Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Try to Move on
Anye dan Desti mengayunkan langkah kakinya bersama detakan stilleto ke arah ruangan pak Yaris. Seolah detakan kencang dan kuat di lantai itu seirama dengan detakan jantungnya sekarang.
Ceklek.
"Selamat siang, Bu..."
"Siang pak." Hufft! Anye menghela nafasnya, segera mengenyahkan pemandangan bikin kaget barusan dari pikirannya dan fokus pada pekerjaan.
Fokus Anye...fokus! Toh, apa yang salah dengan barusan. Ganesha single. Pun, ia dan Ganesha tidak lagi memiliki ikatan apapun selain dari mantan dan partner bisnis sekarang. Jadi sah-sah saja, to?
"Duduk, Bu...Bu Desti." pinta pak Yaris diangguki Anye dan Desti.
"Bagaimana pak? Iklan fix rilis besok kan?" tanya Anye memandang raut wajah getir pak Yaris, "begini, Bu. Kemarin itu pak Ganesha----"
/
Brakkk!
Anye menggebrak meja kerjanya, ia tentu saja murka sebab deadline besok, tapi pihak Jilo corp justru mengajukan revisi di beberapa bagian video yang alasannya tak mendasar. Dan meminta beberapa adegan dihapus.
"Maksud si Ganesha yang terhormat tuh apa sih?!" ia bahkan tak peduli jika kepalanya sudah berasap dan mengeluarkan api persis rambut bejita. Bahkan blazer yang memeluk badan rampingnya itu sudah ia tanggalkan menyisakan kemeja pink lembut yang masih melindungi bagian hati yang tengah jengkel.
"Ngga apa-apa, Bu. Ini cuma diedit dikit beres, masih estetik kok..." Angel mencoba menenangkan dengan memberikan solusi.
Desti, ia meringis tak berani menyela, sebab ia merasa jika amukan Anye ini bukan hanya karena ketidakprofesionalan pihak Jilo. Namun---
"Kenapa ngga dari kemarin sih, kan dari pertama shoot aja laki-laki badji ngan itu tuh ada, buat liatin kita shot dari awal script!"
Catat! Kali ini bukan Abang tapi laki-laki badji ngan, Desti mengangguk.
"Giliran sekarang udah cape-cape dikemas cantik malah dengan gampangnya dia bilang beberapa part dihapus. Otaknya digadein ke rumah makan Padang kayanya kemaren!"
"Sabar Bu, sabar...inhale exhale..." Pinta Desti baru berani bersuara. Angel dan tim editing bergegas mengerjakan kembali. Saat Anye memilih menjatuhkan dirinya di kursi kebesarannya. Ingin sekali ia mencekik leher lelaki breng sek itu.
Ia memejamkan matanya sejenak. Namun yang tergambar justru wajah jutek, yang seolah tak mau menatapnya tadi siang, si alan!
"Gila... bener-bener gila!" Anye mondar-mandir di dapur rumahnya. Segelas air ia teguk hingga habis, menyisakan pikiran yang masih keruh dan otak yang berisik disana.
Berulang kali hatinya mencelos dan mendengus sumbang, lumayan terhantam juga melihat pemandangan siang tadi. Gerahhh.... cemburu? Entahlah rasanya ia hanya---tak menyangka saja, teman dan mantan? Seperti ada luka sayatan di belahan paru-parunya.
Bahkan Anye masih ingat dengan pertemuan bersama pak Yaris tadi yang mendadak mengatakan ketidaksukaan Ganesha dengan beberapa adegan yang dilakukan Anyelir di iklan pemasaran unit properti Kemang Regency.
Ia menunduk sebab kepala yang terasa berat, sementara pan tatnya bersender di pantry, sampai----
Sayup-sayup ia mendengar suara ibu yang menerima tamu di depan sana. Suara tak asing yang ia dengar, dan benar saja...saat ia menyerbu kembali ke ruang tengah rupanya seseorang datang berkunjung.
"Mas Ibas?"
"Oh, hay Nye...sudah pulang?" pria matang dengan kemeja yang masih rapi itu memperlihatkan gestur sopannya, "ini tadi kebetulan mama ada titipan buat kamu sama tante Ayu." Ia mengangsurkan paper bag berisi asinan mangga dan kue yang dibuat mamanya.
