Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
For The Ark
## SELAMAT MEMBACA ##
Kapal pesiar raksasa milik The Ark membelah ombak dengan angkuh. Di balik fasilitas medisnya yang mewah, tersimpan maut yang siap dilepaskan. Namun, kali ini The Units tidak sendirian. Para orang tua yang biasanya mengawasi dari balik layar, memutuskan bahwa "Sisi Ketiga" sudah terlalu jauh menyentuh keluarga mereka.
---
Arkan dan Aurora berhasil menyelinap ke dek bawah melalui jalur kargo. Arkan bersikeras bahwa mereka harus menyamar sebagai pasien agar bisa menembus laboratorium utama.
Arkan mengeluh soal atribut penyamaranya yang sangat diluar ekspektasi. Dipikir dia bakal cosplay menjadi Badboy, Mafia, atau yang lebih keren lainnya, asalkan jangan cosplay menjadi Presiden.
"Hei, Rora! Kenapa aku harus pakai perban di seluruh muka? Aku jadi mirip mumi yang baru bangun tidur! Dan ini, kenapa aku harus duduk di kursi roda lagi?" Wajahnya sudah keruh serta bibirnya mengerucut lima senti.
"Karena kau yang paling pintar akting merintih, Arkan! Dan ingat, di dalam perbanmu itu ada peledak asap mikro. Kalau aku beri kode 'Sakit Gigi', kau ledakkan!" dalih Aurora sedikit jengkel karena si cosplayer satu ini protes terus dari tadi.
"Tapi Rora, aku susah melihat! Tadi aku hampir menabrak pot bunga mahal karena perbannya menutupi mata kiriku!" Arkan jengkel dan cemberut, apa tidak ada ide lain atau cosplay jadi genderuwo sekalian.
Di markas komando sementara (sebuah kapal cepat siluman milik keluarga Rumi), Dania, Reyna, dan Alan Rumi sedang bekerja dalam harmoni yang mematikan.
Saat ini Dania sedang fokus membobol sesuatu dan jemarinya menari di atas hologram tiga dimensi. "Alan, aku sudah memecahkan enkripsi pintu masuk laboratorium. Tapi mereka pakai sistem penguncian biologis. Mereka butuh detak jantung spesifik dari pemimpin mereka."
Alan mengangguk, "Aku sudah mengirimkan sinyal interferensi."
Lalu dia menoleh ke istrinya, "Reyna, apakah kau sudah selesai dengan 'hadiah' untuk sistem ventilasi mereka?"
Disisi lain, Reyna tersenyum tenang sambil merakit sebuah tabung kecil berisi cairan pembersih udara.
"Tentu, Alan. Begitu Dania membuka celah di firewall, aku akan menyuntikkan gas penetralisir virus. 'Sisi Ketiga' akan mengira mereka melepaskan maut, padahal mereka hanya melepaskan aroma terapi lavender."
Tiba-tiba Dania menyahut senang, "Dan... voila! Pintu laboratorium terbuka. Arsen, Aira, kalian punya waktu 90 detik sebelum sistem cadangan mereka aktif!"
Mereka ikut terjun menghentikan penyerangan yang akan dilakukan The Ark. Oleh karena itu, sebagai orang tua tidak akan tinggal diam jika menyangkut keselamatan keluarganya apalagi menyerahkan sepenuhnya pada anak-anak.
Di lorong menuju ruang kendali, Arsen dan Aira terpojok oleh selusin tentara bayaran elit. Namun, sebuah bayangan bergerak lebih cepat dari peluru. Arindi, ibu Arsen, muncul dengan mengenakan setelan taktis hitam.
"Arsen, Aira, lanjut ke depan. Biar Mama yang membereskan sampah-sampah ini." Ucapnya penuh ketegasan. Meskipun Arindi sudah lama tidak terjun ke aksi penyergapan, tidak mengurangi aura kepemimpinan serta taktinya yang jenius.
Seorang tentara besar menerjang, namun Arindi menghindar dengan gerakan yang sangat luwes, menggunakan momentum lawan untuk membantingnya ke dinding baja. Ia bergerak seperti tarian maut; menggunakan teknik silat harimau yang dikombinasikan dengan kuncian mematikan.
Arindi sambil melumpuhkan dua orang sekaligus dengan satu tendangan berputar. "Kalian harus belajar bahwa mengganggu anakku adalah kesalahan terakhir yang akan kalian buat!"
Arsen menatap ibunya dengan kagum. "Mama masih punya 'sentuhan' itu. Mama hebat!"
