NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Sisa Cahaya di Ujung Luka

BAB 10: Sisa Cahaya di Ujung Luka

Pagi di lantai tujuh rumah sakit itu dimulai dengan keheningan yang menyesakkan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar kamar VVIP Arini seolah tidak mampu menembus dinginnya suasana di dalam. Arini baru saja menyelesaikan siklus pertama dari protokol pengobatan barunya—sebuah kombinasi obat keras yang diharapkan Dokter Bram bisa menahan laju penyebaran sel kanker di tulang belakangnya.

Namun, harapan itu datang dengan harga yang sangat mahal.

Arini terkapar lemah. Wajahnya tidak lagi hanya pucat, tapi sudah keabu-abuan. Keringat dingin membanjiri keningnya, dan napasnya terdengar pendek-pendek, seolah paru-parunya sudah lupa cara menarik oksigen dengan benar. Setiap beberapa menit, tubuhnya akan tersentak karena rasa mual yang luar biasa hebat, hasil dari racun kimia yang kini mengalir di pembuluh darahnya.

Rangga duduk di sisi ranjang, memegang sebuah wadah kecil. Ia dengan telaten mengusap bibir Arini yang pecah-pecah dengan kapas basah setiap kali gadis itu selesai memuntahkan cairan empedu yang pahit. Tidak ada lagi yang tersisa di perut Arini, namun rasa mual itu tidak kunjung pergi.

"Sakit, Ga... pusing banget... kepalaku rasanya mau pecah," rintih Arini. Suaranya nyaris menyerupai bisikan hantu.

Rangga mengecup tangan Arini yang tertancap jarum infus ke-sekian kalinya karena pembuluh darahnya mulai pecah. "Sstt... tahan ya, Sayang. Sebentar lagi obat pereda nyerinya bekerja. Aku di sini. Pegang tanganku yang kencang kalau sakit."

Arini mencengkeram jemari Rangga. Kukunya yang kini rapuh menekan kulit Rangga hingga memerah, namun Rangga tidak bergeming sedikit pun. Baginya, rasa sakit di kulitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan setiap kali melihat Arini merintih kesakitan.

"Ga... berhenti saja ya? Aku... aku nggak kuat," isak Arini di tengah napasnya yang tersengal. "Biarkan aku... pergi dengan tenang. Jangan siksa aku dengan obat-obat ini lagi."

Hati Rangga terasa seperti diperas. Ia meletakkan wadah di tangannya, lalu menangkup wajah Arini, memaksa gadis itu untuk menatap matanya yang memerah karena kurang tidur. "Jangan bicara begitu, Rin. Kamu sudah janji padaku untuk berjuang. Kita baru mulai. Dokter Bram bilang ini reaksi normal. Setelah ini, kamu akan merasa lebih baik."

"Kamu bohong!" Arini tiba-tiba menangis histeris, sebuah ledakan emosi yang dipicu oleh rasa frustrasi dan sakit fisik yang tak tertahankan. "Kamu cuma egois, Rangga! Kamu memaksa aku hidup hanya karena kamu nggak siap kehilangan aku! Kamu nggak tahu rasanya jadi aku... rasanya seperti dibakar hidup-hidup dari dalam!"

Rangga tertegun. Kata-kata Arini menghujam tepat di ulu hatinya. Ia melepaskan tangan Arini dan berdiri perlahan, mundur satu langkah. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Apakah benar ia egois? Apakah ia sedang mempertahankan Arini demi kebahagiaannya sendiri, sementara Arini harus membayar setiap detiknya dengan penderitaan yang tak terbayangkan?

Tanpa sepatah kata pun, Rangga berbalik dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar rawat itu. Ia menutup pintu dan menguncinya. Di depan cermin, Rangga melihat bayangannya sendiri—seorang pria sukses dengan kemeja mahal yang kini kuyu, berantakan, dan hancur.

Ia menghidupkan keran air dengan volume maksimal untuk meredam suaranya, lalu ia menunduk dan menangis sejadi-jadinya. Bahunya terguncang hebat. Ia memukul dinding keramik kamar mandi itu dengan kepalan tangannya hingga buku jarinya lecet dan berdarah.

"Maafkan aku, Arini... maafkan aku..." isaknya di balik suara gemericik air. "Aku cuma nggak tahu gimana caranya hidup tanpa kamu."

Setelah beberapa menit, Rangga membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menata kembali rambutnya yang berantakan, menarik napas panjang untuk menekan seluruh kesedihannya ke dasar hati yang terdalam. Ia harus kuat. Jika ia hancur, maka Arini tidak akan punya pegangan lagi.

Saat ia keluar dari kamar mandi, ia mendapati seorang perawat sedang mengganti botol infus Arini. Arini sudah kembali tenang, mungkin karena obat penenang dosis tinggi yang baru saja dimasukkan melalui selang infusnya. Arini menatap Rangga dengan pandangan sayu yang penuh penyesalan.

