NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik Terakhir

Rajendra Baskara tidak pernah menyangka kematiannya akan datang di ruang kerjanya sendiri.

Ruang kerja yang ia rancang sendiri lima tahun lalu—lantai marmer putih import Italia, meja kayu jati solid selebar tiga meter, kursi direktur kulit asli, jendela kaca besar menghadap ke skyline Jakarta Selatan. Di dinding, lukisan kakeknya terpasang dalam bingkai emas—Dimas Baskara, tersenyum tipis dengan mata yang bijaksana.

Senja masuk lewat jendela, mewarnai ruangan dengan gradasi oranye kemerahan.

Darah di lantai marmer berwarna lebih gelap—hampir hitam di bawah cahaya senja.

Rajendra terbaring telentang. Punggungnya menempel dingin di marmer. Napasnya pendek, terputus-putus, seperti mesin yang kehabisan bahan bakar. Dadanya basah—lengket—ia tidak perlu melihat untuk tahu itu darah.

Terlalu banyak.

Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya tidak merespons. Jari-jarinya hanya gemetar kecil, lalu diam.

Di hadapannya, dua sosok berdiri.

Dera Baskara—adik angkatnya—masih memegang pisau dapur panjang. Stainless steel yang biasa dipakai koki untuk memotong daging. Ujungnya menetes merah, perlahan, seperti keran bocor. Wajah Dera datar. Tidak ada penyesalan di sana. Tidak ada kegugupan. Hanya kelegaan—seperti orang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah yang tertunda lama.

Jessica Agustina—istrinya—berdiri dua langkah di belakang Dera. Tangan kanannya menutupi mulut, tapi tidak menangis. Matanya merah, tapi tidak keluar air mata. Ia hanya berdiri. Menonton. Seperti penonton di bioskop yang tidak bisa meninggalkan kursinya meskipun filmnya buruk.

Rajendra mencoba bicara. Suaranya keluar—serak, seperti amplas di atas kayu—hampir tidak terdengar.

"Kenapa...?"

Kata itu terasa berat di lidahnya.

Dera berjongkok pelan. Lututnya hampir menyentuh genangan darah. Ia menatap Rajendra dari dekat—mata coklat gelapnya dingin, seperti batu sungai yang tidak pernah hangat meski dijemur matahari.

"Kenapa?" ulang Dera pelan. Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Karena kamu selalu dapat segalanya, Mas."

Ia tersenyum—senyum tipis yang pahit, seperti kopi tanpa gula.

"Sejak aku masuk keluarga ini waktu umur sepuluh tahun, semua orang cuma lihat kamu. Rajendra si jenius. Rajendra yang pintar. Rajendra yang akan jadi penerus. Aku? Aku cuma anak angkat. Pelengkap. Boneka yang harus tersenyum dan bilang terima kasih setiap kali dapat sesuatu."

Rajendra menatapnya—pandangannya mulai kabur, tapi masih bisa melihat wajah Dera dengan jelas. Wajah yang dulu selalu tersenyum padanya. Wajah yang ia percaya selama dua puluh lima tahun.

"Aku... tidak pernah... menyingkirkanmu..." bisik Rajendra dengan sisa tenaga.

"Tidak pernah?" Dera tertawa kecil—tertawa tanpa suara, seperti batuk kering. "Kamu tidak perlu menyingkirkanku, Mas. Keberadaanmu saja sudah cukup."

Ia berdiri, melempar pisau itu ke lantai—bunyi logam memantul keras di ruangan sepi, bergema seperti lonceng kecil.

Jessica melangkah maju. Sepatu hak tingginya berbunyi klik-klik di marmer. Ia berdiri di samping Dera, menatap Rajendra dari atas. Wajahnya pucat—bibir yang biasa tersenyum sekarang hanya garis tipis lurus.

"Maafkan aku, Rajendra," katanya pelan. Suaranya gemetar, tapi final—seperti orang yang sudah memutuskan dan tidak akan berubah pikiran. "Aku tidak bisa terus hidup sebagai istri bayangan."

Rajendra menatapnya.

Wanita yang ia nikahi sepuluh tahun lalu. Wanita yang tidur di sampingnya setiap malam. Wanita yang mencium keningnya setiap pagi sebelum ia berangkat kerja. Wanita yang ia pikir mencintainya.

