NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - Cara Lain

"Mas yang kerjain."

Tidak pernah Nadin duga jika dia akan memiliki kesempatan untuk memerintahkan dosennya mengerjakan tugas semacam itu. Kesal lantaran Zain berulah, Nadin yang lelah asal bicara kala Zain bertanya dia maunya apa.

Nyatanya, permintaan sang istri justru dia sanggupi dan sepanjang hari Zain hanya fokus di depan laptop demi menyelesaikan tugas tersebut. Bagi Nadin, tugas yang diberikan Pak Anggara termasuk sulit hingga mengerjakannya jelas saja memeras otak dan tenaga.

Berbeda dengan Nadin, pria itu tampak santai saja, tugas semacam ini sangatlah mudah baginya. Sejak dulu Zain terkenal dengan cara berpikir di atas rata-rata, justru dengan Nadin yang meminta mengerjakan tugasnya, pria itu justru merasa dibutuhkan, dan dia suka.

Nadin yang awalnya hanya terbawa emosi kini mulai mendekati sang suami. Mengintip cara kerja Zain yang tadi banyak sekali protes, sedikit berbeda dengan teori, begitu praktiknya Zain tidak menerapkan apa yang dia sampaikan pada Nadin.

Duduk bersandar di sofa, dengan laptop di atas paha dan juga posisi duduk yang tampak santai seolah tengah menonton televisi. Nadin berdehem, dia datang dengan membawa segelas kopi hangat dan juga biskuit untuk sang suami.

Lagi-lagi hal itu tanpa diperintahkan, Nadin melakukannya atas keinginan sendiri karena dulu terbiasa melihat abinya bekerja. "Kopinya buat siapa?"

"Buat kamu, Mas," jawab Nadin menatap ke arah sang suami yang masih terus fokus dengan pekerjaanya.

Dari jumlah halaman yang tertera di sana, agaknya sudah banyak dan Nadin akui hasil kerjanya tidak main-main. Ya, jam terbang tidak bisa bohong, Zain jelas lebih berpengalaman dalam segala hal.

Sayang, pujian itu mendadak musnah kala dia dengan santainya berucap. "Aku tidak minum kopi."

Ingin sekali Nadin protes dan bertanya kenapa baru bilang sekarang. Namun, demi tugasnya itu dia berusaha untuk bersikap sopan dan menepis semua kekesalan yang menguar dalam benaknya. "Terus maunya apa?"

Sama seperti Zain yang bertanya apa mau Nadin, wanita itu juga demikian. Dia tidak ingin hanya Zain saja yang direpotkan, sementara dirinya tidak. "Mas," panggil Nadin lagi lantaran Zain yang kini mendadak tuli.

Sejak tadi hanya fokus dengan laptopnya, kali ini dia menatap wajah Nadin yang tampak menunggu jawaban. "Jus apel."

Baiklah, Nadin mengangguk walau sadar suaminya agak sedikit ribet. Jika Zain saja bersedia mengerjakan tugas seribet itu, kenapa dia harus mengeluh perkara jus apel. "Apelnya dicuci lima kali, dipotong jadi empat potong dan airnya jangan terlalu dingin."

Baru saja hendak melangkah, ternyata ada tambahannya dan hal itu membuat Nadin menarik napas dalam-dalam. Sisi lain suaminya, ternyata agak sedikit cerewet. "Itu saja, Mas?"

Bukannya menjawab, Zain justru tersenyum tipis menatap Nadin yang berdiri tepat di depannya. Dia tidak segera menjawab sebelum kemudian merubah posisi duduk seraya berucap. "Finish!! Kamu bisa lihat hasilnya sekarang," ucap Zain mempersilakan Nadin untuk memastikan hasilnya.

"Heh? Serius sudah?" Mata Nadin membola, rasanya baru saja tadi dia meminta, kenapa bisa secepat itu, pikirnya.

Sejenak dia lupa perkara jus apel yang tadi Zain minta, dia berbalik dan duduk di samping sang suami. Tak habis kekaguman Nadin, wanita itu sampai menutup mulutnya. "Keren, ini bukan copas, 'kan, Mas?"

Wajah Zain seketika berubah kala sang istri melontarkan pertanyaan semacam itu. Susah payah dia berpikir, tiba-tiba dituduh copy paste, jelas saja kesal. "Kamu tidak lupa prinsip yang kupegang sebagai dosen, 'kan?"

