Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Kehancuran
Ponsel yang retak di lantai itu masih menyala, menampilkan durasi panggilan dari kepolisian yang masih berjalan. Suara petugas di seberang sana terdengar jauh, tertutup oleh deru napas Ara yang memburu.
"Halo? Ibu Arabella? Anda masih di sana?"
Ara menyambar ponsel itu dengan tangan gemetar. "S-saya... saya segera ke sana. Rumah sakit mana?"
"Rumah Sakit Medika Utama, Bu. Mohon segera datang karena kondisi Tuan Reese sangat kritis."
Klik. Sambungan terputus.
Ara menoleh ke arah tangga menuju ruang kerja Devan. Pintu kayu jati itu tertutup rapat, seolah-olah membarikade dunia luar dari obsesi forensik suaminya. Ara berlari menaiki tangga, nyaris tersandung gaun mahalnya sendiri. Ia menggedor pintu itu dengan kepalan tangan.
"Devan! Devan, buka pintunya!" teriak Ara histeris.
Tidak ada jawaban.
"Devan! Ayah dan Ibu kecelakaan! Mereka di Medika Utama! Tolong, Devan... buka!"
Hening. Hanya suara detak jam besar di lorong yang menyahut. Ara terus menggedor sampai buku jarinya memerah. Ia tidak tahu bahwa di dalam ruangan kedap suara itu, Devan sedang mengenakan noise-canceling headphones, tenggelam dalam rekaman audio digital dari kasus lama, berusaha membedah suara latar belakang yang mungkin menjadi kunci kematian orang tuanya.
"Brengsek kau, Devan!" tangis Ara pecah. "Selalu saja begini! Selalu saja pekerjaanmu!"
Ara berbalik, berlari menuju kamar mereka. Ia tidak mengambil baju, ia hanya menyambar kunci mobil dan tasnya. Sebelum keluar, matanya tertuju pada surat gugatan cerai yang sudah ia siapkan di laci meja rias sejak sebulan lalu—surat yang awalnya ia harap tidak akan pernah ia keluarkan. Dengan tangan gemetar, ia mengambilnya dan meletakkannya tepat di atas kue ulang tahun pernikahan yang belum disentuh di meja makan.
Rumah Sakit Medika Utama, 01.30 WIB.
Bau antiseptik menyengat indra penciuman Ara saat ia berlari melewati koridor UGD. Di sana, ia melihat Merry sudah menunggu dengan wajah pucat.
"Ara!" Merry memeluknya erat. "Syukurlah kau sampai."
"Di mana mereka, Mer? Di mana Ayah dan Ibu?"
Merry menggeleng pelan, air mata mengalir di pipinya. "Tante Reese... dia meninggal di tempat, Ra. Om Reese sedang di dalam, dokter bilang peluangnya tipis karena pendarahan internal."
Dunia Ara berputar. Ia ambruk di kursi tunggu besi yang dingin. "Enggak... enggak mungkin. Tadi pagi Ibu masih meneleponku, Mer. Dia bilang ingin membuatkan syal rajut untuk Devan..."
"Ara, dengarkan aku," Merry memegang bahu Ara, suaranya merendah. "Kau sudah lihat video yang kukirim tadi?"
Ara mendongak, matanya merah. "Jangan sekarang, Mer. Aku tidak peduli tentang Devan sekarang."
"Kau harus peduli!" Merry menunjukkan layar ponselnya. "Lihat jam di video ini. Pukul 22.30. Devan bilang dia ada operasi darurat, kan? Tapi dia ada di hotel itu dengan Liliana! Dan lihat ini..." Merry menggeser layar ke arah story Instagram Liliana Lyne yang baru diunggah 10 menit lalu.
Sebuah foto tempat tidur berantakan. Di sudut foto, tampak bahu seorang pria yang sedang membelakangi kamera, namun tato kecil di tengkuknya—tato lambang kedokteran yang unik milik Devan—terlihat jelas. Caption-nya singkat: "Home is where the heart is. Finally back with my favorite doctor."
Hati Ara yang tadinya retak, kini hancur menjadi abu. "Jadi... saat aku menggedor pintunya tadi, dia sebenarnya tidak ada di sana?"
"Dia tidak di rumah, Ara. Dia bersama jalang itu."
Tepat saat itu, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lesu. Ara langsung berdiri, kakinya lemas. "Dokter... ayah saya?"
Dokter itu melepas maskernya dan menunduk dalam. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Nyonya. Mohon maaf... Tuan Reese tidak bisa bertahan."
Raungan pilu pecah di lorong rumah sakit itu. Ara jatuh berlutut, menjeritkan nama ayahnya sampai suaranya hilang. Di saat yang paling hancur dalam hidupnya, pria yang seharusnya menjadi sandarannya justru sedang berada di pelukan wanita lain.
"Aku membencimu, Devano..." bisik Ara di sela tangisnya. "Aku bersumpah akan menghilang dari hidupmu seolah aku tidak pernah ada."
Kediaman Wren, 05.00 WIB.
Devan melepas headphones-nya. Matanya merah karena kurang tidur. Ia merasa haus dan memutuskan untuk turun ke bawah. Saat melewati meja makan, langkahnya terhenti.
Suasana rumah sangat sunyi. Terlalu sunyi, bahkan untuk standar rumah mereka yang dingin.
"Ara?" panggilnya. Suaranya bergema di ruangan luas itu.
Tidak ada jawaban. Biasanya, meski Ara marah, dia akan meninggalkan catatan atau setidaknya lampu dapur akan menyala. Tapi kali ini, hanya ada satu lampu gantung yang redup di atas meja makan.
Devan mendekat ke meja. Matanya tertuju pada kue tart yang sudah mulai berair karena krimnya meleleh. Di sampingnya, ada sebuah amplop putih besar dan sebuah ponsel dengan layar retak.
Devan mengernyit. Ia mengenali ponsel itu. Milik Ara.
Ia mengambil amplop itu. Huruf-huruf tebal di dalamnya menghantam matanya seperti godam: SURAT GUGATAN CERAI.
"Apa-apaan ini?" gumam Devan. Amarah mulai naik ke dadanya. "Hanya karena aku pulang terlambat, dia berani bermain-main dengan dokumen hukum?"
Ia menyambar ponsel Ara, mencoba menghidupkannya. Layar itu menyala, menampilkan ratusan panggilan tak terjawab dari 'Ara' ke nomornya sendiri. Dan satu pesan WhatsApp yang masih terbuka dari Merry.
Devan membeku saat melihat video di pesan tersebut. Ia melihat dirinya sendiri—atau seseorang yang sangat mirip dengannya—masuk ke lift bersama Liliana.
"Siapa... siapa yang melakukan ini?" Devan meraba sakunya, mencari ponselnya sendiri.
Mati. Ponselnya mati total karena baterainya habis sejak semalam di rumah sakit. Saat ia menekan tombol power dan menunggu logo menyala, ribuan notifikasi masuk sekaligus.
Bukan hanya dari Ara, tapi dari kolega dokternya di Medika Utama.
Pesan dari Dokter Aris (02.15): "Devan! Di mana kau?! Istri dan mertuamu masuk ke UGD-ku! Mertuamu meninggal dunia! Ara histeris mencarimu!"
Darah Devan seolah berhenti mengalir. Jantungnya mencelos hingga ke dasar perut. Surat cerai di tangannya terlepas, jatuh menimpa kue ulang tahun yang kini hancur di lantai.
"Tidak... Ara..."
Devan berlari keluar rumah tanpa alas kaki, menuju mobilnya. Pikirannya kosong, hanya ada satu nama yang berputar: Arabella.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/