elara. Seluruh pasukan Ksatria Bayangan telah membentuk perimeter pertahanan di sekeliling gudang nomor empat, senjata mereka terhunus ke arah laut yang sedang mengamuk.
"Elara, jangan dengarkan kata-katanya," bisik Alaric, suaranya parau namun penuh otoritas. "Julian adalah ahli manipulasi. Dia ingin kau merasa bersalah agar kau meragukan dirimu sendiri. Jika kau tidak bertindak tadi, makhluk-makhluk itu akan membantai kita semua di bawah sana."
Elara perlahan melepaskan diri dari pelukan Alaric. Ia melangkah ke tepian dermaga yang retak, menatap ke dalam pusaran air yang kini mulai mengeluarkan cahaya biru kehijauan yang berpendar dari kedalaman. "Tapi dia benar tentang satu hal, Alaric. Segel itu pecah karena sihir pemurniku berbenturan dengan sihir hitamnya. Aku bisa merasakannya... sesuatu yang selama ini tertidur di bawah sana kini telah terbangun. Dan itu bukan Cawan Keabadian yang mereka cari."
Tiba-tiba, permukaan laut di tengah pusaran itu meledak. Bukan oleh ledakan mesiu, melainkan oleh tekanan air yang luar biasa besar. Dari dalam kedalaman, muncul sebuah menara batu kuno yang perlahan-lahan naik ke permukaan. Menara itu ditutupi oleh teritip dan rumput laut purba, namun di puncaknya, sebuah lentera raksasa mulai menyala dengan api berwarna perak.
"Kuil Penjaga Laut," gumam Barney, sang kepala pelabuhan, yang jatuh berlutut di belakang mereka dengan wajah penuh teror. "Legenda itu nyata... jika darah keluarga Lane tumpah di atas segel dermaga tujuh, sang Penjaga akan bangkit untuk menuntut janji yang dilanggar."
Ancaman dari Kedalaman
Bersamaan dengan munculnya menara tersebut, kabut tebal mulai menyelimuti seluruh pelabuhan. Kabut ini bukan kabut biasa; ia memiliki massa yang berat dan berbau seperti logam berkarat. Dari dalam kabut, terdengar suara langkah kaki yang berat, seolah-olah sesuatu yang sangat besar sedang berjalan di atas air.
"Kael! Siapkan panah api!" teriak Alaric.
Namun, sebelum perintah itu dilaksanakan, sosok-sosok mulai muncul dari balik kabut. Mereka bukan lagi makhluk bayangan tak berwajah milik Julian. Mereka adalah ksatria-ksatria kuno yang mengenakan zirah perunggu yang sudah berkarat, mata mereka menyala dengan cahaya biru pucat yang sama dengan menara di tengah laut. Mereka adalah The Drowned Knights—pasukan penjaga yang konon dikutuk untuk melindungi harta keluarga Lane selamanya.
"Mereka menganggap kita sebagai penyusup," Elara menyadari situasinya. "Segel itu bukan hanya penjara bagi kekuatan kuno, tapi juga pengikat kesetiaan mereka. Dengan rusaknya segel, mereka kini tidak bisa membedakan antara musuh dan tuan mereka."
Salah satu ksatria perunggu itu mengangkat pedang besarnya dan mengayunkannya ke arah barisan Ksatria Bayangan. Alaric bergerak secepat kilat, menangkis serangan itu dengan Duskbringer. Benturan kedua senjata itu menghasilkan gelombang kejut yang memecahkan kaca-kaca gudang di sekitarnya.
"Elara! Masuk ke dalam kereta sekarang!" seru Alaric sambil menahan beban pedang ksatria kuno itu. "Kael, bawa Nona Elara menjauh dari garis pantai!"
"Tidak! Aku tidak bisa pergi!" Elara berteriak, suaranya mengatasi kebisingan pertempuran. Ia mengeluarkan sebuah kalung dari balik pakaiannya—sebuah relik kuno berbentuk jangkar kecil yang diberikan ayahnya saat ia berusia sepuluh tahun. "Relik ini... ayah bilang ini adalah simbol otoritas di pelabuhan. Jika mereka adalah pelayan keluarga Lane, mereka harus tunduk padaku!"
Elara berlari menuju barisan depan, mengabaikan seruan peringatan dari Kael. Ia berdiri tegak di hadapan ksatria perunggu kedua yang siap menebasnya. Dengan tangan gemetar namun mata yang mantap, ia mengangkat relik jangkar itu tinggi-tinggi.
"HENTIKAN!" perintah Elara, menyuntikkan sisa energi sihir pemurniannya ke dalam relik tersebut. "Aku adalah Elara von Lane, pewaris sah dari darah yang kalian sumpah untuk dilindungi! Aku memerintahkan kalian untuk kembali ke kedalaman!"
