NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Il-beon Peurojekteu

Luca mematung di ambang pintu selama beberapa detik, napasnya tertahan di tenggorokan.

Clara menempelkan jarinya ke leher Greta dengan tangan yang gemetar hebat. Suasana di apartemen itu begitu sunyi, hanya terdengar suara napas Clara yang memburu dan tetesan air dari keran kamar mandi yang belum dimatikan.

​"Bagaimana, Clara?! Dia masih bernapas, kan?!" tanya Luca dengan suara serak, ia tampak kalut saat masuk dan langsung menyelimuti tubuh Greta dengan jaket tim basketnya untuk menghalau dingin.

​"Masih ada, Luca... tapi sangat lemah. Sepertinya ia pingsan karena syok dan kedinginan," jawab Clara pelan, air matanya menetes mengenai punggung tangan Greta.

​Luca segera merogoh ponselnya dan menekan nomor darurat.

"Halo! Ambulans! Cepat ke Apartemen Parkdale, Gedung 4B unit 302! Ada korban penyerangan... seorang gadis, dia tidak sadarkan diri dan terluka!"

"Tenang, Pak. Tim medis sedang dalam perjalanan. Tetaplah bersamanya dan pastikan jalan napasnya terbuka."

Luca mematikan telepon. Tak lama kemudian, suara sirine yang meraung-raung memecah keheningan Parkdale. Petugas medis datang dengan cepat, mengangkat tubuh ringkih Greta ke atas tandu. Saat tandu itu bergerak keluar, potongan foto orang tua Greta yang robek terjatuh dari genggaman jemarinya yang lemas.

​Luca memungut sobekan itu. Matanya yang merah menatap pintu apartemen yang terbuka lebar, memancarkan aura kemarahan yang belum pernah dilihat Clara sebelumnya.

Lampu merah ambulans terus berputar, memantul di dinding lorong Rumah Sakit St. Jude yang serba putih dan dingin. Begitu pintu belakang ambulans terbuka, petugas medis langsung mendorong tandu Greta dengan tergesa-gesa.

​"Pasien wanita, usia 17 tahun, ditemukan tidak sadarkan diri dengan tanda-tanda hipotermia ringan dan trauma fisik!" teriak salah satu petugas saat mereka melewati pintu Unit Gawat Darurat (UGD).

​Luca dan Clara berlari di belakang mereka, namun langkah mereka tertahan oleh seorang perawat di depan pintu geser otomatis.

​"Maaf, kalian harus tunggu di luar. Biarkan dokter bekerja," ucap perawat itu dengan tegas namun tenang.

​Pintu tertutup rapat. Luca terengah-engah, ia menyandarkan kepalanya ke dinding koridor yang dingin. Tangannya masih memegang sobekan foto orang tua Greta yang sudah agak lecek. Di sampingnya, Clara duduk di kursi tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang karena isak tangis yang tertahan.

​Keheningan rumah sakit yang mencekam justru membuat pikiran Luca semakin liar. Ia membayangkan apa yang dialami Greta semalam sendirian.

​Tiba-tiba, pintu UGD terbuka sedikit. Seorang dokter keluar sambil melepas sarung tangan karetnya. Luca dan Clara langsung berdiri tegak.

​"Keluarga dari Greta?" tanya dokter itu.

​"Kami temannya, Dok. Tapi tolong katakan, bagaimana kondisinya?" tanya Luca mendesak.

​Dokter itu menghela napas panjang. "Secara fisik, luka di dagunya sudah kami jahit dan suhunya mulai stabil. Namun, ia mengalami shock psikologis yang sangat berat. Saat sempat sadar sebentar tadi, dia mengalami serangan panik hebat dan terus menggumamkan kata "Il-beon...Peurojekteu" berkali-kali.

Luca dan Clara saling berpandangan, bingung. "Apa maksudnya? ".

Satu jam pun berlalu.

Pintu geser ruang perawatan terbuka pelan, mengeluarkan aroma antiseptik yang tajam. Luca dan Clara segera berdiri dari kursi tunggu dengan wajah penuh harapan sekaligus kecemasan.

