"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban?
Lampu lalu lintas berganti warna, memicu gelombang kendaraan yang saling berebut jalan.
Klakson mobil saling bersahutan, knalpot motor mengeluarkan asap hitam, dan pejalan kaki dengan sabar menunggu kesempatan untuk menyeberang. Di persimpangan jalan ini, waktu seolah berjalan lebih cepat dari biasanya.
"Di minum kopinya, mas Dim." Sofia--istri Tony meletakkan dua gelas kopi di atas meja, untuk suaminya dan juga Dimas yang bertamu.
"Makasih, Sof." Ucap Dimas menganggukkan kepala.
Tidak ada angin tidak ada hujan pria itu tiba-tiba ingin main ke rumah Tony, katanya sudah lama tidak ke sana. Padahal, tentu saja malas pulang ke rumah karena masih kepikiran dengan pertanyaan 'kapan nikah?' yang selalu terngiang-ngiang di telinga.
Terlihat Mahrez--anak Tony dan Sofia berlari menuju ayahnya minta di pangku.
Dalam hati, Dimas sedikit merasa tersentuh melihat pemandangan itu. Kalau saja ia sudah menikah, pasti ia pun akan merasakan punya jagoan seperti Tony.
"Oom!" Panggil Mahrez pada Dimas.
"Jagoan udah semakin besar!" Balas Dimas mengusap kepala Mahrez.
"Om, ayo ain." Ajak Mahrez yang masih cadel.
"Ayo! Jagoan Om mau main apa?"
"Ain... Mobiyan. Bum... Bum..." Jawab Mahrez dengan memamerkan mobil mainannya.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Mahrez yang menggemaskan.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk di iringi ucapan salam dari luar sana.
"Assalamu'alaikum..."
"Ada tamu, Bun." Ucap Tony.
"Iya, Yah. Sepertinya itu Naina,"
"Sepupu Bunda itu?"
"Iya. Tunggu, ya. Bunda bukain pintu dulu."
***
"Waalaikumsalam..." Ucap Sofia sembari membukakan pintu.
Tampak seorang gadis berambut panjang lebat, tinggi sekitar seratus lima puluh sentimeter. Ia putih tapi terlihat agak kurang terawat. Gadis itu di balut dengan baju lusuh berwarna oranye dan bawahan rok berwarna biru dongker. Di tangannya ia menenteng tas besar yang juga sudah lusuh warnanya, bahkan terlihat beberapa bagian yang koyak.
Gadis bernama Naina itu menyalami Sofia yang sangat terlihat senang akan kedatangannya.
"Akhirnya kamu datang juga." Ucap Sofia.
"Iya, Mbak. Alhamdulillah."
"Ayo, masuk."
"I--iya" Jawab Naina yang terlihat canggung. Sebelum masuk, tidak lupa ia menyopot sandalnya yang sudah sobek bagian pinggirannya dan mengangkat kembali tas besar yang tadi sempat ia taruh di lantai.
"Udah, pake aja sendalnya. Tasnya di tinggal aja. Nanti mas Tony yang bawa."
"Tidak apa-apa, Mbak." Naina yang sungkan tetap melepas sendal dan menenteng tasnya itu. Dan Sofia pun tidak bisa melarang.
*
"Mas, ini Naina. Sepupu yang aku ceritain kemarin. " Ucap Sofia saat mereka tiba di ruang tamu.
Tony dan Dimas yang asik ngobrol menghentikan aktivitasnya lalu berdiri.
"Oh, iya." Ucap Tony.
Naina segera menyalami Tony dan juga Dimas secara bergantian.
"Yaudah, Mas lanjut aja sama mas Dimas. Aku mau anter Naina ke kamar biar dia bisa istirahat." Lanjut Sofia. Tak lupa ia pun membawa Mahrez.
"Iya, Bun."
"Mari, Mas..." Ucap Naina yang sangat sopan.
*****
Sejenak Dimas dan Tony diam.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba, Bro!" Ucap Tony tiba-tiba. Dimas yang tidak paham hanya bisa mengernyitkan dahi.
"Bener-bener rencana Tuhan ini!" Sambung Tony lagi semakin membuat Dimas kebingungan.
"Maksud lu apa sih, Bro?"
"Jodoh lu udah datang!"
"Apaan, sih?" Dimas bertambah bingung.
"Lu nikah aja sama Naina. Dia itu sepupu bini gua dari desa. Dia ke sini buat nyari kerjaan. Dari pada dia capek cari kerjaan yakan? Mending dia jadi istri lu aja."
"Gila, lu! Di kira asal nikah-nikah aja. Gua kenal aja gak."
"Jangan sia-siakan kesempatan. Lagian dia gak jelek-jelek amat. Di rawat dikit udah glowing tuh. Orang desa mah biasanya manut sama suami gak banyak tingkah."
Dimas hanya diam berusah mencerna ucapan Tony.
"Susah dapetin istri yang manut, Bro! Gadis desa juga dijamin masih ori. Bebas dari pergaulan yang gak gak. Itung-itung lu selamatin anak orang. Juga... dia yatim piatu."
"Bayangin... Ntar dia dapat kerja, terus ngekos. Karena ya gak mungkin kan dia tinggal di sini? Lu tau sendiri, kan kalo cewek udah hidup sendiri di kota? Walau gak semua kaya gitu." Tony tidak berhenti meyakinkan Dimas.
"Lu jangan ngadi-ngadi!" Dimas masih belum bisa berpikir.
"Lu jangan khawatir, ntar gua yang ngomong sama bini gua dan Naina."
"Gua masih belum bisa memutuskan. Gua pikirin dulu. Sekali lagi gua bilang, nikah itu gak asal-asalan."
"Iya! Gua yakin Ini takdir Tuhan. Lu bingung cari calon, eh calonnya datang sendiri. Tuhan emang tau apa yang dibutuhkan hamba-Nya." Ucap Tony panjang lebar membuat Dimas hanya diam dalam kebingungan.
***
Selama diperjalanan pulang, Dimas terus saja memikirkan perkataan Tony, sesekali wajah Naina juga terbayang oleh nya.
"Jujur saja... Sampai saat ini, aku masih sayang sama kamu, Sar..."
"Tapi, aku juga gak bisa terus seperti ini."
"Aku masih sayang sama kamu, tapi Ayah terus saja menyuruh ku untuk menikah. Kamu alasan ku untuk tidak menikah sampai saat ini."
"Tapi gadis itu..."
Dimas seperti berada di persimpangan jalan. Satu sisi hatinya masih terpaut pada masa lalu, namun di sisi lain, tawaran Tony seolah menjadi jawaban atas kegelisahannya selama ini.
"Apa benar ini takdir dari Tuhan?" gumam Dimas seorang diri.
Ia mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Naina. Gadis itu memang terlihat sederhana dan polos. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Dimas merasa iba. Mungkin karena ia tau bahwa Naina adalah seorang yatim piatu yang sedang mencari pekerjaan di kota besar.
"Kalau aku menikahinya, apakah aku bisa membahagiakannya? Atau justru menambah luka baru dihidupnya?" Tanya Dimas pada diri sendiri.
Dimas tau bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan secara terburu-buru. Ia tidak ingin menyesal di kemudian hari. Namun, ia juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Tapi, lagi-lagi keraguan itu tetap tertanam dihati.