Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebebasan
Pagi di Oxford biasanya dimulai dengan kabut tipis yang menyelimuti bangunan-bangunan batu kuno yang megah. Namun, bagi Juliatte Fontaine, pagi ini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi di balik sweter longgar yang mencekik, tidak ada lagi rasa takut yang menghantui setiap langkahnya di koridor kampus.
William Wilson, pria yang dulu ia anggap sebagai badai yang menghancurkan hidupnya, kini berdiri di depan cermin apartemennya, merapikan kerah kemeja birunya dengan ketenangan seorang pria yang tahu persis apa yang ia inginkan.
"Will, kau yakin?" tanya Juliatte pelan. Ia berdiri di ambang pintu kamar, mengenakan daster rajut berwarna gading yang dengan jelas memperlihatkan lekuk perutnya yang kini sudah memasuki bulan ketujuh.
William berbalik. Matanya yang tajam seketika melunak saat menatap Juliatte. Ia berjalan mendekat, menangkup wajah Juliatte dengan kedua tangan besarnya, dan mengecup keningnya lama sekali.
"Aku sudah menunggu enam bulan untuk momen ini, Jules. Aku tidak datang ke Oxford untuk menjadi bayanganmu. Aku datang untuk menjadi pelindungmu," bisik William serak. "Biarkan mereka melihat. Biarkan seluruh dunia tahu bahwa kau bukan lagi milik keluarga Fontaine yang kaku, tapi kau adalah milikku. Dan aku milikmu."
Saat mereka tiba di gerbang universitas, suasana seketika senyap. William tidak memarkir motornya di pojokan yang gelap, ia mengendarai mobil SUV hitam mewahnya tepat ke depan gedung fakultas hukum. Ia turun lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Juliatte dengan gerakan yang sangat sopan namun penuh martabat.
Saat Juliatte turun, tangan William langsung menyambut jemarinya, menggenggamnya erat di depan puluhan pasang mata mahasiswa dan dosen yang sedang melintas. Juliatte sempat ragu, namun genggaman William yang kokoh memberinya kekuatan yang luar biasa.
Mereka berjalan menyusuri koridor utama. Juliatte tidak lagi menutupi perutnya dengan buku-buku tebal. Ia berjalan tegak, dengan William yang berjalan sedikit protektif di sampingnya, seolah-olah siap menghantam siapa pun yang berani melontarkan komentar miring.
"Lihat itu... bukankah itu Juliatte Fontaine?" "Dia hamil? Dan siapa pria itu?" "Tunggu, bukankah itu putra keluarga Wilson dari London?"
Bisikan-bisikan itu terdengar seperti angin lalu bagi William. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya ke arah Juliatte. Di tengah keramaian, William tiba-tiba berhenti. Ia berlutut sejenak, bukan untuk memuja, tapi untuk membenarkan tali sepatu Juliatte yang terlepas. Tindakan sederhana itu, yang dilakukan oleh seorang pria sekuat William di depan publik, membuat suasana semakin hening.
"Jangan sampai tersandung, Sayang. Daddy tidak mau Mommy-nya lecet sedikit pun," ucap William cukup keras agar orang-orang di sekitar mereka mendengarnya. Ia berdiri kembali, mengecup pipi Juliatte yang merona merah, dan melanjutkan langkah mereka.
Siang harinya, William tidak membiarkan Juliatte makan di kafetaria yang bising. Ia sudah menyiapkan piknik kecil di sudut taman yang tenang, di bawah pohon ek besar yang daunnya mulai menguning.
William membentangkan selimut wol, mengeluarkan kotak-kotak makanan yang ia masak sendiri tadi pagi, sandwich ayam panggang dengan banyak sayuran dan jus jeruk segar.
"Makanlah, Jules. Kau butuh tenaga untuk kuliah siang nanti," ucap William sambil menyuapkan sepotong kecil sandwich ke mulut Juliatte.
Juliatte mengunyah perlahan, matanya menatap William dengan penuh haru. "Kadang aku masih merasa ini mimpi, Will. Dulu aku sangat takut jika orang tahu tentang kita, tentang bayi ini. Tapi sekarang... rasanya sangat lega."
William merebahkan kepalanya di pangkuan Juliatte, membiarkan jemari lembut gadis itu membelai rambutnya. "Aku yang seharusnya berterima kasih, Jules. Kau memberikan aku alasan untuk bangun setiap pagi. Kau memberikan aku tujuan untuk belajar hukum, agar suatu saat nanti aku bisa melindungi hak anak kita dari siapa pun, termasuk ayahmu."
William memejamkan mata, merasakan tangan Juliatte yang satunya lagi mengelus perutnya sendiri. Tiba-tiba, William merasakan tendangan kecil dari balik kulit perut Juliatte. Ia segera bangkit, wajahnya berbinar seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.
"Dia menendang! sayang, dia menendang tanganku!" seru William kegirangan. Ia menempelkan telinganya ke perut Juliatte, membisikkan kata-kata cinta yang hanya bisa didengar oleh si kecil di dalam sana.
"Hey jagoan, atau putri kecil Daddy... bersabarlah di sana. Daddy akan membangunkan kerajaan yang aman untukmu dan Mommy."
Malam harinya, setelah lelah dengan jadwal kuliah yang padat, mereka kembali ke apartemen. William tidak membiarkan Juliatte melakukan apa pun. Ia menyiapkan air hangat untuk merendam kaki Juliatte yang mulai membengkak.
Di bawah temaram lampu ruang tamu, William duduk di lantai, memijat lembut kaki Juliatte dengan minyak aromaterapi. Juliatte bersandar di sofa, menatap pria yang dulu hingga sekarang ia Cintai itu kini begitu telaten merawatnya.
"Will..." "Ya, Sayang?" "Kenapa kau melakukan semua ini? Kau bisa saja tetap di London, hidup bebas, tanpa beban seorang bayi dan istri yang bermasalah sepertiku."
William berhenti memijat. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata Juliatte dengan tatapan yang sangat dalam dan tulus.
"Karena hidup bebas tanpa kalian adalah penjara bagiku, Juliatte. Aku menghabiskan bertahun-tahun mencari sesuatu yang bisa membuatku merasa pulang, dan aku menemukannya malam itu, saat kau menangis di markasku."
William berdiri, berpindah duduk di samping Juliatte, dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat hangat. Ia mencium puncak kepala Juliatte berulang kali.
"Dunia mungkin melihatmu sebagai Fontaine yang sempurna, atau mahasiswi Oxford yang jenius. Tapi bagiku, kau adalah duniaku. Aku tidak peduli dengan harta keluargamu, aku tidak peduli dengan kemarahan ayahmu. Yang aku pedulikan hanyalah detak jantungmu dan detak jantung kecil ini di dalam perutmu."
Juliatte menangis, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan. Ia merasa sangat dicintai, sangat dihargai, bukan sebagai aset, tapi sebagai wanita.
"Aku mencintaimu, William Wilson. Sangat mencintaimu," bisik Juliatte.
"Dan aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri, Juliatte Wilson," jawab William, secara tidak langsung memberikan nama belakangnya pada Juliatte.
Malam itu, di bawah langit Oxford yang bertabur bintang, mereka berjanji untuk tidak pernah lagi melepaskan genggaman tangan. William membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi tentang siapa yang paling berani untuk tetap tinggal saat badai datang menerjang.
Mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain, siap menghadapi hari esok, karena mereka tahu, mereka tidak lagi berjalan sendirian.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