​"Pasien sudah siuman," ucap suster itu sambil tersenyum tipis. "Tapi tolong, jangan membuatnya terlalu lelah."

​Luca dan Clara bergegas masuk. Di atas ranjang putih yang tampak terlalu besar untuk tubuh ringkihnya, Greta bersandar pada tumpukan bantal. Kepalanya dibalut perban, dan rambutnya yang kini berantakan terlihat mencuat di balik kain kasa. Namun, saat menyadari kehadiran mereka, Greta perlahan menoleh.

​Alih-alih tangisan atau ketakutan, sebuah senyuman tipis dan tenang terukir di bibirnya yang masih pecah-pecah. Senyum itu sangat tulus, seolah-olah ia baru saja terbangun dari mimpi buruk dan menemukan cahaya.

​"Kalian... datang?" bisiknya sangat lirih, suaranya parau.

​"Greta!" Clara langsung menghambur ke sisi tempat tidur, menggenggam tangan Greta yang terasa sangat mungil. "Maafkan kami... maaf kami terlambat menemukanmu."

​Greta menggeleng pelan, senyumnya tidak pudar meskipun matanya berkaca-kaca. "Terima kasih... Luca, Clara. Aku pikir... aku sudah kehilangan segalanya semalam. Tapi melihat kalian di sini, aku merasa masih punya sesuatu yang tersisa."

"Siapa yang melakukan ini Greta..! " ucap Luca tegas.

Norah Dan Revelyn.. jawab Clara sinis.

"Norah??.. bagaimana mungkin dia sekejam ini..." bisiknya tak percaya. Kenyataan bahwa teman satu sekolahnya bisa melakukan tindakan kriminal seperti ini membuat dunianya seakan berputar.

​"Di apartemen Greta, aku melihat Kipas Revelyn berada di tengah tumpukan botol minuman, Luca!" potong Clara dengan nada muak. "Itu barang langka yang cuma punya dia. Itu tandanya."

​Luca terdiam seribu bahasa. Keheningan yang menyesakkan itu tiba-tiba pecah oleh suara Greta yang gemetar.

​"Aku ingin pulang... ucap Greta pelan namun tegas. "Aku tidak suka rumah sakit. Aku sudah sadar, kumohon..."

​"Ada apa, Greta? Kamu aman di sini, dokter akan menjagamu," ucap Clara mencoba menenangkan.

​"Tidak!" Greta mulai terlihat sangat ketakutan, napasnya memburu. "Aku punya trauma tentang ruangan rumah sakit! Aku ingin pulang, kumohon... bawa aku keluar dari sini!"

​Melihat Greta yang hampir mengalami serangan panik karena trauma masa lalunya di rumah sakit, Luca sadar mereka tidak bisa tinggal di sana lebih lama lagi.

"B.. Baiklah, tunggu sebentar. Jangan panik, Greta," ucap Luca menenangkan sambil memegang tangan Greta yang gemetar.

​Luca dan Clara bergegas keluar menuju meja administrasi. Awalnya, pihak rumah sakit menolak keras karena kondisi Greta yang belum sepenuhnya stabil. Namun, Luca tidak menyerah. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyebutkan nama belakang keluarganya sebuah nama yang sangat berpengaruh di kota ini.

Luca menatap kepala dokter dengan tajam. "Saya yang akan memberikan jaminan penuh atas nama keluarga Blight," tegas Luca. "Segala risiko dan biaya akan menjadi tanggung jawab saya pribadi. Namun, secara psikologis, pasien ini tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi."

​Mendengar nama keluarga Blight, dokter itu tampak tersentak. Dengan kekuatan nama besar keluarga Luca, proses administrasi yang seharusnya memakan waktu berjam-jam selesai dalam hitungan menit. Dokter akhirnya memberikan izin pulang meski dengan berat hati, setelah Luca berjanji akan menyediakan perawat pribadi untuk memantau kondisi Greta.