Relik itu bersinar dengan cahaya putih yang menyilaukan, menciptakan gelombang energi yang menyapu seluruh dermaga. Para ksatria perunggu itu berhenti seketika. Mereka menundukkan kepala, pedang mereka ditancapkan ke tanah sebagai tanda hormat. Kabut di sekeliling mereka perlahan menipis, dan laut yang mengamuk mulai sedikit tenang.
Pengkhianatan di Dalam Barisan
Namun, di tengah momen kemenangan singkat itu, sebuah anak panah meluncur dari arah kegelapan di belakang barisan ksatria Elara sendiri. Anak panah itu bukan mengincar para ksatria perunggu, melainkan mengincar punggung Elara.
KLANG!
Alaric muncul tepat waktu, memotong anak panah itu di udara dengan gerak refleks yang mustahil. Matanya yang merah karena amarah segera menyapu ke arah asal panah tersebut. Di sana, berdiri salah satu ksatria bayangan yang baru saja bergabung minggu lalu—seorang pria yang selama ini tampak setia.
"Pengkhianat!" Alaric menerjang, mencengkeram leher pria itu sebelum ia sempat mengisi ulang busurnya.
Pria itu tertawa, darah keluar dari mulutnya yang mulai membiru karena racun yang ia telan sendiri. "Matahari... matahari tidak akan... pernah... tenggelam..."
Pria itu mati di tangan Alaric, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Elara terjatuh terduduk, relik di tangannya terasa sangat panas hingga membakar telapak tangannya.
"Mereka ada di mana-mana," bisik Elara dengan suara parau. "Alaric, bahkan di dalam pasukanmu sendiri... mereka sudah menyusup."
Alaric menjatuhkan mayat pengkhianat itu dan menghampiri Elara. Ia berlutut di depannya, wajahnya dipenuhi dengan penyesalan yang mendalam. "Aku gagal melindungimu dari dalam rumahku sendiri. Aku akan melakukan pembersihan total malam ini juga."
"Bukan itu masalahnya sekarang," Elara menatap ke arah menara batu di tengah laut yang masih berdiri kokoh. "Julian melarikan diri ke dalam menara itu sebelum air masuk. Dia tidak tenggelam. Dia sedang menunggu di sana, di pusat kekuatan Penjara Laut."
Rencana Penyerangan Menara
Malam itu, mereka berkumpul di kantor kecil Barney yang masih utuh. Peta pelabuhan dibentangkan di atas meja, diterangi oleh cahaya lilin yang berkedip-kedip. Elara telah membalut luka bakarnya di telapak tangan, namun matanya tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun.
"Menara itu dikenal sebagai The Pharos of the Abyss," Elara menjelaskan sambil menunjuk ke arah struktur batu di tengah peta. "Menurut catatan rahasia kakekku, menara itu adalah jantung dari seluruh sistem pertahanan laut kita. Jika Julian berhasil menguasai api perak di puncaknya, dia bisa memanggil tsunami yang sanggup meratakan ibu kota dalam hitungan jam."
"Kita butuh kapal untuk mendekat, tapi laut di sekitar menara itu penuh dengan pusaran air yang tidak stabil," sahut Kael, yang kini tampak sangat waspada terhadap setiap prajuritnya.
"Kita tidak butuh kapal," Alaric menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kita akan menggunakan para ksatria perunggu itu. Elara, kau baru saja membuktikan bahwa mereka tunduk pada relikmu. Mereka bisa berjalan di bawah air. Jika mereka bisa membawa kita melewati pusaran itu..."
"Itu sangat berbahaya, Alaric. Jika relik itu kehabisan energi saat kita berada di bawah laut, kita akan terjebak selamanya," Elara memperingatkan.
"Kita tidak punya pilihan lain," Alaric berdiri, suaranya mantap. "Besok malam, saat bulan mencapai puncaknya dan gravitasi air berada di titik terlemah, kita akan menyerbu menara itu. Kita akhiri Julian, kita rebut kembali Cawan itu, dan kita tutup pintu neraka ini untuk selamanya."
Elara menatap Alaric, lalu beralih ke jendela yang menghadap ke laut yang gelap. Ia tahu bahwa di kehidupan sebelumnya, menara ini tidak pernah muncul. Ia telah mengubah sejarah begitu drastis sehingga dunia kini berada di ambang kehancuran yang lebih cepat. Namun, ia juga tahu bahwa ia bukan lagi Elara yang lemah.
"Baiklah," Elara berdiri, suaranya tenang namun tajam. "Siapkan pasukan yang tersisa. Kita akan menunjukkan pada Solis Invicta bahwa matahari mereka tidak akan pernah bisa bersinar di bawah laut keluarga Lane."
Malam itu, saat seluruh pelabuhan diselimuti oleh ketegangan yang mencekam, Elara menghabiskan waktunya dengan mengasah belati obsidian-nya. Ia menyadari satu hal: di dunia ini, satu-satunya cara untuk mengalahkan monster adalah dengan menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari mereka. Dan demi Alaric, demi ayahnya, dan demi masa depan yang ia curi dari maut, ia siap untuk menanggalkan kemanusiaannya.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