"Wah, masyaAllah... repot-repot banget, Bas." ibu tersenyum menerima itu, "duduk dulu, Anye bikinin minum, ya...Nye..." Pinta ibu, mau tak mau Anye kembali ke dapur dan membuatkan minum untuk Ibas yang sialnya justru menaruh pan tat di kursi.
Menemani duduk di ruang depan, sedikit mengobrol canggung berujung Ibas yang mengajak makan siang bersama besok.
Anye meringis menatapnya, sebenarnya ia malas, tapi....saat kembali mengingat kejadian tadi siang, seketika emosinya kembali melonjak.
"Oke deh, mas." *Sekedar makan siang kan? Tidak lebih*.
Ibu tersenyum lebar saat mendengar dan melihat Anye menerima tawaran Ibas, setidaknya ibu menganggap Anye sudah siap membuka lembaran baru.
*Anyelir*
Sepeninggal Ibas yang mengumbar senyumnya lebar itu, ibu mengusap punggungnya lembut sambil menatap ke arah mengecilnya badan belakang city car diantara jalanan blok rumahnya.
Ada udara dingin yang menguar namun nyatanya dingin itu tak membuat hati Anye adem, sebab...kini rasa gelisah itu justru semakin kencang menerpa jantungnya. Apakah keputusan ini sudah benar? Ia membuka lembaran baru, membuka hatinya secepat ini untuk orang baru?
Sementara kedua tangannya mendekap lengan yang mulai mendingin sebab udara malam sudah membelai kulit di balik dress rumahnya.
Entahlah, seharusnya ia begitu excited, tapi ada resah yang tak bisa ia jelaskan sekarang termasuk pada langit. Matanya telah bercengkrama pada bintang. Namun---mereka justru ikut membisu.
.
.
Anye sedikit merapikan rambut dan wajahnya di ruangan, melirik jam dinding dan ponsel, memastikan kembali jika seseorang sedang berada dalam perjalanan.
**Mas Ibas**
*Aku Otewe ya, Nye*...
Ia lantas meraih tas jinjingnya dan memantapkan diri. Berjalan anggun diantara dress span warna hijau botol dan blazer sayap creamnya.
"Des, saya mau makan siang di luar." Ucapnya pada Desti yang masih sibuk merapikan pekerjaan, melihat stelan rapi dan siap-nya---Desti mengangguk meskipun sedikit dibuat penasaran, "mau aku temenin ngga Bu?"
Anye menggeleng, "saya ada janji sama orang lain."
Desti tersenyum usil di mejanya, bersamaan dengan ia yang menyentuh hiasan bunga bergoyang layaknya boneka dasboard mobil, hingga batangnya bergoyang-goyang lucu, "cieee, siapa tuh, Bu? Si mas-mas yang kemarin, kah?" godanya membuat Anye tertawa kecil dan duduk sejenak di kursi sebrang meja Desti setelah sempat menutup pintu ruangannya.
"Nguping?" tanya Anye menyipitkan matanya.
Desti menggeleng, "kedengeran bu. Lah ibu jawabnya kenceng, *iya mas*..." tiru Desti sengaja dimanja-manjakan.
"Masa sih? Saya ngga gitu ya, nadanya..." kikik Anye menggigit kuku jarinya gemas, menumpukan kaki kanan di kiri lalu bersandar di kursi.
/
Imaginary mendadak riuh saat jam makan siang, karyawan yang tak begitu banyak itu berebut melihat kedatangan seorang pria ke kantor mereka. Bukan karena tidak pernah kedatangan tamu atau calon pelanggan lelaki, tapi----
"Bu Anyelir ada?"
Dan dari balik tembok dengan aksen warna cheerful yang ceria nan hangat, sosok Anye keluar, "mas...macet ngga?"
"Lumayan, jalan sekarang?" ajaknya membuat Anye berjalan di sampingnya dan mengekori Ibas masuk ke dalam mobil.
"Dessss!!!"
Dan Desti menjadi sasaran karyawan Imaginary setelahnya.
"Mau makan dimana?" tanya Ibas setelah mereka meninggalkan kantor Imaginary beberapa meter, "ada rekomendasi?" ia membiarkan Anye memberikan pilihannya, wanita ini mengangguk ragu, "ada sih, tapi----"
"Let's go! Aku prediksi, rekomendasi kamu pasti worth it." Tanpa menunggu berdebat, Ibas memberikan Anye yang mendominasi.
Anye tersenyum.
