NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah di Tengah Pelarian

Mesin sedan hitam itu menderu liar, membelah kesunyian hutan pinus yang mengepung pinggiran kota. Di dalam kabin, bau amis darah bercampur dengan aroma tajam mesiu dan sisa adrenalin yang belum menguap. Dareen Christ mencengkeram kemudi dengan jemari yang memutih, namun lengannya tampak bergetar hebat. Darah segar terus mengalir dari luka sobek di pelipisnya, melewati tulang pipi, dan menetes jatuh mengotori kemeja putihnya yang kini tampak mengerikan.

Pandangan Dareen mulai mengabur. Cahaya lampu jalan di depan sana tampak berbayang dua, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Kesadarannya timbul tenggelam antara realita dan kegelapan yang menghisap.

"Dareen! Kau harus berhenti! Kau bisa membunuh kita berdua!" Seraphina berteriak, suaranya melengking di tengah deru angin yang masuk dari jendela yang retak.

Wajah Sera pucat pasi. Ia mencengkeram pegangan di atas pintu dengan sangat erat. Matanya tidak lepas dari wajah Dareen yang kian memucat, tampak kontras dengan warna merah pekat yang menyelimuti sisi wajah pria itu.

"Sedikit ... sedikit lagi, Nona," gumam Dareen. Suaranya terdengar jauh, seolah ia bicara dari dasar sumur. "Kita harus ... menjauh dari jangkauan ... orang-orang Julian."

"Persetan dengan Julian! Lihat dirimu!" Sera berpindah posisi, mencoba meraih kemudi namun segera dihentikan oleh tangan kiri Dareen yang masih memiliki kekuatan sisa.

"Jangan ... ini berbahaya," desis Dareen, giginya terkatup rapat menahan sakit yang menghujam kepalanya.

Tepat di depan mereka, sebuah papan neon yang berkedip menyedihkan muncul di balik kabut malam: 'Midnight Rest – Motel & Service'. Itu adalah tempat peristirahatan terpencil yang tampak terbengkalai, jauh dari jalur utama dan pengawasan CCTV kota.

"Berhenti di sana, Dareen! Itu perintah!" Sera memberikan titah dengan nada yang tak terbantahkan—nada yang biasanya ia gunakan sebagai adik Seldin Aeru, namun kali ini sarat dengan ketakutan yang tulus.

Dengan sisa tenaganya, Dareen menginjak rem. Ban mobil menjerit di atas aspal yang basah sebelum akhirnya terhenti dengan guncangan keras tepat di depan sebuah kamar motel nomor 14 yang tersembunyi di balik barisan pohon besar. Segera setelah mesin mati, kepala Dareen jatuh terkulai ke arah kemudi. Bunyi klakson yang panjang dan monoton memecah keheningan malam selama beberapa detik sebelum Sera dengan cepat mematikan sistemnya.

"Dareen? Babe! Bangun!" Sera mengguncang bahu pria itu, namun tidak ada jawaban selain napas pendek yang terputus-putus.

Sera harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk membopong tubuh tegap Dareen masuk ke dalam kamar motel. Kamar itu sempit, berbau pengap akan debu dan pembersih lantai murahan, namun bagi Sera, ini adalah benteng pertahanan terakhir mereka. Ia membaringkan Dareen di atas tempat tidur dengan sprei berwarna krem yang kasar.

"Tahan sebentar, jangan berani-berani mati sekarang," bisik Sera. Jemarinya gemetar saat menyalakan lampu meja yang cahayanya berwarna kuning redup.

Ia segera berlari ke kamar mandi, mengambil handuk kecil dan air hangat, lalu mengeluarkan kotak P3K dari tasnya. Saat ia kembali ke sisi tempat tidur, ia menemukan Dareen sedang mencoba untuk duduk, meski matanya masih terpejam rapat.

"Jangan bergerak, Robot bodoh," Sera menekan bahu Dareen agar tetap berbaring.

Sera duduk di pinggir kasur, tepat di samping tubuh Dareen. Ia mulai membasuh darah yang sudah mengering di wajah pria itu. Setiap kali handuk basah itu menyentuh luka sobek yang cukup dalam di pelipisnya, otot rahang Dareen menegang, menciptakan lekukan tajam yang mempertegas kemarahannya yang terpendam.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Sera lirih, suaranya bergetar karena emosi. "Kenapa kau harus menghantamkan kepalamu sendiri ke meja? Kau bisa saja menyuntikkan cairan itu pada Julian sesuai perintah Seldin. Kau tidak perlu terluka sampai begini hanya untuk memuaskan ego kakakku atau menyelamatkanku dari pemandangan buruk."

Dareen membuka matanya perlahan. Pupilnya sedikit melebar, menatap langit-langit kamar yang retak. "Karena jika saya melakukannya ... saya akan kehilangan alasan ... untuk menatap Anda lagi besok pagi di kampus."

Sera tertegun. Handuk di tangannya berhenti bergerak. Kata-kata itu lebih tajam daripada pisau mana pun. Ia menatap wajah Dareen yang hancur, namun entah bagaimana, di bawah cahaya kuning yang remang itu, Dareen terlihat lebih manusiawi daripada sebelumnya. Topeng pengawalnya telah hancur bersama luka di kepalanya.

Sera melanjutkan pekerjaannya dengan lebih lembut. Ia menuangkan cairan antiseptik ke kapas. "Ini akan perih. Tahan," bisiknya.