"Sejak... kapan...?" Rajendra hampir tidak bisa mendengar suaranya sendiri.

Jessica tidak menjawab. Bibirnya bergetar—seperti mau bicara tapi kata-kata застряв di tenggorokan.

Dera menjawab untuknya.

"Sejak lama, Mas. Bahkan sebelum kalian menikah."

Rajendra merasakan sesuatu patah di dadanya—bukan karena luka pisau. Bukan karena darah yang terus keluar. Tapi karena pengkhianatan. Karena semua tahun yang ia habiskan percaya pada dua orang ini.

Karena kebodohannya sendiri.

Ia mencoba bergerak lagi—mencoba meraih ponsel yang terjatuh setengah meter dari tangannya—tapi lengannya tidak bertenaga. Jari-jarinya hanya gemetar, lalu diam lagi.

Pandangannya mulai gelap di tepi—seperti layar TV tua yang perlahan mati.

Suara mulai menjauh—seperti ia tenggelam perlahan ke dasar kolam.

Yang terakhir ia dengar adalah suara langkah kaki—dua pasang sepatu, berjalan keluar ruangan, menutup pintu pelan dengan bunyi klik kecil.

Meninggalkannya sendirian.

Mati sendirian.

Rajendra menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kebencian yang begitu murni—begitu dalam—sehingga ia berharap, jika ada Tuhan, jika ada keajaiban, jika ada kesempatan kedua, ia akan membuat mereka menyesali segalanya.

Satu per satu.

Perlahan.

Menyakitkan.

Lalu gelap.

Sunyi.

Tidak ada lagi.

Atau begitu pikirnya.

Rajendra terbangun dengan napas tersengal—seperti orang yang baru saja tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan oleh tangan tak terlihat.

Jantungnya berdebar keras—terlalu keras—seperti drum di dalam dada yang dipukul tanpa henti.

Keringat dingin membasahi leher dan punggungnya. Kaos yang ia pakai lengket di kulit.

Ia duduk tergesa—matanya terbuka lebar, mencari orientasi.

Ruangan ini...

Ia mengenal ruangan ini.

Dinding cat krem pudar. Lemari kayu tua di pojok dengan pintu yang tidak rapat. Meja belajar kecil penuh buku tebal dan tumpukan kertas. Gorden coklat kusam menutupi jendela. Kasur single dengan sprei bergaris-garis biru putih yang sudah pudar.

Kamar kosnya.

Kamar kos di bilangan Kuningan yang ia tinggali waktu kuliah semester akhir—tahun 2010.

Rajendra menatap sekeliling dengan napas masih terengah.

Tidak mungkin.

Ia baru saja mati. Ia ingat dengan jelas—pisau, darah, lantai marmer, wajah Dera, wajah Jessica. Ia ingat rasa sakit di dada. Ia ingat rasa dingin yang menjalar dari ujung jari sampai ke jantung. Ia ingat detik terakhir sebelum gelap.

Ia mati.

Tapi sekarang ia di sini.

Ia menatap tangannya—kedua tangannya—membolak-baliknya pelan.

Kulitnya mulus. Tidak ada bekas luka. Tidak ada keriput. Tangan anak muda dua puluh tahun—bukan tangan pria tiga puluh lima tahun yang sudah puluhan kali tandatangan kontrak jutaan dollar.

Tangannya gemetar.

Ia menyentuh dadanya—menekan pelan di tempat di mana pisau seharusnya masuk. Tidak ada luka. Tidak ada rasa sakit. Hanya debaran jantung yang terlalu cepat.

Ponselnya berdering.

Rajendra tersentak—meraih ponsel di meja kecil di samping kasur dengan gerakan refleks.

Layar menyala—nama tertera di layar: Ibu.

Ia menatap nama itu beberapa detik—pikirannya berputar cepat, mencoba memproses apa yang terjadi.

Lalu ia mengangkat.

"Halo?" Suaranya serak—seperti baru bangun tidur.

Suara ibunya terdengar dari seberang—suara yang lembut tapi tegas, seperti kain sutra yang dibungkus besi.

"Rajendra, kamu sudah bangun? Jangan lupa hari ini kamu harus ke rumah. Ayahmu mau bicara soal pernikahanmu dengan Jessica."

Rajendra terdiam.

Pernikahan... dengan Jessica?

