NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar menjanjikan ketenangan bagi jiwa yang sedang terbakar.

Di luar jendela apartemen Sekar, lampu-lampu kota tampak seperti ribuan mata yang mengawasi, dingin dan menghakimi. Namun, di dalam ruangan itu, keheningan terasa begitu berat, nyaris mencekik. Sekar duduk mematung di lantai, punggungnya bersandar pada sofa, sementara kata-kata Alvin barusan masih bergema di telinganya, menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki.

"Subjek penelitian... Bahan percobaan..."

Istilah-istilah medis yang biasanya ia gunakan untuk menyelamatkan orang kini berubah menjadi belati yang mengiris jantungnya sendiri. Lukas, darah dagingnya, anak yang ia lahirkan dengan taruhan nyawa di tengah dinginnya Berlin sepuluh tahun lalu, bukan sekadar diadopsi untuk mendapatkan kasih sayang. Ia adalah kelinci percobaan berbalut kemewahan keluarga Von Hess.

"Tidak mungkin..." bisik Sekar, suaranya parau, nyaris hilang. "Rahman... Rahman tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Dia mencintai anak itu, dia mencintaiku..."

Alvin, yang sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu dengan gelisah, berhenti tepat di depan Sekar. Ia berlutut agar mata mereka sejajar.

"Sekar, bangunlah! Lihatlah kenyataannya! Rahman mungkin mencintaimu, tapi dia adalah seorang Wijaya. Dan seorang Wijaya selalu menempatkan kelangsungan kerajaan mereka di atas segalanya. Jika Tuan Wijaya bilang itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan yayasan dari kebangkrutan sepuluh tahun lalu, Rahman akan tunduk. Dia sudah terbiasa menjadi pion, Sekar."

Sekar mendongak, matanya yang sembab menatap Alvin dengan sisa-sisa amarah.

"Lalu kamu? Kenapa kamu memberitahuku sekarang? Kenapa baru sekarang, setelah keluargamu terancam?"

Alvin memalingkan wajah, sebuah reaksi yang tak luput dari pengamatan tajam Sekar. "Karena aku juga bagian dari sistem ini, Sekar. Keluarga Pratama sudah lama ingin keluar dari bayang-bayang Wijaya, tapi kami terlalu banyak tahu. Sekarang, ketika Von Hess mulai bergerak menghancurkan kami, pilihanku hanya satu: menyeret mereka semua jatuh bersamaku. Dan kamu adalah satu-satunya orang yang punya akses ke titik terlemah mereka."

"Titik terlemah itu adalah anakku," desis Sekar. "Dan kamu ingin menggunakannya sebagai umpan?"

"Aku ingin menyelamatkannya, Sekar! Karena dengan menyelamatkannya, kita menghancurkan legitimasi perjanjian antara Wijaya dan Von Hess," Alvin meraih bahu Sekar, mengguncangnya sedikit. "Kita harus ke Hamburg. Sekarang. Sebelum nyonya Wijaya sampai di sana.

Keesokan paginya, Sekar kembali ke Rumah Sakit Wijaya dengan topeng yang lebih sempurna.

Ia mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang bengkak, dan berjalan dengan langkah yang penuh otoritas. Di mata para staf, ia tetaplah dr. Sekar yang tak tersentuh, namun di balik itu, ia sedang menyusun rencana nekat.

Ia melangkah menuju gudang farmasi pusat rumah sakit. Sebagai kepala departemen bedah, ia memiliki akses terbatas ke area penyimpanan obat-obatan khusus. Dengan tenang, ia menyapa petugas administrasi.

"Saya butuh beberapa kit darurat vaskular dan set instrumen bedah mikro untuk dibawa ke konferensi di luar kota besok," kata Sekar, suaranya stabil tanpa getaran sedikit pun.

"Tentu, Dokter. Apakah perlu dimasukkan ke dalam log keberangkatan resmi?" tanya petugas itu.

"Tidak perlu. Saya akan mengurus administrasinya nanti sore lewat meja direksi," jawab Sekar dengan senyum tipis yang meyakinkan.

Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan—kit bedah, anestesi lokal, antibiotik spektrum luas, dan beberapa alat monitor portabel—Sekar membawanya ke ruangannya.

Ia menyembunyikan peralatan itu di dalam tas medis pribadinya. Ia tahu, jika ia pergi ke Jerman, ia tidak bisa mengandalkan rumah sakit mana pun di sana. Jika Lukas benar-benar menjadi subjek penelitian, ada kemungkinan anak itu memiliki komplikasi medis yang hanya bisa ia tangani sendiri secara sembunyi-sembunyi.

Saat ia sedang berkemas, pintu ruangannya terbuka secara kasar. Rahman masuk dengan wajah yang menunjukkan kemarahan yang tertahan.

"Apa yang kamu lakukan, Sekar?" tanya Rahman, matanya tertuju pada tas medis yang terbuka di meja. "Aku dengar kamu mengambil peralatan dari gudang tanpa surat izin resmi."

Sekar tidak berhenti berkemas. "Kenapa, Mas? Takut aku mencuri hartamu? Aku hanya mengambil alat untuk menyelamatkan apa yang telah kalian jual sepuluh tahun lalu."

Rahman mendekat, mencengkeram pergelangan tangan Sekar agar wanita itu berhenti bergerak. "Jangan gila! Alvin sudah menghasutmu, kan? Dia memberitahumu tentang Von Hess dan penelitian itu?"

Sekar menatap mata Rahman dengan kebencian yang murni. "Jadi itu benar, Rahman? Katakan padaku! Katakan di depan wajahku bahwa anakku bukan kelinci percobaan!"

Rahman melepaskan cengkeramannya, ia mundur dan duduk di kursi pasien dengan lemas. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya gemetar.

"Papa bilang itu hanya tes genetik rutin... Dia bilang Von Hess punya teknologi untuk menyembuhkan kelainan jantung yang Lukas warisi darimu. Aku tidak tahu kalau mereka melangkah sejauh itu, Sekar. Aku bersumpah..."

"Sumpahmu tidak ada harganya lagi bagiku," kata Sekar, suaranya dingin seperti es. "Kamu tahu, Rahman? Setiap kali aku membedah jantung pasien, aku selalu bertanya-tanya mengapa jantung manusia begitu rapuh. Tapi hari ini aku sadar, jantungmu jauh lebih rapuh daripada mereka. Kamu bahkan tidak punya keberanian untuk menjadi seorang ayah." imbuhnya.

"Aku sudah memesan tiket untukmu," bisik Rahman tiba-tiba, suaranya nyaris tak terdengar.

Sekar tertegun. "Apa?"

Rahman mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya. "Bukan ke Hamburg langsung. Ke Amsterdam. Dari sana kamu bisa naik kereta ke Hamburg secara diam-diam. Ibu sudah memantau semua penerbangan langsung ke Jerman. Jika kamu berangkat hari ini, kamu punya waktu dua belas jam sebelum orang-orang Von Hess menyadari keberadaanmu."

Sekar menatap amplop itu, lalu menatap Rahman dengan bingung. "Kenapa? Kenapa kamu membantuku sekarang?"

"Karena aku mencintaimu lebih dari aku mencintai nyawaku sendiri," jawab Rahman, matanya berkaca-kaca. "Dan karena Lukas... dia adalah satu-satunya hal baik yang pernah kita miliki. Selamatkan dia, Sekar. Selamatkan dia dari keluarga ini."

Sementara itu, di lantai atas, Viona tidak tinggal diam. Meskipun luka operasinya masih terasa nyeri, ia telah berhasil memindahkan dirinya ke ruang fisioterapi yang lebih dekat dengan area administrasi.

Dengan bantuan suster yang telah ia suap, ia berhasil mendapatkan akses ke rekaman CCTV lorong depan ruangan Sekar.

Ia melihat Rahman masuk ke ruangan Sekar, dan ia melihat Rahman keluar dengan wajah hancur. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah tas medis besar yang dibawa Sekar beberapa menit kemudian saat wanita itu keluar menuju parkiran.