Mendengar kekaguman sang putra, Arindi terkekeh saja. "Ibu hanya jarang melakukannya karena Papa-mu terlalu protektif. Cepat pergi!" Sambil memberikan tambahan pukulan pada pengawal sang musuh.
"Hmm.... Mama Arin hati-hati disini." Aira mengangguk serta tak lupa memberikan perhatiannya pada calon mertuanya, ehe.
"Benar, Ma. Tetap hati - hati, jangan sampai Papa yang ada diluar sana kalap melihat Mama terluka nanti", Oceh Arsen menggoda sang ibu.
"Tenang saja, boy. Kau juga jangan lupa menjaga calon menantuku. Jangan sampai tergores sedikit pun", Ucap Arindi sambil mengacungkan jempol kirinya.
Seketika wajah Aira dan Arsen memerah seperti tomat saat mendengar kata "menantu" yang meluncur dari mulut sang ibu. Benar-benar direstui lahie batin.
---
Arsen dan Aira tiba di dek observasi tertinggi. Di sana, berdiri seorang wanita anggun yang membelakangi mereka. Saat ia berbalik, jantung Aira seolah berhenti. Wanita itu adalah Maya, mantan mentor Aira di London yang selama ini dianggap sudah meninggal dalam misi.
Aira tertegun sesaat, "Maya? Kau... kau adalah pemimpin 'Sisi Ketiga'?"
Maya menatap datar, "Aira, muridku yang manis. Kau pikir aku mati karena kecelakaan? Tidak. Aku mati agar bisa terlahir kembali untuk menghancurkan sistem busuk yang kalian sebut aliansi ini."
"Kau memanipulasi Julian, kau memanipulasi Aira. Semua ini hanya karena kau ingin membalas dendam pada Paman Alan Rumi?" Arsen menatap Maya penuh intimidasi. Dia sangat geram, ternyata wanita itu punya andil juga.
"Alan Rumi menghancurkan hidup keluargaku demi misinya dua puluh tahun lalu. Sekarang, aku akan menghancurkan karyanya yang paling berharga: kau, Aira." teriak Maya yang sangat membenci Alan beserta keturunannya.
Tepat saat Maya akan menekan pemicu virus, suara Arkan menggema melalui interkom kapal.
**Arkan:** "WOY, AURORA! SAKIT GIGI! ADUH, SAKIT SEKALI!"
*BOOM!*
Asap tebal berwarna warni memenuhi seluruh kapal, termasuk ruang observasi. Ternyata Arkan salah memicu peledak; bukannya asap putih untuk pelarian, yang keluar adalah asap pesta ulang tahun yang penuh konfeti.
Tak berselang lama, Arkan muncul dari balik asap sambil terbatuk. "Maaf! Salah ambil tas! Tapi setidaknya suasananya jadi lebih ceria, kan?" jawabnya tanpa dosa disertai senyuman manis, sangat manis...kata Arkan sendiri, sih.
Dalam kekacauan konfeti dan asap lavender, Arsen menerjang Maya. Terjadi duel sengit di atas dek yang licin oleh embun laut. Aira bergerak ke arah konsol utama, bekerja sama dengan Dania secara real-time untuk mengunci penyebaran virus secara permanen.
"Aira, tarik kabel merah di bawah meja! Itu pemicu manualnya!" interupsi Dania cepat.
Aira menarik kabel tersebut tepat saat Maya melepaskan diri dari Arsen dan mencoba menembak Aira. Namun, sebuah peluru dari jarak jauh menghantam senjata Maya. Di kejauhan, di atas helikopter, Ankara terlihat memegang senapan runduk.
Dengan tatapan tajam dan penuh akurasi Ankara berbicara penuh penekananan, "Jangan sentuh menantuku!"
Maya terpojok di pinggir dek. Ia menatap mereka semua dengan kebencian, lalu melompat ke laut yang gelap sebelum Arsen bisa menangkapnya.
"Dia hilang... tapi virusnya berhasil kita netralisir." terang Arsen.
Aira menghela napas lega, bersandar pada Arsen. "Berkat bantuan dadakan dari Ayah, Bunda, Bibi Dania dan terutama... Mama Arindi."
Arkan datang sambil membawa segelas minuman dari bar kapal yang kosong. "Hei, semuanya! Karena misinya sukses dan kita di kapal pesiar, bagaimana kalau kita pesta es krim?"
"Hah??!!!" semua orang kaget sampai melongo mendengar ucapan absurb Arkan.
"Astagaa.....Alan, Reyna. Anakmu satu itu mulai kambuh." Arindi mengusap kasar wajahnya, disusul yang lain hanya menghela nafas.
----
Bersambung.....