Ia menatap kalender di dinding—kalender tahun 2010 yang sudah ia lupa sejak kapan digantung di sana. Tanggal tercetak tebal dengan spidol merah: 15 Maret 2010.

Pikirannya berputar cepat—menghitung mundur.

Maret 2010.

Ia menikah dengan Jessica bulan April 2010—tepatnya tanggal 20 April—tepat sebulan lebih empat hari dari sekarang.

Berarti...

"Rajendra? Kamu dengar?"

Ia menelan ludah—tenggorokannya kering seperti kertas pasir.

"Iya, Bu. Aku dengar."

"Jangan telat. Ayahmu tidak suka menunggu. Dan kali ini serius. Keluarga Agus sudah konfirmasi. Semua sudah diatur."

"Oke."

Sambungan terputus.

Rajendra menurunkan ponselnya pelan—menatap layar kosong dengan pandangan kosong.

Tanggal. Nama. Tempat. Waktu.

Semua benar.

Lima belas tahun lalu.

Ia kembali lima belas tahun ke belakang—ke waktu sebelum pernikahan, sebelum pengkhianatan, sebelum kematian. Sebelum semuanya hancur.

Rajendra bangkit dari kasur—kakinya sedikit goyah—berjalan ke cermin kecil di atas lemari.

Wajahnya masih muda. Dua puluh tahun. Rambut agak panjang—belum dipotong rapi seperti waktu jadi direktur. Wajah tanpa kerutan—kulit masih mulus, tidak ada kantung mata, tidak ada garis halus di dahi. Mata masih jernih—belum ada bayangan lelah yang menetap di sana.

Tapi tatapannya beda.

Bukan tatapan anak muda yang polos dan penuh harapan.

Bukan tatapan orang yang masih percaya dunia ini adil.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri—dan untuk pertama kalinya sejak bangun, ia tersenyum.

Senyum tipis. Dingin. Tanpa kehangatan.

"Kesempatan kedua," gumamnya pelan—suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Lalu ia berbalik, mengambil jaket dari gantungan di belakang pintu, dan keluar dari kamar kos.

###

Pukul sepuluh pagi, Rajendra sampai di kediaman keluarga Baskara—rumah besar bergaya kolonial modern di kawasan Menteng.

Ia turun dari ojek online—membayar tunai dengan uang receh yang ia temukan di saku jaket—lalu berdiri di depan pagar besi tinggi, menatap rumah itu dengan perasaan campur aduk.

Dulu—di kehidupan pertamanya—rumah ini adalah tempat ia dibesarkan. Tempat ia merasa aman. Tempat di mana kakeknya duduk di teras sambil membaca koran setiap pagi, di mana ibunya menyiapkan sarapan, di mana ayahnya mengajarinya main catur meski selalu kalah.

Sekarang rumah ini terasa asing.

Seperti museum yang menyimpan kenangan palsu.

Seperti panggung sandiwara yang ia sudah tahu endingnya.

Ia menekan bel.

Pintu gerbang terbuka otomatis dengan bunyi motor listrik pelan.

Rajendra melangkah masuk—berjalan lewat taman yang rapi, naik tangga teras kayu yang masih licin karena baru dipel, lalu masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, tiga orang sudah menunggunya.

Julian Baskara—ayahnya—duduk di sofa tunggal dengan koran terlipat di pangkuan, kacamata baca bertengger di hidung. Wajahnya keras—rahang tegas, alis tebal, mata tajam yang selalu menilai. Postur tubuhnya tegak meski sudah lima puluh lima tahun.

Ririn Baskara—ibunya—duduk di sofa panjang, memegang cangkir teh porselen putih dengan motif bunga kecil. Wajahnya lebih lembut—tapi matanya sama tajamnya. Ia memakai cardigan krem dan rok selutut—pakaian rumah yang tetap terlihat formal.

Dan di ujung sofa, duduk Dera Baskara.

Adik angkatnya.

Rajendra menatapnya—wajah yang dulu ia percaya. Wajah yang terakhir ia lihat sebelum mati. Wajah yang masih tersenyum dengan polos di usia dua puluh lima tahun—lima tahun lebih tua dari Rajendra sekarang.

Dera tersenyum—senyum ramah, hangat, seperti biasa. Senyum yang ia gunakan selama dua puluh lima tahun untuk menyembunyikan iri hati.

