Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. The End of Everything
Busan disambut badai petir yang seolah membelah langit. Di sektor Utara, gudang tua yang pernah menjadi saksi bisu kematian Jennie kini dikelilingi oleh kabut biru statis yang aneh. Udara di sana terasa berat, berbau besi dan belerang.
Limario, Jennie, Kenzhi, dan Arkano turun dari kendaraan taktis mereka. Di hadapan mereka, pasukan "Zombi Waktu"—manusia-manusia tanpa jiwa yang terjebak dalam loop kronos—berdiri kaku menjaga gerbang gudang.
Serangan Serentak: Kekuatan Keluarga
"Arka, bersihkan jalannya," perintah Limario dengan nada dingin.
Arkano (9 tahun) maju selangkah. Ia tidak lagi memejamkan mata; tatapannya kini berubah menjadi kuning keemasan, mencerminkan kekuatan alam yang ia panggil. Dari kegelapan selokan dan pepohonan di sekitar gudang, ribuan tikus, anjing liar, dan burung gagak menerjang pasukan zombi tersebut.
"Majulah!" seru Arkano. Hewan-hewan itu menyerang dengan koordinasi yang tak masuk akal, menjatuhkan para penjaga waktu yang tidak bisa mati namun bisa dilumpuhkan secara fisik.
Kenzhi, meski tanpa kekuatan peraknya, bergerak di samping Hans. Ia menggunakan tablet militer untuk meretas frekuensi distorsi yang diciptakan Sang Arsitek. "Daddy, pindah ke pukul dua! Ada celah di perisai energi setiap sepuluh detik!"
Limario dan tim elit bergerak seperti bayangan, masuk ke dalam gedung melalui celah yang ditunjukkan Kenzhi. Mereka bukan lagi sekadar tentara; mereka adalah instrumen dari strategi brilian seorang gadis berusia 14 tahun.
Konfrontasi di Titik Nol
Di pusat gudang, tepat di tempat Jennie dulu meregang nyawa, Sang Arsitek berdiri di depan sebuah retakan realitas yang bersinar terang. Retakan itu adalah "Luka Waktu" yang ia ciptakan untuk menghisap seluruh keberadaan dunia ini.
"Kau tidak bisa menghentikan takdir, Jennie," ucap Sang Arsitek saat Jennie dan Limario masuk. "Aku adalah kegagalanmu yang tak terelakkan."
Jennie melangkah maju, senjatanya diturunkan. "Kau bukan takdirku. Kau hanyalah penyesalan yang diberi bentuk. Kau adalah Limario yang tidak bisa merelakan kematianku, dan kau rela menghancurkan dunia hanya untuk melihatku lagi."
Sang Arsitek terhenti. Topengnya yang retak memperlihatkan mata yang mulai menangis darah perak. "Aku hanya ingin kau hidup! Di duniaku, kau mati dalam kedinginan!"
"Tapi aku hidup sekarang!" teriak Jennie. "Lihat aku! Aku punya Limario, aku punya Kenzhi, dan aku punya Arkano. Garis waktumu sudah berakhir, Arsitek. Lepaskan kami!"
Pengorbanan Terakhir
Tiba-tiba, retakan itu meledak, mulai menghisap segala sesuatu di sekitarnya. Kenzhi dan Arkano berlari masuk ke ruangan, mencoba membantu orang tua mereka.
"Mesin ini butuh penyeimbang!" Kenzhi berteriak di tengah gemuruh angin. "Jika tidak ditutup sekarang, seluruh Jakarta akan terhisap ke dalam ketiadaan!"
Kenzhi melihat ke arah pisaunya, lalu ke arah ibunya. Namun, bukan Kenzhi yang bergerak. Arkano melangkah maju, memegang tangan Sang Arsitek.
"Kakek Tua," ucap Arkano lembut. "Hewan-hewan bilang kau sangat kesepian. Mari, ikutlah denganku. Kita tutup pintu ini bersama-sama."
Arkano menggunakan kemampuannya untuk menghubungkan kesadaran Sang Arsitek dengan kesadaran alam semesta. Sang Arsitek berlutut, memeluk Arkano. Dalam pelukan itu, energi kronos yang merusak perlahan menjadi stabil.
"Maafkan aku..." bisik Sang Arsitek. Tubuhnya mulai bersinar, menyatu dengan retakan waktu. Ia menarik seluruh anomali itu ke dalam dirinya sendiri.
WUUUSSSHHH!
Dalam satu ledakan cahaya putih yang murni, Sang Arsitek, pasukan zombi, dan mesin kronos menghilang sepenuhnya. Gudang tua itu kembali menjadi gudang tua biasa yang sunyi dan berdebu.
Fajar yang Baru
Matahari mulai terbit di ufuk timur Jakarta, menyinari keluarga Vincentius yang duduk di atas reruntuhan beton. Limario merangkul Jennie, sementara Kenzhi dan Arkano bersandar pada mereka.
Kenzhi menatap pergelangan tangannya. Benar-benar bersih. Tidak ada lagi gema masa depan. Arkano menghela napas panjang, burung-burung kembali berkicau dengan nada yang normal.
"Apakah ini sudah berakhir, Mum?" tanya Arkano pelan.
Jennie menatap langit yang mulai membiru. Ia tidak lagi melihat bayangan kematian atau angka-angka waktu yang berputar. Ia hanya melihat hari ini.
"Ya, Arka. Ini sudah berakhir. Mulai sekarang, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Dan itu adalah hal yang paling indah di dunia."
Limario mencium kening Jennie. "Ayo pulang. Kita punya banyak waktu sekarang. Benar-benar waktu yang nyata."