Ganesha
Ucapan Yahya terngiang-ngiang bersamaan dengan obrolan Anye bersama lelaki kemarin, ia mendengus untuk itu. Bukankah mulutnya memang sudah mengatakannya kemarin? Jika antara dirinya dan Anye telah selesai, jika dirinya dan Anye telah memiliki kehidupan masing-masing, dan kerja sama kali ini, adalah bentuk profesionalitas. Tak akan ada yang terjadi selama kerja sama.
Afiqah
Jadi makan siang? Ketemu di resto atau aku ke kantor kamu?
Ganesha
Jadi. Ketemu di resto saja.
Afiqah
Dimana? Ada rekomendasi?
Ganesha
Sola ria saja.
/
Tidak pernah sampai terpikirkan jika diantara sekian banyaknya cafe and resto yang tersebar dan terhampar di sepanjang kota Jakarta, di cafe dan resto ini ia harus bertemu kembali dengan hal yang membuatnya mendadak muak. Dunia itu sempit.
Ganesha terlanjur menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, ketika sepasang manusia datang dan duduk di meja dekat dengannya.
"Anye...ketemu lagi." Anye terlihat sedang memilih meja dan cukup terkejut juga saat Afiqah menyapanya.
Seketika wajahnya kaku dan dingin, baik Anye ataupun Ganesha justru terlihat canggung dan membuang muka, tak mau berbalas tatap, berbeda dengan Afiqah dan Ibas yang sudah saling mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Oh, Hay Fiqah..." jawab Anye.
"Baskoro..."
"Afiqah.."
Sebuah tangan terulur ke depan Ganesha yang tengah menyendok menu makan siangnya, "Baskoro..."
Anye menatap nyalang. Namun---
"Mas, ini..." Anye mencoba memperkenalkan, tapi Ganesha sudah menyambarnya angkuh, "Ganesha."
Membuat Ibas menaikan kedua alisnya, "oh, Ganesha..."
"Ya." Kembali Ganesha mengangguk, seolah sedang menyetujui apapun tebakan Ibas, Ganesha yang itu...Ganesha mantan suami wanita di sampingmu.
Anye memicing mendapati keangkuhan Ganesha, hal itu yang paling tak disukainya dari Ganesha, sejak dulu. Entah Pada teman-temannya atau konsumennya...membuatnya malu saja memiliki suami yang tak bisa bersikap ramah. Yang tatapannya kaya cacingan begitu.
"Gimana kalo duduk barengan aja, Nye? Iya kan Nesh?" Afiqah justru menawarkan hal semakin membuat keduanya sulit, Ganesha bahkan semakin kepayahan mengunyah makan siangnya, dan Anye...ia merasa jika dadanya sesak, tapi ia justru, "ya." Angguk Ganesha.
"Wah, boleh tuh biar rame!" jawab Ibas justru menyetujui ide gila Afiqah padahal wajah kedua orang itu sudah muak dan melotot, Anye yang tak setuju dan Ganesha yang melayangkan tatapan tajamnya.
Anye terlihat memasang tampang keberatannya, tapi yang dilakukan Ibas justru sudah menarik kursi lain ke meja dimana Ganesha dan Afiqah.
"Mas, tapi..."
"Ya?" Ibas menjeda tindakannya yang memancing alis Ganesha terangkat sebelah.
"Aku ke kamar mandi dulu sebentar." Ijin Anye pada akhirnya.
"Oh iya." Jawabnya mempersilahkan.
Ganesha menggeser posisinya untuk mendapatkan kenyamanan. Tapi hal itu justru membuat ia menyenggol sendok dimana sisa saus salad miliknya mengenai pergelangan baju.
"Eh, Nesh...duh kotor kena baju kamu." Afiqah turut berseru dan refleks mengambil tisu. Namun, alih-alih menerima Ganesha justru beranjak, "biar saya bersiin di kamar mandi saja."
"Oh, iya udah dibasuh pake air, Nesh..." angguk Afiqah, bersamaan dengan Ibas yang baru saja duduk, Ganesha menyerbu kamar mandi seraya menggosok-gosok pergelangan bajunya.
Langkahnya bertemu dengan Anye yang baru saja keluar. Ada tatapan tajam yang kemudian berubah menjadi menakutkan dari Ganesha melihat Anye. Semakin cepat dan greep!
"Eh!"
"Kamu sengaja kan?" Ganesha menarik Anye ke sisi lain toilet, oh bukan--bukan! Ia sudah mendorong Anye masuk kembali ke dalam salah satu bilik kamar mandi.
.
.
.
.
Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
hajar aja ganesh