"Nyonya, dia sudah bergerak," lapor Viona, bibirnya mengulas senyum kejam. "Rahman memberinya sesuatu. Aku yakin dia akan pergi ke Jerman hari ini."

"Bagus," suara nyonya Wijaya terdengar dingin dari seberang telepon. "Biarkan dia pergi. Di Jakarta, dia adalah pahlawan medis. Tapi di Jerman, dia akan menjadi penyusup yang mencoba menculik seorang anak dari keluarga terpandang. Biarkan hukum Jerman yang membereskannya untuk kita. Pastikan semua bukti skandalnya di rumah sakit ini sudah siap untuk dipublikasikan begitu pesawatnya lepas landas."

Viona menutup telepon dengan rasa puas. Ia merasa seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre.

Baginya, melenyapkan Sekar adalah cara tercepat untuk mendapatkan perhatian penuh Rahman dan mengamankan posisinya sebagai nyonya besar Wijaya.

Ia tidak peduli jika itu berarti menghancurkan nyawa seorang anak kecil atau seorang dokter berbakat. Baginya, dunia ini hanyalah soal siapa yang paling kuat bertahan.

Sekar memacu mobilnya menuju bandara internasional Soekarno-Hatta di bawah gerimis yang mulai membasahi kaca depan. Di kursi penumpang, tas medisnya berguncang mengikuti irama mobil. Di saku blazernya, ia menggenggam paspor dan tiket yang diberikan Rahman.

Ia merasa seperti sedang melarikan diri dari penjara yang telah ia huni selama sepuluh tahun. Namun, di tengah pelariannya, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Sebuah mobil hitam tampak terus mengikutinya sejak ia keluar dari gerbang rumah sakit.

"Alvin?" gumam Sekar, curiga.

Ia mencoba mempercepat laju kendaraannya, dan mobil di belakangnya pun ikut mempercepat.

Sekar menyadari bahwa ia tidak benar-benar sendirian. Alvin mungkin membantunya, tapi Alvin punya agendanya sendiri.

Rahman mungkin membantunya, tapi Rahman terikat oleh rasa bersalah. Dan nyonya Wijaya? Wanita itu pasti sedang menyiapkan jebakan yang tidak terlihat.

Setibanya di bandara, Sekar segera menuju terminal keberangkatan internasional. Ia bergerak cepat, mencoba menyatu dengan kerumunan pelancong.

Saat ia melewati pemeriksaan imigrasi, jantungnya berdebar kencang. Ia takut namanya sudah masuk ke dalam daftar cekal. Namun, petugas imigrasi hanya memberikan stempel dan mengembalikan paspornya dengan senyum formal.

Sekar duduk di ruang tunggu, menatap pesawat yang sedang bersiap di landasan. Ia membuka ponselnya untuk terakhir kali sebelum masuk ke mode pesawat. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Hati-hati di Hamburg. Lukas tidak ada di rumah utama Von Hess. Cari dia di fasilitas medis di Blankenese. Dan satu hal lagi, Sekar... jangan percaya pada siapa pun yang menjemputmu di Amsterdam.”

Sekar mengerutkan kening. Pesan dari siapa ini? Rahman? Atau Suster Maya yang selama ini diam-diam mengawasinya?

Suara pengumuman keberangkatan menggema di seluruh ruangan. Sekar berdiri, menjinjing tas medisnya yang berat, dan melangkah menuju garbarata.

Ia tidak menoleh ke belakang. Baginya, Jakarta sudah mati. Kehidupannya sebagai dr. Sekar yang sukses sudah berakhir. Sekarang, ia hanyalah seorang ibu yang sedang menuju medan perang demi menjemput anaknya yang hilang.

Di balik jendela bandara, sesosok pria dengan topi menutupi wajahnya memperhatikan Sekar masuk ke dalam pesawat. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat.

"Subjek sudah di pesawat. Rencana Hamburg dimulai."

Pesawat pun lepas landas, menembus awan gelap Jakarta, membawa Sekar menuju takdirnya yang paling kelam di Hamburg. Sebuah takdir yang menurut rencana Ibu Wijaya dan Von Hess, tidak akan membiarkan Sekar kembali dengan selamat.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!