"Mas Rajendra," sapanya dengan nada ceria. "Sudah datang."

Rajendra tidak menjawab. Ia hanya menatap Dera beberapa detik—cukup lama sampai senyum di wajah Dera sedikit luntur, berganti dengan tatapan bingung.

Lalu Rajendra duduk di sofa kosong di seberang mereka—tanpa salam, tanpa senyum.

Julian menurunkan korannya, menatap Rajendra dengan tatapan menilai.

"Kamu telat lima belas menit," katanya datar—tanpa marah, tapi nada tegur jelas terdengar.

"Macet," jawab Rajendra singkat—nadanya sama datarnya.

"Macet bukan alasan. Kamu harus belajar disiplin kalau mau mengelola perusahaan nanti. Waktu adalah uang. Itu yang Kakekmu selalu bilang."

Rajendra tidak menjawab. Ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan kosong—tatapan yang membuat Julian sedikit tidak nyaman.

Julian berdeham pelan, lalu melanjutkan.

"Hari ini kita akan bicara soal pernikahanmu dengan Jessica Agustina. Keluarga Agus sudah setuju dengan tanggal. Bulan depan, 20 April. Resepsi di Hotel Mulia. Lima ratus undangan. Semua sudah diatur."

Rajendra mendengarkan tanpa ekspresi.

"Ini penting," lanjut Julian—nadanya lebih serius. "Keluarga Agus punya pengaruh besar di industri properti. Kalau kita bisa gabung lewat pernikahan, bisnis kita akan lebih kuat. Kamu mengerti?"

"Mengerti," jawab Rajendra datar.

"Bagus. Jadi kamu—"

"Tapi aku tidak mau."

Hening.

Julian terdiam—mulutnya masih setengah terbuka, seperti baru saja dipotong di tengah kalimat.

Ririn meletakkan cangkir tehnya pelan—bunyi keramik menyentuh piring terdengar keras di ruangan sepi.

Dera menatap Rajendra dengan mata sedikit melebar.

"Apa?" tanya Julian pelan—suaranya rendah, berbahaya.

"Aku tidak mau menikah dengan Jessica," ulang Rajendra—suaranya tenang, tapi tegas. "Dan aku tidak akan."

Julian berdiri—wajahnya memerah, rahangnya mengeras, tangan kanannya mengepal di samping tubuh.

"Kamu pikir ini main-main? Ini sudah disepakati! Keluarga Agus sudah tahu! Undangan sudah dicetak! Hotel sudah dibayar DP! Semua sudah—"

"Aku tidak peduli."

Suara Rajendra memotong—keras, dingin, final.

Julian terdiam—matanya melotot, tidak percaya.

Rajendra berdiri—posturnya lebih rendah dari ayahnya, tapi tatapannya lebih tajam.

"Aku tidak akan menikah dengan Jessica. Kalau kalian memaksa, aku akan keluar dari keluarga ini."

Hening total.

Tidak ada yang bicara.

Tidak ada yang bergerak.

Dera menatap Rajendra dengan mulut sedikit terbuka—seperti tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Ririn menatapnya dengan wajah pucat—cangkir teh masih di tangannya, gemetar kecil. Julian menatapnya dengan campuran marah, bingung, dan—sesuatu yang jarang muncul di wajahnya—sedikit takut.

"Kamu gila?" tanya Julian pelan—suaranya gemetar menahan amarah. "Kamu mau membuang semuanya? Nama Baskara? Masa depanmu? Perusahaan yang Kakekmu bangun?"

Rajendra tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata.

"Kakek sudah meninggalkan semuanya untukku, Pak. Kalian hanya belum tahu."

Julian terdiam—wajahnya berubah dari marah menjadi bingung.

"Apa maksudmu?"

Rajendra tidak menjawab. Ia hanya menatap ayahnya beberapa detik—cukup lama sampai Julian merasa tidak nyaman.

Lalu Rajendra berbalik, berjalan menuju pintu.

"Rajendra!" panggil Ririn—suaranya tinggi, panik. "Kamu mau ke mana?!"

Rajendra berhenti di depan pintu—tanpa menoleh.

"Mengurus urusanku sendiri."

Lalu ia keluar, menutup pintu pelan, meninggalkan keluarganya dalam keheningan yang mencekik.

[ END OF BAB 1 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!