Nadin meneguk salivanya pahit, dia lupa jika yang di hadapannya ini adalah penjunjung tinggi hasil pikiran sendiri. "Hm? Ingat tidak?" tanya Zain lagi seraya bertopang dagu dan menatap lekat Nadin.

"Tidak ada toleransi untuk siapapun yang menyalin ataupun menggunakan hasil kerja orang lain."

"Good, menurutmu apa mungkin aku akan mengingkari ucapanku sendiri?"

"Siapa tahu, kan kalau di kelas pak Anggara boleh saja asal jangan copas seluruhnya," balas Nadin berusaha membela diri, padahal sebenarnya percuma juga.

"Tetap saja, kalau yang mengerjakannya aku beda cerita ... dosenmu itu saja kurang wawasan, otaknya mentok jadi mahasiswa dibebaskan melakukan hal semacam itu."

Tidak ingin masalahnya semakin panjang, Nadin memilih iya-iya saja. Sejak kapan juga dia bisa menang kala berdebat dengan Zain, sementara sesama dosen saja ada yang mengeluh dengan keteguhan prinsip dan kerasnya sikap Zain.

Mengalah agaknya lebih baik, Nadin kembali pada topik pembicaraan. Tahu jika Zain suka dipuji, wanita itu mengucapkan kata-kata yang baik untuk sang suami agar lelahnya terbayar. Tidak hanya itu, dia juga segera beranjak demi menyiapkan jus apel yang tadi sempat Zain minta.

"Mau kemana?" tanya Zain yang sontak mengenggam pergelangan tangannya.

Nadin yang tadi sempat diperintahkan ini dan itu jelas saja mengerutkan dahi. "Bikin jus, kan tadi mas yang minta," jelas Nadin kemudian.

"Aku bercanda, tetaplah di sini."

Benar-benar tidak dapat diprediksi, Zain bilang bercanda, padahal dia sudah seserius itu. "Katanya tidak minum kopi?"

"Memang tidak, tapi bukan berarti aku benar-benar memintamu melakukan hal itu." Penjelasan Zain masih membuatnya tampak kebingungan, Nadin terdiam dan tampak ragu antara kembali duduk atau turun ke dapur lantaran belum memahami bahwa ucapan Zain adalah sindiran atau memang perintah.

"Kenapa diam begitu? Ayo duduk sini."

"Iya, nanti ... kan jusnya belum aku bu_"

"Shuut, aku tidak menikahimu untuk disuruh-suruh," ucap Zain seraya menempelkan jemarinya tepat di bibir Nadin lantaran sang istri sejak tadi terus berpikir jika candaannya beberapa saat lalu adalah sungguhan.

Walau sudah dijelaskan begitu, tetap saja Nadin merasa tak enak hati pada Zain yang sudah dia repotkan sehari ini. "Tapi 'kan kamu capek, seharian cuma kerjain tugasku ... jadi tidak masalah disuruh-suruh."

"Ah, jadi mau balas budi ceritanya?"

"Tepatnya sebagai ucapan terima kasih," balas Nadin membenarkan, enak saja dianggap hutang budi, pikirnya.

Mendengar hal itu, seketika Zain mengulas senyum tipis, tipis sekali bahkan nyaris tak terlihat. "Kalau benar-benar ingin berterima kasih, lakukan dengan cara lain saja."

"Cara lain?" Nadin mengerutkan dahi, ucapan sang suami agak kurang jelas di telinganya. "Apa?" lanjutnya lagi.

"Apa saja, dan pastinya harus lebih manis dibandingkan jus apel."

.

.

- To Be Continued -

1
Nizar Ayesha
ya Allah, ngekek terus dari tadi 🤣🤣
Marlina Prasasty
A++
Marlina Prasasty
aduh mau menghindar mala tdk bisa🤦
Maya Ratnasari
hepi aku Baca novel ini, semua straight to the point, mengedepankan kejujuran dengan lugas, meski kadang memalukan, hehehee. masalah juga segera diurai satu persatu. keren lah Thor, bisa memberikan insight buat kita pembacanya.
Maya Ratnasari
qiqiqii, pilih Salah satu aja kak: have a nice day, atau have a good day. kalo have a nice good day jadi salfok menikmati kopi good day
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!