"Maaf, Ga... tadi aku cuma... terlalu sakit," bisik Arini lirih.

Rangga berjalan mendekat, duduk kembali di kursi setianya, dan mencium dahi Arini yang dingin. "Nggak apa-apa. Marah saja padaku. Pukul aku kalau perlu. Asalkan jangan pernah minta aku untuk melepaskanmu."

Arini hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan kepasrahan.

Sore harinya, Dokter Bram masuk dengan wajah yang sedikit lebih cerah. Ia membawa hasil laboratorium terbaru yang dilakukan beberapa jam setelah kemoterapi pagi tadi.

"Ada kabar baik, Rangga," ujar Dokter Bram sambil menunjukkan tablet digitalnya. "Meskipun reaksinya keras, tapi kadar penanda kanker di darah Arini menunjukkan penurunan untuk pertama kalinya. Ini artinya tubuhnya merespons. Obat ini bekerja."

Mata Rangga berbinar. Seolah ada cahaya mentari yang tiba-tiba muncul di tengah badai. "Benar, Dok? Dia akan membaik?"

"Ini langkah awal yang besar. Jika kita bisa melewati tiga siklus lagi, kita mungkin bisa melakukan prosedur radiasi tertarget untuk mengecilkan massa tumor di tulang belakangnya. Tapi, Arini harus tetap punya keinginan kuat untuk makan. Dia butuh nutrisi."

Rangga menatap Arini yang masih memejamkan mata. Sebuah semangat baru muncul di dalam dirinya. Ia segera menghubungi asistennya untuk membawakan makanan terbaik dari restoran sehat paling ternama di Jakarta. Ia juga memesan beberapa buku audio dan musik klasik yang dulu sering Arini dengarkan.

Namun, di tengah harapan yang baru tumbuh itu, sebuah ancaman lain muncul.

Pintu kamar terbuka pelan, dan seorang pria berpakaian rapi—pengacara keluarga besar Rangga—masuk ke dalam ruangan. Ia memberikan isyarat agar Rangga keluar sebentar ke lorong.

"Ada apa, Pak Surya? Aku sedang tidak ingin membahas bisnis," ujar Rangga ketus saat mereka sudah di luar kamar.

"Ini bukan soal bisnis, Pak Rangga. Ini soal Ibu Sarah," jawab pengacara itu dengan wajah serius. "Ibu Sarah sudah membekukan seluruh aset pribadi Anda atas nama perusahaan keluarga. Beliau juga mencabut jaminan kesehatan yang selama ini Anda gunakan untuk biaya rumah sakit Nona Arini. Ibu Sarah berpesan, jika Anda tidak segera meninggalkan rumah sakit ini dan kembali ke kantor pusat di Singapura, beliau akan menuntut Nona Arini atas tuduhan pemerasan dan manipulasi terhadap Anda."

Rangga tertawa getir. Tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Pemerasan? Ibuku benar-benar sudah gila."

"Ibu Sarah punya bukti-bukti transfer yang Bapak kirimkan ke klinik di Bogor kemarin. Beliau bisa menggunakan itu untuk membuat Nona Arini terlihat buruk di mata hukum, terutama dalam kondisinya yang sekarang."

Rangga mencengkeram kerah baju pengacara itu, menekannya ke dinding koridor. "Katakan pada Ibuku. Dia bisa ambil semua uang itu. Dia bisa ambil posisiku. Tapi jika dia berani menyentuh Arini dengan urusan hukum atau apa pun yang bisa menambah beban mentalnya, aku sendiri yang akan menghancurkan perusahaan keluarga itu dari dalam. Aku tahu semua rahasia kotor Mama di pasar saham, dan aku tidak akan ragu untuk membukanya ke publik."

Pengacara itu gemetar, melihat kilat kegilaan di mata Rangga. "Saya... saya akan sampaikan pesannya, Pak."

Rangga melepaskan cengkeramannya dan kembali masuk ke dalam kamar. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menatap Arini yang sedang tertidur lelap. Ia tahu, mulai besok, ia tidak akan lagi punya fasilitas mewah. Ia mungkin akan kehilangan hartanya, rumahnya, dan martabatnya di mata sosial.

Namun, saat ia kembali duduk dan menggenggam tangan Arini, Rangga merasa lebih kaya dari siapa pun di dunia ini.

"Kita akan berjuang lewat jalan yang lebih sulit, Rin," bisik Rangga sambil mengusap lembut kepala Arini yang kini tanpa rambut. "Tapi aku nggak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Aku akan jadi tamengmu, sampai napas terakhirku."

Malam itu, Rangga mulai menyusun rencana. Jika dunia menolak cinta mereka, maka ia akan menciptakan dunianya sendiri untuk Arini. Sebuah dunia di mana hanya ada mereka berdua, di sisa waktu yang entah berapa lama lagi yang Tuhan berikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!