NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 RUANG MEETING YANG MENGGAIRAHKAN

​Jumat, 3 April 2025, Musim Semi

​Pagi hari di kediaman Aurevyn terasa begitu berbeda. Tidak ada lagi kesunyian yang mencekam. Suara tawa mungil Leon Alexander pecah di taman belakang saat ia mengejar kupu-kupu bersama neneknya, Karin Felicya. Feli tampak jauh lebih hidup, rona merah kembali ke pipinya saat ia memeluk cucu pertamanya itu.

​"Olive, pergilah bekerja. Jangan cemaskan Alex, Bunda akan menjaganya seolah dia adalah nyawa Bunda sendiri," ucap Feli dengan tulus.

​Olive tersenyum lega. Ia mengenakan one set Chanel berwarna putih gading yang menonjolkan bentuk tubuh hourglass-nya yang sempurna. Rambut long layered-nya dibiarkan tergerai indah, memberikan kesan profesional namun tetap memukau sebagai sang The Golden Butterfly. Ia berangkat menuju distrik bisnis Monte Carlo bersama Brian.

​Di dalam mobil, Brian menatap adiknya dengan dahi berkerut. "Olive, jelaskan padaku lagi. Kenapa perusahaan sistem keamanan militer seperti Valerius Defense ingin bekerja sama dengan desainer pakaian wanita sepertimu? Logika bisnisku tidak menangkap korelasinya."

​Olive menghela napas, ia teringat penjelasan Marcus di telepon. "Mereka bilang ingin merancang seragam eksklusif untuk divisi pengawalan diplomatik dan busana khusus untuk acara protokoler elit. Nilai kontraknya sangat fantastis, Kak. Aku tidak bisa menolaknya demi masa depan Alex."

​Brian mengangguk meski masih merasa ada yang janggal. "Hati-hati, Olive. Liam Valerius bukan pria yang mudah dihadapi. Dia dijuluki Iron Monarch karena suatu alasan."

​Sesampainya di lobi gedung Valerius yang menjulang tinggi dan didominasi kaca gelap, Brian berpamitan. Olive melangkah masuk, menarik perhatian hampir semua mata. Kehadirannya seperti oase di tengah gurun pria berseragam militer dan jas kaku. Sekretaris di meja depan langsung berdiri tegak saat melihat Olive.

​"Nona Aurel? Mari, saya antar ke ruang meeting," ucap sekretaris itu sopan.

​Di depan pintu ruang meeting, Marcus sudah menunggu. Ia menyapa dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Nona Aurel. Mari masuk."

​Olive berhenti sejenak, menatap Marcus dengan mata hazel-nya yang tegas. "Panggil aku Olive, Marcus. Identitas Aurel sudah berakhir di London. Namaku Olivia Elenora Aurevyn."

​Marcus membeku. Ia menelan ludah, menatap Olive dari ujung kepala hingga ujung kaki. Otaknya langsung bekerja cepat memproses informasi ini. Ternyata tebakan tuannya benar; wanita ini adalah primadona Monako yang hilang. "Ba-baik, Nona Olive. Maafkan saya. Silakan masuk, Tuan Liam sudah menunggu."

​Saat pintu terbuka, aroma maskulin yang kuat bercampur dengan wangi wine dan kopi mahal langsung menyeruak. Di ujung meja oval yang panjang, Liam Maximilian Valerius duduk dengan aura dominan yang mencekik ruangan. Di sekelilingnya duduk para pemegang saham kawakan. Liam yang biasanya jarang menghadiri meeting rutin, kini hadir hanya untuk melihat sosok wanita yang telah mengacaukan tidurnya semalam.

​Meeting berjalan sangat lancar. Olive mempresentasikan sketsa desainnya dengan bahasa yang elegan namun lugas. Ia menggunakan kecerdasannya untuk menjawab setiap keraguan pemegang saham. Liam hanya diam, matanya tidak pernah lepas dari bibir hati Olive yang bergerak saat berbicara. Setiap kali Olive bergerak, rok pendek dari setelan Chanel-nya tersingkap sedikit, memperlihatkan paha porselennya yang mulus, membuat Liam harus meremas pulpen di tangannya untuk menahan gejolak di bawah sana.

​"Harga yang Anda tawarkan sangat fantastis, Nona Aurevyn. Tapi kami setuju," ucap salah satu pemegang saham sambil menandatangani dokumen.

​Setelah semua urusan selesai, para pemegang saham bangkit berdiri. Liam memberi kode mata pada Marcus. Dengan sigap, Marcus mengarahkan semua orang keluar dari ruangan. Para pemegang saham yang sudah tahu reputasi Liam jika menyangkut urusan pribadi, segera bergegas pergi karena takut.

​Pintu tertutup rapat. Klik. Terkunci otomatis.

​Olive yang baru saja merapikan berkasnya mendongak. Ia bingung melihat ruangan yang tiba-tiba sepi, hanya menyisakan dirinya dan Liam. "Tuan Valerius? Ada yang perlu dibicarakan lagi?"