Luca dan Clara kembali masuk ke ruangan dengan langkah yang lebih ringan setelah urusan administrasi selesai. Luca mendekat ke arah ranjang, memberikan isyarat bahwa semuanya sudah beres berkat jaminan nama keluarga Blight.

​"Greta... jika kamu benar-benar tidak ingin di rumah sakit, menginaplah di rumahku," ujar Clara dengan nada yang sangat tulus. "Kamarku memang tidak besar, tapi aku bisa menjagamu setiap saat selagi kamu belum pulih." Clara menggenggam tangan Greta sambil tersenyum hangat, mencoba menyalurkan keberanian.

​Luca mengangguk setuju, berdiri di samping mereka. "Benar, Greta. Aku sudah mengatur semuanya. Nanti akan ada perawat juga yang akan mengecek kondisimu secara rutin di sana. Kamu tidak akan sendirian."

​Greta terdiam. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut pendeknya menutupi wajahnya yang pucat. Bahunya sedikit bergetar, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa haru yang membuncah.

​"Terima kasih... terima kasih banyak, teman-teman," bisik Greta dengan suara serau, air mata setitik jatuh ke punggung tangannya. Ia merasa, untuk pertama kalinya setelah kejadian mengerikan itu, ia memiliki tempat untuk pulang.

​Luca kemudian membantu Greta berpindah ke kursi roda dengan sangat hati-hati, sementara Clara membereskan barang-barang kecil milik Greta. Mereka bergerak cepat, ingin segera membawa Greta keluar dari atmosfer rumah sakit yang menyesakkan itu.

Saat mereka sampai di pintu keluar rumah sakit, Greta menahan langkahnya sejenak. Ia menggenggam tangan Clara dengan erat. "Aku ingin mengambil baju dan barang-barang lainnya di apartemenku dulu," ucapnya pelan, masih ada sedikit nada cemas di suaranya.

​Clara mengangguk mengerti. "Kalau begitu, aku akan pulang duluan untuk membereskan kamarku. Aku tidak mau kamu melihat barang-barang yang aneh-aneh di sana nanti," balas Clara sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Greta.

​Luca yang berdiri di samping mereka langsung mengernyitkan dahi. "Barang aneh? Apa maksudnya?" tanyanya dengan tatapan penuh curiga dan dahi berkerut.

​Melihat ekspresi Luca yang mendadak serius dan kebingungan, mata Clara dan Greta saling beradu selama satu detik. Detik berikutnya, tawa kecil pecah dari bibir keduanya—bahkan Greta bisa sedikit melupakan traumanya sejenak. Mereka tertawa melihat betapa polosnya kapten basket itu dalam memahami "urusan perempuan".

​"Kenapa kalian tertawa? Ada yang lucu?" Luca semakin bingung, tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

​"Sudahlah, Luca. Anak laki-laki tidak perlu tahu," goda Clara sambil masih tertawa kecil.

​Luca hanya bisa terdiam dengan wajah datar, merasa ditinggalkan oleh lelucon internal mereka.

Garis polisi kuning yang melintang di depan pintu apartemen memberikan kesan mencekam, seolah-olah tempat itu baru saja menjadi saksi bisu sebuah kejahatan besar. Greta melangkah masuk dengan hati-hati, menghindari menyentuh barang-barang yang masih berserakan di lantai.

​Ia bergegas menuju lemari pakaiannya, tangannya bergerak cepat memasukkan baju-baju dan beberapa buku sekolah ke dalam tas. Luca tetap berdiri di ambang pintu.

​Tak lama kemudian, Greta keluar dengan langkah terengah-engah sambil menjinjing dua tas besar yang terlihat cukup berat bagi tubuhnya yang masih lemah.

​"Berikan padaku," ucap Luca tanpa basa-basi. Ia langsung mengambil alih kedua tas itu dari tangan Greta dengan gerakan sigap, seolah tas-tas itu tidak ada beratnya sama sekali.

​Tepat saat mereka hendak melangkah pergi, suara sepatu bot yang berat bergema di lorong. Seorang petugas polisi dengan seragam lengkap muncul di tikungan, memegang buku catatan dan senter.