Limario datang membawa dua gelas teh, duduk di samping Jennie. Mereka tidak lagi bicara tentang Proyek Chronos atau perjalanan waktu. Mereka hanya bicara tentang rencana pernikahan Kenzhi dan hobi baru Arkano dalam konservasi alam.
Di pergelangan tangan Kenzhi, kini melingkar sebuah gelang perak biasa pemberian ibunya. Bukan sebagai sumber kekuatan, tapi sebagai pengingat bahwa masa lalu adalah pelajaran, masa depan adalah misteri, dan masa kini adalah anugerah yang harus dijaga dengan nyawa.
Debu-debu perak sisa ledakan dimensi perlahan turun seperti salju di tengah udara Jakarta yang lembap. Gudang itu kini benar-benar sunyi, kehilangan semua aura mencekam yang menghantuinya selama sepuluh tahun terakhir.
Limario berdiri perlahan, membersihkan luka di pelipisnya, lalu mengulurkan tangan kepada Jennie. Jennie menyambutnya, berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar, namun matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sejak ia terbangun dari kematian di kehidupan pertamanya.
Momen Terakhir Bersama Sang Arsitek
Di tengah reruntuhan, bayangan Sang Arsitek yang mulai transparan menatap keluarga itu untuk terakhir kalinya. Ia tidak lagi tampak seperti monster atau penguasa waktu; ia hanya terlihat seperti seorang pria yang sangat lelah karena mengejar sesuatu yang mustahil.
"Jennie..." bisiknya, suaranya kini identik dengan suara Limario yang lembut. "Jaga mereka. Di setiap garis waktu... kau adalah satu-satunya cahaya yang membuat Limario tetap menjadi manusia. Jangan biarkan dia kehilanganmu lagi."
Jennie mengangguk kecil, air mata menetes di pipinya. "Aku janji. Beristirahatlah dengan tenang."
Sosok itu tersenyum, lalu perlahan lenyap menjadi partikel cahaya yang terbang terbawa angin badai yang mulai mereda. Dengan hilangnya Sang Arsitek, seluruh beban sejarah yang bengkok itu seolah ikut terangkat.
"Daddy," panggil Kenzhi. "Hans baru saja melapor. Sisa-sisa laboratorium di Swiss dan Macau telah hancur secara otomatis setelah mesin di sini meledak. Tidak ada lagi teknologi Chronos yang tersisa di dunia ini."
Arkano menatap ke arah pintu gudang yang terbuka. "Burung-burung bilang polisi dan tim penyelamat mulai mendekat. Kita harus pergi sebelum mereka melihat apa yang terjadi di sini."
Limario mengangguk tegas. "Hans, bersihkan area ini. Bakar semua sisa dokumentasi. Gudang ini harus rata dengan tanah besok pagi. Aku ingin tempat ini menjadi taman, bukan makam."
Perjalanan Pulang: Fajar Baru
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke mansion, Arkano tertidur di bahu Kenzhi karena kelelahan setelah mengendalikan ribuan hewan. Kenzhi sendiri menatap tangannya yang kosong, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apa yang akan dimasak oleh koki mansion besok pagi, dan ketidaktahuan itu terasa sangat menyenangkan.
Limario menggenggam tangan Jennie di kursi belakang. "Apa yang kau pikirkan?"
Jennie menyandarkan kepalanya di bahu Limario. "Aku memikirkan tentang kehidupan kita yang 'baru'. Tanpa misi, tanpa ketakutan akan masa depan, tanpa bayang-bayang kematian. Apakah kita bisa menjadi keluarga normal, Lim?"
Limario terkekeh pelan, mencium kening istrinya. "Normal? Dengan putri yang jenius strategi dan putra yang bisa memerintah seluruh hutan? Aku ragu kita akan pernah 'normal', Sayang. Tapi kita akan menjadi bahagia. Itu janji yang pasti kutepati."
Penutup: Sepuluh Tahun Kemudian (Epilog Panjang)
Waktu berlalu dengan kecepatan yang semestinya. Tidak ada lagi detik yang terulang, tidak ada lagi penglihatan masa depan.
Kenzhi Vincentius (24 tahun) kini memimpin Vincentius Group dengan tangan besi yang dibalut sarung tangan sutra. Ia dikenal sebagai pengusaha paling ditakuti namun paling dihormati. Tanpa kekuatan perak, ia membuktikan bahwa kecerdasan dan keberaniannya adalah warisan asli dari Jennie dan Limario.
Arkano Vincentius (19 tahun) memilih jalan yang berbeda. Ia menjadi seorang pelindung alam liar yang misterius. Ia memiliki sebuah suaka margasatwa raksasa di Kalimantan, di mana konon tidak ada pemburu liar yang berani masuk karena hewan-hewan di sana seolah memiliki mata dan telinga di mana-mana. Ia tetap menjadi "pawang" paling ditakuti, namun memiliki hati yang paling lembut bagi keluarganya.
Dan di balkon mansion yang megah, Jennie dan Limario duduk menyesap teh sore mereka. Rambut mereka mulai beruban, namun cinta di mata mereka tetap sama seperti saat mereka pertama kali bertemu di garis waktu yang berliku ini.
"Kau tahu, Lim," ucap Jennie sambil melihat matahari terbenam. "Dulu aku benci tempat ini karena mengingatkanku pada akhir hidupku. Tapi sekarang, aku bersyukur aku kembali."
Limario merangkul pundak istrinya. "Aku juga, Jennie. Karena bagiku, waktu yang paling berharga bukanlah masa depan atau masa lalu, tapi setiap detik yang kuhabiskan bersamamu sekarang."
Di bawah taman, suara tawa Kenzhi dan Arkano yang sedang berdebat tentang menu makan malam terdengar hangat. Sebuah simfoni kehidupan yang nyata, tanpa campur tangan mesin atau takdir yang dipaksa.
THE END.