Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 14
"Kamu dan Fajar itu berbeda, kamu adalah istriku dan Fajar sudah aku anggap sebagai putra kandungku. Tentu saja berbeda dan tidak bisa disangkut pautkan," jawab Arkan.
Mutiara terlihat tidak puas dengan jawaban dari Arkan, dia bahkan menggenggam tangan Arkan dengan cukup kencang. Arkan hanya tersenyum samar melihat kelakuan dari istrinya tersebut.
"Tapi aku ingin Om jawab dengan pasti, kalau misalkan aku berniat untuk menghabiskan hidupku bersama dirimu, apakah kamu mau memilih aku dan tidak menganggap Fajar lagi?"
"Ya ampun! Kamu itu kenapa jadi posesif? Jangan-jangan kamu udah cinta mati lagi sama aku?"
"Om nggak paham, pokoknya kalau gak jawab aku marah."
Mutiara melipatkan kedua tangannya di depan dada, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah lain. Arkan tertawa kecil karena ternyata memiliki istri yang jauh lebih mudah dari dirinya itu sangat menyenangkan.
Terlebih lagi di balik sosok Mutiara yang terlihat begitu tegar, terlihat begitu kuat, tetapi nyatanya wanita itu juga merupakan wanita yang begitu manja jika berada di dekat dirinya.
Nenek Mia yang melihat hal itu juga ikut tertawa, dia merasa lucu dengan tindakan Mutiara tersebut. Namun, di dalam hati dia merasa miris juga. Hal itu dilakukan karena Mutiara pasti merasa begitu sakit hati terhadap Fajar.
Tanpa Mutiara duga, Arkan langsung bangun dari tempat dia duduk dan berdiri di belakang Mutiara. Lalu, dia memeluk Mutiara dan menyandarkan kepalanya pada pundak wanita itu.
Mutiara begitu kaget, badannya bahkan terasa merinding semua ketika napas pria itu menyapu leher jenjangnya. Ada rasa hangat juga yang menjalar sampai ke hatinya.
Pelukan pria itu terasa begitu menenangkan, apalagi saat Mutiara mendengar apa yang Arkan ucapkan, hatinya senang bukan main.
"Fajar itu memang sudah aku anggap sebagai putra kandungku, tetapi walau bagaimanapun juga kami tidak ada ikatan darah."
Pria itu menjeda ucapannya, lalu mengecup pipi Mutiara. Wajah wanita itu sampai merah merona, sedangkan a Nenek Mia malah menertawakannya.
"Jika kamu mau berumah tangga dengan baik dan benar denganku, bahkan melahirkan keturunan untukku, tentu saja kamu dan juga anak kita yang akan aku utamakan."
"Bener ya?" ujar Mutiara.
"Bener dong, masa bohong. Sekarang sarapan dulu yang bener, setelah itu kita pergi ke kantor."
"Baiklah, aku akan menuruti apa kata suamiku. Yang penting kamu nanti harus menuruti apa kataku," ujar Mutiara senang.
"Iya," jawab Arkan.
Setelah sarapan, Arkan membawa Mutiara menuju perusahaan miliknya. Sedangkan nenek Mia tetap di rumah dipantau oleh Lastri, saat Mutiara masuk ke dalam ruangan Arkan, dia begitu kaget karena di sana sudah ada seorang wanita yang menunggu kedatangan Arkan.
Wanita itu terlihat sangat cantik dan seksi, pastinya wanita itu terlihat dewasa. Mutiara sampai minder dibuatnya.
"Arkan, kamu datang membawa siapa?"
Wanita itu menatap Arkan dengan tatapan lain, hati Mutiara tiba-tiba saja diliputi rasa cemburu. Dia merasa kalau wanita itu merupakan ancaman besar untuk dirinya.
"Alice, ini istriku. Namanya Mutiara," jawab Arkan sambil merangkul pundak Mutiara.
"Istri? Kapan kamu menikah?"
Mutiara bisa melihat kekecewaan yang besar di mata wanita itu, wanita yang bernama Alice itu sepertinya menyukai suaminya. Tiba-tiba saja dia merasa takut kalau suaminya itu akan direbut oleh wanita itu.
"Baru beberapa hari, kita pengantin baru yang lagi anget-angetnya." Arkan tertawa setelah mengatakan hal itu.