Saat kapas itu menyentuh luka, Dareen mendesis pelan, tangannya secara refleks mencengkeram pergelangan tangan Sera. Cengkeraman itu kuat, namun tidak menyakitkan. Sera membiarkannya. Ia justru memajukan wajahnya, meniup luka itu dengan lembut agar rasa perihnya berkurang.

Hembusan napas Sera yang hangat menerpa kulit wajah Dareen. Aroma parfum peony milik Sera kini mendominasi udara di antara mereka, mengalahkan bau darah. Sera menyadari bahwa posisi mereka sangat intim. Ia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Dareen, dan ia bisa melihat setiap helai bulu mata pria itu yang bergerak gelisah.

Jiwa nakal Sera mulai merayap naik, meski di tengah situasi genting. Ia ingin menguji sejauh mana pria ini bisa bertahan di bawah tekanan perasaannya sendiri.

"Kau tahu, Babe ..." Sera menggoda, suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat dekat dengan telinga Dareen. "Melihatmu terluka begini karena melindungiku ... itu membuatku merasa sangat ... berkuasa atas dirimu."

Sera tidak menjauhkan wajahnya setelah mengobati luka itu. Sebaliknya, ia membiarkan ujung jarinya menelusuri garis rahang Dareen yang tidak terluka, bergerak turun menuju jakunnya yang bergerak naik turun dengan cepat.

"Berhenti, Nona," geram Dareen. Suaranya kini terdengar lebih kuat, namun penuh dengan peringatan yang goyah. "Saya sedang terluka. Jangan main-main dengan kesabaran saya."

"Memangnya kenapa kalau kau terluka? Apa lukamu akan terbuka lagi jika kau mengaku bahwa kau menyukaiku?" Sera tersenyum tipis, sebuah senyum provokatif yang mematikan. Ia sengaja mendekatkan bibirnya ke sudut bibir Dareen yang tidak terluka, memberikan kecupan ringan seujung rambut yang membuat aliran listrik seolah menyambar saraf Dareen.

Dareen mencoba memalingkan wajah, namun kepalanya terasa terlalu berat. "Seldin ... Seldin akan membunuh saya jika dia tahu apa yang Anda lakukan sekarang."

"Seldin tidak ada di sini. Hanya ada aku dan pengawalku yang malang," bisik Sera. Ia menindih tubuh Dareen dengan perlahan, tangannya kini merayap masuk ke celah kemeja Dareen yang kancing atasnya sudah terlepas. "Katakan padaku, Dareen. Apa kau masih mau berpura-pura menjadi robot saat kau merasa jantungmu berdetak sekeras ini untukku?"

Dareen Christ merasa dunianya sedang runtuh. Rasa sakit di kepalanya seolah memudar, digantikan oleh gairah yang membakar seluruh tubuhnya. Selama bertahun-tahun ia dilatih untuk menahan rasa sakit, menahan haus, dan menahan takut. Namun, ia tidak pernah dilatih untuk menahan godaan dari seorang wanita seperti Seraphina Aeru.

Pertahanannya yang selama ini dibangun dengan beton-beton profesionalisme retak seketika.

Dalam satu gerakan eksplosif yang tak terduga bagi orang yang sedang terluka, Dareen menarik tengkuk Sera dengan tangan kanannya. Ia tidak lagi memedulikan luka yang mungkin akan terbuka kembali. Ia membungkam bibir Sera dengan ciuman yang brutal—sebuah ledakan dari semua rasa frustrasi, kecemburuan, dan cinta yang ia pendam di bawah perintah Seldin.

Sera terkesiap, namun ia segera membalasnya dengan intensitas yang sama. Ciuman itu terasa kasar, penuh rasa darah yang tertinggal, namun juga penuh dengan kejujuran yang memabukkan. Dareen menciumnya seolah ia sedang mencuri setiap napas yang dimiliki Sera, seolah ia sedang menuntut balasan atas setiap luka yang ia terima demi gadis ini.

Tangannya yang besar meraba punggung Sera, menekannya kuat hingga tubuh mereka tidak lagi memiliki celah di atas tempat tidur motel yang berderit itu. Di dalam kamar sempit di pinggiran kota, di balik kabut malam yang menutupi rahasia mereka, Dareen Christ bukan lagi seorang pengawal. Ia adalah seorang pria yang sedang menyatakan kepemilikannya dengan cara yang paling primitif.

Beberapa saat kemudian, Dareen menarik diri dengan napas yang memburu. Matanya yang gelap kini menatap Sera dengan intensitas yang sanggup membakar. Darah di pelipisnya kembali merembes sedikit, namun ia tidak peduli.

"Jika saya kehilangan beasiswa atau nyawa saya karena malam ini ... saya harap Anda puas, Nona," desis Dareen, suaranya serak namun penuh dengan ketegasan yang baru.

Sera terengah-engah, bibirnya merah bengkak, dan matanya berkilat penuh kemenangan. Ia mengusap tetesan darah di pipi Dareen dengan jempolnya. "Jangan khawatir, Babe. Aku tidak akan membiarkanmu kehilangan apa pun. Aku akan memastikan Seldin memberikan apa yang menjadi milikmu."

Malam itu, di tengah pelarian yang berbahaya, sebuah ikatan baru terbentuk. Bukan lagi antara majikan dan pelayan, melainkan antara dua orang yang siap melawan dunia demi satu sama lain. Dareen menyadari bahwa luka di pelipisnya hanyalah awal dari luka-luka lain yang akan ia terima karena mencintai Seraphina, namun entah kenapa, rasa sakit itu terasa jauh lebih manis daripada kehidupan "normal" mana pun yang pernah ia impikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!