​"Hei! Apa yang kalian lakukan di sini?" tegur polisi itu dengan suara berat. "Ini tempat kejadian perkara yang masih dalam penyelidikan. Kalian dilarang masuk tanpa izin."

​Luca berdiri tegak, memposisikan dirinya di depan Greta untuk melindunginya. Ia tidak tampak gentar sedikit pun. "Nama saya Luca Blight. Teman saya ini adalah penghuni apartemen ini sekaligus korban dari kejadian semalam," ucap Luca dengan nada bicara yang sangat formal dan berwibawa. "Dia hanya mengambil keperluan pribadi yang sangat mendesak."

​Polisi itu tertegun sejenak mendengar nama Blight. Ia menurunkan nada suaranya, namun tetap terlihat curiga. "Ah,... Tapi tetap saja, kami sedang mencari bukti terkait kekacauan di sini. Apakah kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam tadi?"

​Greta sedikit meremas ujung jaket Luca, ia tampak ragu apakah harus memberitahu polisi tentang Kipas Revelyn.

"Ayo, Greta. Kita tidak punya waktu lagi di sini," ajak Luca sambil menuntun Greta melewati polisi yang masih tampak bingung itu.

​Mereka menuruni tangga apartemen dengan langkah seribu, menghindari kerumunan kecil yang mulai berbisik di lobi. Begitu sampai di parkiran, Luca melempar tas-tas Greta ke bagasi motor besarnya dan menyerahkan helm kepada gadis itu. Suasana malam terasa semakin dingin, namun amarah di dada Luca justru semakin panas.

​Sambil menghidupkan mesin motor yang menderu rendah, Luca menoleh sedikit ke arah Greta yang masih tampak pucat.

​"Dengar, Greta," ucap Luca dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Jangan berharap banyak pada polisi tadi. Di kota ini, hampir semua orang tunduk kepada ayah Norah. Dari pihak sekolah sampai kepolisian, mereka semua koruptor yang sudah dibeli dengan uang haram. Mengandalkan mereka sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang singa."

​Greta terdiam, ia mencengkeram erat jaket Luca, menyadari betapa besarnya musuh yang mereka hadapi.

​Luca menarik napas panjang, menatap jalanan gelap di depannya dengan mata yang tajam. "Kita tidak bisa pakai cara mereka. Mulai sekarang, kita pakai cara kita sendiri. Aku, kamu, dan Clara."

​Dengan satu hentakan gas, motor Luca melesat membelah kegelapan malam, meninggalkan apartemen yang hancur itu di belakang mereka.

Saat motor Luca menderu menjauh, keheningan di sekitar apartemen itu kembali mencekam. Di sudut jalan yang remang-remang, sebuah mobil SUV hitam terparkir diam di bawah bayang-bayang pepohonan.

​Kaca jendela belakangnya yang gelap perlahan terbuka sedikit, hanya menyisakan celah kecil yang cukup untuk memperlihatkan sepasang mata tajam yang sedang mengawasi. Pria di dalam mobil itu memegang ponselnya dengan erat, menatap lampu belakang motor Luca yang semakin mengecil.

​Dari speaker ponselnya, terdengar suara bariton yang dingin dan penuh otoritas memberikan perintah dalam bahasa Korea:

​"Geureul anjeonhage jikyeora, deulkitji ma (그를 안전하게 지켜라, 들키지 마)." (Amankan dia, jangan sampai ketahuan.)

​Pria di dalam mobil itu tidak menjawab, ia hanya menatap kosong ke arah jalanan yang kini sepi. Tanpa menyalakan lampu utama, SUV hitam itu perlahan bergerak, memutar arah dan melaju dengan tenang ke arah yang berlawanan dengan motor Luca dan Greta.

​Asap tipis keluar dari knalpot mobil itu sebelum akhirnya ia menghilang di balik tikungan, meninggalkan rahasia besar yang bahkan Luca dan Clara pun tidak mengetahuinya.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!