Mutiara terlihat begitu kaget karena Arkan mengatakan hal seperti itu kepada Alice, dia bahkan langsung mencubit perut suaminya tersebut.
"Aduh, Yang. Jangan kaya gitu, ini sakit. Disayang aja, dicium juga boleh."
Mutiara sampai mengedipkan matanya berkali-kali, dia tak menyangka kalau Arkan akan bertingkah manja.
"Ehm! Kalian ke sini mau kerja atau mau pamer kemesraan?" tanya Alice dengan raut wajahnya yang semakin tak enak dilihat.
"Mau berbagi kebahagiaan, mau ajak istri aku keliling. Lalu, aku akan memberikan bonus kepada seluruh karyawan," jawab Arkan.
"Kalau begitu, aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian. Tapi, sebelum kalian keliling dan juga memberikan bonus untuk para karyawan, tolong tanda tangan berkas penting ini."
"Alice memberikan berkas kepada Arkan, pria itu memeriksanya dengan seksama. Setelah itu dia membubuhkan tanda tangannya, Alice membungkukkan badannya, lalu berpamitan untuk pergi.
Setelah kepergian wanita itu, Mutiara langsung menanyakan tentang siapa Alice itu. Dia tak mau mati penasaran. Dia takut kalau misalkan Alice itu adalah cinta pertama pria tersebut.
Dia takut kalau nantinya akan ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti di drama China yang pernah dia tonton, dia tak mau kebahagiaannya terancam.
"Dia itu adalah asisten pribadi aku, dia sangat kompeten.
"Tapi aku lihat dia sepertinya begitu menyukai kamu," ujar Mutiara.
"Ya, aku tahu."
Keduanya saling memandang, tiba-tiba saja Mutiara melihat tatapan Arkan yang tidak biasa. Wanita itu kini mulai paham, kenapa pria itu mengajak dirinya untuk bekerja di kantor milik pria itu.
"Terus, maksud kamu mau aku bekerja di sini biar dia segera menyingkir dari kehidupan kamu secara sadar gitu?"
Arkan mencubit pipi istrinya dengan gemas, karena ternyata Mutiara benar-benar sangat pintar. Dia itu bisa memahami situasi dalam waktu sebentar saja, pantas saja perusahaan putranya itu bisa langsung berkembang, karena otak wanita itu memang sangatlah encer.
"Ya ampun, ternyata aku punya istri yang begitu pintar."
Arkan menarik wanita itu ke dalam pelukannya, lalu mengecup bibir Mutiara dengan Mesra.
"Om!" pekik Mutiara antara kesal dan malu. "Ini di kantor," imbuhnya.
"Bodo," ujar Arkan yang malah menggendong Mutiara dan mendudukannya di atas meja.
"Jangan macam-macam!" peringat Mutiara ketika Arkan ingin mencium bibirnya.
Keduanya lalu tertawa, mereka sudah seperti sepasang suami istri sesungguhnya. Sedangkan di luar sana ada Alice yang mengintip, dia begitu kesal sekali melihat kemesraan di antara keduanya.
Wanita itu tanpa sadar sampai mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna, rahangnya terlihat mengeras dan giginya bahkan terdengar gemeretak.
Wanita itu sudah sangat lama menyukai Arkan, tetapi sayangnya Arkan tidak pernah menyukai wanita itu. Baginya Alice hanyalah asisten pribadinya, wanita itu memang cantik dan terlihat sempurna.
Bahkan sangat kompeten dalam bekerja, tetapi dia tidak tertarik sama sekali. Hanya Mutiara yang mampu menggetarkan hatinya, hanya Mutiara yang mampu membuat miliknya yang selama ini tidur bisa bangun dengan sempurna.
Semenjak kecelakaan mobil, Arkan dinyatakan impoten. Miliknya tak akan bisa bangun, tetapi sejak bertemu Mutiara, dia seperti mendapatkan keajaiban.
"Sial! Aku yang sudah mendambakan Arkan sejak lama, tapi malah wanita itu yang kini bersanding dengan Arkan. Awas saja dia, aku pasti akan memisahkan kalian. Setidaknya, kalau kalian tidak bisa berpisah, aku bisa masuk ke dalam kehidupan kalian."