​Liam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bangkit dari kursi kebesarannya, melepaskan kancing jas tiga lapisnya, dan melangkah maju. Langkahnya tenang namun predator. Olive merasa terintimidasi dan mulai mundur, namun sialnya, pinggulnya langsung membentur meja meeting yang keras.

​Liam sudah berada tepat di depannya. Tanpa aba-aba, kedua tangan kekar Liam mencengkeram pinggang Olive dan mengangkatnya dengan mudah untuk duduk di atas meja meeting yang luas itu.

​"Tuan Valerius! Apa yang Anda lakukan?!" seru Olive dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut dan sensasi aneh menjalar di perutnya.

​Liam mengunci tubuh Olive dengan kedua tangannya yang menumpu di meja. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Aku tidak suka membuang waktu, Olive," desis Liam.

​Tanpa menunggu balasan, Liam langsung menyambar bibir Olive. Ciuman itu tidak lembut; itu adalah klaim yang menuntut. Liam melumat bibir hati Olive dengan hasrat yang sudah tertahan selama lima tahun. Lidahnya memaksa masuk, mencoba mencicipi rasa manis yang menghantui mimpi basahnya semalam.

​Olive terkejut. Kepolosannya tentang hubungan pria dan wanita membuatnya panik. Ia meronta, tangannya memukul dada bidang Liam yang keras seperti batu. Saat Liam mencoba memperdalam ciumannya, Olive dengan nekat menggigit bibir bawah Liam dengan kasar.

​"Akh!" Liam menarik wajahnya, darah segar mengalir kecil di sudut bibirnya. Namun bukannya marah, Liam justru mengeluarkan smirk yang mematikan. "Manis. Kau masih setajam dulu."

​"Lancang! Anda pikir Anda siapa?!" teriak Olive, wajahnya merah padam karena amarah.

​Liam tidak peduli. Hasratnya sudah di puncak. Kelaminnya yang besar dan panjang sudah menegang hebat di balik celana kain mahalnya, berdenyut menuntut pelepasan setelah ejakulasi mimpinya semalam tidak terasa cukup. Tangan kekar Liam merayap naik, masuk ke balik rok pendek Olive, meraba paha dalamnya yang sehalus sutra.

​Plak!

​Satu tamparan keras mendarat di pipi Liam. Tangan Olive gemetar. "Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotormu! Aku di sini untuk bekerja, bukan untuk menjadi pelacurmu!"

​Mata Liam menggelap. Amarah dan gairah bercampur menjadi satu. "Bekerja? Katakan padaku, berapa hargamu, Olive? Sebutkan angkanya agar aku bisa memilikimu di meja ini sekarang juga. Tubuhku sudah sangat tegak hanya dengan melihatmu bernapas!"

​Mendengar penghinaan itu, mulut belaty Olive bekerja. "Bahkan seluruh aset Valerius tidak akan cukup untuk membeli harga diriku, Tuan Valerius yang terhormat. Anda mungkin penguasa di sini, tapi di mataku, Anda hanyalah pria kesepian yang menyedihkan!"

​Sebelum Liam bisa membalas, Olive mengumpulkan seluruh tenaganya dan menendang selangkangan Liam dengan sepatu hak tingginya sekuat tenaga.

​"Ughhh!" Liam mengerang kesakitan, tubuhnya membungkuk saat rasa nyeri yang luar biasa menghantam kejantanannya.

​Olive segera melompat turun dari meja, merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar, dan berjalan cepat menuju pintu. "Kontrak ini tetap berjalan secara profesional. Jika Anda berani menyentuhku lagi, aku pastikan kakakku akan menarik seluruh investasi Aurevyn dari hotel yang sedang Anda bangun!"

​Olive keluar dari ruangan itu dengan hati yang berkecamuk. Ia merasa jijik, namun anehnya, sentuhan Liam tadi membangkitkan memori samar tentang malam itu malam mimpi buruknya. Kenapa sentuhannya terasa mirip? pikir Olive sambil menghapus bibirnya kasar.

​Di dalam ruangan, Liam masih mengatur napasnya yang berat. Ia menatap pintu yang tertutup dengan tatapan licik. Ia menyeka darah di bibirnya. Sekarang ia yakin seribu persen. Wanita itu adalah Olive, wanita yang sama yang ia gagahi lima tahun lalu di kamar 999.

​"Lari saja sesukamu, Olive," gumam Liam dengan suara serak. "Kau tidak tahu bahwa aku sudah mengikatmu dalam kontrak pembangunan hotel itu. Dan ayahmu, Bram, sudah berjanji akan memberikan apa pun padaku sebagai tanda terima kasih saat peresmian nanti."

​Liam menyeringai. Ia akan menyembunyikan kenyataan bahwa dialah ayah Alex untuk sementara waktu. Ia tidak ingin Olive kabur lagi sebelum ia berhasil menjerat wanita itu dalam ikatan pernikahan yang sah. Liam akan menagih janji Bramasta : ia menginginkan Olivia Elenora Aurevyn sebagai istrinya, dengan atau tanpa persetujuan wanita itu.

​Karena bagi Liam, sang Kupu-kupu Emas kini sudah masuk ke dalam jaringnya, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sayapnya mengepak pergi lagi.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!